My Another Love

My Another Love
Mr. and Mrs. Brown



"Ada apa kau kemari?" tanya Ed pada Dimitri yang berdiri santai sembari memasukkan sebelah tangannya kedalam saku celana.


Sesungguhnya perasaan Ed tidak enak, dia takut Vallery disalahkan dalam kematian Josh, mengingat Alexa adalah Kakak Vallery, walaupun bukanlah Kakak Kandungnya.


"Jangan berfikir yang bukan-bukan, Tuan." selah Dimitri, seolah membuyarkan pikiran Ed yang memang tengah memikirkan hal buruk.


"Lalu?"


"Bisakah Anda mengizinkan saya masuk lebih dulu?" tawar Dimitri.


Edward melihat sekeliling dan memastikan jika Dimitri memang datang seorang diri ke kediaman barunya.


"Masuklah..." ucap Ed yang tak bisa menunjukkan sikap ramah-tamahnya.


Dimitri memasuki Rumah yang baru ditingali Ed beberapa bulan itu. Matanya menelisik seperti tengah mencari-cari sesuatu. Sampai suara Edward menghentikan kegiatannya.


"Duduk!" ucap Ed.


Dimitri duduk di sofa berwarna putih gading, dan kembali menatap Ed dengan senyuman ramah.


"Langsung saja," kata Ed tetap dengan sikap tak ramahnya.


"Baik, saya kesini ingin menjemput Miss Vallery." ucap Dimitri tegas.


"Vallery?" Ed mengernyit heran, berlagak bodoh lebih tepatnya.


Dimitri menghela nafas sejenak demi menghadapi sikap pura-pura yang ditunjukkan Edward. "Vallery Maylenski, tempat lahir di Texas, umur 21 tahun, berkulit putih dengan rambut panjang kecoklatan yang sedikit bergelombang, tinggi badan---"


"Stop..stop..." Ed memotong ucapan Dimitri yang terdengar nyeleneh itu.


"Bagaimana?"


"Apanya yang bagaimana?" tanya Ed menyugar kasar rambutnya.


"Dimana dia?" tembak Dimitri langsung pada poin-nya.


Edward menggeleng lesu.


"Mr. Edward Riley, saya tidak mau bertindak kasar dengan menggeledah rumah ini untuk mencarinya. Jadi, dengan berbesar hati... tolong panggilkan Miss Vallery untuk menemui saya, atau jika tidak bisa biar saya yang menemuinya." jawab Dimitri penuh penekanan.


Edward memijat pelipisnya. "Boleh aku tahu untuk apa kau bertemu dengan Vallery?"


"Apanya yang untuk apa? Mr. Greselle tengah menunggunya."


"Maksudmu Josh?"


Dimitri mengangguk mantap.


"Bukankah dia telah--"


Dimitri menggeleng. "Aku tidak berbohong, Mr. Josh menunggu kehadiran Miss Vallery secepatnya."


"Tapi aku menemukan makamnya."


Dimitri tersenyum miring, "Itu makam palsu, yang dibuat untuk menghilangkan jejak. Kedepannya Mr. Josh dan Miss Vallery akan hidup dengan identitas baru." jelas Dimitri.


Bersamaan dengan itu, suara Vallery yang tengah muntah-muntah terdengar oleh indera pendengaran mereka berdua.


"Shiitt..." Edward mengumpat tertahan, sesungguhnya jiwa egoisnya masih ingin membersamai Vallery, tapi kenyataan memang tidak berpihak padanya. Selamanya, Vallery tetap tidak bisa menjadi miliknya. Ada atau tidak adanya Josh didunia ini, Vallery tetap mencintai pemuda itu, bukan dia. Bukanlah Edward Riley.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Dimi, bagaimana dengan Jesica?" sepanjang perjalanan menuju pusat kota Texas, Vallery terus mengoceh-- mengajak Dimitri mengobrol, atau jika pemuda itu diam dan tak menanggapinya, Vallery mulai mual-mual dan dengan terpaksa Dimitri harus menepikan mobil demi menunggu Vallery yang muntah-muntah.


"Miss Jesica baik-baik saja," jawab Dimitri apa adanya.


"Lalu, kejadian penculikan itu?"


Dimitri mengingat kejadian beberapa waktu kebelakang. Lalu dia menceritakan tentang rencana Josh dan Mark untuk menyelamatkan Jesica waktu itu.


