
Josh tersenyum miring sembari menatap Mark yang terikat dikursi pesakitan. Wajahnya sangat tidak bersahabat dan aura hitam terpancar jelas dari raut tegas itu. Rahangnya mengeras dan tangannya terasa gatal, seakan ingin mencincang Mark menjadi potongan-potongan kecil, karena sudah nekat bermain-main dengannya.
Jiwa kebengisan dalam dirinya keluar, hanya karena mengingat perbuatan Mark pada Vallery tempo hari.
"Bangun kau, Breng sek!" ucap Josh penuh penekanan. Dia menendang kaki Mark yang masih tertidur.
Mark terkesiap, disaat yang sama dia sadar dan membalas tatapan Josh dengan tak kalah sengitnya.
Josh mendengus lalu menyeringai penuh arti. "Bagus ..." cibirnya saat melihat Mark yang sudah sadar dari tidurnya.
"Membunuh orang yang sedang tidur tidak ada tantangannya." lanjutnya dengan nada dingin.
Mark masih diam mendengarkan, namun matanya waspada terhadap semua gerakan Josh.
"Lepaskan dia. Aku mau membunuhnya dengan perlawanan." titah Josh pada beberapa orang yang mengelilingi posisi Mark dikursi pesakitan.
Semua orang-orangnya pun menuruti dengan membuka ikatan yang menjalari tubuh Mark.
Josh bisa saja membunuh Mark dengan tembakan. Sekali bidikan peluru tepat dikepala lelaki itu, pasti akan membinasakannya dengan mudah. Tapi, Josh tidak mau melakukan hal itu pada Mark. Dia merasa ingin berolahraga dengan lelaki ini dan ingin sedikit beradu argumen.
"Dimana Adikku?" Mark bertanya sekaligus mendengus pada seseorang yang melepaskan ikatannya secara kasar.
"Apa kau percaya jika dia telah lenyap?" Josh terkekeh nyaring diujung kalimatnya.
"Breng sek!" umpat Mark.
Josh semakin tertawa kencang mengejek Mark.
"Kau terlalu banyak bermain-main dengan kehidupanku, terutama dengan Adikku. Jadi, aku memutuskan untuk bermain-main denganmu dan Adikmu juga." cibir Josh disertai tawanya yang penuh intimidasi.
Mark tahu kearah mana ucapan Josh.
"Lepaskan Jonas !!! Dia tidak ada sangkut pautnya dengan ini."
"Kau mengajakku bernegosiasi?" ejek Josh.
"Yes, walaupun aku tahu itu tidak ada gunanya."
"Aku tidak semurah hati itu, Breng sek!"
Mark mengangguk sekilas. "Apa yang kau inginkan? Kau akan mendapatkannya dariku. Tapi lepaskan Adikku!" ucap Mark tegas seraya berdiri dari duduknya.
Josh tersenyum miring. "Dimana Antoni?" tanyanya.
"Kau tidak akan pernah menemukannya."
Josh terkekeh. "Aku akan menemukannya dan membuatnya menggali kuburannya sendiri untuk menghindar dari kedatanganku!"
"Dia lebih dulu menemukanmu, Josh. Kau harus mengakui itu!" ejek Mark.
Josh menghela nafas perlahan, lalu tanpa disangka oleh Mark, pukulan Josh bersarang di dadanya dengan sangat kuat, membuat tubuh tegap Mark terdorong kebelakang.
Mark terhenyak dalam kesakitan yang menguar didadanya akibat pukulan telak secara tiba-tiba yang diberikan oleh Josh. Dia memegangi dadanya yang terasa panas dan nyeri, sedetik kemudian dia membalas Josh dengan sisa-sisa tenaganya.
Aroma ruangan ini sangat tidak enak, lembab dan sirkulasi yang tidak pernah berganti membuat ruangan menjadi bau, bercampur dengan semacam aroma darah. Mark tahu ini adalah ruang peradilan bagi setiap orang yang ingin dilenyapkan oleh Clan Greselle. Dia tahu, bahwa sudah banyak darah yang tumpah diruangan yang gelap dan penuh intimidasi ini, sehingga itu juga mempengaruhi, membuat aroma yang tidak sedap menguar di indera penciumannya.
Jadi, walaupun sebelumnya dia dalam keadaan fit saat dibawa paksa kedalam ruangan ini, sekarang tubuhnya tidak memiliki energi berlebih karena tidak mendapatkan udara yang bersih untuk dihirup. Apalagi, dia juga lemah karena tidak makan, tidak berselera meski diberikan makanan oleh orang-orang bawahan Josh.
