
"Kak, bisakah kita bicara berdua sebentar?" tanya Vallery pada Alexa yang sedang membersihkan mulutnya dengan serbet.
Alexa pun menatap sang adik, tatapan Vallery menunjukkan keseriusan. Alexa akhirnya mengangguk sebagai jawabannya.
Ed melihat itu, entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak. Apa yang ingin dibicarakan Vallery dengan Alexa--kenapa tidak bicara disini saja?
Sophia lebih dulu bangkit dari kursinya, dia telah menyelesaikan sesi sarapannya di rumah keluarga Vallery itu.
"Vall, aku akan membereskan barang-barangku sekalian. Agar sepulang kuliah aku bisa segera pindah." kata Sophia undur diri untuk menuju kamar dan mengemasi barangnya.
Sebelumnya Sophia sudah menceritakan perihal kepindahannya, dia juga telah berterima kasih pada Ed dan Alexa atas tumpangannya beberapa hari dirumah mereka.
Vallery mengangguk dan Sophia beranjak. Sedangkan Alexa, dia juga ikut berdiri dan menjauh dari ruang makan untuk mendengar apa yang ingin dibicarakan oleh Vallery.
Seperginya tiga perempuan itu, Ed pun meletakkan garpunya, dia memperhatikan Alexa dan Vallery yang berbicara disudut ruang keluarga. Gerak-gerik mereka masih nampak dipelupuk mata Edward, tapi dia tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Sesungguhnya Ed sangat ingin tahu hal apa yang sebenarnya sedang Vall dan Alexa bahas. Kenapa mereka seakan harus menjauh darinya?
Ada yang tidak beres. Apa ini menyangkut kejadian malam tadi? Apa Vallery berniat mengatakannya pada Alexa?
Entah kenapa Ed merasa biasa saja. Bahkan dia tidak takut jika Vallery harus mengadukan hal itu pada Alexa. Sekalian saja dia jujur pada istrinya itu, bukan?
Jika memang Vallery yang memulainya, Ed bisa apa selain mengakui?
Tapi, Bukan hal itulah yang dia takutkan. Ed justru yakin, Vallery lah yang tidak akan berani mengungkit kejadian itu pada kakaknya. Entahlah apa yang mereka bincangkan sekarang! Tapi, Perasaannya benar-benar menjadi tidak tenang.
Dilain sisi, Vallery menggenggam kedua tangan Alexa seraya menatap mata sang Kakak dengan serius.
"Ada apa ini, Vall?" Kening wanita itu berkerut heran.
Vallery masih diam seraya menarik nafas dalam. "Kak, apakah--apakah aku boleh pindah?" tanya Vallery dengan sangat hati-hati. Dia juga bingung mau membuat alasan apa pada Kakaknya atas keinginannnya ini. Vallery takut menyinggung perasaan sang kakak.
"Apa maksudmu, Vall?" tanya Alexa sedikit kaget.
"Aku ingin pindah, Kak. Aku--aku mau hidup mandiri." Akhirnya itulah satu-satunya alasan yang bisa dikemukakannya.
"Vall-- apa kau tidak nyaman tinggal disini? Ah, itu tidak mungkin kan? Ini rumahmu. Ini rumah peninggalan orangtua kita. Dari kecil kita tinggal disini. Bagaimana mungkin kau merasa tidak nyaman?" suara Alexa melirih dan Vallery tak tahu harus bertindak seperti apa menangani sikap Kakaknya yang mendadak murung.
"Bu-bukan begitu, Kak--Aku hanya..." Vallery melepaskan tangan kakaknya dan berbalik badan, dia tidak sanggup menatap Alexa lagi karena dia tidak mau Alexa membaca sesuatu yang dia tutupi juga kebohongannya.
"Hanya apa, Vall? Kenapa kau mau pindah? Aku bahkan rela menikah dengan Ed agar kita masih bisa sama-sama tinggal dirumah ini." suara Alexa penuh kekecewaan.
"Aku, aku ingin fokus dengan skripsiku. Jika aku tinggal dengan Sophia, kami bisa menyelesaikannya bersama-sama." Alasan Vallery yang dia sendiri merasa tak yakin jika Alexa akan mempercayainya.
Alexa menarik nafas dalam-dalam. "Memangnya kalian akan tinggal dimana?" tanya Alexa pada akhirnya.
"Ehm..uhmm.. Sophia menyewa sebuah Apartemen layak huni di Branch Street." jawab Vallery. Walaupun dia tidak jujur jika Apartemen itu milik Josh.
"Itu kawasan Elite.. Apa kau yakin disana tempatnya?" tanya Alexa agak terkejut.
"Huum, kami sudah mengunjungi tempat itu kemarin."
