
Dengan langkah tergesa, Dimitri memasuki sebuah pekarangan rumah yang berada tak jauh dari pusat kota. Rumah itu tampak sepi, jelas saja, karena Dimitri sangat tahu penghuninya hanyalah seorang gadis berusia akhir 20-an.
Tentu Dimitri bisa mengantongi alamat rumah Sophia dengan cepat. Berbeda dengan mencari keberadaan Vallery yang belum bisa dia kantongi infonya sampai saat ini. Dimitri yakin, kesulitannya mencari keberadaan Vallery, pasti karena adanya seseorang dibalik menghilangnya gadis itu-- sehingga dia tidak bisa mencari keberadaan Vallery sekarang.
Dimitri menekan bel berulang kali, namun dengan sikap tidak sabarnya dia justru mengetuk pintu dengan begitu kuat dan keras.
Terdengar suara sahutan dari dalam rumah, membuat Dimitri tersenyum miring.
"Sabar.... kenapa sih tidak bisa sabar..." suara itu semakin mendekat di pendengaran Dimitri.
Dimitri tidak mau menanggapinya dan semakin mengeraskan ketukan dipintu.
Pintu terbuka, bersamaan dengan ocehan suara perempuan yang menyambut kedatangan Dimitri.
"Siapa sih? Mau bertamu atau mau merobohkan rumah...ku..." Sophia terkesima saat melihat Dimitri yang berada diambang pintunya. Dari reaksinya yang membungkam mulutnya sendiri, sepertinya dia memang syok atas kedatangan Dimitri kerumahnya.
"Emm, ada apa?" Sophia tampak gugup saat ditatapi Dimitri dengan pandangan mata tajamnya.
"Boleh kita bicara sebentar Miss Sophia?" tanya Dimitri dengan intonasi suara yang lembut. Tidak seperti sikapnya yang tak sopan saat mengetuk pintu, tutur bicaranya justru berbanding terbalik.
Gadis itu mengangguk berulang seperti tengah terhipnotis oleh pesona pemuda dihadapannya. Jika biasanya Dia melihat Dimitri dengan setelan jas rapi, hari ini Dimitri berpenampilan sangat casual dan semakin tampan, membuat Sophia sulit menelan ludahnya sendiri.
"Bolehkah aku masuk, Miss?" tanya Dimitri dan Sophia hanya bisa kembali mengangguk.
Setelah melangkah masuk, Dimitri pun duduk disofa ruang tamu tanpa dipersilahkan oleh sang empunya rumah.
"Ma-mau minum?" tanya Sophia semakin gugup.
Dimitri menggeleng keras. "Duduklah, Miss. Saya ingin bicara." katanya dengan penuh intimidasi.
"Apa-apaan aku ini? Kenapa justru dia yang seperti tuan rumah di rumahku sendiri?" gerutu Sophia dalam hatinya.
Tapi, Sophia menurut dan duduk di single sofa yang terletak disamping sofa tempat Dimitri terduduk.
Sophia menghela nafas, "Apa kedatanganmu kesini ingin menanyakan tentang Vallery lagi?" tanyanya memberanikan diri.
Dimitri menganggguk.
"Aku sudah bilang, ka-kalau aku.. tidak tahu dimana Vallery." jawab Sophia tidak bisa menutupi rasa gugupnya lagi. Sejak awal bertemu dengan Dimitri, dia selalu seperti ini. Sia lan!
"Apa kata-kata Anda bisa dipertanggung jawabkan, Miss?" tanya Dimitri masih dengan nada sopan.
"Of course, ten-tentu saja." Sophia mengalihkan tatapan matanya kearah lain, tidak berani menatap Dimitri yang membuat jantungnya melemah.
"Baiklah," Dimitri berdiri dari duduknya, membuat Sophia mendadak mengadah ke arahnya dengan tatapan takut-takut.
Dimitri mendekat kearah Sophia. Hanya dengan satu langkah, dia sudah berdiri membungkuk dihadapan gadis itu. Kedua tangannya bertumpu dikiri-kanan single sofa yang Sophia duduki, membuat gadis itu benar-benar merasa terpojok, sampai Sophia mundur dan menyandarkan punggungnya ke sandaran Sofa--karena terkejut batinnya saat melihat sikap Dimitri yang sejak awal memang mendominasi dan mengintimidasinya.
"A-apa yang-kau la-kukan?" Sophia tergagap karena kini wajah Dimitri hanya berjarak beberapa senti didepan wajahnya yang mungkin telah pias.
Sophia bahkan bisa melihat dengan jelas senyum kelicikan diwajah Dimitri. "Harusnya saya yang bertanya pada Anda, apa yang akan Anda lakukan jika Anda terbukti membohongi saya!" ucap Dimitri penuh penekanan, membuat Sophia menutup wajahnya sendiri dengan telapak tangan karena takut melihat wajah pemuda itu.
"Aku tidak berbohong." suara Sophia terbungkam oleh tangannya yang menutupi seluruh sisi wajahnya.
"Anda bilang apa, Miss? Saya tidak mendengarnya..." kata Dimitri yang semakin mencondongkan wajah mendekati wajah Sophia yang tertutup telapak tangan.
