My Another Love

My Another Love
Revenge



Joshua Kolv, bukan nama sebenarnya. Dia mempunyai nama lahir Josh Melanov Greselle, Anak tunggal dari pasangan Jeremy Greselle dan Melanie Greselle.


Jeremy adalah seorang Pengusaha sukses dalam bidang legal dan illegal, ia adalah Mafia kelas tinggi. Ayah Josh membentuk jaringan hitam itu untuk memperluas jangkauan, menyokong usaha, serta terbebas dari tuntutan pidana. Berkat pengaruh kuat dan kekuasaannya, bisa dikatakan bahwa dia adalah orang yang kebal hukum.


Clan Greselle yang dipimpin Jeremy, tentunya memiliki banyak Rival. Tapi tak seorangpun mampu menjatuhkannya. Karena selain cerdas dalam bertindak, Jeremy juga memiliki pengikut yang setia dibelakangnya.


Selama masa kejayaannya, tidak pernah Jeremy mengalami kekalahan. Namun, semuanya tidak mungkin akan berjalan baik-baik saja. Ada satu Clan lawan yang benar-benar gigih mencari kelemahan seorang Jeremy Greselle. Dia adalah Antoni Dexa.


Kekalahan Jeremy terjadi satu kali seumur hidupnya, sejak Antoni mengetahui kelemahan Jeremy yaitu istrinya sendiri, Melanie.


Jeremy tidak pernah tahu jika Clan Dexa benar-benar mencari tahu kelemahannya. Dia lengah dan Melanie harus tewas dibunuh dirumahnya sendiri oleh orang-orang Antoni. Kejadian itu disaksikan sendiri oleh mata putra tunggalnya, Josh. Yang pada saat itu masih berusia delapan tahun.


Kekuasaan Jeremy hampir tumbang dan tenggelam dimasa-masa keterpurukannya akibat meninggalnya Sang Istri. Tapi, berkat dukungan orang-orang yang setia padanya, akhirnya Jeremy bangkit kembali dan punya tujuan baru yaitu melenyapkan Clan Dexa untuk membalaskan dendamnya.


Sudah banyak nyawa yang dikorbankan Antoni untuk melindunginya dari serangan Jeremy. Tapi Jeremy tidak akan puas sebelum Antoni yang benar-benar mati.


Hingga beberapa tahun berlalu, Jeremy mendapati anak semata wayangnya yang tumbuh dengan rasa dendam yang sama sepertinya, bahkan mungkin lebih besar.


Josh remaja, menjadi berandalan karena dia memiliki luka akibat kejadian pembunuhan Ibunya didepan matanya sendiri.


Walaupun setahun dari kejadian itu, Jeremy mencoba mengubur kenangannya bersama Melanie dan belajar membuka hati dengan menikahi Lidya. Tapi itu tidak menyurutkan dendam dihati putranya. Josh tetap memendam luka itu, luka yang tidak bisa dia jelaskan karena kesaksiannya atas peristiwa kelam itu.


Jeremy sendiri, menikahi Lidya awalnya karena kasihan pada wanita itu. Lidya adalah Adik Melanie, dia seorang ibu tunggal dan memiliki seorang Anak perempuan. Suaminya meninggal karena kecelakaan, sejak anaknya berusia satu tahun.


Berawal dari rasa prihatinnya itu, akhirnya dia menikah dengan Lidya atas persetujuan Josh dan anak Lidya, tentu saja.


Jeremy pikir, Josh akan melupakan dendamnya seiring waktu, karena adanya keluarga baru mereka yang hangat, tapi ternyata itu memang tidak mudah. Hingga akhirnya, Jeremy pasrah karena anak lelakinya ingin menuntut balas perbuatan orang-orang yang telah membunuh Ibu kandungnya dengan keji.


Josh mengganti identitasnya menjadi Joshua Kolv sebagai penyamaran. Dia menyelidiki diam-diam Clan Dexa sejak usianya masih belasan tahun. Dia belajar bela diri, latihan menembak, bertarung dan segala bentuk aktifitas fisik yang keras untuk satu tujuan yaitu Balas Dendam. Dia bergabung dengan gengster, walau dia tahu dia dimanfaatkan orang-orang itu. Berlagak bodoh, padahal dia sedang mempunyai misi untuk mencari tahu kelemahan musuhnya.