"Jadi, waktu itu Mr. Josh dan Mark, membuat sebuah rencana. Mark tahu bahwa Antoni tidak akan mencurigainya karena Antoni sangat percaya padanya. Mark datang menjemput Miss Jesica dan memanipulasi keadaan, seolah-olah Miss Jesica memang telah dibunuhnya di Hutan."


"Lalu, Antoni percaya begitu saja?"


"Tentu tidak, tapi Saya harus mengakui jika Mark itu begitu licik, dia membeli kelinci, lalu menyembelihnya, Darah kelinci itu dilumuri di baju terakhir yang Miss Jesica kenakan. Lalu dia meninggalkan baju itu begitu saja di hutan. Orang-orang Clan Dexa sebagian mempercayainya telah membunuh Miss Jesica, tapi sebagian lagi tidak mempercayai. Pro dan kontra biasa terjadi."


"Sampai pada akhirnya, Mark membuktikannya dengan rekaman amatir yang sempat dia buat. Rekaman itu sengaja dibuat untuk berjaga-jaga. Didalam rekaman, menunjukkan bahwa Mark memang telah membunuh Miss Jesica, tentunya adegan itu hanyalah Miss Jesica yang tengah ber-akting mati. Hahaha..." Dimitri tertawa sangat kuat, seolah tengah membayangkan akting Jesica yang telah terbunuh.


"Benarkah?" Vallery sampai ikut terkikik, dia juga membayangkan cerita Dimitri.


Dimitri mengangguki pertanyaan Vallery.


"Aku jadi ingin melihat rekaman itu." selah Vallery lagi.


"Ya, nanti Anda bisa melihatnya. Mark sudah mengirimkan video itu pada saya. Yah, lumayan, terlihat meyakinkan." Dimitri kembali terkekeh-kekeh seraya mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang.


"Baiklah, aku menunggu untuk menonton video amatir itu." kata Vallery.


"Untungnya, Antoni mempercayakan Mark untuk membunuh Jesica sendirian, kalau tidak, mana mungkin Mark bisa membuat siasat aneh seperti itu. Kepalanya pasti dipenuhi dengan akal bulus. Aku juga curiga jika Mark punya ilmu marketing yang tinggi, sehingga Antoni mengiyakan begitu saja segala ucapannya." Mereka berdua kembali tertawa sepanjang perjalanan.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Ruangan yang dimasuki Vallery terasa begitu sunyi, hanya ada satu orang yang terbaring diranjang pasien dan itu adalah pemuda yang sangat dia kenali.


"Josh..." lirihnya seraya mendekat kearah pemuda dengan mata terpejam itu.


Demi apapun, Vallery sangat merindukan Josh dan dia menumpahkan kerinduan itu dengan mendekap tubuh Josh yang tergeletak diatas ranjang. Airmatanya menyeruak dari sudut mata bersamaan dengan senyum kelegaan yang tersungging dari ujung bibirnya.


Josh sudah dipindahkan keruang rawat, karena beberapa hari lalu dia sudah sadar dari komanya yang hampir mencapai 90 hari.


Dugaan keluarganya benar, bahwa yang dia tanyakan saat sadar adalah dimana Vallery? Bagaimana Vallery dan ingin bertemu dengan Vallery.


Untungnya Dimitri sudah mengetahui keberadaan Vallery dari Sophia, sehingga tidak butuh waktu lama untuknya menjemput Vallery.


Merasakan pergerakan disekitarnya, Josh mulai mengerjapkan matanya perlahan-lahan.


"Va-vall ..." Josh mengangkat tangannya yang bergetar, mencoba menyentuh kepala gadis itu yang masih berada di dada bidangnya.


Vallery mengurai pelukannya untuk menatap wajah Josh yang telah sadar dari tidurnya.


"Aku disini, Josh. Aku--aku disini." jawabnya sembari kembali memeluk tubuh kekasihnya.


Tangan Josh pun mengelus rambut Vallery yang terurai, bermain disana secara berulang-ulang.


Vallery menyusut airmatanya, lalu kembali menatapi wajah pemuda itu.


"Cepat sembuh! Aku sudah menunggumu terlalu lama. Jangan meninggalkanku, Josh." tutur Vallery sungguh-sungguh.


