
Seorang pria setengah baya dan pemuda berperawakan tinggi saling bertemu di sebuah ruangan tertutup yang didominasi dengan warna ke-abu-an.
"Bagaimana, kau sudah menemukannya?" tanya pria itu.
Pemuda itu menggeleng lemah. "Belum, sepertinya dia sudah tidak berada di kota ini."
"Cek jadwal penerbangan ke Kota lain ataupun ke Luar Negeri!" titah pria itu memberi usul.
"Sudah, Sir. Bahkan saya sudah mencari datanya di data keberangkatan Kapal laut dan juga Kereta Api, hasilnya masih sama." jawab pemuda itu dengan suara terendah.
Pria setengah baya menghembuskan nafas kasar. Kemudian menggeleng lemah. "Lalu, darimana kau bisa menyimpulkan jika dia tidak berada di kota ini lagi?"
"Karena Saya sudah mencari jejaknya kemanapun dan tidak mendapatkan apa-apa."
"Bagaimana dengan kuliahnya?"
"Kebetulan dia sudah menyelesaikannya, Sir. Seharusnya bulan depan dia sudah merayakan hasil kelulusannya dan diwisuda."
Pria dengan garis wajah tegas itu mulai mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja, seolah tengah berpikir keras. "Jika begitu, tunggu kedatangannya di Universitas bulan depan."
"Apa dia akan datang?" Pemuda itu balik bertanya dengan perasaan ragu.
"Entahlah, Dimitri. Kau yang harus mencari tahunya." jawab pria itu dengan lugas.
Dimitri mengangguk lemah, kemudian dia keluar dari ruangan Big bos-nya yang tak lain adalah Jeremy Greselle.
Sepeninggal Dimitri dari ruangannya, Jeremy memijat pelipisnya sendiri. Dia mengingat kejadian dua bulan lalu-- saat dimana putranya harus terkapar tak berdaya karena tembakan dari pistol yang diperebutkan dengan Alexa.
Entah bagaimana kejadian itu bisa terjadi, yang jelas saat Jeremy dan orang-orangnya tiba ditempat itu, Jeremy sudah melihat Josh bersimbah darah bersamaan dengan tubuh Antoni dan Alexa.
Clan Dexa berhasil dilumpuhkan oleh orang-orang yang ikut bersama Jeremy.
Keadaan pun mulai dikuasai kembali oleh Clan Greselle-- walau sebelumnya Clan musuh sempat menang.
Clan Dexa tidak menyangka jika bala bantuan dari Clan Greselle akan datang dan menyerang mereka kembali.
Maka, pada saat mereka tengah sibuk dengan tubuh tiga orang yang terkapar itu, saat itu pula mereka semua harus merasakan kemurkaan Jeremy yang marah akibat melihat putranya juga menjadi salah satu korban yang tertembak.
Jeremy sangat marah dan dia meminta seluruh orang-orangnya membawa para pengikut Dexa yang tersisa untuk menjadi tahanan di tempatnya.
Dia tidak menyangka bahwa Josh akan ditemukan dalam keadaan seperti itu.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
"Bagaimana keadaannya?" Lidya menatap seorang yang mengenakan jas putih dengan tatapan harap-harap cemas.
Lawan bicaranya menggeleng lemah. "Belum ada perubahan, dia belum sadar. Mungkin kita harus menunggu sedikit lebih lama..." jawab wanita cantik yang umurnya sudah tak muda lagi itu. Dia adalah Dokter yang bekerja disebuah Rumah Sakit milik keluarga Greselle.
Lidya menghela nafas panjang, harus berapa lama lagi kesabaran mereka diuji untuk menunggu putranya sadar. Airmatanya sudah tidak bisa keluar, mungkin juga telah habis, entahlah...
Dia tidak sadar kapan Dokter telah berlalu dari hadapannya, hingga sebuah suara menyadarkan Lidya dari pikirannya sendiri.
"Ibu, bagaimana keadaan Kakak?"
Lidya menoleh dan mendapati Jesica disana. Dia menggeleng pada Jesica sebagai jawabannya.
Jesica terduduk lesu dikursi tunggu--tepat disamping Ibunya yang masih berdiri mematung didepan ruang ICU--dimana Josh dirawat.
"Apa sudah ada kabar tentang Vallery?" Lidya mulai bersuara lagi, bertanya pada anak gadisnya.
"Belum. Dimitri tidak menemukan Vallery dimanapun. Aku juga menunggu kedatangannya di kampus setiap hari."
"Apa tidak ada yang bisa kau tanyai?"
Lidya mendudukkan diri disamping Jesica, mereka duduk dengan pemikiran masing-masing.
