
"Sophi, katakan apa yang terjadi?" Vallery langsung menyerobot Sophia dengan pertanyaan begitu mereka memasuki kamar milik Vallery.
Sophia menghela nafasnya, kemudian dia menceritakan permasalahan yang dialaminya selama beberapa tahun belakangan.
Sophia adalah anak tunggal, ayah dan ibunya telah bercerai. Sophia tinggal bersama sang ibu dan seorang ayah tiri, Peter. Peter ialah lelaki yang tadi sempat mereka temui. Hidup berdampingan selama kurang lebih dua tahun. Sampai pada akhirnya Sophia mengetahui jika Peter memiliki usaha sampingan, dia adalah seorang muci kari.
"Lalu, apa dia ingin menjualmu?" tanya Vallery syok.
Sophia menangis seraya mengangguk.
"Dia bahkan melecehkanku." imbuhnya.
"What? Kau harus melaporkannya ke polisi." seru Vallery.
Sophia menggeleng. "Ibuku sedang sakit, dia mengancamku lewat keadaan yang ibuku alami."
"Dasar tua bangka kurang ajar!" dengus Vallery kesal.
"Ibu membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya dan Peter tidak mau membiayainya. Dia memintaku untuk mengikuti sarannya, menjadi budak naf su orang lain, dijual!!" Sophia sesenggukan menceritakan kisah tragis mengenai keluarganya.
Vallery merangkul Sophia, memberikan keenangan sesaat untuk sahabatnya. Dia menghela nafas berat, ternyata masalah Sophia jauh lebih berat darinya. Mulai dari memiliki Ayah tiri, Ibunya yang sakit dan membutuhkan banyak biaya. Belum lagi dia harus menyelamatkan diri dari bujukan sang Ayah tiri yang ingin menjerumuskannya.
"Lalu, kenapa kau memutuskan hubunganmu dengan Justin?"
Sophia terdiam. Dia menegakkan tubuh, matanya menerawang jauh.
"Karena aku tidak mau melibatkan Justin. Dia berasal dari keluarga baik-baik."
"Ya aku mengerti, tapi seharusnya Justin membantumu. Apa kau tidak pernah berterus-terang padanya tentang semua ini?"
"Buat apa Vall? Setelah dia tahu apa yang terjadi padaku, pasti dia akan meninggalkanku. Lebih baik aku yang lebih dulu meninggalkannya, sebelum dia mengetahui aibku."
"Apa dia menerima keputusanmu?" tanya Vallery lagi.
Sophia menggeleng. "Dia marah dan menanyakan apa kesalahannya sehingga aku memutuskan mengakhiri hubungan."
Vallery mengusap wajahnya. "Kau harus beritahu dia, mungkin dia akan membantumu."
"No, Vall. Aku tidak yakin. Justru aku takut dia membenciku. Peter telah melecehkanku, Justin tidak akan mau menyentuhku. Bahkan melihatku pun dia akan jijik."
Vallery menepuk-nepuk pundak sahabatnya, ia mengerti keputusan Sophia. Sophia sama seperti dirinya, tidak percaya diri setelah sesuatu hal sudah merusak dan membuat keadaan menjadi tidak sama lagi. Walaupun Sophia mengatakan jika Justin adalah lelaki pertama untuknya, tapi itu tidak memungkiri kemurkaan kekasihnya itu jika mengetahui apa yang telah terjadi pada Sophia.
Mungkin Justin akan marah dan pergi, atau bisa jadi, dia malah akan memperjuangkan Sophia? Tidak ada yang bisa menjamin apa keputusan kekasih Sophia itu.
"Sophi, jika aku boleh memberi saran, sebaiknya Justin harus tahu. Mungkin dia bisa membantumu. Apa kau tidak yakin jika perasaannya tulus padamu?"
"Entahlah, Vall. Ku rasa semuanya lebih baik seperti ini."
"it's oke, semua terserah padamu."
Vallery pun bangkit dari posisinya, dia mengambil baju untuk tidur dan mengganti bajunya yang sedikit basah dengan piyama itu.
Sophia mengusap airmatanya dan mengikuti jejak Vallery untuk berganti pakaian.
Kedua wanita itu pun tidur berdampingan diatas tempat tidur. Vallery menekan tombol untuk menyalakan lampu tidur. Sebelumnya dia sudah mematikan lampu utama lewat saklar yang menempel di dinding.
Keduanya belum terpejam. Larut dalam pikiran masing-masing dan menatap langit-langit kamar dengan nuansa yang temaram.
"Apa lelaki tadi suami Kak Alexa?" tanya Sophia memecah keheningan.
"Hmm..." Vallery hanya bergumam singkat.
"Dia tampan dan sepertinya baik." kata Sophi menilai Edward.
"Tidak semua yang kau lihat dari luar adalah seratus persen benar." gumam Vallery.
Sophia mengatur posisinya untuk tidur menyamping dan menghadap kearah sahabatnya. Ia mendengar gumaman Vall dan dia menjadi tertarik.
"Ada apa, Vall? Apa dia menyakitimu?" tanya Sophia penasaran.
Vallery menoleh sekilas kearah Sophia, "Kadang hatiku sakit melihatnya," aku Vallery.