Bagaimana dia bisa makan jika suasana dan aroma tidak sedap menguar disekelilingnya? Ruangan ini juga sarat akan jiwa-jiwa yang dibunuh entah sejak kapan dan entah berapa nyawa. Seperti tengah menghantuinya.
Josh dan Mark terlibat adu pukulan dengan tangan kosong dan tentu saja perkelahian itu akan sangat singkat untuk Josh. Sudah bisa ditebak siapa pemenangnya, bukan? Tentu saja perkelahian itu dimenangkan oleh Josh tanpa perlu perlawanan yang sungguh-sungguh dan berarti.
Josh merapikan jas yang ia kenakan akibat perkelahian yang tidak seimbang itu. Dia menggelengkan kepalanya sekilas seraya menepuk-nepuk sisi tangannya yang dirasa kotor akibat menyentuh Mark.
Sikapnya berbanding terbalik saat berada bersama Vallery. Sekarang dia bukanlah Joshua Kolv melainkan Josh Greselle yang sesungguhnya. Aura dinginnya sangat terpancar dan hawa bengis dimatanya sangat terbaca. Dendam menyelimuti pikirannya saat ini, karena menemukan kaki tangan Antoni yang berada didepannya sekarang adalah satu langkah untuk mencapai tujuannya yaitu membunuh Antoni, ketua Clan Dexa.
Josh berdecak lidah beberapa kali saat ponselnya terus meraung-raungkan suara agar ia segera menerima panggilan itu.
Josh menginjak tubuh Mark yang tergeletak dibawahnya. Dia merasakan nafas Mark yang memburu lewat sentuhan tapak sepatunya yang berada didada lelaki itu. Dada Mark terasa turun naik dan itu menandakan bahwa Mark masih hidup.
"Kenapa kau menggangguku, Dimi?" tanya Josh dengan tidak senang saat menjawab telepon Dimitri.
Dimitri masih diam belum menjawabnya.
"Jangan membuang waktuku, Dimi. Bicaralah. Apa yang penting? Apa kau sudah melakukan tugasmu?"
"Em, Sir. Miss Vallery baik-baik saja. Tapi dia tidak jadi kuliah."
"Why?" Josh bertanya seraya kakinya semakin menginjak kuat dada Mark yang mencoba untuk bangkit, sehingga membuat Mark kembali meringis dan tergeletak tak berdaya dibawah kakinya.
"Miss Jesica ..."
"Kenapa dia? Bicara langsung!" ucap Josh tidak ingin berbelit-belit.
"Sepertinya dia diculik."
Josh terdiam beberapa detik sampai akhirnya dia sadar kemana arah pembicaraan Dimitri.
" Apa maksudmu? Je-Jesica ..." suara Josh mendadak tergagap. Dia bahkan melepaskan kakinya dari dada Mark dan beranjak sedikit ke arah lainnya. Kabar ini mengejutkannya, bagaimana bisa Jesica diculik? Jesica selalu diawasi oleh pengawal, sekalipun para bodyguard itu tidak terang-terangan berada disamping Jesica. Adiknya itu juga memiliki ilmu bela diri yang mumpuni, serta selalu membawa senjata kemanapun dia pergi.
"Josh, ada...ada apa de..ngan Jesica?" tanya Mark tercekat, Mark sudah terduduk dilantai seraya terbatuk-batuk lalu mengeluarkan cairan merah dari dalam mulutnya sendiri.
Josh tersadar saat mendengar interupsi Mark, tapi dia tidak menghiraukan ucapan lelaki itu. Dia fokus meminta Dimitri untuk terus mengikuti jejak Jesica. Karena Jesica memang memasang GPS di ponselnya.
Akhirnya, Josh memutuskan panggilan itu dan beralih menatap Mark.
"Sayang sekali aku tidak bisa membunuhmu." kata Josh yang membuat Mark mengernyit heran.
"Katakan apa yang terjadi pada Jesica!" senggak Mark secara tidak sabar. Sangat menunjukkan kekhawatiran berlebih terhadap keadaan Jesica.
"Sepertinya musuhku menginginkanmu untuk di barter dengan Jesica. Tapi ..." Josh menggantung kalimatnya diudara. Dia tersenyum miring memikirkan suatu rencana yang melintas dikepalanya.
...To be continue ......