Josh tahu pasti, jika orang-orang Clan Dexa juga pasti tengah mencarinya untuk menghabisinya, karena dia adalah saksi satu-satunya atas pembunuhan Melanie dan dia akan menjadi batu sandungan untuk Clan Dexa sendiri.


Ya ... Karena dia memiliki Dendam yang besar dan sudah terpupuk sejak lama.


Hingga pertemuannya dengan Vallery, berhasil membuatnya punya opsi lain dalam hidupnya selain Dendamnya, opsi itu adalah Vallery sendiri. Dan dia akan menuju Vallery bagaimanapun caranya. Tentu saja, jika gadis itu masih sendiri. Josh memiliki prinsip--tidak akan mengganggunya jika dia sudah memiliki pasangan. Tapi, jika pasangannya memperlakukannya dengan buruk, maka Josh akan membuat perhitungan pada siapa saja yang menyakiti Vallery-nya.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Josh, kalau kakakku tidak mengizinkan kita tinggal bersama bagaimana?" tanya Vallery. Saat ini, dia sedang berada di mobil bersama Josh, dalam perjalanan untuk menemui Alexa di Rumah.


Josh terkekeh kecil. "Aku rasa pemikiran Alexa tidak se-primitiv itu. Kau sudah dewasa dan dia tidak mungkin mencegah keputusanmu."


"Bagi Kakak aku tetap adik kecilnya." gumam Vallery.


Josh tersenyum seraya mengacak rambut Vallery yang duduk disampingnya. "Sudahlah, jika dia tidak mengizinkan juga, maka dengan sangat terpaksa aku akan menculikmu." jawabnya santai.


Vallery memutar bola matanya malas. "Kau bisa dilaporkan oleh Kakakku ke polisi." jawabnya tak acuh dan Josh malah tergelak kencang mendengarnya. Josh tidak pernah mengkhawatirkan hal itu jika memang Alexa akan melaporkan tindakannya.


Tapi kalau Alexa tidak mau bermurah hati padanya, maka dia pun akan bertindak dengan caranya sendiri. Walau harus menculik Vall sekalipun, dia tidak peduli. Toh, tindakan meminta izin pada Alexa pun hanya semata-mata formalitas saja baginya, dia melakukan itu karena menghargai pendapat Vallery. Selebihnya, Dia akan tetap membawa Vallery bersamanya, tanpa peduli apapun keputusan dari Alexa.


Mobil Josh memasuki pekarangan Rumah besar itu, dia membukakan pintu mobil untuk Vallery, lalu mereka berjalan beriringan untuk masuk kedalam rumah.


Suasana Rumah tampak sepi, hanya beberapa pelayan yang menyambut kedatangan mereka. Ed sepertinya masih bekerja di jam ini. Vall pun langsung menanyakan keberadaan Kakaknya. Dia memilih untuk memanggil Kakaknya sendiri daripada meminta bantuan pelayan.


Setelah mengetahui Kakaknya sedang ada dikamar, Vallery meminta Josh untuk menunggu di Sofa, dia akan lebih dulu berbicara pada wanita itu.


"Tunggu aku, biarkan aku bicara lebih dulu pada Kakak." kata Vallery mengingatkan.


Josh mengangguk, dia duduk di sofa seraya memainkan ponselnya.


Vallery naik ke lantai atas, menuju kamar Sang Kakak. Sebenarnya Vallery sangat jarang naik ke Lantai atas karena ini membuatnya harus mengingat malam kelamnya bersama Edward.


Vallery mengetuk pintu kamar Kakaknya, bersamaan dengan itu ternyata Alexa sudah berdiri didepan pintu kamar.


Vallery terdiam ditempat, dia terpaku menatap Kakaknya yang pucat dan tampak tidak bersemangat. Vall yakin jika saat ini Alexa tidak dalam keadaan yang baik-baik saja karena Alexa yang dia kenal adalah Wanita yang sangat memperhatikan penampilan.


"Kak, kau sakit?" tanyanya.


