My Another Love

My Another Love
Your smile



"Jo-josh..." Vallery bersuara dengan ragu.


"Ya?"


"Tidak ada yang terjadi diantara kita kan?" Vallery memastikan pikirannya yang sudah kemana-mana.


Josh menghela nafasnya, saat menyadari kemana arah pembicaraan Vallery.


"Girl, apa kau pikir aku akan memanfaatkanmu disaat kau tidak sadar?" tanya Josh.


"Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu tanpa persetujuanmu." kata Josh lagi.


Vallery mendesahh lega. "Thank you, Josh..." ucapnya.


"Jangan ucapkan itu, kau tahu aku tidak menerimanya bukan?"


Vallery mencebik saat Josh mengacak rambutnya yang memang masih kusut karena baru saja terbangun dari tidur.


"Keluarlah.." pinta Vallery dengan nada pelan.


"Kenapa? Aku masih mengantuk, biarkan aku melanjutkan tidurku." imbuh Josh.


Vallery menggeleng, dia bangkit dari duduknya. Tapi, Josh menarik tangannya dan membuat Vallery terjatuh tepat diatas tubuh tegap lelaki itu.


Vallery tersentak, "Josh, apa yang kau lakukan?" tanyanya dalam jarak dekat dengan kedua tangan Josh yang tiba-tiba sudah memeluk pinggangnya.


"Diamlah, pagi hari adalah keadaan rawan bagi seorang pria. Jangan banyak bergerak." kata Josh dengan seringaian tipis.


Vallery yang menyadari kemana arah pembicaraan lelaki dihadapannya ini pun langsung terdiam saat itu juga, dia tidak bisa menatap wajah Josh lebih lama lagi karena dia memiliki dua masalah sekarang. Pertama, dia malu karena wajah bantalnya dilihat oleh Josh dan kedua, pesona lelaki ini tidak bisa dia hindari begitu saja.


Josh tersenyum kecil, dia memperhatikan Vallery yang salah tingkah dalam posisinya. Gadis itu diam tapi matanya mencari-cari arah lain untuk dilihat, tidak berani menatap ke matanya langsung.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Josh masih dengan senyumannya.


"Ehm..uhmm, tidak ada." kilah Vallery.


"Oke, biar dulu dalam posisi ini beberapa detik." kata Josh enteng.


"Mana bisa, aku tidak suka berada diposisi ini Josh." protes Vallery, dia mulai bergerak kembali.


"Diamlah..aku hanya ingin tidur." sanggah Josh tapi Vallery yang sudah tidak bisa bersabar malah semakin bergerak untuk melepaskan diri dari jeratan Josh.


Josh berdecak. "Baiklah, kalau kau tidak suka posisi ini." katanya. Josh segera memutar arah dan dalam persekian detik berikutnya, Vallery-lah yang berada dibawah tubuhnya.


"Josh..." lirih Vallery, lelaki itu menghantam matanya dengan tatapan yang menghunus dari arah atas.


"Kenapa? Kau mau bilang tidak suka diposisi ini juga?" kata Josh dengan nafasnya yang mulai terasa hangat di kulit wajah Vallery. Tidak ada senyuman lagi, sekarang wajah laki-laki itu penuh keseriusan menatap dalam-dalam pada Vallery, menikamnya dengan tatapan setajam elang yang perlahan-lahan mampu membuat Vallery memejamkan mata karena tidak sanggup lagi untuk membalas tatapan mata kehijauan itu.


Josh mendekatkan diri, semakin dekat, dekat dan dekat ke arah wajah Vallery, hingga tidak ada jarak walau satu sentipun diantara mereka. Dengan perlahan-lahan, Josh mema gut bibir ranum gadis itu, bibir yang sedari tadi memenuhi pikirannya, bibir dengan warna pink kemerah-merahan, menghalangi pikiran jernihnya dengan kabut-kabut keinginan untuk mengekslpor lebih dalam kelembutannya.


Bibir mereka bertaut satu sama lain, tidak ada keterpaksaan dan saling menginginkan. Berusaha membalas satu sama lain. Tidak ada kekerasan, yang ada hanya kelembutan dan perasaan penuh kasih sayang dari Josh memperlakukan bibir milik Vallery. Vallery mulai terbuai, dia mengalungkan tangannya dileher lelaki itu.


Tangan Josh yang bebas, mulai menelusup perlahan dan mengelus perut ramping milik Vallery dibalik piyama yang dikenakannya.