"I'm here, aku tidak kemana-mana."


"Aku tahu, Aku yakin dan percaya kau masih hidup." ucap Vallery semringah namun wajahnya masih lembab karena habis menangis.


"I love you, Vall." lirih Josh.


Josh mengernyit mendengar penuturan Vallery. Dia tidak mengerti kenapa Vallery mengucapkan 'We love you too' bukan 'I love you too'


Menyadari ketidak-pekaan Josh, Vallery akhirnya kembali buka suara.


"Disini ..." ucapnya seraya mengarahkan tangan Josh ke perutnya sendiri. "Dia ada disini." lanjutnya sambil tersenyum hangat pada pemuda itu.


"Disini?" Josh mengelus perut Vallery sambil tersenyum aneh. "Siapa?" tanyanya.


"Our Baby..." kata Vallery.


"Oh my... are you serious?" Josh semakin terlihat semringah, wajahnya yang tadi pucat berangsur-angsur memerah.


Vallery mengangguk berulang seraya mendekap tubuh Josh lagi.


"Ya Tuhan, thank you ..." Josh mengecupi pucuk kepala Vallery secara bertubi-tubi.


"Kau senang?" tanya Vallery didalam dekapan Josh-- yang sudah melingkari punggungnya dengan kedua tangan pemuda itu.


"Tentu saja, Sayang. Aku sangat senang. Setelah aku keluar dari sini, kita akan menikah. Ayahku sudah membuat identitas baru untuk kita. Semuanya akan kita mulai dari awal secara baik-baik." jawab Josh yakin.


Vallery beringsut sedikit, "Lalu bagaimana dengan musuh-musuhmu, Josh?"


Josh menggeleng seraya membelai wajah Vallery. "Nothing, Antoni telah mati. Aku tidak perlu membalas dendam dengan siapapun lagi. Aku juga melepas dunia hitam milik Ayahku. Aku akan menjalani bisnis yang Legal saja. Identitas kita akan berganti dan tidak ada yang akan mencari tahu tentang kita karena ketua Clan Dexa sudah tiada."


Vallery tersenyum tipis. "Kak Alexa? Aku tidak tahu kabarnya..." lirihnya tertahan, sesungguhnya dia merasa tak enak hati karena baru mengetahui dari Dimitri jika Josh tertembak akibat peluru dari pistol Alexa.


Josh mengerti kekhawatiran dan perasaan tak enak dihati Vallery.


"It's okey, jangan merasa tak enak hati padaku. Soal Alexa, aku mendengar dari Ayahku jika dia juga tewas. Aku minta maaf Vall, tapi ku pikir itu adalah pilihannya sendiri... kau tahu, sebenarnya dia bisa memilih hidup yang lebih baik, meskipun ternyata dia adalah Anak kandung dari Antoni."


Vallery kembali terisak mengenang Kakaknya. Setelah merasa sedikit tenang dia mulai bersuara kembali.


"Setelah aku pikir semua yang kau katakan ada benarnya, itu adalah pilihan Kakak. Itu berarti dia sudah memikirkan segala akibat dari tindakannya."


Vallery menyeka airmatanya sendiri. "Walau bagaimanapun, dia tetaplah kakak yang ku kasihi. Aku akan selalu mendoakannya."


"Ya, dia adalah Kakakmu." kata Josh bijak.


"Setelah ini, aku akan menjalani hidup yang lebih baik bersamamu.." ucap Vallery.


"Ya, bersamaku dan anak-anak kita." kata Josh sembari mengecup seluruh buku-buku jari Vallery.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


1 Tahun kemudian


Edward tengah sibuk dengan urusannya di kantor, beberapa kali dia mendapat panggilan penting yang mengharuskannya bertemu langsung dengan beberapa pengusaha yang tertarik untuk menanamkan saham diperusahaan property miliknya.


Dalam tahun ini, dia sudah mengantongi banyak target dan semakin banyak orang menanam saham ditempatnya, maka profit dan kenaikan bisnisnya akan semakin meroket karena modal dan perputaran tidak perlu dia risaukan lagi.


Pintu ruangannya terdengar diketuk dari luar. "Sir, ada yang ingin bertemu dengan Anda." ucap Willy, sang Asisten.


