My Another Love

My Another Love
Secret Room



Josh tiba didepan Casino hampir bersamaan dengan mobil yang dikendarai Dimitri.


Para pekerja Casino, sudah tahu jika itu adalah kedatangan istimewa, Dimitri beserta orang-orangnya. Tapi, selama ini mereka tidak tahu jika Josh adalah atasan Dimitri dan adalah anak seorang mafia. Mereka hanya tahu jika Josh adalah teman Dimitri sejak lama.


Mereka masuk ke dalam ballroom Casino yang cukup luas dan dipenuhi orang-orang yang sedang asyik berjudi tentu saja. Kedatangan mereka langsung disambut baik oleh pemilik tempat tersebut yang tak lain adalah Ayah Dimitri.


"Putraku, kau pulang?" tanya lelaki tua yang diapit oleh dua wanita cantik dan sek si di kiri kanannya. Dia memancarkan aura intimidasi dari setiap senyumnya yang merekah.


Dimitri hanya diam tidak berekspresi, karena hubungannya dengan Ayahnya memang bisa dikatakan tidak baik beberapa tahun belakangan. Bahkan, selama kembali ke Texas, dia tidak pernah menemui Ayahnya, dia justru0 menyewa rumah ditempat terpencil.


"Tentu kau tahu apa maksud kedatanganku kesini." kata Dimitri pada sang Ayah seraya melirik Josh yang berdiri disampingnya.


Ayah Dimitri menoleh ke arah Josh beserta beberapa orang pengawal dengan pakaian rapi itu.


"Baik, aku paham. Ayo ikut aku!" kata Ayah Dimitri seraya berjalan ke sisi lain ruangan.


Rombongan itu pun mengikuti arah langkahnya, tapi saat mereka semua hampir memasuki sebuah pintu, Ayah Dimitri menghentikan langkah.


"Kalian ikut aku dan yang lainnya boleh tinggal disini sementara waktu." titah lelaki tua itu.


Dimitri meyakinkan Josh dengan isyarat mata, bahwa ini akan baik-baik saja.


Seluruh pengawal berpakaian rapi ditinggal diambang pintu, berikut dengan dua orang wanita cantik yang sejak tadi mengapit tubuh Ayah Dimitri.


Setelah itu, mereka masuk ke balik pintu. Hanya bertiga, Josh, Dimitri dan Ayahnya.


Josh pikir, dibalik pintu itu akan ada ruangan untuk menyambut tamu, nyatanya tidak seperti itu, pintu yang tadi mereka lewati, adalah seperti jalan yang menghubungkan dengan lorong-lorong yang cukup membingungkan.


Mereka mengikuti langkah sang lelaki tua, berbelok ke kiri lalu entah kemana lagi, lorong yang rumit. Disana mereka mendapati ruangan lain yang memiliki pintu besi lengkap dengan kotak sandi yang dinilai Josh adalah tempat paling rahasia dan sangat terlindungi.


Setelah Ayah Dimitri menekan beberapa angka dikotak sandinya, dia meminta Josh dan putranya untuk masuk.


Dan disinilah mereka berada, bukan dalam ruangan seperti yang Josh pikirkan, melainkan sebuah taman tertutup dan tersembunyi dengan banyaknya tanaman semacam apotek hidup.


Di sisi taman, sudah tersedia kursi dan diujungnya ada pintu lain yang entah akan mengakses kemana.


Terlihat seperti ruangan terbuka yang sebenarnya tertutup rapat. Tidak ada yang bisa menjangkau tempat ini tanpa seseorang yang memang hafal luar kepala jalan menujunya.


"Silahkan duduk," ujar Ayah Dimitri.


Josh dan Dimitri pun duduk dikursi besi selayaknya kursi yang memang ada ditaman-taman biasa.


Lelaki tua itu mengangguk, ini bukan kali pertamanya melihat Josh datang ketempatnya, tapi, baru kali inilah mereka memasuki ruang rahasia ini. Selama ini, Josh akan menunggu info yang dibawa Dimitri hanya dari dalam mobilnya saja, tanpa ingin masuk dan melihat keadaan Casino. Mereka pernah bertemu langsung beberapa kali, dulu--saat Josh dan Dimitri masih remaja.


Sesungguhnya, Ayah Dimitri tahu jika putranya bekerja pada seorang mafia. Ya, yang lain tidak tahu tetapi dirinya selalu mengetahui apapun.


