
Ed tengah membuka tabletnya di ruang keluarga, menunggu Alexa yang tengah mandi. Indera pendengarannya mendengar suara mobil yang berhenti di pekarangan rumahnya.
Ed bangkit dan melihat dari teralis jendela, siapa yang mengunjungi rumahnya di pagi buta. Bahkan dia dan Alexa pun belum sarapan pagi. Ed menyingkap sedikit gorden jendela yang menutupi penglihatannya. Matanya pun menyorot kedepan.
Tapi, apa yang dia lihat?
Sebuah mobil sport hitam metalic baru saja menghentikan deru mesinnya. Tak lama seorang lelaki dengan setelan rapi keluar dan mengitari mobilnya, membuka pintu penumpang dan mempersilahkan seseorang dari dalamnya untuk ikut turun.
Ed tersenyum miring melihat Vallery keluar dari balik kursi penumpang depan. Ed ingin mengabaikannya, berusaha bersikap tidak peduli. Tapi, suara tawa itu mengganggunya, ia kembali mengintip, melihat Vallery dan lelaki itu bersenda-gurau sesaat. Ed merasa tidak suka, hatinya mencelos.
Ed berusaha tenang dan tetap diam memperhatikan, Vallery sudah berbalik untuk melangkah masuk kerumah. Tapi ternyata gadis itu kembali memutar tubuh dan apa yang dilakukannya?
Vallery membenahi dasi lelaki itu dengan penuh perhatian.
Apa-apaan ini?-Batin Ed marah dan tidak terima.
Seketika Ed mendidih, apa yang sebenarnya terjadi dengan perasaannya? Dia mengingat kepergian Vallery malam tadi.
What? Apa dia tidak pulang semalaman dan baru pulang dipagi buta?
Ed mengepalkan tangannya, ia makin kesal saat Vallery yang memasuki rumah dengan senyum mengembang. Tanpa bisa dikontrol, Ed sudah menghampiri adik iparnya yang baru menginjakkan kaki diruang tamu.
"Kau baru pulang?" sergapnya Vallery dengan nada tak senang.
Kedua alis Vallery tertaut satu sama lain. Dia menatap Ed dengan tatapan jengah.
"Iya." Akhirnya Vallery menjawab.
"Apa pantas gadis sepertimu baru pulang sejak pergi malam tadi?" tanya Ed sarkas, suaranya nyaris berteriak, entah apa maksudnya.
"Tidak ada aturan yang menyuruhku untuk tetap pulang." kata Vallery santai.
Ed mendengus, mendengar jawaban Vallery seakan menantangnya, membuat kobaran amarah dalam dirinya sulit dikendalikan.
"Tapi mulai sekarang ada aturan yang menyuruhmu untuk tetap pulang ke rumah!" Kata Ed tak mau kalah. Nada suaranya sangat mengintimidasi.
Vall malas menjawab lagi, dia memilih beranjak untuk pergi, karena jika dia menjawab sudah pasti Ed akan punya alasan lain untuk tetap memarahinya. Dia memang salah karena tidak pulang semalaman tapi ini baru pertama kalinya dalam hidup Vallery dan Ed tidak berhak mengaturnya.
"Mau kemana? Aku belum selesai bicara.." kata Ed mulai tenang, suaranya nyaris tertahan.
"Aku harus segera ke kampus, Kak." jawab Vallery ingin kembali beranjak. Dia menjawab Ed lagi semata-mata untuk menghargai lelaki itu. Jika Ed memang menganggapnya hanya sebatas adik, maka Vall pun akan berusaha untuk menganggap Ed sebagai Kakaknya.
Ed berdehem-dehem dan Vall beranjak menuju kamarnya.
"Siapa lelaki tadi?" tanya Ed tiba-tiba, membuat langkah Vall terhenti.
Vall menoleh, "Kak, apapun yang menyangkut diriku itu bukan urusanmu. Urusanmu adalah mengurusi Kakakku. Dan satu lagi, jangan marah jika aku tidak pulang. Aku seorang gadis yang memiliki kebebasan," jawab Vallery seraya mendengus lalu segera pergi dari hadapan Ed.
