
Seorang lelaki memasuki sebuah rumah besar dengan sedikit tergesa-gesa. Melewati beberapa penjaga yang menatapnya penuh selidik tapi tidak ada satupun diantara mereka yang menghentikan langkahnya.
Setelah melewati anak tangga, dia sampai pada sebuah pintu yang didepannya juga terdapat dua orang penjaga yang tingginya hampir sama dengannya namun memiliki perawakan lebih sangar dan menakutkan.
Kedua orang didepan pintu saling memandang satu sama lain saat melihat kedatangannya, kemudian salah satu diantara mereka mulai bersuara pada lelaki yang datang itu.
"Mark...Bukankah kau--" kata-kata itu hanya terhenti diudara saat Mark membalasnya dengan sorot mata tajam. Penjaga itu langsung diam dan mempersilahkan Mark untuk masuk kedalam ruangan yang mereka jaga.
Mark masuk dan mendapati tubuh seorang pria yang membelakanginya.
"Kau kembali?" tanya pria itu tanpa membalikkan badan untuk melihat posisi Mark. Sepertinya dia sudah lebih dulu tahu soal kedatangan Mark sebelum mereka bertatap muka. Pasti penjaga yang menyambut kedatangan Mark di gerbang tadi sudah memberikan laporan terlebih dahulu.
"Ya," jawab Mark singkat.
"Dia tidak mungkin melepaskanmu begitu saja. Apa kau melarikan diri?" tanya pria itu lagi.
Mark mengangguk walau lawan bicaranya tidak dapat melihat anggukan itu.
Pria itu memutar kursinya menjadi 90 derajat untuk bisa melihat keberadaan Mark yang berdiri didepannya, hanya ada sebuah meja kayu yang menghalangi keduanya.
"Aku tahu kau cukup pintar untuk melarikan diri darinya." ucap Pria itu sambil tersenyum miring.
"Welcome back, Mark... Kau tahu, jika kau selalu diterima ditempatku." lanjutnya dengan seringaian tipis.
"Yes, Sir." jawab Mark sambil menunduk hormat.
"Tapi, kedatanganmu ini justru sangat menguntungkanku. Aku tidak perlu mengembalikan Adik si breng sek itu." ucap Pria itu lagi.
Mark mengernyit, seakan tidak mengerti yang dimaksudkan oleh sang pria.
"Ah ya, kau belum tahu? Aku berusaha melepaskanmu dengan cara menukarmu dengan Adik perempuan Josh. Mereka berhasil menculiknya kemarin."
"Sir Antoni, kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku bisa keluar dari sana tanpa penukaran itu. Kau terlalu melindungiku." ucap Mark dengan nada tak enak hati.
Pria yang tak lain adalah Antoni itu hanya tertawa kecil. "Karena kau salah satu pengikutku yang setia." ucapnya.
"Kau terlalu mempercayaiku." Mark tersenyum sekilas, penuh maksud terselubung dari ucapannya.
"Jangan menyia-nyiakan kepercayaanku, Mark." tambah Antoni dengan sorot netra yang tajam menatap Mark. Mark menganggukkan kepalanya tanpa menjawab dengan suara.
Keheningan tiba-tiba terjadi diantara mereka, Mark dengan pemikirannya dan Antoni memandanginya seraya menggosok dagunya sendiri.
"Soal gadis itu, apa aku boleh membunuhnya?" Antoni bertanya pada Mark.
Mark berusaha menetralkan perasaannya mendengar ucapan Antoni.
"Kenapa kau harus menanyakannya padaku?" tanya Mark berlagak heran.
Antoni terkekeh hambar. "Ku pikir dia kekasihmu." cibirnya.
"Aku mengencaninya hanya untuk menyelidiki Kepa rat itu!" Mark terlihat mendengus.
Antoni tertawa sumbang. "Really? Aku pikir aktingmu sangat menjiwai jika itu hanya pura-pura." cibir Antoni dan Mark tersenyum miring menanggapinya.
"Kalau begitu, kau saja yang membunuhnya." titah Antoni yang membuat mata Mark membulat, tapi buru-buru dia enyahkan perasaan terkejutnya itu.
"Jika itu perintah, maka aku akan melakukannya." kata Mark mantap.
Antoni kembali terkekeh. "Jangan memaksakannya, Mark! Jika kau mencintainya maka bawalah dia bersamamu." kata Antoni, tapi Mark tahu pasti kemana arah tujuan percakapan ini. Mark sangat mengenal watak bos besarnya.
Mark tersenyum kecil. Dia tahu maksud Antoni adalah jika Mark memang mencintai Jesica maka Mark harus membawa Jesica bersamanya dalam istilah lain, yaitu mati bersama-sama. Antoni bukan lelaki pemurah yang membiarkan Mark menjalin hubungan serius dengan seorang gadis tawanannya, apalagi gadis itu adalah Anak dari musuhnya--Jeremy Greselle.