"Tapi Sophia bahkan baru mau mencari pekerjaan sampingan. Bagaimana bisa dia menyewa di daerah sana?"
"Dia--dia punya tabungan. Maybe, aku tidak yakin. Yang jelas dia sudah membayar uang mukanya." kata Vallery berbohong.
"Lalu kapan kau kembali kerumah?" Alexa akhirnya mengalah, karena dia juga merasa jika Vall telah dewasa dan mungkin Vall tidak mau dikekang. Padahal Alexa selalu memberinya kebebasan dan tidak ada kekangan untuk adiknya itu.
Vallery menggeleng. "I don't know, Kak."
"Baiklah, aku akan mengizinkanmu pindah bersama Sophi. Tapi--" Alexa sengaja menggantung kalimatnya ketika melihat Adiknya sudah berbalik badan lagi utnuk melihatnya.
"Tapi apa, Kak?" desak Vallery.
Alexa memicing, memandangi mata Vallery dengan tatapan menyelidik. "Tapi tidak ada yang kau tutupi, kan?" tanyanya tepat sasaran.
Sadar akan kebiasaan Kakaknya yang sepertinya memang pandai membaca kebiasaannya, Vallery segera menggeleng cepat. "No. I don't.." jawabnya singkat untuk menghindari lagi pertanyaan Alexa yang menyelidik.
"Ya--ya. Baiklah. Apa kau akan pindah sore ini juga?" Alexa mulai mengeluarkan senyuman khasnya yang riang.
"Iya, Kak. Aku akan mengemasi barangku juga. Nanti sebelum ke Apartemen itu aku akan pulang dulu dan mengambil keperluanku," ringkas Vallery.
Alexa melipat tangannya di dada, "Well, tapi bolehkah aku minta satu permintaan juga padamu." ucapnya.
"Apa itu, Kak?"
"Setiap akhir pekan, tetaplah pulang. Paling tidak sehari dalam seminggu kau akan menginap disini."
Vallery terdiam seketika. Bagaimana mungkin dia harus pulang lagi seminggu sekali. Bagaimana jika kejadian malam tadi bersama Ed akan terulang kembali dimalam-malam lain saat dia menginap dirumah ini? Mungkin malam tadi akal sehat Vallery lebih mendominasi, tapi bagaimana jika dia juga kalah terhadap Edward? Bagaimana jika dia juga khilaf dan bahkan ikut menikmati dosa itu?
Akhirnya dengan berat hati Vallery menjawab juga. "Aku usahakan, Kak. Aku tidak janji." ucapnya.
Ed melihat dua orang perempuan yang berjalan bersisian kembali menuju meja makan. Ed menatap Vallery, seolah bertanya 'apa yang kalian bicarakan?' tapi gadis yang ditatapnya hanya menundukkan kepala.
Tak mendapat respon dari Vallery akhirnya Ed langsung bersuara pada istrinya. "Ada apa?" tanyanya tanpa basa-basi pada Alexa.
Alexa tersenyum kecil. "Tak apa, hanya permintaan seorang adik kepada kakaknya." jawab Alexa seraya menyeringai.
"Soal apa?" tanya Ed sedikit mendesak, dia memandang bergantian kakak dan adik itu. Dia merasa ini bukan permintaan biasa seperti Vall akan meminta uang atau semacamnya.
Alexa mengangkat bahu. "Vallery akan pindah dari rumah ini." jawabnya enteng.
"What?" pekik Ed kaget. Bahkan Alexa dan Vallery ikut terkejut akibat suara Ed yang meninggi tiba-tiba.
Alexa menatap suaminya dengan tatapan heran.
"Maaf," kata Ed menyadari kelepasannya. "Aku hanya terkejut mendengar hal itu. Kenapa Vallery ingin pindah?" tanya Ed pada Alexa tapi matanya mencuri pandang pada Vallery.
"Begitulah, dia sudah besar sekarang." Alexa terkekeh diujung kalimatnya.
Wajah Ed tidak nampak santai lagi. Dia mengerutkan dahinya. "Dan kau menyetujui kepindahannya--Ini terlalu tiba-tiba, Lex?" tanya Ed dengan nada tak senang.
"Why?" Alexa justru bertanya kembali pada Ed, dia cukup heran melihat reaksi Ed yang terlihat berlebihan, seperti terlalu peduli dengan hal ini. Dia saja sebagai kakak Vallery sudah menyetujui dan tidak mau membahas lebih jauh karena itu adalah pilihan Vall yang sudah dewasa. Kenapa pula Ed seakan tak senang?
Ed terdiam, dia bingung mengemukakan ketidaksukaannya atas pilihan Vallery yang akan pindah rumah. Vallery segera menyambar tasnya saat melihat Sophia sudah keluar dari kamar, mengucapkan kata pamit lalu langsung menuju ruang tamu sambil menjinjing travel bag-nya.
