My Another Love

My Another Love
Jesica



Vallery terbangun dari tidurnya karena merasakan sentuhan kecil yang berulang di pelipisnya. Saat dia membuka mata, sepasang mata kehijauan tengah melihatnya dengan tatapan teduh.


"Good morning, Baby ..." Josh menyapa Vallery dan memberikan kecupan selamat pagi seperti biasanya. Vallery mulai terbiasa dengan kebiasaan kekasihnya itu, dia tersenyum kecil dengan wajah sembab khas bangun tidur.


"Selamat pagi juga, Josh ..." kata Vallery membalas sapaan lelaki itu.


"Baiklah, karena tuan putri kita sudah bangun, aku akan segera bersiap untuk berangkat." ucap Josh seraya membelai pipi gadisnya.


Vallery melihat jam digital yang berada diatas nakas dan menyadari jika ini masih terlalu pagi.


Vallery menautkan kedua alisnya. "Mau kemana sepagi ini?" tanyanya.


"Ada urusan kecil yang harus ku urus." kata Josh.


"Urusan kecil?" dahi Vallery berkerut penuh rasa ingin tahu.


"Yah, begitulah." jawab Josh sekenanya dan tidak menjelaskan secara gamblang. "Ah, apa kau kuliah hari ini?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Vallery mengangguk.


Josh mengecup keningnya sesaat. "Okay, sorry aku tidak bisa menunggumu. Aku harus segera berangkat. Kau akan diantar oleh Dimitri nanti." lelaki itupun bangkit dari posisinya yang tadi berbaring miring disebelah Vallery.


Vallery masih menatapi Josh dengan tatapan menyelidik, tapi Josh selalu saja menatapnya dengan tatapan teduh, sehingga dia mengubur dalam-dalam perasaan tidak enak didalam hatinya.


"Silahkan mandi, Miss..." kelakar Josh sembari mengerlingkan mata kearahnya sambil berlalu.


Vallery pun beranjak, tapi saat dia ingin menuju kamar mandi, Josh yang sudah berada diambang pintu kembali menoleh dan berujar padanya.


"Aku mungkin tidak bisa menunggumu bersiap. Aku buru-buru. Aku langsung pergi ya." kata Josh dengan suaranya yang menenangkan.


"Hemmm.." hanya gumaman yang sengaja dikeraskan, keluar dari mulut Vallery sebagai jawabannya.


Setelah mandi dan bersiap-siap, Vallery keluar kamar dan begitu terkejut mendapati Jesica ada diruang tamu.


Vallery menatapnya heran, karena wajah Jesica terlihat sembab dengan raut wajah sendu. Matanya kemerahan, meninggalkan jejak kesedihan yang tidak bisa ditutupi.


"Jes, are you okay?" Vallery mendudukkan diri disebelah Jesica.


Jesica menoleh karena baru saja menyadari keberadaan Vallery disana. Gadis itu terisak dan memeluk Vallery secara tiba-tiba.


"Jes, kau kenapa?" tanya Vallery semakin keheranan.


Jesica menggeleng sembari terus menangis didalam dekapan Vallery yang sama sekali belum mengerti keadaan yang terjadi.


"Aku tidak punya banyak waktu, Vall. Sebentar lagi Dimitri pasti akan tiba disini, aku hanya ingin meminta bantuanmu."


"Bantuan? Bantuan apa?"


"Josh akan mengeksekusi Mark dan Jonas hari ini."


Jadi, ini adalah maksud dari ucapan Josh pagi tadi tentang 'urusan kecil yang harus di urus'.


Vallery terdiam, dia mencerna ucapan Jesica dan langsung mengerti apa yang dimaksudkan oleh gadis itu, tapi dia masih belum yakin dengan apa yang didengarnya. Dia ingin memastikannya.


"Mak-maksudmu mengeksekusi, apa?" tanyanya dengan suara tertahan ditenggorokan.


"Mark dan Jonas akan mati ditangan Josh hari ini. Ini adalah hari peradilan untuk mereka karena imbas dari kejadian kemarin," Jesica tersengguk-sengguk sembari menyusut airmatanya sendiri.


Ruang tamu itu dipenuhi oleh suara isakan Jesica, membuat Vallery bingung harus melakukan apa sekarang. Dia hanya bisa menepuk pelan punggung Jesica yang bergetar seiring tangisnya yang tidak kunjung berhenti.


Jesica melepas tautan tubuh mereka. Sedetik kemudian dia menatap Vallery dengan tatapan penuh harap.


"Vall, waktuku tidak banyak. Tolong aku ... gagalkan niat Josh untuk membunuh Mark dan adiknya."


"Bagaimana caranya aku menggagalkan ini, Jes?"


"Kau harus bisa membujuk Josh untuk membatalkan hukuman mati untuk Mark dan Jonas. Aku sudah memohon padanya tapi dia tidak mau menuruti. Dia ... dia pasti mau menuruti jika itu permintaanmu." isak Jesica.


Vallery menggeleng lemah. "Tidak mungkin, Jes."


"Ayolah, kau belum mencobanya, Vall." ucap Jesica cepat.


Vallery makin terdiam dengan perasaan berkecamuk, dia ingin menolong Jesica tapi dia tidak mungkin membujuk Josh terkait hal ini, karena dia merasa ini diluar kesanggupannya. Musuh Josh tidak seharusnya dia ikut campuri.