Ed termenung, ucapan Vallery membuatnya berfikir bahwa semua itu adalah benar. Seharusnya Ed tak perlu marah atau mengurusi segala tindak-tanduk yang dilakukan Vall. Justru seharusnya dia mengurusi Alexa, istrinya.
Kenapa kau marah padanya saat dia tidak pulang? Bahkan Alexa juga tidak pulang dimalam pengantin kalian, tapi kau tidak marah?-Batin Ed menyalahkan dirinya sendiri.
Jika kemarin dia berharap Vallery cemburu melihatnya dengan Alexa, kenapa sekarang malah sebaliknya?
Apakah dia memang cemburu melihat kebersamaan Vallery dengan lelaki lain? Didepan matanya? Ah sepertinya dia sudah mulai gila akibat kesalahan satu malamnya bersama Vallery.
Ed masih berdiri ditempatnya, dia merenungi semua yang terjadi dalam sepekan ini. Ed merasa semuanya telah berubah sejak malam itu.
Lalu, bagaimana dengan Vallery? Kenapa dia nampak diam dan biasa saja? Apa hanya Ed yang merasa bersalah? Sedangkan Vallery menganggap malam itu tidak pernah terjadi?
"Honey, kau sedang apa disana?" suara Alexa yang menuruni tangga berhasil mengagetkan Ed serta membuyarkan segala lamunannya.
"Ti--tidak," kata Ed.
Alexa pun sampai disisi Ed tapi Ed seperti menghindarinya. "Aku akan mengantarmu." ucap Ed dan bergerak ke arah lain mencari-cari kunci mobilnya.
"No.. hari ini aku akan dirumah." Alexa tersenyum manja.
"Kau tidak pergi pemotretan?"
"Tidak, sebenarnya ada pertemuan dengan management ku, tapi aku beralasan untuk tidak datang." Alexa mendatangi lagi posisi Ed yang terdiam didekat meja seraya menggenggam kunci mobilnya.
"Kenapa?" tanya Ed.
Alexa melingkarkan kedua tangannya dileher Ed, membuat posisi mereka seperti berpelukan. "Karena hari ini kau ada dirumah, aku memutuskan akan menghabiskan waktu bersamamu," jawab Alexa seraya tersenyum menggoda.
Ed terdiam saat tiba-tiba Alexa mendominasi keadaan lalu menciumnya, disaat bersamaan pula, Vallery keluar dari kamarnya dan melihat pemandangan itu.
Vallery terdiam seketika, perasaannya menjadi tidak enak. Gusar dan serba salah.
Apa dia akan melewati saja kedua orang yang tengah berciuman itu? Berjalan menuju pintu dan mengabaikannya tanpa merasa canggung? Atau dia harus diam ditempat dan menyaksikan tontonan ini sampai selesai?
Vallery menggeleng, dia memutuskan untuk beranjak dan masa bodoh. Tapi langkahnya seakan tercekat tatkala tubuh Alexa yang pasrah diangkat dan digendong oleh Ed secara tiba-tiba.
Vallery memejamkan matanya sejenak, untuk menetralkan gemuruh dihatinya. Ini masih pagi dan dia harus mendapat suguhan seperti ini.
Vallery hanya mengangguk. Sedangkan Edward tiba-tiba menurunkan Alexa dari gendongannya. Alexa menatap suaminya keheranan. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum. "Honey, kau malu dilihat Vallery?" katanya.
Ed hanya diam dan membuang pandangan ke arah lain.
Kenapa dia bersikap seperti orang yang tertangkap basah sedang berselingkuh? ck ck ck!
Ed menggelengkan kepalanya pelan dan mengumpat dalam hati.
"Aku berangkat kuliah, Kak." sahut Vallery dengan wajah pucat pasi.
"Ya, hati-hati lah." Alexa tersenyum pada sang Adik.
Vallery pun melangkah keluar rumah. Lalu suara Alexa kembali terdengar.