"Aku berangkat, Kak." Vallery pun berdiri. Dia akan menyusul Sophia. Sebelumnya, dia lebih dulu mencium sisi pipi Alexa sekilas dan gegas pergi dari hadapan sepasang suami istri itu.
Ed melepas kepergian Vallery itu. Hari ini, Ed kembali merasa kecewa pada Vallery. Pertama, dia tidak mendapat sapaan dari gadis itu, bahkan senyumanpun tidak terbit dari bibirnya. Kedua, Ed cukup syok dengan keputusan Vallery yang akan pindah dari kediamannya. Kenapa hatinya terasa nyeri? Penolakan Vallery sampai pada keputusan ini.
Inikah dampak dari kekhilafannya pada gadis itu? Apa kejadian kemarin malam benar-benar membuatnya tertekan? Apakah Ed begitu menyakitinya?
Ed semakin diliputi rasa bersalah dan entah rasa apa lagi sebenarnya yang menyelimutinya sehingga, dia benar-benar merasa gusar saat melihat punggung Vallery yang perlahan menjauh dari penglihatannya.
"Sayang, kau sedih atas keputusan Vallery yang akan meninggalkan rumah ini?" tiba-tiba celetukan Alexa membuat Ed tersadar dari lamunannya akan melihat punggung kecil yang sudah tak nampak lagi.
"Ehm, aku-aku.. bukan begitu," kilah Ed merasa tak enak hati pada Alexa.
"Aku pikir, kau benar-benar menyayangi Vallery. Ah, suamiku.. aku tidak menyangka kau bisa menganggapnya seperti layaknya adikmu juga. Terima kasih, Honey." Alexa mengecup pipi Ed dengan mesra.
Ed tersenyum dengan wajah pias, ekpresi yang bercampur menjadi satu. Entah kenapa ucapan Alexa justru seperti menamparnya. Dia dicium Alexa tapi kenapa karena ucapan itu justru membuatnya merasa tertampar? Dia tidak menganggap Vall sebagai adiknya. Walaupun mulutnya berkata demikian tapi hatinya menolak hal itu.
"Jangan khawatirkan Vall, aku tahu kau pasti khawatir kan? Itu tidak perlu."
"Kenapa?" lirih Ed.
"Aku rasa memang sudah saatnya dia bergaul, dia kurang bergaul. Dia selalu jadi adik kecilku yang penurut. Kau tahu, bahkan aku tidak pernah melihatnya berkencan." kata Alexa tersenyum kecut.
Ed terdiam, dia tahu Vallery adalah gadis yang tertutup.
"Aku membiarkannya karena aku tahu dia sudah cukup dewasa. Dia menghabiskan banyak waktu sia-sia, selama ini dia hanya dirumah menyaksikan kelakuan ibu tiri kami, itu sangat miris. Seharusnya gadis seusianya sudah memiliki banyak mantan pacar." Alexa terkekeh kecil.
"Dan aku justru takjub pada Josh." sambung Alexa lagi.
Ed mengernyit. Kenapa pula sekarang Alexa harus membahas laki-laki itu? Ed tidak suka membicarakan soal Josh. Josh salah satu lelaki yang masuk dalam blacklistnya. Tidak menarik untuk dibahas.
"Kenapa dengannya?" tanya Ed datar. berusaha tertarik walau sebenarnya tidak mau membahas lelaki itu.
"Karena Josh satu-satunya lelaki yang dikenalkan Vall kepadaku." Alexa terkikik. "Ku pikir Josh bisa menaklukkan hati Vallery yang tertutup, makanya aku cukup takjub padanya." lanjutnya.
Ed bergeming saat Alexa sudah bergerak menuju pintu keluar. Dia berpikir keras akan ucapan Alexa. Itu mengganggunya.
Josh menaklukkan Vallery? Yah, itu mengganggunya.
"Honey, kau akan diam disitu atau berangkat bekerja?" tanya Alexa dari ambang pintu dan saat itulah Ed tersadar dari lamunannya.
Kenapa sekarang dia banyak melamun? Ini benar-benar diluar kebiasaannya selama ini.
...To be continue ......
Tolong tinggalkan jejak ya.
Komen kritik dan saran yang membangun
Like dan favorit ๐๐๐ pokoknya tinggalkan jejak guys. Jangan jadi pembaca gelap๐ itulah bentuk apresiasi buat penulis. Terimakasih banyak ya yg udah mau mampir ke karya aku. Semoga kita sehat selalu.
1 lagi... Hindari yg namanya Affair atau perselingkuhan ya. Itu gak baik,๐ ๐ ๐ cerita ini hanya fiktif. tidak untuk dicontoh atau dipraktekan๐คฃ