My Another Love

My Another Love
Crazy Obsesion



"Kau?" Tanya Vallery sambil tersentak kaget. "Un-untuk apa kau kemari?" Tubuh Vallery melemas, rasanya kakinya melayang dan tidak berpijak kokoh dilantai hanya dengan melihat senyuman seorang lelaki yang berada didepannya.


"Aku ingin bicara padamu," sahutnya.


"Bicara apa? Aku tidak mau." Vallery menutup pintu Apartemen itu tapi sang lelaki menahannya kuat.


"Aku akan bicara baik-baik. Jangan begini dan membuatku memaksamu." suara itu agak meninggi di akhir kalimatnya.


Vallery mengalah, lebih tepatnya dia memang tidak bertenaga untuk melawan kedatangan Edward yang tiba-tiba berkunjung ke Apartemennya. Edward tahu rencanya kemarin berhasil, dia bisa menemukan alamat Vallery dengan mudah. Walau dia bisa menemukan ini melalui bantuan Willy, tapi dia tidak mau Asistennya itu menaruh curiga akan tindakannya yang mencari tahu keberadaan alamat baru sang Adik ipar. Dia belum ingin Willy tahu mengenai ini.


Edward melangkah masuk, sementara Vallery masih terdiam membeku di ambang pintu.


Edward menoleh ke belakang dan dia melihat Vallery tidak bergeming.


"Tutup pintunya, Vall. Aku butuh sekaleng softdrink atau wine jika ada."


Vallery berdecak. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya. Dia menghilangkan gaya bahasa sopannya pada Edward karena tindakan Edward yang mendatanginya sendirian ini benar-benar tidak patut dibalas dengan sikap sopan-santun.


Ed menyeringai, dia kembali berjalan pelan menghampiri Vallery, tangannya menjangkau daun pintu dan menutupnya enteng karena Vall tidak kunjung menutupnya sedari tadi.


Vallery menelan salivanya dengan berat, jantungnya kembali bertalu-talu. Dia hanya berdua didalam Apartemen ini bersama Edward. Apa yang akan dilakukan lelaki ini padanya? Vallery ingin teriak tapi dia juga tidak kuasa melakukannya.


Ed tersenyum pada gadis itu, dibelainya pipi Vallery yang sangat dia rindukan.


"Ck..Aku tersiksa merindukanmu, sementara kemarin, aku malah mendengarmu merindukan orang lain." katanya seraya berdecak lidah.


"Apa yang kau maksud, Kak?" Vallery menepis kuat tangan Ed yang menjalari pipinya.


Ed tersenyum kecut. "Vall, ku rasa aku harus mengakuinya sekarang. Setelah berpikir berhari-hari tentang perasaan aneh yang ku rasakan, aku pikir ... aku memang benar-benar menyukaimu dan menginginkanmu."


"Kak!!" protes Vallery, tapi Ed meletakkan tangannya dihadapan Vallery, sebagai isyarat agar Vallery diam mendengarkan ucapannya dan jangan memotong pengakuannya.


"Aku menginginkanmu, Vall. Lebih dari aku menginginkan Alexa. Kita bahkan melewati malam pertama bersama. Kau lupa?"


Vallery berdecih dan membuang muka.


"Seharusnya yang ku nikahi adalah kau bukan Alexa." celetuk Ed dengan gampangnya.


"Stop! Hentikan omong kosongmu kak!"


"Vall, apa kau tidak memiliki perasaan aneh seperti yang ku rasakan?" Ed mengungkung tubuh Vallery dan gadis itu tidak bisa bebas bergerak sekarang.


"Aku tidak--emmmhhh .." Ed membekap bibir Vallery dengan bibirnya, sehingga Vallery tidak bisa berkata-kata lagi. Vallery memberontak tapi Ed tidak melepaskannya, akhirnya dia menggigit bibir Edward yang menguasainya.


Ed meringis dan melepas tautannya di bibir Vallery, dia menyeka permukaan bibirnya yang terasa perih akibat ulah Vall, tapi kemudian dia tersenyum miring.


"You're crazy!!" umpat gadis itu sambil berlalu, Ed mengikuti langkah Vallery dan mencegat langkahnya.


"Vall, aku--"


"Cukup Kak.. pulanglah! Jangan seperti ini lagi.." isak Vallery.


"Aku tidak bisa, Vall. Aku sudah mencobanya. Aku sudah berusaha. Aku tidak bisa."


Vallery menggeleng. "Kau menyakiti Kakakku." ucapnya sambil mendengus.


"Ya, aku akan meninggalkannya karena aku tidak mau terus menyakitinya."


"Apa?" Vallery bangkit dari duduknya mendengar ucapan Edward. "Tolong hentikan kegilaanmu, please..." Vallery berurai air mata seraya menatap Edward.


"Vall, apa kita tidak bisa bersama?"


"Kau benar-benar gila, Kak." sahut Vallery dengan perasaan berkecamuk.


"Aku--aku memiliki aset di Luar Negeri, kita tinggalkan kota ini. Kita memulai semuanya dari awal. Aku akan menebus kesalahanku padamu. Aku--"


"Shut up!" Vallery mengusap airmatanya dengan kasar. "Pergi!" ucapnya.


Edward menggeleng. "No!" katanya.


"Pergi dan minta ampun pada istrimu! Kau berniat mengkhianatinya!" Vallery mendengus.


"No, Vall !? Aku tidak berniat berkhianat, justru aku tidak mau mengkhianatinya jadi aku memilih meninggalkannya demi kau."


Vallery terduduk lemas di sofa. Pengakuan Ed benar-benar membuatnya tidak bisa berpikir, yang dia pikirkan adalah nasib rumah tangga kakaknya. Ed benar-benar sudah gila mempertaruhkan itu demi dirinya. Apa Ed menganggap pernikahannya hanya permainan?