Sontak saja Sophia terduduk, ia syok mendengar Vallery berbicara mengenai hati dan perasaan. Sophia bahkan menyingkap selimutnya, duduk bersila dan memperhatikan Vallery yang masih berbaring santai. Sophia merasa sangat antusias dengan cerita yang baru dimulai Vallery.
Vallery hanya berdecak pelan dan terlihat tidak tertarik menceritakannya.
"Apa kau menyukainya dan membuatmu sakit hati saat melihat kebersamaan Kakakmu dengannya?" terka Sophia, lebih tepatnya dia mengorek info dari sahabatnya yang tertutup itu.
"Sepertinya begitu." kata Vallery tersenyum hambar.
Mata Sophia melotot. " Oh God, kau menyukai kakak iparmu?" Sophia membungkam mulutnya yang ternganga.
Vallery mengangkat bahu cuek, dia menarik selimut untuk menutupi seluruh wajahnya. Sontak aksinya itu mendapat protes dari Sophia.
"Hey, jangan bilang kau akan tidur sekarang. Ayo ceritakan apa yang terjadi!" desak Sophia lagi, ia menarik-narik selimut Vall yang ternyata ditahan Vall dari dalam agar tidak tersingkap.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
"Selamat pagi, Kak..." sapa Sophia pada Alexa dan Edward yang sudah rapi di meja makan.
Vallery yang sudah lebih dulu duduk, hanya diam dan bersikap cuek seraya mengoles roti dengan selai cokelat favoritnya.
"Selamat pagi, Sophi." jawab Alexa ramah. Ed hanya mengangguk dan tersenyum sekilas pada Sophia. Lelaki itu memang tidak terlalu banyak cerita.
"Sarapan yang banyak, jangan sungkan, Sophi." kata Alexa lagi.
Mereka pun sibuk dengan sarapan masing-masing karena setelah sarapan semuanya akan berangkat meninggalkan rumah.
"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Alexa pada Sophia.
"Iya, Kak." jawab Sophia.
"Bagaimana denganmu, Vall?" Alexa beralih ke Vallery.
"Sedikit tidak nyenyak karena ada orang lain disampingku." kelakar Vallery dan ketiga wanita itu terkekeh.
"Aku juga begitu saat pertama kali tidur satu ranjang dengan Ed." jawab Alexa dengan senyum cerahnya. Dia bahkan menatap Ed sekilas untuk melihat reaksi suaminya itu. Ed hanya tersenyum kecil untuk menanggapi.
"Maaf jika aku mengganggu, Vall." sela Sophia.
"No problem. Asal kau tidak mendengkur, lama-lama aku pasti terbiasa." kata Vallery seraya tersenyum indah.
Pemandangan itu ditangkap oleh mata Edward dan tanpa disadarinya, dia ikut mengulas senyum, seolah-olah senyuman Vallery seperti menghipnotis dan menular kepadanya.
Sedangkan Sophia, setelah mendengar ucapan Vallery malam tadi, dia jadi ingin membuktikan sesuatu. Dibenaknya adalah telah terjadi sesuatu antara Ed dan Vall, Sophia ingin membuktikan itu. Dan pagi ini Sophia seolah mendapatkan jawabannya saat melihat arah mata Ed yang mencuri-curi pandang kearah sahabatnya.
"Oh Vall, apa yang telah kalian lakukan? It's Affair." batin Sophia syok.
Mereka melanjutkan sesi sarapan itu dengan bercengkrama. Lebih tepatnya Alexa dan Sophia lah yang lebih banyak bercerita satu sama lain.
Vallery menghabiskan susunya dan mulai beranjak. Begitu juga dengan ketiga orang yang lain.
Ed mengantar Alexa sampai ke mobilnya. Dia mengecup sekilas dahi istrinya, bahkan lelaki itu membukakan pintu mobil untuk sang istri.
"Berhati-hatilah jika mengemudi." kata Ed tersenyum seraya melambaikan tangan pada mobil Alexa yang mulai bergerak. Alexa membalas lambaian itu dari dalam mobil.
Pemandangan itu nampak dipelupuk mata Vall dan Sophia. Sophia menyikut Vallery sebagai kode bahwa dia juga telah melihat apa yang Ed lakukan, seolah-olah ingin menyadarkan Vallery secara tidak langsung.
Ed kembali berjalan untuk menuju mobilnya, namun dia tidak sengaja melihat Vallery dan Sophia yang ternyata masih berada disana.
"Kalian belum berangkat?" tanyanya.
"Ini mau berangkat, Kak." jawab Sophia sopan, sedangkan Vallery tetap seperti biasanya, diam dan mengacuhkan.
"Bagaimana jika ikut dengan mobilku." tawar Ed.
Vallery menggeleng cepat. Sementara Sophia tidak sempat menjawab karena matanya beralih fokus pada mobil sport hitam yang baru saja berhenti dan mengklakson tepat didepan gerbang rumah.
Perhatian ketiganya pun jadi mengarah pada mobil hitam metalic itu.
"It's show time..Pertunjukan akan dimulai." gumam Sophia saat melihat Josh keluar dari mobil itu.
...To be Continue ......