"Stop it, Jes!" hardik Vallery secepat mungkin. "Aku tidak mau mencampuri urusan Josh. Dan Mark memang sudah keterlaluan. Dia tidak benar-benar mencintaimu, Jes. Dia memanfaatkanmu untuk mengetahui latar belakang Josh!" sambungnya.


Kini tatapan Jesica menatapnya dengan penuh kekecewaan.


"I'm so sorry, Vall. Karena Mark sudah melibatkanmu kemarin."


"Ya, ya ... dia bahkan menyanderaku." Vallery menatap arah lain, tidak mau memandang wajah Jesica yang memelas.


Jesica tertunduk.


"Lupakan dia, Jes. Kau masih bisa dapatkan lelaki yang lebih baik darinya."


Jesica menggeleng lemah. "Apa kau juga bisa mengganti Josh dengan lelaki lain?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Maaf, bicaraku keterlaluan." kata Vallery menyadari sindiran Jesica.


"Aku pulang. Maaf sudah mengganggu waktumu..." Jesica bangkit berdiri dan menuju pintu keluar. Vallery mengikuti langkahnya sampai depan pintu.


Disaat bersamaan, Dimitri datang dan sudah berada disana dengan dua orang pria lain yang memakai pakaian rapi.


"Anda sedang apa disini, Miss?" tanya Dimitri mengarah pada Jesica. Jesica tidak menjawab, dia hanya membalas Dimitri dengan tatapan membunuh.


Sepersekian detik berikutnya, Jesica langsung berlalu dari hadapan mereka semua.


Vallery melihat Dimitri yang menatapi kepergian Jesica hingga punggung gadis itu lenyap di balik dinding koridor.


Vallery mengernyit menatap Dimitri dengan dua pria asing itu. "Siapa mereka?" tanya Vallery pada Dimitri.


"Mereka pengawal Anda, Miss." jawab Dimitri cepat.


Vallery terkesima dengan mulut terbuka. "Ini tidak perlu--


Vallery belum siap dengan ucapannya, ketika mereka semua dibuat terkejut saat tiba-tiba mendengar jeritan dari ujung koridor tempat Jesica menghilang tadi.


"Help......."


Vallery menatap Dimitri. "Jesica ..." tutur Vallery syok.


Dimitri segera sigap mengambil keadaan. Dia berlari cepat kearah ujung koridor dan ternyata dia tidak mendapati apa-apa disana, yang dia yakini tadi memanglah suara jeritan dari Jesica.


"Shittt!!!" umpat Dimitri. "Dia pasti kabur dari Apartemennya. Dia tidak bersama pengawalnya! Breng sek!" kata Dimitri marah, tangannya mengepal dengan wajah semerah api.


"Ada apa?" tanya Vallery yang berlari menyusul Dimitri, diikuti oleh dua orang lain yang bertugas mengawal Vallery tadi.


"Jesi, maksud saya ... Miss Jesica, dia pasti dibawa oleh Clan musuh."


"Mereka pasti ingin menukar Jesica dengan Mark." jelas Dimitri.


Valllery terkesiap lalu luruh dilantai. Dia benar-benar syok dengan apa yang baru saja terjadi. Ini terlalu cepat, bahkan Jesica baru saja keluar dari unit Apartemennya.


Ya, pasti Clan musuh tidak akan tinggal diam, karena Mark dan Jonas yang adalah orang mereka kini sudah berada di tangan Josh. Pasti dua bersaudara itu sangat penting, sehingga Clan musuh tidak membiarkan mereka mati begitu saja. Clan musuh bahkan repot-repot meculik Jesica sebagai jaminan.


"Apa dia datang sendirian tadi?" tanya Dimitri pada Vallery yang sudah bersandar didinding sambil menekuk lututnya.


Vallery mengangguk diantara rasa terkejutnya. Dimitri mengerti apa yang terjadi sekarang, Jesica benar-benar kabur sendirian tanpa ada pengawalan. Padahal setelah kejadian dengan Mark tempo hari, Orangtua Jesica sudah memberikannya pengawalan ketat, karena takut hal seperti ini akan terjadi. Tapi nyatanya Jesica bisa kabur dari pengawasan hanya untuk bertemu Vallery.


"Dia mau apa kesini?" tanya Dimitri seraya mengetik-ngetik sesuatu di ponselnya dengan sangat tergesa-gesa.


"Dia memintaku membujuk Josh, agar membatalkan eksekusi Mark dan Adiknya."


"Sia lan!" maki Dimitri tertahan.


Dimitri mengarahkan kedua orang pengawal untuk tetap menjaga Vallery. Dia juga meminta Vallery tidak kemana-mana dan membatalkan kuliahnya.


Dimitri pun bergerak cepat meninggalkan gedung Apartemen itu, dia tahu Jesica mempunyai keahlian bela diri. Dia juga tahu Jesica memiliki senjata sendiri, tapi kenapa Jesica bisa tertangkap seperti ini? Seharusnya Jesica bisa melawan, bukan?


Sesuatu yang tidak beres terjadi. Apa Jesica melakukan hal bodoh untuk menyelamatkan nyawa kekasihnya?


...To be continue ......