My Another Love

My Another Love
Where are you?



"Apa kau akan menginap disini?" Vallery menoleh ke arah Josh yang bersandar di dinding lorong. Mereka baru tiba di Apartemen setelah menghabiskan waktu bersama Ed dan Alexa di Rumah.


Josh menggeleng. "Sebaiknya aku pulang, jika aku tidak bisa tidur mungkin aku akan kembali kesini." kelakar Josh dengan seringaian tipis.


"Baiklah." Vallery mengangguk kecil, duduk di sofa dan membuka sepatu sneakers-nya.


"Vall ..."


"Yah?" Vallery mengadah melihat Josh yang masih berdiri bersandar dengan melipat kedua tangan di dadanya.


"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?"


Vallery menatap Josh heran. "Soal apa?" tanyanya.


Josh berjalan mendekat ke arah sofa, mendudukkan diri tepat diseberang Vallery yang juga terduduk.


"Bolehkah aku tahu apa hubunganmu dengan Ed?"


Vallery diam dan tampak berpikir.


"Aku merasa kau begitu gugup setiap ada Ed ..." tambah Josh seraya menelisik ke arah Vallery yang bergeming sambil meremass tangannya sendiri.


"Sudahlah, lupakan saja ..." kata Josh karena Vall tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Josh ..." suara Vallery melirih.


"Sudahlah, kau tidak perlu menjawabnya jika itu akan membebaninu. Maafkan aku." suara Josh melembut dan kini dia berdiri dari duduknya.


"Aku pulang, Vall ..." Josh beranjak dan melangkah meninggalkan Vallery yang tertunduk dengan pikiran yang berkecamuk.


"Josh, apapun yang kau pikirkan tentang aku dan Kak Edward ... tolong lupakan itu!" sergah Vallery saat Josh hampir menyentuh handle pintu.


Josh berbalik. "Why?"


"Please ... jangan berpikir apapun tentangnya." Vallery menghela nafasnya sejenak. "Ingat saja tentang kita jangan menanyakan tentang orang lain." sambung Vall sambil tertunduk.


Josh tersenyum tipis. "Baiklah, aku tidak akan menanyakannya lagi kecuali kau yang akan membuat pengakuan padaku." Josh mengerti jika Vall mungkin sulit untuk mengakui sebuah kebenaran karena dia juga berada diposisi yang sama seperti Vall, Josh tidak mau memaksanya sebagaimana dia pun tidak mau dipaksa untuk jujur pada Vallery, biarlah mereka sama-sama mengakui disaat yang tepat menurut mereka masing-masing.


Vallery mengangguk dan Josh memeluknya sejenak. "Setelah aku pulang, tidurlah yang nyenyak." katanya sambil menangkup kedua pipi Vallery.


"Huum.." Vallery mengangguk lagi dan Josh terkekeh melihatnya.


"Kau adalah kekasihku! Ingat itu, hmm?"


"Aku mengingatnya." jawab Vallery sambil menyengir.


Josh gemas melihat tingkah gadis itu dan seperti biasa dia akan mengacak rambut Vall sebelum dia pergi.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Apa kau sudah bertemu dengannya?" tanya Josh pada Asisten yang berdiri kaku disebelahnya.


"Bertemu dengan siapa, Sir?" tanya Dimitri.


"Dengan Adikku,"


Dimitri mengangguk sekilas. Ekspresinya selalu tidak terbaca dan disinilah keahlian Josh harus bekerja lebih ekstra untuk mengetahui apa yang terjadi.


"Apa kau melihatnya bersama kekasihnya?" cibir Josh mulai menerka-nerka.


"Saya melihatnya di kampusnya, Sir." ucap Dimitri jujur.


Josh tersenyum miring, "Apa kau ingin menyamar menjadi Mahasiswa sepertiku juga agar bisa mendekati wanita?" goda Josh.


Dimitri mengernyit sesaat lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sir, saya tidak mau melakukan tindakan bodoh seperti itu. Pekerjaan saya masih banyak." jawabnya.


Josh melotot melihat Sang Asisten. "Apa maksudmu aku ini bodoh?" tanyanya.


"Bu-bukan begitu, Sir. Saya hanya takut membuang-buang waktu untuk hal itu. Jika--"


"Apa maksudmu aku membuang-buang waktu?" Josh bangkit dari kursi kebesarannya, ucapan Dimitri cukup mengganggunya.


"Tidak, Sir." jawab Dimitri cepat. "Saya tahu kalau Anda melakukan itu untuk mendekati Miss Vallery. Itu--itu bukan tindakan yang sia-sia, buktinya dia sekarang sudah tinggal di Apartemen Anda, Sir." jawab Dimitri cepat untuk menyelamatkan diri dari semprotan kemarahan Sang Atasan.


Josh mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baguslah jika kau paham." katanya.


"Apa jadwalku hari ini? tanya Josh lagi.


"Rapat Direksi mengenai kepemilikan perusahaan selanjutnya, akan dihadiri oleh Mr. Greselle langsung, Tuan." tambah Dimitri.


"Maksudmu Ayahku akan ke sini?" tanya Josh terkejut.


Dimitri mengangguk. "Beliau sudah mengatakannya kemarin saat dia menanyakan kabar Anda."


