My Another Love

My Another Love
Our Date



"Jangan lakukan itu, Josh!" wajah Vallery sudah menatap Josh dengan tatapan memohon yang sangat, membuat lelaki itu mau tak mau menghembuskan nafas kasar.


Vallery menggenggam tangan Josh, lalu menggeleng ke arahnya. "Dia melakukan itu dalam keadaan mabuk." lanjutnya lagi.


"Shiitt!!!" umpat Josh. "Tapi, setelah dia sadarpun dia tetap menginginkanmu kan?" sergahnya.


"Yang penting aku bersamamu, Josh. Bukan dengannya..." lirih Vallery seraya memeluk tubuh Josh. Membuat Josh terdiam beberapa saat, untuk meredam kemarahannya yang sudah di ubun-ubun.


"Jangan..." kata Vallery mengingatkan Josh lagi sembari masih memeluknya erat. Dia ingin menenangkan Josh melalui pelukan itu.


"Kau milikku, Vall. Kau milikku ..." gumam Josh yang pada akhirnya ikut membalas pelukan Vallery.


"I know, Josh."


Setelah merasa kemarahan Josh sedikit terkontrol, Vallery beringsut dari dekapan lelaki itu. "Bagaimana kalau hari ini kita berkencan saja." usulnya.


Josh menunduk demi menatap mata kecoklatan itu. "Not bad ... Itu lebih baik. Kau mau kemana? Aku akan mengabulkan kemanapun tujuanmu, hmm?"


Vallery terlihat mengetuk-ngetukkan jari di dagunya sendiri, seolah tengah memikirkan tujuan mereka.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan sekalian ajak Jesica. Dia pasti sedang sedih sekarang karena Mark."


Josh mengernyit mendengarnya. Namun dia masih diam mendengar Vallery yang terus berceloteh.


"Lalu, kita ajak juga Sophia."


Josh makin mengkerut.


"Nah, Dimitri juga boleh ikut. Kau tahu, Sophia sepertinya tertarik padanya." kata Vallery dengan polosnya terus berkata-kata.


Josh menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran Vallery yang ingin mengajak Jesica, Sophia bahkan Dimitri dalam kencan pertama mereka.


"Apa Alexa tidak sekalian kau ajak?" tanya Josh dengan niat menyindirnya.


Tapi, siapa yang menyangka jawaban gadis itu justru membuatnya melongo.


"Apa boleh? Itu ide yang bagus, aku sudah rindu dengan kakakku." sahut Vallery semringah.


Josh memutar bola matanya. "Seriously? Kau ingin mengajak mereka semua di kencan kita? Sekalian saja ajak Edward, biar aku membunuhnya didepan kalian semua." cibir Josh setengah marah saat mengingat ulah Ed lagi.


Vallery terkikik kencang, kemudian sadar dan membungkam mulutnya sendiri. "Just kidding, Baby..." ucapnya seraya berjinjit dan menarik cuping hidung Josh yang runcing.


Sudut bibir Josh terangkat dan di detik yang sama Vallery berlari ke arah kamarnya sebelum Josh membalas sikap jahilnya. Tapi bukan itu yang menjadi fokus lelaki itu sekarang, karena untuk pertama kalinya dia mendengar Vallery memanggilnya dengan sebutan mesra.


...๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’...


Josh lebih memilih menuruti keinginan Vallery tentang tujuan kepergian mereka. Selain dia tidak mempunyai refrensi tempat liburan di Texas, karena sudah lama meninggalkan kota itu, dia juga tidak bisa berfikir dikala kepalanya masih panas karena memikirkan prilaku Edward.


Akhirnya, setelah Vallery memberikan beberapa pilihan tempat tujuan atas inisiatifnya sendiri, merekapun memutuskan untuk ketempat yang bisa menyejukkan suasana hati Josh. Mungkin berendam didalam air yang sejuk bisa membuat hati dan pikiran lelaki itu sedikit mendingin.


Maka disinilah mereka sekarang, berada disalah satu tempat wisata yang berada di pelosok kota yang mereka tinggali.


Hamilton Pools Preserve, Austin, Texas.