Merasakan sentuhan lembut diperutnya, naluri sensitif gadis itu menanjak, secara otomatis alarm bahaya dikepalanya berbunyi dan terdengar meraung-raung di pikirannya sendiri. Vallery segera melepas ciumannya dan Josh membiarkan itu terjadi, lelaki itu diam menunggu Vallery yang sepertinya akan mengatakan sesuatu.


"Josh, aku tidak bisa memberikan yang lebih dari ciuman ini." kata Vallery lembut dan Josh mengelus bibir basah Vallery sambil mencerna ucapan gadis itu.


"Aku tahu," katanya singkat. Jangan lupakan jika Josh ahli membaca sikap oranglain. Dia tahu Vallery tidak sebebas itu dan dia juga tidak menginginkan hubungan seperti itu dengan Vallery. Lebih tepatnya, tidak sekarang.


Vallery membelai wajah Josh, menyusuri pemilik wajah itu dengan tangan lembutnya seraya memperhatikan ketampanannya. Josh memiliki mata kehijauan yang terang, hidung yang tinggi, bibir yang tipis diatasnya dan sedikit tebal dibagian bawah. Rahangnya tegas, mulai ditumbuhi rambut-rambut kasar yang terlihat memenuhi sisi wajahnya. Vallery tersenyum kemudian menyadari sosok dihadapannya benar-benar nyaris sempurna.


"Kenapa?" tanya Josh, masih dalam posisi yang sama yaitu dia masih berada diatas tubuh Vallery. Satu tangannya menumpu di ranjang, untuk menjaga tubuhnya agar tidak menimpa tubuh Vallery. Dia tahu jika Vallery tengah memperhatikannya lekat.


"Kapan terakhir kau bercukur?" tanya Vallery sambil terus tersenyum. Josh terpikat oleh senyuman yang jarang sekali dilihatnya itu. Itu seperti senyuman Vallery dipertemuan pertama mereka beberapa tahun yang lalu.


"Seminggu yang lalu, Maybe." jawab Josh singkat.


"Apa kau mau ku bantu? Uhmm, itu.. aku mau membantumu bercukur." kata Vallery sambil membungkam mulutnya akibat perasaan malu yang menghantam tiba-tiba karena ucapannya sendiri.


Josh mengangguk. "Itu tidak buruk. Apa itu bisa kau lakukan? Apa tidak akan melukai wajahku?" tanya Josh ragu.


Vallery menggeleng. "Aku sering melakukannya." jawabnya cepat.


"Oh ya? Siapa yang kau bantu bercukur?" selidik Josh.


Vallery terkekeh dan lagi-lagi Josh terpesona dengan tawanya yang memikat. Demi apapun, Vallery yang tertutup sangatlah jarang tersenyum dan tertawa seperti saat ini.


"Aku membantu ayahku bercukur, yah ... itu dulu sebelum dia meninggal." kata Vallery.


"Sorry..." ucap Josh tak enak hati.


"Well, itu sudah lama dan tidak masalah bagiku." kata Vallery.


"Oke, kapan kita akan melakukannya? Ehmm.. bercukur maksudku?"


"Sekarang?" tanya Vallery memastikan.


"Oke sekarang," jawab Josh cepat tapi tidak beranjak juga dari posisinya.


"Bisakah kau bangkit dan berdiri?" kata Vall mencoba menyindir Josh.


Tapi sayangnya, Josh juga membalas menyindirnya. "Bisa saja asal kau hentikan dulu aktifitasmu yang mengelus-elus pipiku." kata Josh enteng sambil memiringkan kepalanya.


Vallery terkekeh menyadari sikapnya sendiri. Dia buru-buru melapaskan tangannya dari pipi Josh.


"Apa alatnya ada?" tanya Vall diambang pintu kamar mandi.


"Seharusnya ada." jawab Josh seraya membuka lemari kabinet yang terpasang di dinding kamar mandi. Dia mencari alat cukurnya.


"Ini dia." Josh mengeluarkan alat cukur itu. "Pasang disana." katanya seraya menunjuk sebuah saklar listrik tak jauh dari tempat Vallery berdiri.


Josh duduk di atas kloset dan Vallery berdiri sambil mengoleskan krim dibagian wajah Josh, agar memudahkan proses bercukurnya.


"Kau lucu sekali.." Vallery terkikik melihat wajah Josh berlumuran busa krim itu.


Josh ikut terkekeh. "Kau menertawaiku, iya?" tanyanya menantang dan Vallery malah mengangguk.