"Nikmati harimu adikku sayang .." kata Alexa memekik dan Vallery sudah hilang dibalik pintu.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
"Vall, bisa kita bicara sebentar?" tiba-tiba suara Jesica hadir ditengah-tengah obrolan antara Vallery dan Sophia. Saat ini mereka sedang duduk di Cafetaria kampus setelah melukan sesi pembelajaran beberapa waktu lalu dan akan dilanjutkan ke sesi lain di satu jam berikutnya.
Sophia mengernyit heran, sementara Vallery mengangguk. "Sebentar," ucap Vallery pada Sophia. Sophia pun menatap Vallery dengan tatapan penuh tanya.
Apa yang terjadi? tidak biasanya Vallery akrab dengan Jesica?-batin Sophia.
Jesica menarik tangan Vallery dengan tidak sabar kearah lain. Lalu, gadis itupun mulai bersuara. "Vall, aku minta maaf atas kejadian semalam." katanya lirih.
Vallery mengangguk. "No problem. Semua sudah lewat," jawabnya.
"Kau ada hubungan dengan Josh?" selidik Jesica.
Vallery menggeleng. "Tidak ada."
"Are you serious? Aku tidak pernah melihat Josh semarah itu." kata Jesica.
Vallery tersenyum kecut. "Kau cemburu?" godanya.
"Aku? Cemburu?" Jesica tergelak.
"Yah, mungkin saja. Bukankah kalian berkencan beberapa waktu lalu?"
Jesica terkekeh seraya memukul pelan pundak Vallery. "Kau lucu sekali, Vall. Kapan kau mengira aku berkencan dengan Josh?" tanyanya.
"Waktu itu, dihotel. Aku melihatmu dan Josh. Kau bilang kalian berkencan.." sahut Vallery dengan tatapan keheranan melihat Jesica yang terus tertawa tidak jelas.
"Hahaha, itu aku hanya mengerjaimu. Aku dan Josh tidak berkencan. Apa Josh juga mengatakan kami berkencan?" tanyanya.
Vallery mengangguk tapi kemudian menggeleng. "Dia bilang, dia hanya mengabulkan permintaanmu yang selalu memaksa."
"Oh God.. lelaki itu." Gigi Jesica bergemelatuk. Ia seperti menahan amarah. Vallery diam memperhatikannya.
"Aku pikir kalian ada hubungan makanya Josh tampak sangat marah." Jesica menepuk-nepuk pundak Vall.
Vallery kembali menggeleng. "Lalu apa hubungan kalian?" tanya Vallery lagi.
"Lain kali, kau tanyakan saja padanya." kata Jesica seraya melambaikan tangan. Jesica pun berlalu.
Vallery kembali ke mejanya bersama Sophia. Pikirannya bertanya-tanya hubungan antara Josh dan Jesica. Awalnya dia mengira mereka saling tertarik dan berkencan pada waktu itu. Ternyata semua tidak seperti pikirannya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Sophia.
"Tidak. Bukan apa-apa."
"Kau dan Jesica ada urusan apa?" Sophia menyeruput minumannya dari se*dotan plastik.
"Kami kemarin keluar bersama dan ke Club."
"What?" Sophia kaget, dia tersedak minumannya sendiri.
Vallery pun menceritakan semuanya pada Sophia, walau dia tak mengatakan alasannya mengikuti Jesica karena ada masalah dirumah dengan Ed. Vallery mengatakan dia hanya penasaran dan menyetujui ajakan Jesica. Vallery juga tak menceritakan soal dia menginap di Apartemen Josh. Dia hanya menceritakan kejadian di Club.
"Lalu, Josh yang menolongmu?" Sophia berdecak takjub.
"Hmm.."
Sophia geleng-geleng kepala. "Bersiaplah, setelah ini kau punya banyak saingan untuk mendapatkannya." kata Sophia seraya terkekeh.
"No.. aku tidak mau bersaing mendapatkannya." kilah Vallery.
"Ya, karena kau sudah mendapatkannya kan?" Goda Sophia.
Vallery hanya diam dan mengangkat bahu dengan cuek.
...To be Continue......