
Vallery hanya bisa kembali menelan ludahnya dengan berat. Mengaku pada Josh? Tentang malam kelamnya? Oh tidak, ini sama saja dengan mencoba keluar dari zona nyamannya. Demi apapun, Vall sudah nyaman berada bersama Josh. Menikmati kssih sayangnya, perhatiannya dan segala sikap manis lelaki ini. Bagaimana mungkin Vallery ingin keluar dari zona ini?
Harus Vallery akui, Josh mungkin memang misterius, dia memiliki sesuatu yang Vall pun tidak mengetahui, Vall juga yakin jika Josh punya sisi lain dari kehidupan yang selama ini dia ekspos didepan Vallery. Tapi, terlepas dari semua itu, Vall benar-benar tidak mau kehilangan Josh. Vall menyadari perlahan-lahan, bahwa perasaannya makin terikat kuat pada pemuda itu.
Bukan hanya tampan dan kaya, Josh juga sangat menghargainya. Josh tidak pernah memaksanya untuk berhubungan yang terlalu jauh, walau Vall yakin jika dengan wanita lain mungkin Josh pernah melakukan hal yang lebih daripada dengan dirinya.
Untuk saat ini, Vallery benar-benar menikmati comfort zone dan urung menyudahinya. Dia takut jika Josh tahu keadaannya maka Josh akan meninggalkannya. Dia terlalu pengecut untuk mengakui ini dan otomatis segala kenyamanannya ini akan berakhir. Tapi yang paling dia takutkan adalah kehilangan Josh. Dia benar-benar takut dan khawatir.
"Kau terlihat khawatir. Sebenarnya apa yang kau takutkan?" tanya Josh saat melihat Vallery terus diam dalam pemikirannya sendiri.
"A-aku... aku takut, aku takut kehilanganmu, Josh." akunya.
Josh terkekeh pelan. "Vall, kau ini bicara apa." katanya. "Aku tidak mungkin meninggalkanmu."
"Benarkah?"
"Yah, berterus terang padaku. Apa yang terjadi, hmm?"
Vallery memeluk Josh dengan posesif dan Josh terkekeh lagi.
"Girl, sampai kapan kau mau tertutup begini? Apa aku masih orang lain untukmu?"
Vallery menggeleng cepat. "Aku hanya belum bisa berkata yang sebenarnya."
"Oke, terserahmu saja. Sekarang kau tidur ya." Josh memposisikan agar Vallery berbaring dengan nyaman. Dia mengusapi sulur rambut Vallery yang tergerai panjang.
Vallery mulai memejamkan matanya kembali. Berusaha untuk tidur dan menikmati aktifitas tangan Josh di rambutnya.
"Josh, apa kau akan meninggalkanku jika aku punya kekurangan?" tanya Vallery masih dalam keadaan mata yang terpejam.
Josh tersenyum miring. "Apa kau akan meninggalkanku juga jika sudah tahu kekuranganku?" Josh malah balik bertanya.
No! Kau tidak punya kekurangan Josh, kau terlalu sempurna. -Batin Vallery.
"Bagaimana, Vall? Apa kau akan meninggalkanku? Aku tidak sesempurna yang kau bayangkan." ucap Josh.
"Benarkah? Ku pikir kau nyaris sempurna tanpa ada celah." kata Vallery masih enggan membuka matanya, hanya mulutnya yang berbicara.
Kau salah Vall, aku ini monster. -Batin Josh.
"Bagaimana jika aku orang jahat? Apa kau akan meninggalkanku?"
Mata Vallery terbuka dan dia mendapati mata Josh yang tepat berada dihadapannya, sangat dekat dan membuatnya sesak nafas.
Tiba-tiba Josh memejamkan matanya seraya memiringkan kepalanya, lalu dia melu mat bibir Vallery yang ranum. Secara otomatis Vallery pun ikut memejamkan matanya, ikut membalas ciuman itu dengan tak kalah intens-nya. Hingga ciuman itu terjadi berlarut-larut tanpa ada yang mau menghentikan lebih dulu.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, Josh. Meskipun kau adalah monster yang akan memakanku." jawab Vallery disela-sela ciuman mereka, ucapan itu seakan-akan adalah sebuah jawaban untuk kata-kata yang Josh ucapkan dalam batinnya sendiri tadi. Mata Josh membola mendengarnya, dia tidak menyangka jawaban Vallery membuat hatinya menghangat. Bahkan perutnya terasa diterbangi ribuan kupu-kupu yang membuatnya tergelitik bahagia.