Sophia menurunkan telapak tangannya dari wajahnya, berniat untuk menyerukan ucapannya lagi agar Dimitri mendengar dengan jelas, tapi dia langsung terkesiap saat melihat Dimitri justru sudah berada di depannya dengan jarak yang semakin dekat, bahkan kini Sophia bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu dan melihat jelas netranya yang berwarna kecoklatan.
Jantung Sophia berdegup sangat kencang dan dia tidak bisa mengontrol ritmenya. Bagaimana ini?
Sophia menarik nafas dalam. "Vallery bersama Edward." katanya lirih, bersamaan dengan bibir Dimitri yang berlabuh di bibirnya.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
"Come on, Vall... makanlah.." ucap Edward pada Vallery, dia menunggu Vallery menyambut uluran sendoknya yang sudah berada didepan mulut gadis itu.
Vallery terus saja menolak dengan menggelengkan kepalanya secara berulang atau menepis uluran sendok yang Edward suguhkan.
"Vall, kau sudsh seperti tengkorak hidup. Ayo makan! Pikirkan kondisi tubuhmu!"
"Tapi aku tidak--" Vallery tak melanjutkan kalimatnya, dia bangkit dari posisinya yang setengah berbaring, lalu menuju wastafel kamar mandi.
Dia memuntahkan isi perutnya--walau sebenarnya perutnya pun sudah tidak ada isinya lagi karena dia memang tidak makan berhari-hari. Hanya sesekali memakan buah-buahan, itupun akan dimuntahkan kembali.
Edward meletakkan piring diatas nakas, kemudian menyusul Vallery sampai ambang pintu kamar mandi.
"Kau tidak bisa begini terus, Vall. Sampai kapan kau begini." keluh Edward seraya menyugar rambutnya kasar.
"Lalu aku harus bagaimana, Kak?" ucapnya seraya berkumur, lalu menyambar kotak tissue dan menyeka sisa air dimulutnya menggunakan tissue itu.
"Jangan menunggunya lagi. Dia tidak akan menjemputmu!" ketus Edward.
Vallery membalikkan tubuhnya untuk menatap Edward yang masih setia berdiri diambang pintu.
"Are you crazy? Aku sudah menunggunya hampir tiga bulan dan kau memintaku tidak menunggunya lagi!" dengus Vallery tak terima.
"Ya, kenyataannya dia tidak akan mencarimu, Vall. Dia tidak akan menjemputmu disini! Untuk apa kau menunggunya?" sarkas Edward.
Vallery keluar kamar mandi dan sengaja menyenggol sedikit tubuh Edward. "Kau pernah berjanji akan mencarinya, Kak!" sungutnya.
"Aku sudah mencarinya tapi tidak menemukan apapun!"
"Kau bohong, Kak!" Vallery menangis diujung ranjang.
"Vall..." Edward mendekati dan duduk disebelah Vallery. "Lupakan dia, kita mulai hidup yang baru disini." lirihnya.
"Kau selalu mengatakan itu setiap hari." ketus Vallery. "Aku yakin Josh akan menjemputku, Kak." sambungnya kekeuh.
"Jangan Vall, ku mohon..."
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh menunggunya lagi?" Vallery menarik-narik kaos yang Edward kenakan. Seolah meluapkan kekesalannya disana.
Edward memeluknya. "Karena sebenarnya, aku mendengar jika Josh sudah tiada." ucapnya seraya mengelus pelan punggung Vallery
Vallery terkesiap, melepas pelukan Ed lalu menggeleng keras. "Kau bohong! Kau bohong, Kak!" Vallery mencengkram kepalanya sendiri.
"Aku serius. Aku tidak berbohong. Aku justru menutupi ini agar kau tidak terluka, tapi kau terus mengharapkan sesuatu yang sia-sia."
Vallery terisak-isak. "Tidak mungkin, Kak. Josh pasti masih hidup." ujarnya penuh kepiluan.
Edward mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, lalu memberikannya pada Vallery, seolah ingin menunjukkan sesuatu.
"Apa ini?" Vallery membungkam mulutnya karena terkejut dengan apa yang dia lihat di ponsel Ed.
"Aku menemukannya beberapa minggu yang lalu. Itu adalah makam Josh."
Vallery menelisik lagi foto yang dia lihat di ponsel Ed, berharap bahwa yang dia lihat bukanlah kenyataan. Jantungnya melemas-- saat membaca tulisan nama Josh memang tertera diatas makam.
R.I.P / Josh Melanov Greselle, lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal wafatnya.
Vallery tidak sanggup meneruskan untuk melihat foto itu lagi. Tubuhnya melemah dan dia kembali muntah sebelum mencapai pintu kamar mandi.
"It's okey, Vall. Istirahatlah... aku akan membersihkan ini." kata Edward dengan lembut seraya memegangi rambut Vallery yang tergerai dan hampir mengenai muntahan itu karena Vallery terduduk dilantai.
Vallery mengangguk lemah, lalu kembali menuju ranjang dibantu oleh Edward.
Edward membantu mengikat rambut Vallery sebelum membersihkan kekacauan yang terjadi dikamar gadis itu.
Setelah selesai membersihkan sisa muntahan Vallery, Edward kembali melihat keadaan Vallery yang mulai terlelap diatas ranjang.
"Tidurlah, Vall. Aku yang akan menanggung hidupmu dan anak yang kau kandung." ucapnya tulus seraya mengelus pucuk kepala Vallery.
...To be continue ......