
Vallery dan Sophia berangkat kuliah seperti biasanya pagi ini. Seperti biasa, mereka akan menggunakan Bis Umum untuk menuju kampus. Setibanya dikampus mereka dikejutkan oleh kehadiran Jesica di kelas mereka.
"Hai, Vall. Hai, Sophi ..." Jesica menyapa kedua gadis itu dengan bibir melengkung.
"Hai, Jes ... Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sophia dengan nada datar.
"Aku tidak ada urusan denganmu, Sophi... Aku ingin bicara dengan Vallery." Jesica melirik Vallery yang masih berdiri ditempatnya.
"Ya, tapi tidak sekarang, Jes. Aku ada kelas sepuluh menit lagi." Ucap Vall dengan sekilas senyum.
"Oke, no problem." Jesica menyatukan jari telunjuk dan jempol, membentuk sebuah lingkaran kecil. "Aku tunggu sampai kelasmu berakhir." Sambungnya, lalu gadis itu keluar begitu saja dari dalam kelas Vall.
Sophia dan Vallery saling menatap, seolah bertanya satu sama lain tentang hal apa yang ingin dibahas oleh Jesica.
Karena tidak ada yang terlintas dikepala Vallery, akhirnya dia hanya mengangkat bahunya cuek, Sophia hanya terkekeh kecil karenanya. Lalu, mereka menunggu kelas pelajaran yang akan segera dimulai.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Tidak butuh waktu lama untuk Vallery mencari keberadaan Jesica karena gadis itu sudah berada dihadapannya. Jesica benar-benar menunggu Vallery selesai dengan kelasnya.
Tanpa aba-aba, Jesica menarik tangan Vallery hingga mereka berdua menuju taman kampus.
"Hei, ada apa sebenarnya?" Tanya Vallery heran. "Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Sambungnya.
Jesica duduk dan meminta Vall untuk mengikutinya. Keadaan taman memang ramai, tapi semua terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing dan tak begitu mempedulikan kedua gadis itu.
Jesica memperhatikan sekilas keadaan taman, seolah tengah mencari sesuatu atau lebih tepatnya dia seperti takut seseorang akan melihatnya bicara dengan Vallery.
Saat dirasa sudah aman, barulah gadis itu bersuara. "Josh?" Bisik Jesica pada Vallery.
"Josh? Ada apa dengan Josh?" Tanya Vallery heran.
"Dia kemana? Beberapa hari ini dia tidak terlihat di kampus. Aku ingin memastikan dulu, apa dia memang sedang tidak kuliah?" Tanya Jesica masih dengan nada berbisik.
"Iya, Josh sedang di Rusia. Memangnya ada apa?" Vallery semakin heran saat melihat Jesica menghela nafas lega.
"Ternyata dia benar-benar tidak ada. Syukurlah..." Jesica sudah mulai bicara santai tanpa berbisik lagi.
"Jes, apa yang terjadi?"
"Aku tidak mau Josh akan semakin marah jika aku bergaul denganmu."
"What? Apa maksudnya?" Vallery menatap raut wajah Jesica yang tampak kusut.
"Dia melarangku dekat denganmu semenjak dia tahu bahwa aku yang mengajakmu ke Club malam itu." Kata Jesica sambil menggelengkan kepalanya samar.
"Dan kau mau menuruti larangannya itu?" Tanya Vallery.
Jesica mengangguk. "Ya dengan berat hati." Jesica tersenyum kecut. "Sebenarnya, aku sudah menduga jika Josh mendekatimu. Makanya dari awal aku bertanya apa hubungan kalian." Lirih Jesica.
"Kami tidak punya hubungan spesial, Jes." Kata Vallery.
"Itu menurutmu.. tapi setelah aku menilainya, pikiranmu itu tidak sesuai dengan yang dipikirkan Josh."
Valerry mengernyit. "Memangnya apa yang dia pikirkan tentang kami?" Tanyanya.
"Dengarkan aku baik-baik. Aku adalah salah satu orang yang mengenal Josh," Jesica memegang pundak Vallery. "Aku tahu pasti, walaupun tidak ada pernyataan dari mulut Josh tentang status kalian, tapi aku yakin jika secara tidak langsung dia sudah menganggapmu adalah miliknya."
"Aku tidak mengerti.."
"Oke, sekarang aku tanyakan padamu.. apa Josh pernah menciummu dalam durasi lama?"
Vallery terdiam, dia menunduk lalu menganggukkan kepalanya dengan ragu-ragu.
