
Mobil yang membawa Josh pulang menuju Apartemen tiba di basement cukup larut malam, untungnya dia disupiri dan tidak membawa mobil itu sendiri, karena keadaan hari ini sungguh membuatnya pusing, tidak jadi mengeksekusi Mark, penculikan Jesica, telepon terus menerus dari Ayah dan Ibunya, hingga berujung pada sebuah fakta baru yang dia dapatkan dari Ayah Dimitri.
Saat keluar dari mobilnya, ponsel Josh kembali berdering. Dia pikir itu adalah Ayah atau Ibunya yang menanyakan keadaan Jesica seperti saat sebelumnya, ternyata itu adalah nomor salah seorang pengawal yang menjaga Vallery.
"Ada apa?" tanya Josh seraya melangkah melewati lobby.
"Seorang wanita baru saja datang, kami mencegahnya masuk tapi sepertinya dia adalah Kakak dari Miss Vallery."
"Apa?" reaksi Josh terlalu berlebihan, padahal dia tahu pasti jika yang dimaksudkan oleh sang bodyguard hanyalah Alexa. "Sudah berapa lama dia disana?" Josh bertanya seraya berlari cepat menuju lift.
"Sekitar 10 menit."
Josh memutuskan panggilannya secara sepihak, masuk ke dalam lift dan menekan tombol secara tidak sabar.
Saat mencapai pintu unit Apartemennya, kedua orang pengawal itu menyambutnya dengan perasaan was-was.
"Dimana mereka?" tanya Josh.
"Di dalam, Miss Vallery meminta Kakaknya untuk masuk."
Josh menghela nafas berat, setidaknya Alexa tidak mengajak Vallery keluar dari Apartemennya. Mari kita lihat apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.
Josh membuka pintu Apartemen dengan tergesa.
"Aku akan pulang jika kau ikut bersamaku. Membiarkanmu disini sama dengan mengorbankan nyawamu, Vall !!! Josh itu bukan pria sembarangan! Dia bisa membahayakanmu!"
Josh mendengar ucapan Alexa itu dengan jelas saat dia memasuki ruangan.
Josh mengusap wajahnya sejenak saat kedua orang dihadapannya melihat ke arahnya.
"Josh..." Vallery memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan, mungkin karena merasa tidak enak akibat ucapan sang Kakak.
Josh beralih ke Alexa, wanita itu menatap Josh penuh arti dan Josh membalas dengan tatapan yang sama. Hanya mereka berdua yang tahu isi pikiran masing-masing dibalik tatapan itu.
"Kau disini, Al?" tanya Josh berbasa-basi. Alexa hanya mengangguk sekilas.
Josh mengangguk-anggukkan kepalanya seraya berjalan mendekat kearah keduanya. Setelah dekat, Josh pun duduk di sofa tanpa mengalihkan tatapan dari wajah Alexa.
Alexa membuang pandangan dan mulai bersuara.
"Josh, aku ingin Vallery ikut pulang bersamaku." ucapnya pelan.
"Kau tahu kan, sebelumnya aku sudah meminta izinmu agar Vallery tinggal bersamaku." kata Josh tenang.
Alexa menggeleng. "Ya, awalnya aku memang mengizinkan. Tapi ..." Alexa ragu meneruskan kalimatnya.
"Why, Al?" Josh bersedekap dada dengan santai.
"Tapi itu sebelum aku tahu siapa kau sebenarnya."
Josh terkekeh kecil. Tangannya melambai ke arah Vallery, memberi isyarat agar gadisnya mendekat dan Vallery menghampirinya lalu duduk disampingnya setelah Josh menepuk sisi sofa yang ada disebelahnya.
Josh merangkul Vallery. "Memangnya siapa aku sebenarnya, Al?" Josh mengelus rambut Vallery tapi tatapannya tetap tertuju pada Alexa.
"Kau bukan orang yang baik untuk Vallery." jawab Alexa cepat.
"Darimana kau tahu hal itu?"
"Aku tahu dari Edward."
Josh terkekeh kecil sampai Vallery yang masih berada dalam dekapannya mengernyit heran melihat tingkah Josh yang sulit ditebak.
"Benarkah kau tahu siapa aku dari Edward?" Josh berkata dengan nada mencibir, membuat Vallery semakin terheran-heran diposisinya.
Alexa kembali menatap Josh, seolah meneliti sikap absurd yang Josh tunjukkan didepannya. Kemudian Alexa mengangguk-anggukkan kepalanya secara berulang. "Sure, aku tahu tentangmu dari Edward." katanya.