"Aku tidak mungkin membawanya, Bos. Biar dia mati ditanganku." kata Mark dengan bersungguh-sungguh.
"Kau memang bisa ku andalkan." kata Antoni seraya bangkit dan berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekat kearah Mark.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Jesica tersadar dari tidurnya, dia melihat sekeliling dan menyadari telah berada ditempat yang asing. Ah, sudah berapa lama dia pingsan?
Saat hatinya bertanya-tanya apa yang terjadi, dia mengingat sekilas kejadian beberapa waktu kebelakang--saat dia keluar dari Apartemen Josh untuk menemui Vallery.
Saat itu, dia melihat beberapa orang menghampirinya diujung koridor. Disaat yang sama, dia baru menyadari bahwa dia tidak membawa apapun untuk menjaga diri, padahal biasanya dia membawa senjatanya. Mungkin karena terburu-buru ingin menemui Vallery membuatnya melupakan benda itu.
Jesica ingin melawan orang-orang itu, tapi belum sempat bergerak maju, tiba-tiba dia mendapat suntikan bius dari arah belakang tubuhnya. Ya, ya, ya, dia mengingat jeritannya sendiri saat masih di koridor Apartemen.
"Shiit!" umpatnya seraya memegangi kepala yang terasa berat. Dia bangkit dari posisinya yang terbaring, lalu menuju pintu. Dia mencoba menekan handle pintu berulang kali secara kasar, mencoba keluar dari ruangan itu, walaupun dia tahu tindakan itu akan sia-sia karena pintu itu pasti terkunci.
Jesica kembali mengedarkan pandangan, dia disekap didalam ruangan sempit, namun masih bisa dikatakan layak karena ada matras kecil untuk tempatnya berbaring disudut ruangan, lampu yang menyala dan exhausfan yang membuat udara didalam ruangan tidak terlalu pengap walau tidak ada celah jendela. Dia juga bersyukur karena masih mendapati diri yang masih bernyawa.
Tiba-tiba dia teringat Mark, walau dia benci dengan kelakuan Mark yang membodohinya untuk menyelidiki siapa Josh, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa dia sudah jatuh cinta pada pria itu.
"Apa Josh sudah membunuhnya?" Jesica bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Mendadak dia kalut dan takut jika Mark benar-benar terbunuh ditangan Kakaknya sendiri. Dia tahu, jika Josh tidak akan mengampuni musuhnya dan tidak pernah bermurah hati pada pengkhianat.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Jesica mondar-mandir didalam ruangan itu. Mungkin diluar sana sudah gelap atau mungkin menjelang pagi. Dia gelisah memikirkan nasibnya sendiri dan juga memikirkan hidup Mark.
Tiba-tiba saja, pintu diruangannya terbuka dari luar.
Dia dan orang yang membuka pintu itu, sama-sama saling memandang satu sama lain, terdiam selama beberapa detik, sampai akhirnya dia sadar bahwa itu adalah Mark.
"Mark? Bagaimana bisa...? Kenapa kau ada disini?" Jesica terdiam kaku dengan keheranan yang tidak bisa ditutupi. Bahkan dia mengira yang mendatanginya mungkin adalah Arwah Mark yang sudah dibunuh Kakaknya.
"Jangan banyak bertanya, sekarang cepat keluar dari sini." kata Mark dengan nada suara berbisik.
"Tapi, tapi....." Jesica tidak bisa bicara lebih lanjut karena Mark segera menarik tangannya untuk keluar dari ruangan itu.
_
Josh terkekeh, menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke wajah Mark. "Untuk apa kau memikirkannya? Jesi bukan urusanmu !!!" cibirnya.
"Aku mencintai Jesi."
"Kalau begitu, aku akan melepaskanmu. Aku bermurah hati untuk orang yang dimabuk cinta."
Saat ucapan itu keluar dari mulut Josh, Mark bertanya-tanya apa maksud dibalik ucapan Josh ini. Apa lelaki ini benar-benar akan melepaskannya hanya karena dia mencintai Jesica? Mark terdiam cukup lama untuk mencerna kata-kata Josh.
"Kau saja yang menyelamatkan dia, aku tidak mau bersusah payah menyelamatkannya dan mengorbankan orang-orangku yang setia hanya untuk menyelamatkan Adik tiriku." ucap Josh lagi.
Saat itu, Mark langsung paham makna yang tersirat dari ucapan Josh. Kemungkinan besar, Josh adalah orang yang bisa membaca situasi, menilai gelagat orang lain dan Josh bisa menyimpulkan bahwa ucapannya tentang 'mencintai Jesica' adalah sebuah kesungguhan.
"Semudah itu?" tanya Mark, sebenarnya dia ingin memastikan apa yang ada dipikirannya dan mencoba menilai sikap Josh ini.
"Yeah, selagi aku masih mau bernegosiasi padamu. Tapi setelah itu, jangan biarkan Dia mengusik hidupku lagi."