Tempat wisata yang menyuguhkan panorama indah dan menyegarkan. Tampak seolah-olah itu dipetik dari sebuah pulau tropis, lalu dijatuhkan ke tengah-tengah perbukitan kapur.ย Lubang kolam yang kasar melingkar dan sebagian dikelilingi dinding berbatu. Gua yang eksotis dan terbentuk secara alami, serta air terjun yang jatuh dari langit-langit gua itu seakan melengkapi kesempurnaan pemandangan yang tercipta. Bahkan,ย tumbuhan pakis halus pun masih terlihat melekat pada bebatuan disekitar kolam. Sangat indah dan natural.


Sebuah panorama bak fatamorgana. Tapi ini nyata dan terbentang dihadapan mereka berdua. Lebih dari cukup untuk membantu merileks-kan pikiran yang sudah panas dan berkecamuk.


"Ternyata tempat ini benar-benar bagus." gumam Vallery dengan terkesima.


"Kau belum pernah kesini sebelumnya?" tanya Josh melirik sekilas kearah gadis itu.


Vallery menggeleng. "Aku hanya pernah mendengarnya dari teman-teman kampus yang kebetulan melakukan perjalanan wisata kesini."


"Kenapa kau tidak pernah mencoba berwisata kesini sebelumnya?" tanya Josh.


"No! Kakak terlalu sibuk dengan karirnya yang baru naik daun. Temanku satu-satunya hanya Sophia dan dia juga sibuk mengurus permasalahannya sendiri. Dulu, aku sangat ingin kesini dengan seseorang yang spesial." akunya.


Josh menyunggingkan senyum. "Dan akulah orang spesial itu." jawabnya pongah, tapi Vallery menganggukinya dengan takzim.


Josh terkekeh seraya mengacak rambut Vallery. "Come on, Baby ..." katanya seraya menuntun tangan Vallery dengan sangat kuat dan berhati-hati. Dia membawa gadis itu seolah-olah sangat takut jika gadisnya akan terpleset karena jalanan yang memang terbilang licin dan berbatu.


"Okay ..." Vallery bergumam sembari tertawa kecil menyadari sikap overprotect yang ditunjukkan oleh Josh. Tapi entah kenapa dia justru merasa senang dan terlindungi.


Suasana ditempat itu cukup ramai karena ini adalah hari Minggu. Tapi itu tidak menyurutkan ke-antusias-an mereka berdua.


"Jangan memakai itu atau lebih baik kita berkencan di rooftop apartemen saja." ancam Josh saat melihat Vallery berkemas tadi.


Saat ingin menceburkan diri ke kolam, Josh dengan mata setajam elangnya pun memindai keadaan sekitar sembari beberapa kali berdecak lidah.


"Ck! Seharusnya aku membooking tempat ini lebih dulu ..." gumam Josh.


Vallery mencebik. "Aku tidak suka itu. Aku lebih suka sesuatu yang terlihat biasa-biasa saja, menjalani dengan sewajarnya dan tidak bersikap seperti putri Raja." cibir Vallery dan Josh terkekeh kencang karena sindiran gadisnya.


"Bagaimanapun, aku ingin kau merasa nyaman dan aku melakukan itu juga karena privasi."


"Jika karena itu, kau bisa melakukannya disaat-saat tertentu. Kencan biasa dengan orang biasa sepertiku ya memang seharusnya seperti ini."


Josh kembali terkekeh seraya mengikuti Vallery yang sudah menceburkan diri kedalam air.


"Apa maksud dari 'saat-saat tertentu' itu?" tanya Josh seraya membentuk jari menjadi tanda kutip.


"Ya saat kau benar-benar membutuhkan privasi."


Josh mengernyit, lalu sedetik kemudian dia menyeringai. "Apa maksudmu saat Honeymoon?" tanyanya.


"Maybe..." jawab Vallery menyengir, lalu dia berenang ke arah berlawanan, meninggalkan Josh ditepi yang masih mencerna semua ucapannya tadi.


Josh menggelengkan kepalanya saat menyadari Vallery sudah meninggalkannya dengan berenang ke tepian yang ada diujungnya.


"Vall, tunggu aku." pekiknya, yang membuat beberapa orang melihat kearahnya namun dia tidak mempedulikan itu.


Mereka berenang kesana kemari dan menikmati keindahan alam yang masih sangat alami dan mengeluarkan aroma khas yang asing tapi entah kenapa sangat menyegarkan.