"Siapa?" Ed hanya melihat Willy sekilas tanpa menghentikan aktifitas sibuknya di layar pipih yang sedang menjadi fokusnya.


"Mr. and Mrs. Brown."


"Siapa mereka?" tanya Ed keheranan karena tak pernah mendengar nama itu diantara para relasi atau rekan bisnisnya.


Willy hanya tersenyum kecut kemudian menggeleng.


"Anda bisa menemuinya langsung, mereka sudah menunggu di ruang tamu." ucap Willy sembari menutup pintu ruangan Edward.


Edward masih berpikir dan menimbang-nimbang siapa yang bertandang ke kantornya di jam sibuk seperti ini. Dia juga tidak memiliki janji dengan siapapun, haruskah dia menolak bertemu dengan orang yang belum jelas ini?


Tapi kenapa perasaannya bertolak belakang dengan tindakannya yang justru keluar dari ruangan lalu berjalan menuju ruang untuk menerima tamu.


Ed terkesima dengan sepasang insan yang duduk diruang tamu.


"Wohoho, Mr. and Mrs. Brown?" ucapnya dengan nada mencibir.


Wanita yang tengah duduk itu bangkit dari posisinya, dia mendekat kearah Edward dan memberikan Ed sebuah kotak persegi yang tidak terlalu besar tapi dibalut dengan kertas berkilat berwarna tosca.


"Apa ini Mrs. Brown?" tanyanya sambil tersenyum hangat kearah wanita itu.


"Itu hadiah untukmu, bukalah." jawab wanita itu, ikut tersenyum pada Edward.


Edward membuka kotak dan mendapati sebuah Syal rajutan berwarna abu-abu tua--nyaris kehitaman.


"Wow, surprise to me!" seru Ed. "Kemampuan merajutmu semakin membaik. Mungkin kau bisa membuka usaha dalam bidang ini." kata Edward tergelak diujung kalimatnya.


"Berhenti mengejek istriku, Ed. Kau seharusnya menghargai usahanya. Bahkan itu hasil karya pertamanya yang berhasil dan itu diberikan untukmu! dengus lelaki yang duduk tak jauh dari posisi duduk Edward.


"Ya, aku sangat berterima kasih, kau masih mengingat janjimu, Vall. Ups, maksudku Mrs. Brown." Ed kembali tergelak dan Josh mendengus melihatnya.


"Sudahlah, jangan begini terus. Kalian harusnya saling berterima kasih." ucap Mrs. Brown yang tak lain adalah Vallery yang sudah mengganti identitasnya serta nama belakangnya yang mengikuti nama belakang Josh yang baru.


"Dia yang harusnya berterima kasih padaku." ucap Ed sambil menunjuk Josh dengan dagunya.


"Ya, ya... Thanks, Ed. Kau yang terbaik." sahut Josh dengan nada mencibir tapi kemudian mereka bertiga tergelak.


"Selamat untuk pernikahan kalian." kata Ed.


"Ya, kau tidak menghadirinya." sahut Vall dengan nada kecewa.


"Sudahlah, aku tidak terlalu penting." kata Edward lagi.


"Pastikan kau mengundang kami saat pesta pernikahanmu yang selanjutnya." kata Josh memperingati.


Ed hanya tersenyum kecut mendegar ucapan Josh itu.


Entah kapan dia bisa melupakan Vallery dan melabuhkan hati ke perempuan lain.


"Mana bayi kalian?" tanya Ed mengalihkan pembicaraan.


"Vanessa sedang diasuh oleh Jesica, Jesica sedang menyukai bayi akhir-akhir ini." jawab Josh cepat.


"Mungkin dia akan punya bayi dalam waktu dekat." kelakar Ed yang disahuti dengan gelak tawa Vallery dan Josh.


Mereka berbincang ringan sampai akhirnya Vallery dan Josh pamit untuk pulang.


"Jangan lupa memakai Syal-nya saat musim dingin, Kak." Vallery menghentikan langkah dan menatap ke netra Edward yang juga tengah melihatnya.


"Aku pasti mengenakannya, I promise. Terima kasih kau masih mengingatku, Vall."


Vallery mengangguk kemudian dia menepuk pundak Ed sejenak, lalu segera pergi dari ruangan itu.


"Semoga kau selalu bahagia, Vall..." batin Ed mendoakan seiring kepergian Vallery dari balik pintu.


...The End ......