"Dia tidak meneleponku." kata Josh.


"Beliau tahu kalau Anda sedang sibuk sekarang." ucap Dimitri, dan Josh tahu jika itu adalah sindiran untuknya karena akhir-akhir ini dia memang sibuk tapi sibuk dengan Vallery bukan sibuk mengenai pekerjaan.


Josh berdecak mendengar sindiran Asistennya. "Aku akan menelepon Ayah nanti, pergilah..." kata Josh mengusir Dimitri seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Begitulah keinginan Ayah Anda, Sir. Telepon dia sesekali. Jangan mengharapkan dia saja yang menghubungi Anda." cibir Dimitri.


"Sudah berani kau menasehatiku!" hardik Josh dan Dimitri hanya tertunduk sambil menggerutu dalam hatinya.


"Sudah jelas-jelas semua ucapanku itu benar, Sir. Kau terlalu fokus pada gadis masa lalumu itu." kata Dimitri dalam hatinya.


"Dimitri, kau akan tahu akibatnya jika kau mengataiku dalam hatimu!" Ucap Josh dan Dimitri tidak berani menatap wajah lelaki yang ada didekatnya itu. Demi apapun, kenapa Josh sangat bisa membaca gelagat orang lain.


Atau jangan-jangan dia juga bisa membaca pikiran orang lain?-pikir Dimitri.


"Aku bisa membaca pikiranmu! Jangan berpikir macam-macam tentangku!" kata Josh seolah memang tengah menjawab pikiran sang Asisten.


Dimitri menepuk jidatnya sendiri, sementara Josh menyeringai melihatnya.


"Apa target di Rusia kemarin bisa melejit saat ku tangani?" tanya Josh, terkadang ada keraguan dalam dirinya sendiri.


"Saya rasa itu pasti bisa, Sir. Anda tidak perlu meragukan kemampuan Anda sendiri." imbuhnya.


Josh mengangguk. "Jika benar begitu, maka minggu depan aku bukan karyawan Ayahku lagi, Dimi ..." Josh terkekeh hambar. Dia memang antusias melanjutkan perusahaan Ayahnya, tapi dia tidak habis pikir, karena secara tidak langsung dia juga harus terjebak untuk meneruskan bisnis kotor dibalik perusahaan ini. Dan bisa-bisanya dia mewarisi ketelatenan Ayahnya dibidang itu.


"Aku membenci orang-orang seperti Ayahku. Tapi ternyata aku harus terjebak dalam hal semacam ini, aku tidak lebih baik darinya." gumam Josh.


Dimitri mendengar itu, "Setelah Anda menemukan orang-orang itu dan melenyapkannya, apa Anda akan memisahkan diri dari perusahaan utama?" tanya Dimitri.


"Entahlah ..." kata Josh sambil menghela nafas kasar.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Josh tiba di Apartemen Vallery saat hari mulai beranjak sore, dia mencari keberadaan gadis itu tapi Vallery tidak ada dimana-mana. Dia mencari ke kamar, kamar mandi, dapur, semuanya tidak menunjukkan keberadaan Vallery.


Hatinya mulai khawatir. Dia tahu pengamanan Apartemen ini lebih baik daripada Rumah biasa, makanya dia cukup tenang jika Vallery tinggal disini.


Tapi, bagaimana jika Vallery memang pergi ke luar dari Apartemen? Apa dia akan aman? Josh mulai gelisah.


Sejak dia mengatakan pada Vallery bahwa gadis itu adalah kekasihnya, ketakutannya bukan hanya jika Vall dekat dengan lelaki lain. Sejujurnya ada hal lain, dia takut Vallery akan menerima dampak dari keterlibatannya dengan bisnis kotor Ayahnya. Karena itulah, Josh menahan perasaannya selama ini, dia tidak mau Vallery memasuki kehidupannya yang tidak biasa. Tapi sayangnya, dia sendiri kalah karena tidak mampu membendung lagi rasa ingin memiliki gadis itu.


"Vall, kau dimana?" Josh berteriak, suaranya memenuhi seluruh ruangan Apartemen. Sebelum kesini, Josh sudah menelepon Vallery dan gadis itu mengatakan sedang di Apartemen. Lalu kenapa sekarang tidak ada?


Josh segera menelepon seseorang.


"Apa kau tahu dimana Vallery?" sergapnya begitu panggilan itu tersambung.


"Tidak,"


"Kau tidak mengikutinya hari ini?"


"Tidak, tapi aku mengawasinya karena dia tidak keluar Apartemen hari ini, jadwal kuliah juga kosong." jawab seseorang dari seberang sana.


"Lalu dimana dia? Aku di Apartemennya sekarang!"


"Aku tahu, aku melihatmu masuk."


"Apa ada orang lain yang datang sebelum kedatanganku?" cecar Josh.


"Tidak ada, tenanglah.. Vallery pasti ada didalam. Kenapa kau terlalu histeris?"


Josh menutup panggilan teleponnya, daripada dia berdebat dengan orang itu lebih baik dia mencari lagi Vallery secara tenang dan pikiran jernih.


"Vall, Where are you?" gumam Josh.


...To be continue ......