
Saat ini, yang ingin Alexa dengar hanyalah kejujuran dari mulut Vallery. Dia ingin Vallery terbuka dan menceritakan kejadian nahas itu. Dia pun fokus menatap Vallery. Vallery terlihat diam, wajahnya pias dan tampak serba salah.
"Ayo jujur padaku, Vall. Apa yang kau sembunyikan dariku!?" tanya Alexa lagi.
Vallery menunduk, "Kak ... Aku--aku," dia ragu-ragu untuk melanjutkan.
Alexa berdecak dan ikut berdiri disamping Vallery, dia memeluk tubuh Vallery yang bergetar.
"Edward menyakitimu?"
Vallery mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Lebih baik kami memang berpisah saja." gumam Alexa seraya mengurai pelukannya.
Vallery melotot. "Tidak--tidak, Kak!" tegasnya.
"Sebenarnya, dia sudah mengakui semuanya padaku. Aku hanya ingin mendengarnya langsung darimu." kata Alexa.
Vallery memejamkan matanya sejenak akibat ucapan Alexa. "Dia menceritakannya padamu?" tanyanya.
"Yah ..."
"Seharusnya dia melupakannya dan menganggap tidak pernah terjadi apapun diantara kami."
"Vall !!!" Suara Alexa meninggi. "Disini kau adalah korbannya, bagaimana bisa kau tetap bungkam seperti ini? Aku bahkan sudah mengatakan ingin mendengar pengakuanmu secara langsung, tapi sepertinya kau memang tidak ada niat untuk terbuka padaku!" ucapnya dengan raut wajah kecewa.
"Karena dia adalah suamimu, Kak. Dan aku, sangat menghargai pernikahan kalian. Aku ingin kalian tetap bersama. Tapi kenapa kau bertindak bodoh, Kak? kenapa kau malah berkhianat dengan Jonathan?" kata Vallery.
Alexa mengusap kasar wajahnya. "Aku tahu aku salah, tapi dia juga bersalah padaku, bahkan padamu, Vall."
"Aku tidak menuntut apapun dari Kak Edward, dia memang salah tapi aku sedang berusaha melupakan kejadian itu."
"Lalu aku harus bagaimana, Vall?" tanya Alexa frustasi.
"Pertahankan rumah tanggamu, Kak. Kalian sama-sama salah dan saling memaafkanlah." kata Vallery memberi jalan tengah.
Alexa menghela nafasnya pendek-pendek, seraya memikirkan saran dari sang Adik. Alexa mengakui kesalahannya pada dirinya sendiri. Tapi, hatinya memang terlalu egois untuk bisa memaafkan kesalahan yang Edward torehkan dalam kehidupannya.
"Jika aku memaafkannya, bagaimana denganmu, Vall?"
Vallery tersenyum getir. "Aku akan tetap baik-baik saja, Kak." lirihnya.
"Lalu, jika aku tidak memaafkannya dan kami berpisah, bagaimana?"
"Aku juga akan baik-baik saja, semua akan sama, kecuali statusmu yang berubah menjadi single lagi." kata Vallery sambil tersenyum simpul.
Alexa menelisik ke wajah Adiknya. "Benarkah? Aku pikir kalau aku berpisah dengan Ed, kau akan menuntut pertanggung-jawaban darinya." tuturnya seraya menatap langit-angit ruangan.
"Maksudmu meminta pertanggung-jawaban itu, semacam hal apa?" Vallery bertanya dengan kening berkerut.
"Mungkin kalian akan bersama setelah perpisahan kami." Alexa tertawa miris.
"You're crazy! Mana mungkin!" sanggah Vallery cepat.
"Jika itu terjadi pun tidak masalah denganku."
Vallery menggeleng, dia tidak pernah berpikir untuk bersama seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidup Kakaknya.
"Shut up! Aku sudah memiliki orang lain. Dia sedang menungggumu dibawah." jawab Vallery dan Alexa pun menyadari sesuatu saat itu juga.
"Ya, ya, ku harap Josh mau menerima kondisimu. Jika memang tidak, terpaksa kau harus menuntut Ed untuk bersamamu. Ku rasa itu tidak sulit, walaupun nanti kau akan terlihat seperti memungut bekas suamiku." kelakar Alexa.
Vallery menggelengkan kepalanya. "No!" jawabnya cepat. "Jangan berpisah, Kak." Vallery mengelus pundak Alexa.