Alexa menggeleng lemah. Wajahnya tidak memancarkan kebahagiaan sama sekali, justru sebaliknya. Wajah Alexa sangat muram dan lesu.


"Lalu kau kenapa, Kak? Kenapa pucat sekali? Apa kau sudah makan?" tanya Vallery beruntun karena Alexa hanya diam dan tidak fokus padanya.


"Jangan mengkhawatirkanku, Vall. Bagaimana denganmu sendiri?" tanya Alexa.


"Aku? Aku baik-baik saja, Kak. Sebenarnya ada apa? Apa kau ada masalah?"


"Masuk ke kamarku, Vall. Aku mau bicara." titahnya seraya berbalik badan dan masuk ke dalam kamar lagi.


Sesungguhnya Vallery tidak mau memasuki kamar Alexa, karena disanalah awal mula kesalahan itu terjadi. Kamar itu memiliki kenangan buruk untuknya. Tapi, dia tidak mungkin mengatakan itu pada Alexa.


Saat Vall melihat kedalam kamar itu, sekelebat bayangan dan ingatan tentang kejadian malam itu pun terlintas dikepalanya, membuatnya secara otomatis mengingat setiap jamahan Ed ditubuhnya. Walau bagaimanapun, meski Ed mabuk pada saat itu, tapi Vall dalam keadaan sadar dan mau tidak mau dia memang mengingat semuanya.


Alexa duduk di sofa dengan tangan bersedekap di dada. Dia menatap Vallery yang ragu-ragu untuk melangkah.


"Ayo duduk, Vall. Aku ingin bercerita dan menanyakan sesuatu padamu."


Secara perlahan Vall melangkah masuk dan duduk diseberang sang Kakak dengan perasaan berkecamuk.


"Vall, aku dan Edward akan berpisah." kata Alexa tiba-tiba.


Vallery terperangah, matanya membulat dan dia benar-benar terkejut dengan pernyataan Kakaknya.


"Kenapa, Kak? Kalian bahkan baru sebulan menikah." kata Vallery lirih.


Alexa menatap Vallery, dia menelisik sikap Vallery yang tampak syok dengan ucapannya. "Edward melihatku sedang bercinta dengan Jonathan." kata Alexa dengan gampangnya, seolah-olah itu bukanlah Aib sejak dia mengetahui apa yang terjadi antara Ed dan adiknya ini.


"Kak? Kau ini apa-apaan!" Hardik Vallery dengan wajah memerah.


"Edward tidak mau memaafkanku!"


Vallery menggeleng. "No! Dia harus memaafkanmu, Kak. Aku tahu kau salah tapi dia harus memberimu kesempatan."


"Dia tidak mau memakluminya. Kesalahanku sangat fatal. Kami harus berpisah."


"Lalu kau hanya pasrah?" Vallery berdiri dari duduknya. "Kau harus mencegah perpisahan itu, Kak. Lagi pula Kak Edward juga memiliki kesalahan yang fatal. Dia tidak bisa menghakimimu sebelah pihak!" ujarnya dengan penuh kemarahan. Vallery mendengus dan tangannya mengepal kuat.


Alexa tersenyum miring karena umpannya termakan oleh Vallery. "Kesalahan fatal apa yang dilakukan Ed, Vall?" tanyanya.


Vallery terdiam. Dia ragu untuk mengakui, dia tidak tahu jika sebenarnya Alexa sudah tahu semuanya dari Edward.


"Kau tidak mau mengatakan kesalahan yang dibuat Edward?"


Vallery menggeleng. "Jangan biarkan dia memanfaatkan kesalahanmu agar kalian berpisah, Kak." lirih Vallery tidak berani menatap Sang Kakak.


"Aku tahu itu, yang aku ingin dengar adalah kesalahan fatal apa yang dilakukannya?" Alexa kembali ke topic utama.


Vallery meremass ujung blusnya dengan kuat, karena tiba-tiba dia dihantam rasa aneh yang memaksanya untuk segera mengakui semua didepan Kakaknya.


"Ayo jujur padaku, Vall. Apa yang kau sembunyikan dariku!?"


...To be continue ......