Melihat itu, Jesica pun menghela nafas berat. "Oke, Vall. Maafkan aku. Sepertinya kita tidak bisa berteman lebih dekat lagi kecuali jikahubunganku dan Josh membaik." Kata Jesica seraya menepuk-nepuk pundak Vallery lalu dia berdiri dari duduknya.
"Jes, maksudmu apa? Ehmm.. memangnya kalian memiliki hubungan apa? Apa kau takut dengan Josh? Apa dia mengancammu jika kau dekat denganku?" Vallery mencecari Jesica dengan banyak pertanyaan.
Jesica terkekeh kecil. "Dia tidak mengancamku, aku hanya tidak mau ada keributan. Aku mendukung hubungan kalian." Jesica tersenyum simpul saat Vallery semakin keheranan. "Ah ya, satu lagi, aku tidak takut pada Josh sekalipun dia mengancamku. Hahaha, aku hanya takut pada Ayah dan Ibuku." Kata Jesica sambil berlalu dari hadapan Vallery.
Vallery menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, dia mencerna setiap ucapan dari mulut Jesica tapi dia tetap tidak bisa mengerti kenapa Josh melarang Jesica dekat dengannya dan lagi kenapa Jesica tidak mau dekat dengannya hanya karena larangan itu? Jesica mengatakan tidak takut pada Josh tapi dia tetap menuruti permintaan Josh. Kenapa sekarang bertambah lagi orang aneh?
Kemarin Sophia terlihat aneh dan sekarang Jesica juga.. hemm..-batin Vallery berkata-kata.
Rusia
Ponsel Josh berdering menandakan adanya panggilan telepon. Melihat siapa yang tengah meneleponnya, membuat pikirannya terbagi dua karena saat ini dia juga tengah bertemu dengan klien-nya.
Setelah mengambil keputusan hanya dalam beberapa detik, Josh memilih untuk menjawab teleponnya dan meninggalkan meeting.
"Dimitri, kau selesaikan ini. Aku masih ada urusan." Kata Josh pada tangan kanannya yang sejak tadi berdiri disisinya.
"Yes, Sir." Dimitri segera mengambil alih meeting itu diatas kepemimpinannya, setelah sebelumnya Josh permisi undur diri dari hadapan kliennya. Tindakan itu terlihat kurang profesional, tapi Josh memang tidak bisa melanjutkan meeting itu jika pikirannya terbagi-bagi.
"Apa yang penting sampai kau meneleponku?" Tanya Josh langsung, pada saat menerima panggilannya.
"......."
"Jesica? Apa yang Jesica katakan pada Vallery?"
"........"
Josh tersenyum miring mendengar penuturan seseorang dari seberang sana, yang mengabarkan tentang pertemuan antara Jesica dan Vallery hari ini ditaman kampus. Ternyata, Jesica cukup tahu diri untuk menjauh dari Vallery.
"Okay, thanks before." Ucapnya. "Kirimi aku pesan mengenai apa yang dia lakukan sepanjang hari." titahnya, lalu tanpa mendengar sahutan dari seberang teleponnya, Josh segera memutus panggilan itu sebelah pihak.
Josh menyeringai, membicarakan tentang Vallery selalu membuatnya tertarik. Dia memutuskan tidak kembali ke tempat meeting, dia memilih kembali ke Hotel tempatnya menginap selama di Rusia. Dia mempunyai urusan yang tertunda disana.
Sesampainya di Hotel, Josh segera membuka jas yang membuatnya merasa gerah, dia mengambil wine dalam kemasan botol, menuangkannya ke dalam gelas dan menyesapnya secara perlahan.
Josh membuka kembali rekaman CCTV yang menunjukkan aktifitas didalam ruangan Apartemen yang ditinggali oleh Vallery. CCTV itu bisa diakses melalui smartphone-nya, untuk memudahkan dia melihat yang terjadi disana kapan saja dan dimana saja.
Sebenarnya, Josh sudah melihat rekaman itu kemarin. Dia menelepon Vallery tapi tampaknya gadis itu terbiasa membiarkan ponselnya dalam keadaan kehabisan baterai sehingga nomornya sulit dihubungi. Apartemen itu sudah lama tidak dihuni jadi disana juga tidak dipasang pesawat telepon rumahan. Akhirnya, Josh menghubungi Sophia--berharap bisa bicara dengan Vallery--tapi ternyata teman Vallery itu sedang pergi mencari pekerjaan sampingan dan juga mampir ke Rumah Sakit untuk menjenguk ibunya.
Entah karena merindukan Vallery atau rasa khawatir yang merayapi hatinya, membuat Josh membuka saluran CCTV Apartemen itu yang tersambung ke smartphone-nya. Dia berpikir, mungkin dengan melihat kegiatan Vallery dirumah, akan membuat rasa rindu dan khawatirnya sedikit terobati walaupun dia tidak bisa mendengar suara Vallery.
