
Vallery keluar dari kampus, menaiki Bis dan turun di halte terdekat dengan rumahnya. Berjalan sedikit untuk mencapai kediamannya. Begitulah kegiatannya sehari-hari disaat weekdays.
Vallery memasuki rumah, keadaan rumah sunyi senyap seperti biasanya. Dia berjalan gontai menuju kamarnya disalah satu sisi lantai dasar.
Cuaca diluar cukup mendung, mungkin sore ini akan hujan deras. Gemuruh sudah terdengar. Beruntung Vallery tiba sebelum hujan turun.
Vallery memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri. Selesai mandi dia ingin mengambil pakaian gantinya di lemari.
Vallery mendengar suara pintu kamarnya dibuka, namun dia tetap melanjutkan kegiatannya tanpa menoleh ke arah pintu. Dia mengira itu adalah Alexa.
"Kak, biasakanlah untuk mengetuk pintu sebelum masuk! Aku belum ber--" Vallery tercengang saat matanya menoleh ke ambang pintu, ada Ed berdiri disana seraya bersedekap dada dengan santai.
Vallery terdiam dengan keterkejutan. Belum lagi dia menyadari penampilannya yang hanya memakai bathrobe mandi.
"Kak, kau--" suara Vallery tercekat saat Edward malah melangkah mendekat kearahnya. Vallery mundur selangkah demi selangkah, seiring dengan langkah Ed yang maju menuju dirinya.
Mau apa lelaki ini?
"K-kak.. apa yang kau lakukan? Keluar dari kamarku!" kata Vallery gugup, dia ingin beeteriak tapi suaranya malah nyaris seperti berbisik. Dia lebih merasa gugup sekarang daripada takut. Rasa takutnya pada Edward sudah hilang entah kemana dan entah sejak kapan, berganti dengan rasa berdebar-debar saat Edward menginterupsinya.
Edward masih diam seraya menatap tajam kearah Vallery.
"Kak, keluar atau aku akan teriak." ancamnya.
Edward tersenyum miring, penuh kelicikan diwajahnya. Ed melihat wajah gugup Vallery dan dia tersenyum penuh kemenangan. "Kau belum menjawab pertanyaanku pagi tadi." katanya.
Vallery sudah tidak dapat mundur lagi, karena kakinya sudah mencapai difan kayu tempat tidur. Akhirnya Vallery terduduk di ranjangnya dengan menatap Edward yang menjulang dihadapannya dari jarak yang sangat dekat.
"Per-pertanyaan apa?" tanya Vall tersendat-sendat.
"Lelaki yang mengantarmu." imbuhnya seraya membuka handuk yang terlilit dikepala Vallery.
Vallery kembali terkejut dengan aksi Ed. "I-itu temanku." jawabnya.
"Kau yakin?"
Vallery mengangguk-anggukkan kepalanya, rambutnya yang setengah basah dan telah terbuka dari gulungan handuk akibat ulah Ed pun meriap-riap, sejurus dengan kepalanya yang bergerak mengangguk.
Naluri Ed tidak tahan melihatnya, akhirnya dia membelai rambut dari ujung kepala Vallery dengan lembut. Membuat Vallery refleks memejamkan matanya sejenak untuk meresapi gerakan itu.
Ed tiba-tiba berjongkok dihadapannya. Berusaha mensejajarkan posisi mereka.
"Vall, bersiaplah untuk makan malam. Aku dan Alexa menunggumu dibawah." ucap Edward dengan nada terendahnya. Akhirnya dia menyampaikan maksudnya.
Sesunggunya Ed menahan sesuatu saat menghirup aroma tubuh Vallery.
Vallery terdiam lagi, dia membeku dan tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun. Dia terlalu syok akibat perlakuan Ed padanya.
"Kau mengerti maksudku, Vall?" tanya Ed lagi, mengintimidasi.
Vallery seorang gadis yang biasanya bisa menjawab dan menyanggah hal-hal yang tidak seiring dengan keinginannya, hari ini hanya bisa mengangguk dihadapan Edward yang masih berjongkok menunggunya memberi jawaban.
Edward menyeringai saat melihat anggukan Vallery yang terakhir.
"Honey, kenapa lama sekali ..." Suara pekikan Alexa terdengar nyaring sampai ke kamar Vallery.
Ed bangkit dari posisinya dan berdiri dengan santai, satu tangannya dimasukkan kedalam saku celana dan dia berjalan keluar.
Sampai diambang pintu, Ed menoleh lagi dan mendapati Vallery masih terduduk diposisinya seraya menunduk lesu.
"Berpakaianlah, atau aku akan khilaf untuk kedua kedua kalinya." katanya dan Vallery pun tersadar dari kegugupan serta keterkejutannya.
Vallery bangkit dan tidak mau melihat Ed diujung sana. Vall menatap kearah lain.