"Josh pasti akan menanyakan Vallery saat dia sadar nanti, bagaimana Ibu harus menjelaskannya?" lirih Lidya sambil memangku kepalanya dengan tangannya sendiri. Dia tertunduk lesu, sesekali mengusap wajahnya yang tampak kusam sejak Josh dinyatakan koma. Josh memang bukanlah anak kandung yang dia lahirkan, tapi Josh adalah anak yang dia rawat sejak Josh masih kecil dan Josh adalah anak dari Kakaknya, Melanie. Tentu saja dia sangat mengkhawatirkan keponakan sekaligus anak sambungnya itu.
"Aku juga tidak tahu, Ibu." Jesica menghela nafas panjang. "Kenapa semuanya jadi begini? Padahal Kakak melindungiku dan Mark. Tapi ternyata dia sendiri yang berakhir di ruang ICU..." Jesica terisak diujung kalimatnya, dia menyandarkan kepala dibahu sang Ibu yang duduk disebelahnya.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Dimitri dan Mark bertemu di sebuah Cafe untuk membicarakan tentang pencarian Vallery selanjutnya.
"Bagaimana? Kau dapat?" tanya Dimitri pada Mark.
Mark mendengus lalu menyesap minumannya. "Nothing ... tapi aku dapat sebuah petunjuk." jawab Mark.
"Apa?" tanya Dimitri antusias.
"Teman Vallery itu, siapa namanya aku lupa..."
"Sophia..." sahut Dimitri cepat.
"Ya itu, dia... adikku Jonas sempat melihatnya ada ditempat kejadian waktu itu."
Dimitri menatap Mark dengan seksama. "Seriously? Aku sudah menginterogasinya berulang kali dan dia tidak tahu dimana Vallery." ucap Dimitri yakin.
Mark terkekeh. "Jika Josh sadar, ku harap dia mau mengajarimu bagaimana cara membaca gelagat orang lain. Apakah dia jujur atau justru membohongimu." cibir Mark.
Dimitri mendengus, "Jadi maksudmu dia membohongiku?" tanyanya.
Mark mengangguk. "Aku pikir begitu, kau ingat tidak? Saat itu Jonas dalam keadaan sadar, sementara aku sempat ditembak oleh Josh dengan peluru bius untuk melengkapi sandiwara kami. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu." ungkap Mark jujur.
Pada saat Clan Greselle dan Clan Dexa saling bertikai waktu itu dan Josh yang tengah mengejar Antoni, disaat itulah Dimitri sigap untuk menyingkirkan tubuh tak berdaya Mark yang sebelumnya telah ditembak Josh menggunakan pistol bius.
Sementara Jonas yang belum mengerti keadaan, langsung terheran dengan sikap Dimitri yang seolah membantunya dan Mark. Tapi, mendengar penuturan Dimitri, Jonas langsung paham tentang rencana yang dibuat oleh Josh dan Kakaknya. Sehingga, Jonas pun membawa tubuh Mark kearah berlawanan untuk menyingkir dan menyelamatkan diri.
"Saat dia membawa tubuhku agar sedikit menjauh, dia melihat seorang perempuan." jelas Mark.
Dimitri menghisap rokoknya dalam-dalam, mendengarkan penjelasan Mark yang masuk akal. Karena pada saat itu, dia memang tidak melihat adanya Sophia ditempat kejadian. Setelah selesai mengurus Mark dan Jonas, dia langsung berlari menuju gedung terdekat untuk memasang senjata laras panjang dan memfokuskan bidikan kearah Alexa.
"Lalu darimana dia yakin jika itu Sophia?" selidik Dimitri lagi, belum cukup puas.
"Saat aku menunjukkan padanya... foto Vallery yang kau kirim, salah satu foto itu memperlihatkan Vallery sedang bersama Sophia." jelas Mark.
Dimitri memang mengirimi Mark beberapa foto Vallery, agar Mark bisa menunjukkan pada Jonas--mereka ingin mencari jejak Vallery yang menghilang sejak kejadian beberapa bulan lalu itu, sementara Jonas belum menghafal wajah kekasih Josh itu.
"Jadi, Sophia membohongiku?" gumam Dimitri, seolah tengah bertanya pada dirinya sendiri.
Mark menggeleng samar saat mendengar gumaman pemuda itu. "Kau bukan dibohongi lagi, tapi kau dibodohi." sahutnya--membuat Dimitri menatapnya tajam.
"Berani-beraninya gadis kecil itu membodohiku!" Dimitri mendengus lalu berlalu begitu saja dari hadapan Mark.
"Siapa yang membayar ini, Man?" pekik Mark pada Dimitri yang sudah melangkah dengan langkahnya yang lebar.
"Jangan katakan untuk membayar minumanku pun kau tidak mampu! Apa kau semiskin ini?" ejek Dimitri diujung pintu keluar cafe.
Mark hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Dimitri yang acuh bahkan mencibirnya.
"Padahal dia yang mengajakku bertemu disini, kenapa jadi aku yang mentraktirnya." gerutu Mark bersungut-sungut.
...To be continue ......