Josh menghentikan ciuman panas itu, lalu matanya menatap wajah Vallery dengan nanar.
Vallery mengangguk yakin.
Josh kembali mencium Vallery dengan penuh kelembutan dan Vallery hanya bisa menikmati tanpa bisa memprotes perbuatan Josh. Sepertinya, jiwanya sudah benar-benar larut dalam pesona lelaki ini. Dia memasrahkan apapun yang akan Josh lakukan padanya, sekalipun Josh akan membunuhnya. Entahlah, tapi keyakinannya adalah Josh sangat menyanyanginya dan tidak mungkin akan menyakitinya.
Ciuman Josh beralih ke leher jenjangnya, bermain-main disana dengan lincah. Vallery tidak bisa menahan hasrat kegadisannya yang menggebu-gebu, secara harviah suara de sahannya keluar begitu saja dari bibirnya yang sensual. Dia menikmati perlakuan ini.
Mendengar suara rin tihan Vallery, membuat Josh kehilangan kesadarannya. Dia menggila dan menelusupkan tangannya kedalam piyama yang Vallery kenakan.
Vallery yang sudah pasrah sejak awal, hanya bisa me lenguh dan me rintih-rintihh tertahan tanpa menolak.
Dengan tergesa Josh membuka satu persatu kancing piyama Vallery, dia bisa saja merobeknya, tapi itu akan membuat Vallery ketakutan. Setahu Josh ini adalah yang pertama untuk Vallery.
Sambil terus men cumbu leher Vallery, tangan Josh mulai bermain-main di dada gadis itu. Membuka pengaitnya yang dirasa mengganggu.
"Emmmphht ... " suara Vallery lagi-lagi membuat jiwa kelelakiannya terbakar.
Entah sejak kapan wajah Josh sudah berada tepat di dada nya. Membuat Vallery kembali mele nguh saat lidah lelaki itu menyentuh puncak da danya.
Sebenarnya Josh sangat menginginkan ini dan ini salah satu posisi kesukaannya tapi ...
Josh segera beringsut menjauh dari tubuh Vallery. Dia menatap wajah Vallery yang memerah dan bersamaan dengan itu dia menutupi tubuh Vallery yang terbuka karena ulahnya dengan selembar selimut.
"Maafkan aku, Sayang." katanya sembari mengecupi kening Vallery berulang. Vallery melihatnya dengan tatapan aneh. Kenapa tiba-tiba Josh menghentikan aktifitasnya?
Josh kembali ke posisi semula, bersandar di headboard tempat tidur sambil menghela nafas panjang.
"Josh, ada apa?" tanya Vallery seraya memegangi ujung selimut agar tetap menutupi dada nya. Dia ikut terduduk.
Josh menggeleng. "Kau sempat demam, tidak seharusnya-- emm maksudku, aku--aku takut menyakitimu. Tidurlah, aku ke kamar mandi dulu." Josh langsung berlalu secepat mungkin, tanpa mendengar jawaban dari Vallery.
Vallery kebingungan sendiri melihat tingkah Josh. Sesaat kemudian Vallery sadar, mungkin Josh benar-benar tidak mau menyakitinya.
Akhirnya, Vallery memutuskan untuk tidur. Saat Josh selesai dengan aktifitas di kamar mandi, dia sudah mendapati Vallery yang tertidur nyenyak dengan nafas teratur.
Josh mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa dia menghentikan kegiatan tadi. Vallery bahkan tidak mencegahnya. Gadis itu juga sangat menikmati.
Bodoh!
Bahkan itu sudah hampir setengah jalan. Bukankah selama ini Vallery adalah obyek fantasinya? Lalu sekarang saat Vallery ada didepan mata dan bisa disentuhnya, kenapa dia sendiri yang menghentikannya?
Kali ini Josh berhasil membuktikan bahwa cintanya pada Vallery lebih besar daripada Naf sunya sendiri. Yah, untuk saat ini mungkin rasa cintanya menang, tapi besok-besok dia tidak tahu apakah bisa mengendalikan lagi naf su nya atau tidak.
Josh memutuskan tidur disamping Vallery. Walau ini sedikit menyiksa tapi dia juga tidak bisa meninggalkan Vallery tidur sendirian karena dia takut suhu tubuh Vallery kembali naik.
Josh ingin tidur sambil memeluk Vallery tapi dia segera mengurungkan niatnya itu. Akhirnya Josh tertidur disamping Vallery dengan menjaga jarak aman.
...To be continue ......