"Aku dan kakakmu menunggu diruang makan." ujarnya. Ed pun keluar dari kamar Vallery seraya menutup pintu.
Vallery menghela nafas lega. Kedatangan Ed ke kamarnya membuatnya merutuki dirinya sendiri. Dia belum terbiasa jika dirumahnya kini ada seorang lelaki. Seharusnya tadi dia mengunci pintu kamar.
"Dasar bo-doh!" Vallery mendengus, merutuki dirinya sendiri. Dia mengingat kelakuannya yang hanya bisa menurut pada Ed. Dia menggerutu seraya mengenakan pakaiannya.
Vallery meninju udara.
"Bukannya marah dan berteriak, aku hanya bisa mengangguk." gerutunya.
"Hah! siapa dia? Beraninya dia!!" lagi-lagi Vallery mendengus.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Benar saja, hujan turun dengan derasnya saat Vallery baru menginjakkan kaki diruang makan, disana sudah ada Ed dan Alexa.
"Vall, ayo duduk. Kenapa diam disana?" sapa Alexa pada Vallery yang kebingungan disudut ruang makan.
Vallery pun duduk, ini kali pertamanya makan disatu meja yang sama dengan Alexa dan Ed. Vall begitu canggung, terutama karena mengingat kelakuan Ed beberapa saat lalu, itu membuatnya serba salah. Seakan-akan dia memiliki hubungan lebih dengan lelaki itu, apakah dia telah menghianati kakaknya sendiri? Astaga...
"Jarang-jarang kita bisa makan malam bersama seperti ini." ujar Alexa dengan nada riang. "Maafkan aku biasanya aku jarang ada dirumah saat makan malam." sambungnya.
Alexa memang tipe wanita yang periang dan suka bicara. Dia bisa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan baru. Alexa adalah wanita yang humble dan tidak bisa menutupi isi hatinya. Dia akan mengutarakan semua yang terlintas dikepalanya. Sangat berbanding terbalik dengan Vallery yang pendiam, cuek dan sulit membaur. Satu lagi, Vallery adalah gadis yang tertutup, dia adalah pemendam yang paling ahli.
"Tidak apa-apa. Nikmati makan malammu." kata Ed seraya mengelus-elus pundak istrinya.
Vallery melipat bibirnya menjadi sebuah garis lurus saat melihat adegan itu. Dia berusaha menguatkan hatinya sendiri karena dia sadar Ed memang suami Alexa.
Ah, kenapa lagi-lagi dia merasa telah menghianati Kakaknya?
Vallery, Alexa dan Edward makan dalam keheningan. Mereka menikmati menu yang tersedia diatas meja. Sampai suara dering ponsel Vallery berdering dan membuat Alexa kembali bersuara.
"Terima saja teleponnya, mungkin penting." kata Alexa dan Vall mengangguki.
Vall melihat Sophia yang meneleponnya, dia memilih untuk menerimanya sesuai saran Alexa. Mungkin itu adalah telepon penting.
Vallery beranjak dari kursinya dan sedikit menjaga jarak dari sana.
"Hallo..."
"Vall, kau dimana?"
"Dirumah. Ada apa Sophi?"
"Vall, tolong aku." kata Sophia terdengar menangis. "Tolong aku, Vall. Bisakah kau menjemputku? Aku akan ceritakan nanti." jawab Sophia sambil terisak.
"Oke. Kirimkan lokasimu." Vallery langsung berjalan cepat menuju kamarnya. Mengganti bajunya menjadi sweater dan celana jeans panjang. Dia bergegas dan terburu-buru. Dia mengkhawatirkan Sophia, sahabatnya.
Vallery bahkan melupakan makan malamnya yang baru dia makan beberapa suap.
"Mau kemana Vall?" suara Alexa membuat Vallery menoleh.
"Aku harus pergi kak." katanya.
"Kemana? Ini sudah malam dan diluar hujan." kata Alexa.
Ed tiba-tiba hadir diantara mereka. Dia diam dan mendengarkan percakapan antara kakak beradik itu.
"Aku harus menjemput Sophi."
"Sophia? Ada apa dengannya?" tanya Alexa tak sabar.
"Aku belum tahu, nanti aku jelaskan." Vallery bergerak lagi menuju pintu keluar.
"Tunggu, Vall.. kau naik apa?"
Vallery terdiam seketika, dia tidak mungkin menjemput Sophia jika dia sendiri tidak memiliki kendaraan, terlebih dia harus cepat.
"Aku pinjam mobilmu, Kak."
Alexa menggeleng. "Ini hujan, aku tidak mengizinkanmu menyetir mobil saat hujan." sergap Alexa langsung.
"Tapi Kak."
"Biar aku yang mengantarnya." kata Edward menginterupsi.
Vallery menggeleng sementara Alexa mengangguk setuju.
...To be Continue ......