Alexa hanya membalas itu dengan senyuman kecil, mereka pun keluar dari kamar dan menuruni tangga bersama-sama.
"Hai, Josh ..." sapa Alexa ramah seraya duduk diseberang pemuda yang asyik dengan ponselnya.
Josh mengalihkan perhatiannya dari ponsel, lalu melihat seseorang didepannya. "Hai Al ..." jawabnya sambil menyunggingkan seulas senyuman.
"Maaf jika membuatmu menunggu terlalu lama."
"No problem." Josh menggeleng kecil.
Vallery tampak ikut duduk disebelah Josh, Alexa memperhatikannya.
"Apa hal penting yang membawamu kemari, Josh?"
Josh menatap Vallery sekilas sambil tersenyum kecil sebagai bentuk permintaan izin agar dia memulai kata-katanya pada Alexa. Vallery mengerti isyarat itu dan dia menjawabnya dengan kedipan mata.
"Begini, Al. Aku menjalin hubungan yang serius dengan Vallery ..." Josh menjeda ucapannya, ingin melihat reaksi Alexa yang sepertinya tertarik dengan pembicaraan ini. Vallery sendiri cukup terkejut dengan pernyataan Josh kepada Kakaknya. Hanya saja, dia memilih diam dan mendengarkan.
"Aku kesini meminta izinmu, aku dan Vallery sudah sepakat untuk tinggal bersama di Apartemenku."
Alexa terperangah. Dia menatap Josh tanpa berkedip. "Are you serious?" tanyanya syok.
Josh mengangguk mantap.
"Lalu, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Adikku?" tanyanya.
"Sesuatu seperti apa maksudmu?"
"Itu, eumm ... begini Josh, Vall tidak pernah berhubungan dengan lelaki sebelumnya jadi--"
"Kau mengkhawatirkannya atau justru kau mengkhawatirkan tindakan apa yang akan ku perbuat padanya?" Josh terkekeh kecil.
"Aku yakin kau pintar mengartikan maksudku. Aku mengkhawatirkan keduanya." Alexa ikut terkekeh sementara Vallery tertunduk malu dalam posisinya.
Alexa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Bagaimana denganmu, Vall? Apa kau tidak bisa jauh dari lelaki tampan ini, huh?" ejeknya.
"Se-sepertinya begitu." jawab Vallery apa-adanya sambil tetap tertunduk. Dia terlalu malu dengan semua ini.
Josh menggenggam tangannya. "It's oke.. it's oke, Vall." katanya menenangkan gadis itu.
"Well, itu memang lebih baik daripada dia tinggal disini. Setidaknya, tinggal bersamamu adalah keinginannya juga. Jadi apapun yang terjadi, berarti dia siap untuk menanggung resikonya. Benar begitu, Vall?" kata Alexa berbicara dua arah--pada Josh kemudian merujuk pada Vallery, sang adik.
"Iya, Kak. Aku tahu."
"Jadi kau mengizinkan?" tanya Josh lagi ingin memastikan.
Alexa memutar bola matanya malas. "Josh, so gentleman! I like you ...Aku menghargaimu. Jaga kepercayaanku dan jaga adikku baik-baik! Dia adalah tanggung jawabmu sekarang, karena kau sudah memintanya padaku." kata Alexa semringah.
Josh tersenyum miring. "Aku akan menjaganya lebih dari menjaga diriku sendiri." jawabnya sembari menatap Vallery yang sudah dengan wajah merah padam.
Genggaman tangan mereka tidak terlepas dan Alexa tersenyum kecil melihat itu, Dia berharap Josh adalah memang laki-laki yang tepat untuk Adiknya. Alexa juga berharap jika Josh tidak akan meninggalkan Vallery setelah tahu keadaan Vallery yang sebenarnya.
Untuk saat ini, Alexa yakin diantara keduanya belum berhubungan terlalu jauh. Dia tahu Vallery butuh seseorang untuk mengalihkan pikirannya dari kejadian yang tidak mengenakkan. Vallery sudah memendam kesakitannya sendiri dan Alexa ikut merasa bersalah atas apa yang menimpanya.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Mobil sport hitam metalic dengan double kabin pun membelah jalanan, menyusuri jalanan yang berbeda daripada biasanya untuk mengantarkan gadis yang duduk di kursi penumpang.
"Josh, kita mau kemana? Ini bukan ke arah Apartemen biasa." kata Vallery menyadari arah yang dilaluinya. Biasanya Josh akan mengantarkan ke arah Selatan tapi kali ini mobilnya malah bergerak ke arah Utara.