Josh berdehem-dehem sekilas, kemudian dia mulai berujar lagi. "Al, terlepas dari apapun yang terjadi. Aku mencintai Vallery." ucap Josh penuh penekanan.
"Coba saja kau tanyakan pada Vallery, dia ingin bersamaku atau ikut pulang denganmu?" sambung Josh lagi.
Alexa berdiri dari duduknya, dia mondar-mandir secara gelisah. "Kau tidak perlu menyuruh Vallery memilih. Dia adalah Adikku!" katanya kemudian.
Josh tertawa sumbang. "Ya, ya, ya. Dia adikmu." Josh melepas rangkulannya pada Vallery, menatap lekat-lekat wajah gadisnya. "Kau akan pulang dengan Alexa?" tanya Josh.
Vallery diam dan menundukkan wajahnya.
"Come on, Vall ! Aku tidak mau kau terlibat dengannya." kata Alexa meradang.
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, Kak. Bahwa aku tidak akan meninggalkan Josh." lirih Vallery yang membuat Josh melengkungkan bibirnya sementara Alexa mendengus sebal mendengarnya.
"Kau bisa pulang, Al. Jika kau lupa, pintu keluarnya ada disebelah sana." kata Josh seraya menunjuk arah dimana pintu berada.
Alexa mendengus kembali. Dia tidak bisa berbuat apapun, lebih tepatnya dia sulit berbuat apa-apa didalam Apartemen Josh. Seharusnya tadi dia mengajak Vallery berbicara diluar Apartemen.
Alexa bergerak menuju pintu keluar, mungkin hari ini dia gagal membujuk Vallery, tapi besok atau lusa, dia mungkin masih bisa memikirkan cara lain agar Vallery berada disisinya. Walau bagaimanapun, Vallery adalah Adiknya dan dia tidak mau Vallery didalam genggaman Josh. Dia menyesali kenapa dulu membiarkan Vallery tinggal bersama Josh tanpa menyelidiki lebih dalam siapa Josh sebenarnya.
Saat Alexa hampir mencapai ambang pintu, Josh berseru kepadanya.
"Kau cukup nekat datang kesini, Al. Lain kali akan ku pastikan, akulah yang akan mendatangimu." ucap Josh dengan nada mencibir dan Alexa mendengus mendengarnya.
Well, untuk hari ini sampai disini saja, Al.-Batin Josh.
Josh kembali melihat Vallery yang berubah murung diujung sofa.
"Kau tidak tidur?" tanya Josh sambil mencubit kecil pipi Vallery.
Vallery menggeleng. "Aku mengkhawatirkanmu. Bagaimana dengan Jesica?"
"Jesica baik-baik saja."
"Kau yakin?"
"Ya, besok akan menjadi hari yang panjang. Mereka benar-benar ingin menukar Jesica dengan Mark."
"Mau bagaimana lagi.."
"Kenapa Jesi bisa tertangkap? Dia memiliki senjata dan ilmu bela diri." kata Vallery.
"Sepertinya dia di bius dengan suntikan. Untunglah sebelum dia pingsan dia sempat berteriak." Josh membelai wajah Vallery lalu dia teringat sesuatu.
"Baby, bicara soal senjata yang dimiliki Jesi..." Josh membuka kancing Jas-nya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. "Kurasa kau juga membutuhkannya. Ini, simpanlah..."
Vallery tercengang karena Josh mengeluarkan pistol dan meletakkan tepat digenggamannya. Demi apapun, Vallery tidak menyangka jika dia harus dihadiahi benda semacam ini dari kekasihnya.
"Josh, Aku tid--"
"Jangan katakan kau tidak membutuhkannya! Simpanlah..."
"Tapi, Josh..."
Cup!
Josh mengecup bibirnya sekilas dan menatap mata kecoklatan milik Vallery dengan tatapan paling meneduhkan. Membuat Vallery bergetar melihatnya.
"Untuk saat ini, jangan percaya pada siapapun. Kau hanya cukup percaya padaku saja." ucap Josh dengan penuh kelembutan.
"Why?"
"Cukup katakan iya, Vall."
"Oke, yes."
"Bagus..." Josh mengacak rambut Vallery dan berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Vallery kuliah seperti biasa, tapi pengawal hari ini bertambah menjadi empat orang untuk menjaganya. Dia bahkan merasa risih dengan tatapan semua orang yang melihat kedatangannya dengan pengawalan ketat.