"Apa kau senang?" Josh merangkul bahu Vallery seraya mengamati burung-burung yang berkicau dan beterbangan sejauh mata memandang.


"Sangat!" jawab Vallery cepat. Dia menyunggingkan senyumnya yang memukau. "Thanks, Josh." lanjutnya.


"No ... no ... jangan ucapkan terima kasih padaku. Kau tahu kan aku ini lebih dari seorang pembohong?"


"Yeah, tapi aku tidak peduli. Aku akan terus berterima kasih padamu."


"Why?"


"Karena kau salah satu orang terbaik dalam hidupku." akunya tulus.


Josh terkekeh, bukan karena jawaban Vallery, tapi karena dia tidak menyangka jika gadisnya masih bisa mengatakan dia adalah orang terbaik setelah mengetahui siapa dia sebenarnya.


"Apa kau akan keberatan jika aku mengenalkanmu pada Orangtuaku?"


Vallery mengernyit seraya memutar tubuhnya untuk menatap Josh. "Apa kau serius?"


"Yes, I'm serious. Ayahku sudah lama ingin bertemu denganmu dan Ibuku selalu mendukung hal baik yang akan ku lakukan." bisik Josh seraya menarik ujung hidungnya.


"Ayahmu sudah lama ingin bertemu denganku?" tanyanya heran.


Josh mengangguk cepat. "Yeah, dia sangat penasaran dengan gadis yang membuatku tertarik selama bertahun-tahun."


"Hahaha, kau sangat pintar menggombal." ejek Vallery, namun Josh hanya mengangkat bahu tidak peduli dengan ejekan itu. Baginya, semua yang dia ucapkan adalah kebenaran dan Vallery memang satu-satunya gadis yang memenuhi pikirannya untuk jangka waktu yang lama.


Setelah puas berenang, lalu mengganti pakaian, mereka pun menuju taman yang masih berada dalam kawasan yang sama.


Disana, banyak terlihat pendaki yang melintas saat akhir pekan. Banyak photografer yang mengambil peran karena begitu banyak spesies hewan yang memang tinggal ditaman sepanjang tahun atau melewati tempat itu selama migrasi.ย Hewan-hewan itu termasuk rusa, rubah, sigung, kuskus, landak, dan kucing hutan.


Pihak tempat itu sepertinya memang mempertahankan tempat ini sebagai rumah bagi berbagai macam hewan, tanaman langka dan pohon-pohon.


Josh dan Vallery juga menemukan pohon cemara yang menjulang dengan akar menonjol, tempat yang sangat fotogenic. Membuat mereka tertarik untuk beberapa kali membidik kebersamaan dengan berswafoto ditempat itu, mengabadikan momen dengan memanfaatkan kamera ponsel pintar yang mereka miliki.


"Apa kau sudah merasa sedikit tenang?" tanya Vallery pada Josh yang telah duduk disebelahnya.


Josh menghela nafas dalam-dalam. "Untuk saat ini sudah, tapi besok atau nanti ... saat aku bertemu langsung dengan wajah si breng sek itu, mungkin emosiku akan kembali naik." jawabnya sambil mendengus, karena tiba-tiba wajah Edward yang menyeringai terlintas dikepalanya, seolah mengejeknya dan menantangnya untuk adu pukulan dengan tangan kosong.


Vallery menepuk-nepuk punggung tangan Josh, "Kau harus bisa mengontrol emosimu, Josh. Aku janji akan selalu mengingatkanmu." katanya menenangkan.


Josh hanya terkekeh mendengar penuturan Vallery, karena sejauh ini mungkin memang Vallery yang berhasil mencegah keinginannya untuk membunuh seseorang.


Tapi, seperti yang dia katakan tadi, bahwa dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika setelah ini dia akan dipertemukan dengan wajah Edward. Baik itu sengaja ataupun tidak disengaja. Entahlah.


"Mungkin aku akan membunuhnya diam-diam, sampai tidak ada seorangpun yang menyadari bahwa dia telah mati. Seperti yang dialami oleh sebagian musuhku dan termasuk Peter, Ayah tiri Sophia." batin Josh terkekeh jahat.


Sepersekian detik berikutnya, dia tersenyum miring sembari mengelus rambut Vallery yang mulai mengering diterpa angin sepoi-sepoi.


...To be continue ......