"Aku butuh info..." kata Dimitri tak ingin membuang waktu.


Lelaki tua itu menatap lawan bicaranya--yang wajahnya adalah duplikasi dirinya ketika muda. "Ya, ya... aku tahu. Apa info yang ingin kau ketahui kali ini? Apa masih ada hubungannya dengan Antoni Dexa?" tebak sang Ayah. Dia menebak nama itu karena dari dulu anaknya selalu menanyakan perputaran bisnis dan orang-orang Antoni Dexa secara bertahap.


Kali ini Josh yang mengangguk dan bersuara. "Apa yang bisa kami dapatkan kali ini?" tanyanya pelan.


Ayah Dimitri menggaruk dagunya sendiri sebelum memutuskan menjawab pertanyaan Josh.


"Kalian ingin tahu yang mana? Karena kau sudah repot-repot bertandang ke tempatku, maka aku akan berikan informasi ter-akurat khusus untukmu." kata lelaki tua itu.


"Aku menganggapmu tamu terhormat hari ini, yang datang bersama putraku." Lelaki itu terkekeh kecil.


Tak lama, seorang pelayan masuk dari sisi pintu lainnya, menyajikan minuman dan cemilan dihadapan mereka.


Josh sungguh tidak tertarik untuk itu, rasa lapar dan hausnya hilang dan dia lebih ingin mengetahui hal yang sedang dia cari karena kini Jesica berada ditangan Antoni.


"Silahkan dicicipi." Lelaki tua itu berujar seraya menyesap teh aromateraphi yang berada dihadapannya.


"Langsung saja ke topiknya." potong Dimitri yang juga tidak sabar.


Sang Ayah pun mengangguk. "Tiga pilihan," katanya.


"Kau ingin tahu dari yang mana? Aku beri tiga pilihan. Pertama tentang kehidupan pribadi Antoni, kedua tentang usahanya dan ketiga tentang orang-orang yang telah menghianatinya?"


Josh dan Dimitri berkata serentak. "Kehidupan pribadinya."


Jawaban itu mewakili rasa ingin tahu mereka selama ini, karena tidak bisa mengetahui latar belakang Antoni dan keluarganya. Sempat mencari-cari tapi hasilnya Nol besar.


Lelaki tua itu tersenyum miring. "Baiklah," dia menghidu teh yang mengeluarkan aroma menenangkan itu. Kemudian dia menatap Josh yang terduduk dihadapannya. Kini mata Lelaki tua itu menatap Josh tajam, keramahannya hilang ditelan raut wajah yang serius.


"Antoni Dexa, pria yang tidak pernah menikah. Dia tidak punya Istri dan Anak. Dia hidup bebas dengan wanita manapun yang dia mau."


"Kalau kalian ingin tahu kehidupannya yang membosankan itu, aku akan melanjutkannya." sambungnya.


Dimitri menggeleng cepat sementara Josh fokus mencermati sang Lelaki tua dengan gelagatnya.


"Jika dia tidak punya anak dan istri, berarti kita tidak bisa membalas perlakuannya, Sir." kata Dimitri melirik Josh sekilas.


Dimitri pikir, membalas perlakuan Antoni dengan menculik salah satu anggota keluarganya akan lebih baik ketimbang membunuh Mark yang mungkin tidak akan berpengaruh besar untuk kehidupan Antoni.


Josh tidak mengalihkan pandangan pada Dimitri, intuisinya bekerja untuk fokus pada Ayah Dimitri yang santai menyesap tehnya kembali.


Josh menangkap sinyal bahwa Ayah Dimitri sedang menyimpan sesuatu yang penting dibalik ceritanya. Hanya saja, dia belum mau menceritakan secara gamblang, Lelaki tua itu sepertinya masih menilai--jika Josh dan Dimitri tidak tertarik, maka dia tidak melanjutkan cerita itu, tapi jika Josh ingin tahu lebih lanjut barulah dia membuka tabir itu.


"Well, meskipun Antoni tidak memiliki Anak dan istri, tapi dulu dia memiliki seorang Ibu."


"Dimana dia?" tanya Dimitri cepat.


"Oh, boy. Apa kau akan membalas perbuatan Antoni dengan menculik wanita tua?" ejek sang Ayah pada putranya, yang membuat Josh terkekeh sekilas.