Josh membalas Vallery dengan ikut mengoleskan krim itu pada sisi wajah Vallery, Vallery semakin terkekeh saat menatap cermin.


"Kau membalasku?" tanya Vallery sambil terpingkal-pingkal. Dia merasa sudah lupa kapan terakhir kalinya dia tertawa seperti ini.


"Yes, aku membalasmu." kata Josh sambil tertawa juga karena kini mereka berdua sudah berlumuran busa krim untuk keperluan bercukur.


"Kau seperti Bapak tua." ejek Vallery, karena krim itu membuat Josh tampak seperti pria tua yang memiliki janggut putih.


"Kau seperti..." Josh menjeda ucapannya.


"Seperti apa?" tuntut Vallery.


"You like a princess. Snow white.. penuh salju." kata Josh--menurutnya krim itu malah seperti salju yang dimainkan oleh Vallery.


Vallery terkekeh kecil seraya mengeleng-gelengkan kepalanya. "Kau ini, ya sudah sini.." katanya.


Akhirnya Vall benar-benar membantu Josh bercukur, sesekali mereka bercanda tapi Vallery berkata dia ingin serius karena dia takut melukai wajah Josh dengan alat cukur elektrik itu.


Selesai dengan kegiatan yang cukup membuat hati mereka menghangat pagi itu. Vallery meminta Josh keluar dari kamar karena dia ingin mandi. Josh menurutinya. Lelaki itu menuju dapur dan membuka isi kulkasnya.


Vallery keluar kamar dan mendapati Josh sedang sibuk memasak didapur.


"Kau bisa memasak?" tanya Vallery. "Kau memasak apa?" lanjutnya.


Josh melirik Vallery yang sudah rapi sekilas, lalu dia kembali fokus pada kegiatan memasaknya.


"Aku tidak pandai memasak, tapi Aku jamin rasanya tidak akan buruk." Josh terkekeh kecil. "Ku pikir ini bisa mengenyangkan perutmu, sarapanlah sebelum ke kampus." Josh menuangkan isi teflonnya ke dalam piring dan menyajikannya dihadapan Vallery yang sudah duduk dimeja makan.


"Sepertinya enak. Berapa aku harus membayarmu?" kelakar Vallery.


"Apa kau yakin ingin membayarku?" timpal Josh.


"Yah, aku tahu kau tidak mungkin memberiku secara gratis." cibir Vallery sambil menyuap sesendok makanannya.


Josh tertawa kencang. "Hahaha.. kau sudah bisa menilaiku, ya?" ucapnya.


Vallery mengangguk-angguk dengan ekspresi datar, dia memakan makanannya dengan tenang. "Ini lumayan." kata Vallery.


"Bayar aku dengan senyumanmu." kata Josh.


"What?"


"Your smile..."


Vallery tersenyum pada Josh, dia menghabiskan makanannya dan meminum susu cokelat yang juga sudah disediakan Josh untuknya.


"Kau tidak kuliah lagi?" tanya Vallery


Josh menggeleng. "Aku mengantuk."


"Baguslah tukang tidur!" cibir Vallery sambil tergelak.


"Aku akan mengantarmu," kata Josh ingin beranjak.


"Tidak usah, kau masih mengantuk, tidurlah. Kau juga baru tiba dari Rusia."


Josh tidak mau membantah dan membuat suasana hangat mereka menjadi tidak enak.


"Baiklah, tapi nanti aku jemput, kirimi aku pesan." jawab Josh saat Vallery sudah di lorong menuju pintu keluar.


Vallery menoleh sekilas. "Oke.." katanya sambil tersenyum cerah.


Melihat Vallery tersenyum lagi, Josh menyusul Vallery dengan langkahnya yang lebar.


"Jangan temui lelaki manapun lagi hari ini." kata Josh memperingati.


Vallery mengerutkan dahi. Dia memikirkan ucapan Josh, apa Josh mengetahui jika kemarin dia bertemu dengan lelaki dan lelaki itu adalah Steve?


Vallery memilih diam, dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan patuh.


"Good girl.." Josh menyeringai.


Cup! Cup!


Josh mencium kedua pipi Vallery secara tiba-tiba, membuat Vallery terkesima.


Vallery terdiam beberapa saat, lalu dia kembali bersuara. "A-aku pergi." kata Vallery gugup, wajahnya kembali memerah dan Josh tersenyum sambil menutup pintu setelah memastikan Vallery sudah tak terlihat lagi dipandangannya.


...To be continue ......