Josh tetap fokus mengemudi. Dia meilirk Vallery sekilas. "Bukankah kau sudah resmi pindah ke Apartemenku yang satunya?" tanyanya balik.
"Oh ..." Vallery ber-oh saja, lalu dia menyadari sesuatu. "Bukankah barang-barangku masih disana? Kita harus kesana mengambilnya, Josh."
Josh menggeleng kecil. "Kita tidak akan kembali kesana. Pagi tadi, Aku sudah bilang jika itu adalah terakhir kalinya aku kesana. Lagi pula, Barang-barang pentingmu sudah dipindahkan Dimitri ke Apartemen utama."
Vallery sedikit terkejut, tapi dia hanya bisa mengangguk sebagai bentuk jawaban tidak protesnya.
Setelah hening beberapa saat, Vallery mulai bicara kembali.
"Josh..."
"Ya?"
"Apa yang kau katakan pada Kakakku itu benar?"
"Yang ku katakan pada kakakmu? Yang mana?" tanyanya balik.
"Soal kau serius denganku dan mau menjagaku."
Seulas senyuman terbit diujung bibir Josh. "Baby, aku sangat serius padamu. Tanpa dimintapun, Aku tetap akan menjagamu." Josh mengambil jemari Vallery, membawanya ke depan bibirnya dan mengecupnya berulang.
Vallery membuang pandangan ke luar jendela, demi apapun sikap Josh yang seperti ini sungguh membuatnya malu sekaligus resah.
Cup! cup! cup! cup!
Josh terus mengecupi tangan Vallery bertubi-tubi.
"Sudahlah, Josh." kata Vallery seraya menarik jemarinya dari depan wajah lelaki itu.
"Kenapa?" tanyanya polos.
"Tidak ada! Mengemudi saja dengan fokus."
"Jika hanya mengemudi sambil mencium tanganmu itu tidak masalah, Sayang. Aku bahkan bisa mengemudi sambil menutup mata." kelakar Josh sambil tergelak sementara Vallery bersunggut-sunggut melihat kepercayaan diri pemuda itu.
Mobil mereka pun terparkir rapi di Basemant Apartemen. Keduanya memasuki lobby dan menaiki lift untuk menuju kediaman Josh. Tidak sekalipun Josh melepaskan tangan Vallery dari genggamannya, mereka melangkah melewati koridor ruangan sambil bergandengan tangan.
Ini adalah kali kedua Vallery ke Apartemen yang ditinggali Josh, dan kali ini dia akan ikut tinggal disana. Membayangkan itu membuat Vallery tersenyum kecil dan semu merah mulai menjalari permukaan pipinya.
"Memikirkan apa?" tanya Josh disela-sela perjalanan kaki mereka.
"Tidak ada." kilah Vallery.
"Hemm, jangan memikirkan yang tidak-tidak ya!" peringat Josh padanya.
"Yang tidak-tidak itu apa?" tanya Vallery balik.
"Memikirkan laki-laki selain aku." Goda Josh seraya menaik-naikkan alisnya. "Dikepalamu hanya boleh memikirkan seorang laki-laki dan itu adalah aku."
Vallery hanya menggeleng mendengarnya.
"Ingat ya, kau adalah milikku!"
"Oh ya? Jika aku lupa bagaimana?" tantang Vallery.
"Jika kau lupa maka aku akan menggelitikimu." kata Josh seraya benar-benar menggelitiki perut Vallery. Vallery terkekeh nyaring, diiringi kekehan Josh juga yang diakibatkan oleh kelakuan mereka berdua.
Saat tiba didepan pintu Apartemen Josh, lelaki itu menekan password Apartemennya lalu pintu terbuka. Mereka berdua pun masuk, masih diselingi dengan tawa yang riuh tanpa memperhatikan sekitar. Josh menutup pintu dengan asal, merangkul Vallery untuk memasuki ruangan.
"Josh? Vallery?"
Suara yang terdengar menyapa itu, berhasil menghentikan tawa kedua insan yang tengah diliputi perasaan hangat itu. Secara otomatis, keduanya pun menoleh ke sumber suara.
"Jesica? Kau--sedang apa kau disini?" Vallery syok menatap Jesica yang terduduk di sofa, lalu dia berganti menatap Josh seolah meminta penjelasan.
...To be continue ......