"Shiitt!" umpat Dimitri tercekat. Tentu bukan menculik wanita tua tujuannya, dia hanya ingin mencari info baru dari info yang dia dapatkan ini.


"Lalu?" Josh menautkan alisnya satu sama lain, penasaran cerita apa yang merupakan intisari dari percakapan mereka ini.


"Antoni memang tidak menikahi wanita manapun, tapi dari petualangannya bersama para wanita berpuluh-puluh tahun yang lalu, dia sempat membuat salah satu diantaranya hamil."


Josh tersenyum miring mengetahui hal ini. Ini kunci utamanya. "Kau yakin? Itu berarti dia memiliki anak diluar pernikahan?" tanyanya dengan antusias.


Ayah Dimitri mengangguk. "Aku sangat yakin, karena wanita itu dulunya adalah pekerjaku di Casino."


Josh dan Dimitri saling pandang satu sama lain.


"Lalu, dimana Anaknya sekarang?"


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Vallery berharap-harap cemas menunggu kepulangan Josh, hari semakin larut namun belum ada tanda-tanda lelaki itu akan kembali ke Apartemen.


Vallery berjalan mondar-mandir di lorong, dia merasa tidak tenang sekarang. Memikirkan Josh, Jesica dan nasib dirinya sendiri.


Apa jika dia terus bersama Josh maka hidupnya akan terus tidak tenang begini? Oh come on, Vall !! Inilah hidup Josh yang sebenarnya.


Bell Apartemen terdengar, disusul dengan suara orang-orang yang sedikit berdebat. Vallery meyakini itu adalah suara dua orang pengawal yang berjaga didepan pintu Apartemen, tapi dengan siapa mereka berdebat?


Vallery memutuskan berjalan mendekat ke pintu, dia mengintip disebuah lubang kecil yang terdapat di pintu. Dia melihat Alexa disana. Ternyata Kakaknya ysng datang berkunjung. Tapi selarut ini? Kenapa?


Vallery memutuskan membuka pintu Apartemen dan Alexa segera melihat ke arahnya.


"Vall?"


"Kakak? Ada apa?"


"Kenapa disini harus memakai pengawalan? Aku bahkan sulit untuk menemuimu?" Alexa berkata dengan nada yang marah.


"Emm--itu, Ayo masuk dulu, Kak."


Alexa menatap sinis dua orang pengawal yang tadi tidak memberinya akses masuk kedalam Apartemen yang ditempati Adiknya, setelah itu dia melangkah masuk kedalam.


"Jadi sekarang kau tinggal bersama Josh disini?" tanya Alexa seraya mendudukkan diri di sofa.


"Iya, Kak. Ada apa kau datang selarut ini, Kak?"


"Aku baru pulang kerja, Ed sempat memberiku kabar bahwa dia menemuimu kemarin."


"Begitulah..."


"Dimana Josh?"


"Josh belum kembali."


"Dia bahkan meminta pengawal untuk menjagamu. Jadi yang dikatakan Ed itu benar? Bahwa Josh bukan lelaki biasa?" Alexa berujar dengan cepat dan tatapannya yang santai berubah menjadi penuh intimidasi saat menatap sang Adik.


Vallery tertunduk, dia tahu kearah msna pertanyaan Kakaknya dan dia sudah pasrah jika Kakaknya menolak keadaan Josh, tapi Vall tetap tidak mau melepaskan Josh walaupun itu permintaan khusus dari Alexa.


"Tinggalkan dia, Vall. Ini tidak baik untuk kehidupanmu.." Alexa menggenggam tangan Vallery dan dia berujar dengan lembut seolah memohon pada sang Adik.


Vallery menggeleng dan Alexa berdecak kesal.


"Apa kau mau hidupmu terus tidak tenang begini?


"Aku mencintainya, Kak."


"Kau akan melupakannya seiring waktu."


"Kau datang kesini larut malam hanya untuk menyampaikan itu, Kak?" dahi Vallery berkerut.


Alexa menggeleng. "Aku juga rindu padamu."


"Pulanglah, Kak." usir Vallery halus.


"Aku akan pulang jika kau ikut bersamaku. Membiarkanmu disini sama dengan mengorbankan nyawamu, Vall !!! Josh itu bukan pria sembarangan! Dia bisa membahayakanmu!" suara Alexa meninggi, bersamaan dengan kemunculan Josh dari balik pintu.


Tentu, ya ... dia pasti mendengar semua ucapan Alexa itu.


...To be continue ......