Vallery menutup wajahnya dengan tangannya sendiri, dia menangis dan Edward mengelus-elus rambutnya dengan lembut.


"Aku tahu ini salah, maafkan aku Vall. Aku akan pulang." kata Edward berubah lembut. "Jangan menangis lagi, Vall." sambungnya.


Vallery mengangkat wajahnya, wajah cantik itu sudah memerah dan basah oleh airmata. "Kak, lupakan aku. Lupakan malam itu dan berdamailah dengan keadaan. Ingatlah jika kakakku adalah istrimu. Kau berkata begini karena ini hanya obsesimu saja." katanya menatap wajah Edward dengan penuh permohonan.


"Aku sudah mencobanya, aku tidak bisa." kata Edward dengan nada terendah.


"Aku tidak bisa bersamamu, Kak. Jalani pernikahanmu dengan baik. Jaga kakakku bukan menyakitinya. Lupakan obsesi gilamu itu!"


"Jika itu tidak menyakiti kakakku, aku akan memikirkannya." kata Vallery tak acuh.


"Tinggalkan lelaki itu. Aku tidak bisa melihatmu bersama orang lain." jawab Ed mantap.


"Maksudmu?"


"Josh ... tinggalkan dia. Jangan berhubungan dengannya."


"Kak, kau tidak berhak--"


"Vall, dia tidak baik untukmu.." potong Ed.


"Darimana kau tahu?"


Ed menghela nafasnya. "Jika kau tidak yakin dengan ucapanku, coba kau tanyakan tentang kehidupan pribadinya. Apa dia mau memberitahumu!" kata Ed menatap mata Vallery yang memerah.


Vallery terdiam, ucapan Ed itu seperti memang mengetahui banyak tentang Josh.


"Jangan bilang kalau kau menyelidikinya diam-diam." terka Vallery.


Ed mengangguk. "Yah ..." jawabnya enteng.


"Untuk apa, Kak?"


"Aku ingin tahu siapa yang mencoba dekat denganmu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku untuk tahu lebih banyak." lirih Ed.


Vallery menarik nafas dalam. "Sekarang lebih baik kau pulang, Kak. Kak Alexa pasti sudah menunggumu."


Ed mengangguk. "Pikirkan permintaanku baik-baik, Vall. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu." katanya.


Vallery termenung sampai Ed bergerak dan meninggalkan Apartemen.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Aku sudah dapat pekerjaan sampingan." kata Sophia. Mereka sudah berbaring di ranjang dan akan tidur.


"Benarkah? Selamat..." jawab Vallery ikut antusias. "Apa pekerjaanmu?"


"Hanya pekerjaan mudah dan bisa dilakukan dirumah bahkan sambil berpergian."


Vallery mengernyit. "Pekerjaan apa itu?" tanyanya heran.


"Sudahlah, jangan kau pikirkan. Itu tidak berbahaya dan sesuai dengan keahlianku." ucap Sophia.


"Yes, Aku turut senang mendengarnya." timpal Vallery. "Oh ya, bagaimana kabar Ibumu?" tanyanya.


Sophia tersenyum kecil. "Ibuku sudah diberikan perawatan kembali. Alat-alatnya juga tidak jadi dilepas."


"Peter?" tanya Vallery penasaran, karena mengenai ini ada sangkut pautnya dengan Josh yang membantu Sophia, benar 'kan?


Sophia memutar bola matanya malas. "Aku tidak tahu dia dimana, dia tidak dirumah lagi. Mungkin pergi atau hilang. Aku tidak peduli." sahut Sophia.


"Benarkah? Bukankah itu aneh? Apa ini ada kaitannya dengan Josh yang membantumu?" tanya Vallery dengan nada curiga.


"No, Vall. Josh hanya membantuku membayar biaya rumah sakit." jawab Sophia cepat.


"Lalu, dia minta syarat apa darimu?" tanya Vallery karena dia tahu Josh tidak akan membantu secara cuma-cuma.


"Ehmm.. dia tidak memberi syarat. Dia hanya memintaku mencicil biaya itu."


"Benarkah?" Vallery semakin heran.


"Ya ya ya, sudahlah jangan kau pikirkan. Intinya semuanya baik-baik saja." kata Sophia.


Walau Vallery merasa ada yang janggal, namun dia berusaha tenang dan senang melihat keadaan Sophia dan Ibunya sudah jauh lebih baik. Dan Sophia juga terhindar dari Ayah tirinya yang menghilang.


"Oh ya, Vall.. aku akan pindah dan kembali kerumah."


"What? Jadi bagaimana denganku?"


"Kau tinggallah disini." jawab Sophia enteng. "Sudah ya, aku mengantuk." Sophia merubah posisi tidurnya dan menarik selimut sampai batas dada.


"Sophi..." panggil Vallery. "Apa kau tidak takut jika Peter akan kembali kerumah itu dan kalian akan bertemu?" tanya Vallery.


"Tidak akan.." kata Sophia dengan suara berat disusul dengan suara menguapnya.


Vallery menggaruk pelipisnya. Sikap Sophia kenapa menjadi sok misterius begini? Dan kenapa pula Sophia yakin jika Peter tidak akan kembali? Aneh... benar-benar aneh.


Lalu, jika Sophia pindah kembali ke rumahnya. Apa Vallery akan tetap tinggal di Apartemen ini seorang diri? Dia tidak yakin tapi untuk kembali kerumah orangtuanya pun dia lebih tidak sanggup mengingat obsesi gila Edward yang diakuinya beberapa saat lalu.


...To be continue ......