Mark tahu pasti sekarang, bahwa Dia yang dimaksudkan Josh bukanlah berarti Jesica yang tidak boleh mengusik hidupnya lagi. Tapi Dia yang dimaksudkan disini adalan Antoni. Yah, Mark menangkap maksud lain dari ucapan Josh, Josh berniat melepaskannya dan memintanya untuk menyelamatkan Jesica, tapi setelah itu Mark harus memastikan jika Antoni tidak akan mengusik hidupnya lagi.
Mark tersenyum miring seraya menggelengkan kepalanya perlahan-lahan. Sesungguhnya, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Josh. Kenapa Josh masih bermurah hati padanya? sebenarnya siapa Josh ini? Kenapa Josh masih memiliki hati nurani dibandingkan Antoni--bos besarnya. Saat itulah Mark sadar dan tahu apa yang harus dia perbuat.
"Kau tidak bisa menjebakku, Josh!" kata Mark yang sudah mengerti arah tujuan percakapan ini.
Josh menatapnya dan merekapun menyusun sebuah rencana.
Josh benar-benar melepaskan Mark begitu saja. Tapi, tidak dengan Jonas. Jonas masih berada ditangan Josh.
"Kau tahu, semua orang punya rahasia." kata Mark penuh arti pada Josh yang telah melepaskannya dengan mudah.
Josh menautkan alisnya satu sama lain untuk memahami maksud Mark.
"Antoni, dia juga pasti memiliki rahasia. Rahasia itu adalah sesuatu yang menyangkut kelemahannya."
"Apa rahasia itu?" tanya Josh.
"Aku tidak tahu pasti. Kau harus mencari tahunya sendiri." ucap Mark.
Disaat yang sama pula, Josh menerima panggilan dari Dimitri dan merencanakan pertemuan di Casino. Dia bertekad untuk mengetahui rahasia Antoni saat sudah berada di Casino nanti.
Mark dan Josh saling menatap penuh arti, karena sekarang mereka punya misi masing-masing sesuai dengan rencana yang telah mereka sepakati. Mark benar-benar dilepaskan oleh Josh begitu saja.
Flashback Off
_
Mark menarik Jesica keluar dari kamar tempatnya disekap, melewati beberapa penjaga yang masih dalam ruangan yang sama, mereka menatap Mark dengan senyuman tipis. Bahkan beberapa diantara mereka menawarkan bantuan untuk Mark dengan sedikit senda-gurau.
"Mark, jika kau tidak keberatan, biar kami membantumu." ucap salah satu diantara para penjaga itu yang melihat Mark menarik tangan Jesica.
Mereka semua mengira Mark pasti akan menghabisi Jesica karena begitulah yang dia katakan saat memasuki ruangan yang dijaga ketat itu.
"Jangan menyia-nyiakan kesempatan, setelah puas, kau baru bisa menghabisinya."
"Sebelum menghabisinya, pastikan kau bersenang-senang."
"Mark, bisakah menyisakan sedikit untukku?"
Mark hanya terkekeh kecil menanggapi suara-suara sumbang itu, sambil tetap menarik tangan Jesica untuk segera keluar dari ruangan itu. Dia terkekeh untuk menutupi rasa hati yang sesungguhnya.
Padahal dalam hatinya, dia ingin sekali mencekik semua kawan-kawannya itu-- yang menyapanya dengan nada menggoda. Dia bahkan menandai mereka semua didalam kepalanya. Mark tahu siapa saja yang mempunyai pikiran kotor saat melihat Jesica.
Setelah berhasil keluar dari dalam ruangan yang ternyata adalah rumah tua, Jesica yang sudah lelah mengikuti langkah Mark yang lebar, mulai mengeluarkan protesnya.
"Mark, kita mau kemana?" tanya Jesica dengan tatapan sendu.
Mark hanya diam, memakaikan Jesica helm fullface dan enggan menjawab pertanyaan gadis itu.
"Mark?"
"Naiklah, Jes. Jangan banyak bertanya hal yang tidak perlu." kata Mark cepat.
Jesica mendengus, kemudian naik ke atas motor dan duduk tepat dibelakang punggung Mark.
"Terserahmu saja! Aku masih marah padamu!" kata Jesica ketus.
"Iya, aku tahu. Diamlah..." Mark menyalakan mesin motornya dan berlalu dari tempat itu.
Mereka memasuki area hutan dan Jesica semakin kebingungan.
"Mark, kenapa kau membawaku kesini?"
Mark diam dan tetap fokus pada jalanan yang terbilang licin dan mulai tidak ber-aspal.
"Mark, jangan bilang kalau kau memang mau membunuhku seperti kata mereka tadi?"
"Kau takut padaku, hah?" Akhirnya Mark bersuara. "Yang benar saja, Jes!" sambungnya.
"Lalu kau mau apa membawaku ke hutan? Dan, bagaimana bisa kau lepas dari Josh?"
Mark menggenggam tangan Jesica yang melingkari perutnya. "Aku akan menjelaskannya nanti, untuk sekarang diamlah dan percayakan semua padaku."
...To be continue ......