Sebenarnya Vall sangat malas untuk kuliah, tapi dia harus datang karena sudah ada janji dengan salah seorang Dosennya.
Sophia tampak sibuk, sama seperti dirinya. Ini karena mereka akan melakukan sidang dan tidak berselang lama mereka akan diwisuda.
"Sophi, bagaimana keadaanmu? Belakangan hari kita jarang menghabiskan waktu bersama?" tanya Vallery pada Sophia yang diam sejak kedatangannya.
"Aku baik, Vall." Sophia tampak memperhatikan orang-orang yang berjaga didepan pintu kelas mereka. Sophia tahu itu adalah bodyguard Vallery dan membuatnya jadi semakin bertanya-tanya siapa Josh sebenarnya.
Selama ini, Sophia memang bekerja pada Josh untuk menguntit Vallery, tapi dia tidak tahu siapa Josh sebenarnya. Kedatangan orang-orang asing itu membuatnya semakin mengerti jika sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dan membuat Josh sangat mengkhawatirkan Vallery.
"Mereka orang-orang Josh?" Sophia berbisik disebelah Vallery, ucapannya tentu mengarah pada empat orang Bodyguard Vallery.
"Huum ..." Vallery mengangguk, walau bagaimanapun dia menutupi pada Sophia tentang siapa Josh sebenarnya, tapi kehadiran para bodyguard tentu akan membuat orang lain bertanya-tanya.
"Vall, maaf jika kau tersinggung. Aku ingin bertanya, sebenarnya siapa Josh? Apa dia seorang big bos?" Sophia kembali berbisik-bisik, takut jika pertanyaannya didengar orang lain.
"Kau ingin tahu?"
Sophia mengangguk. "Josh itu, dia adalah... " Vallery sengaja menggantung kalimatnya.
"Siapa?" tanya Sophia tidak sabar.
"Dia bukan siapa-siapa, Sophi..." jawab Vallery sambil terkikik.
"Ah kau ini!" Sophia bersunggut-sunggut, "Tidak mungkin dia bukan siapa-siapa, dia memiliki banyak uang. Dia memiliki banyak Apartemen. Dia memiliki pengawal yang banyak untukmu dan Jesica...Jesica adalah adiknya kan?"
"Kau tahu?"
"Kau juga sudah tahu?" Sophia mengernyit.
"Tentu aku tahu." Vallery mencoba tertawa agar Sophia tidak curiga, karena kini Vallery mengingat keadaan Jesica yang berada entah dimana.
"Apa kau serius dengan Josh? Kalian tinggal bersama bukan? Ah ya, apa kalian sudah berkencan? Sudah Make love? Apa dia sudah tahu kekuranganmu?" cecar Sophia penuh antusiasme yang tinggi.
Semua pertanyaan Sophia itu hanya dijawab anggukan kepala oleh Vallery.
"Oh my God..." Sophia menggaruk dahinya sendiri.
"Dia menerimaku dan bahkan lebih protectif sekarang." ucap Vallery seraya melirik sekilas kearah orang-orang yang berjaga didepan pintu.
"Jadi, dia memberimu bodyguard hanya karena rasa cintanya yang begitu besar? Bukan karena sesuatu telah terjadi?" Sophia mulai bertanya lagi.
"Apa maksudmu dengan, 'sesuatu telah terjadi'?"
"Biasanya, orang akan dikawal karena sesuatu yang buruk telah terjadi."
Vallery memutar bola matanya, walaupun memang sesuatu telah terjadi kepada Jesica, sehingga diapun harus dijaga ketat seperti ini.
"Kau harus jujur padaku, Vall. Jangan menutupi apapun."
"Yah, sesuatu telah terjadi. Jesica diculik dan Josh takut itu akan terjadi padaku juga."
"Are you serious?"
Vallery mengangguk. Sedangkan Sophia menelan salivanya dengan susah, tidak salah selama ini jika dia mengira Josh bukan orang sembarangan. Semua ini terjadi pasti karena Josh memang memiliki 'sesuatu' yang tidak pernah terduga.
Sophia mengetuk-ngetuk jarinya di dagu, mencoba memikirkan sesuatu. "Vall, jangan katakan bahwa Josh adalah seorang mafia atau semacamnya." Sophia bertanya dengan kata-kata ragu.
"Begitulah, Sophi..."
"Astaga... jaga dirimu baik-baik, dia pasti memiliki banyak musuh." kata Sophia bijak.
Vallery mengangguk samar.
"Aku doakan semoga kau berhasil dengannya." ucap Sophia lagi dengan tulus.
...To be continue ......