Tapi yang dia lihat malah membuatnya terbelalak.
"Fu-cked!!!" Umpatnya saat melihat Edward datang ke Apartemen itu melalui rekaman CCTV.
Sayangnya, Kegiatan Josh itu harus terhenti sampai disana saat dia menerima telepon dari sang Ayah. Josh tidak bisa menolak panggilan itu karena telepon dari Ayahnya semacam alarm kematian untuknya.
Diapun mendengar jadwal padat yang sudah diberikan oleh Ayahnya, tapi dilain sisi Josh juga memikirkan Vallery yang didatangi oleh Edward. Akhirnya, Josh meminta seseorang untuk mengawasi kegiatan Vallery dan melaporkan padanya tentang hal penting yang berkaitan dengan gadis itu selama dia tidak berada didekatnya.
Dan akhirnya, setelah kegiatan menonton CCTV itu sempat tertunda kemarin, maka sekaranglah dia kembali membuka rekaman CCTV itu. Dia ingin melanjutkan tontonannya.
Darah Josh kembali berdesir panas saat menyaksikan kembali kedatangan Edward ke Apartemen miliknya yang dihuni oleh Vallery. Dia dapat melihat Edward melangkah masuk dan dia juga melihat Vallery yang syok karena Ed.
Tapi, Josh semakin terkejut kala melihat adegan saat Ed mencium paksa gadisnya. Vallery terlihat memberontak, tapi Ed menciumnya dengan sangat liar. Tangan Josh mengepal diposisinya. Dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa.
Disaat Vallery disentuh oleh Edward, dia malah berada jauh dari gadis itu. Dia tidak sanggup melihat kelanjutan kegiatan mereka, tapi dia juga penasaran apa yang terjadi selanjutnya.
Josh menata perasaannya yang meletup-letup karena amarah, dia kembali menatap layar pipihnya--sekarang menampilkan pula adegan Ed yang meringis memegangi bibirnya sendiri. Josh tahu jika Vallery pasti menggigit bibir Ed. Josh tersenyum miring saat menyadari tindakan yang dilakukan Vallery, itu berarti Vallery memang telah menolak Ed.
Kemudian Josh melihat mereka duduk bersisian di sofa, entah apa yang mereka bicarakan tapi Vall terlihat menangis. Josh terenyuh melihatnya, entah kenapa dia merasa Vallery mengemban beban yang berat saat menatap Ed, tapi entah apa pula yang dipendam oleh gadis itu tentang hubungan keduanya, Josh tidak tahu.
Josh teringat bahwa sebelum dia pergi ke Rusia, dia sempat meletakkan sesuatu disudut-sudut ruang Apartemen, karena dia memang selalu selangkah lebih cepat dari lawannya.
Josh sudah memperkirakan ini dan dia menaruh penyadap suara di Apartemen itu sebelum keberangkatannya. Itulah mengapa sebelum dia pergi, dia menyempatkan berkunjung ke Apartemen pagi itu.
Josh mulai mendengarkan pembicaraan mereka, dari awal kedatangan Ed hingga mereka duduk bersisian di sofa.
"Breng-sek! Dia bahkan ingin meninggalkan Alexa demi Vallery, hah?" Josh menggeleng pelan. "Itu tidak akan terjadi..." Gumamnya sambil terkekeh kecil.
"Aku bahkan tahu jika asistenmu seorang hacker, Ed.." gumam Josh. "Walaupun begitu, dia tidak akan mengetahui tentangku dengan mudah, jika itu tidak seizinku. Semua yang kau ketahui tentangku, tentu saja aku sengaja membiarkanmu mengetahuinya. Semua itu agar kau berhati-hati pada lawanmu."
"Kau benar-benar mengajakku bermain-main, Ed. Ku harap kau tidak salah langkah. Ck.." Josh berdecak lidah. Tapi, saat mendengar percakapan Vall dan Ed mengenai 'melupakan tentang malam itu' dia menjadi semakin penasaran.
"Apa yang terjadi? Malam itu? Apa yang harus dilupakan tentang malam itu?" Josh menatap nanar ke arah layar datarnya.
Josh pun mendengar permintaan Edward pada Vallery, ternyata lelaki itu malah meminta Vallery untuk tidak berhubungan dengan Josh. Josh terkekeh hambar. "Ck ck ck ... Kau pikir, kau lebih baik dariku, heh?" gumamnya sambil memegang dagunya sendiri.
...To be continue ......