My Another Love

My Another Love
Blood is thicker than water



Vallery bahkan belum memahami situasi apa yang sekarang sedang dihadapinya, dia masih mencerna semuanya dan dia masih bingung dengan pria yang disebut Ayah oleh Alexa, kini dia harus menghadapi sikap Kakaknya yang tidak pernah ia duga sebelumnya.


"Ka-kak..." Lirih Vallery pada sang Kakak, Alexa hanya tersenyum simpul pada Vallery tanpa berniat menjelaskan apapun.


Josh sendiri sudah merasa terpojok sejak menyadari Vallery ada ditengah-tengah perpecahan ini, apalagi sekarang semua terjadi seperti dugaannya-- Vallery benar-benar ditawan oleh Kakaknya sendiri.


Dia pikir Alexa masih mempunyai nurani untuk tidak melakukan hal itu, karena selama ini sikap Alexa begitu hangat pada Vallery, terlebih mereka memang tumbuh besar bersama-sama, kan?


"Al, Vallery adalah Adikmu..." Kata Josh mengingatkannya. Sebenarnya dia sudah mengaku kalah dalam dirinya sendiri, tapi cengkramannya dileher Antoni tidak mengendur sedikitpun.


Alexa tersenyum licik. Sedetik kemudian dia tertawa sumbang.


"Vallery memang Adikku, Josh. Tapi apa kau tidak pernah dengar tentang darah itu lebih kental daripada air!" Ucap Alexa dengan mengerlingkan sebelah matanya pada Josh.


Antoni tiba-tiba terkekeh demi menyahuti ucapan Anak kandungnya itu.


"Anakku yang cerdas." Katanya menyeringai dan Josh semakin mengeratkan tangannya dileher Antoni, membuat pria itu meringis.


"Josh!!" Alexa memekik. "Lepaskan Ayahku!" Kata Alexa penuh penekanan sembari mengetuk-ngetukkan pistolnya didahi Vallery sebagai peringatan pada Josh.


Vallery dan Josh saling bertatapan satu sama lain. Semburat kemerahan sangat terlihat dimata keduanya. Vallery ketakutan, sama takutnya dengan Josh, bahkan Josh mungkin lebih takut karena sejatinya dia tidak mengenal watak Alexa yang sebenarnya.


"Kak, kenapa kau melakukan ini kak?" Tanya Vallery dengan suara bergetar.


"Ini semua karena kau tidak mau menurut, Adik kecilku yang manis... Seharusnya kau meninggalkannya seperti yang ku minta. Kau tidak mendengarkanku, padahal aku sudah memperingatimu bahwa kau dalam bahaya." Kata Alexa berdesis-desis ditelinga Vallery.


"Josh turunkan pisaumu dari leher Ayahku. Kau pikir aku main-main?" Ancam Alexa, sedetik kemudian dia memukul kepala Vallery menggunakan ujung pistol dan membuat Vallery terhuyung dan terduduk di tanah.


"Vall..." Josh berseru saat melihat Vallery jatuh dan pingsan, dia melepaskan Antoni dan mencampakkan pisaunya begitu saja demi menyambut tubuh luruh Vallery.


Semua Clan Greselle yang tersisa-- dipaksa mundur, dibekuk oleh lawannya tanpa perlawanan, karena bos mereka--Josh-- yang sekarang menjadi tawanan. Sementara Antoni terkekeh-kekeh melihat tindakan yang dibuat Josh, menurut Antoni itu adalah hal bodoh yang dilakukan hanya karena seorang gadis.


Alexa terus menodongkan pistolnya kearah Josh yang sudah memangku tubuh Vallery.


"Ternyata kau sama saja dengan Ayahmu. Jeremy juga lemah hanya karena wanita." Ejek Antoni sambil merangkul Alexa yang masih meluruskan tangan bersenjatanya tepat kedepan Josh.


Josh tidak peduli dengan ejekan itu, dia mencoba membangunkan Vallery beberapa kali dengan menepuk-nepuk pelan pipi gadisnya.


Antoni memberi isyarat pada Alexa, agar Alexa tidak menembak Josh begitu saja. Antoni ingin, dialah yang menghabisi sepasang kekasih yang ada dihadapannya.


"Dulu aku sangat berambisi membunuh Jeremy dan Melanie agar mereka mati bersama-sama," kata Antoni.


"Sayangnya, aku hanya bisa membunuh Melanie dan Jeremy ternyata memiliki umur yang panjang sampai sekarang."


Josh mendengus mendengarnya.


"Mungkin sekarang, aku harus melampiaskan itu pada Anak mereka. I'm so sorry, Josh..." Antoni terkekeh sinis. "Obsesiku adalah membunuh pasangan seperti kalian." Sambungnya.


Antoni meraih pisau yang Josh campakkan tadi dengan kakinya yang cekatan, lalu tangannya yang terlihat bergetar mulai mengambil benda tajam itu dan siap menghujami Josh.


Saat itulah Josh sadar bahwa sedari awal, Antoni memang tidak memegang senjata sama sekali.


Josh menyembunyikan tubuh Vallery yang tak sadar dibelakang tubuhnya, dia menatapi Alexa yang tidak juga menembak. Dia mengingat ucapan Alexa saat mereka menonton DVD bersama-sama beberapa waktu lalu, saat itu Alexa mengatakan jika Vallery sempat mengikuti les menembak dan memanah, sedangkan dirinya tidak menyukai hal itu, bahkan Alexa tidak menyukai film action. Jadi, Josh menyimpulkan jika Alexa sesungguhnya tidak bisa menggunakan pistolnya.


Josh beralih pada Antoni, Antoni justru mengambil pisaunya yang terjatuh, bukan mengambil pistol dari tangan Alexa dan menembak Josh dengan mudahnya.


Josh tersenyum miring saat menyadari sesuatu. Antoni masih bergetar saat memegangi pisau yang ada ditangannya. Tapi tidak juga menancapkan benda tajam itu kepada Josh.


Josh menelisik ke jari-jari Antoni yang bergetar, raut kecemasan diwajahnya juga mulai terpancar, keringat di dahi Antoni mengucur sebesar butiran jagung. Intuisi Josh mulai bekerja keras disaat genting seperti ini. Keahliannya membaca gelagat orang lain tidak perlu diragukan.


Menurut pengamatannya, Antoni pasti memiliki masalah dengan jari-jarinya. Trigger finger. Trigger finger sendiri, adalah ketidakmampuan untuk meluruskan atau menekuk jari akibat tendon yang terperangkap. Kondisi ini bisa disembuhkan, namun jika dibiarkan dan tak terobati bisa menjadi permanen. Itulah sebabnya Antoni tidak menyimpan senjata, karena dia bermasalah dengan jarinya. Yah, dia tidak bisa menarik pelatuk pistolnya. Entah sejak kapan hal itu dia derita, Josh tidak mengetahuinya, karena dulu Ibunya mati ditembak oleh Antoni.


Dan melihat gerak-geriknya yang cemas saat melihat dan memegang pisau, sepertinya musuh Josh si pria tua ini juga memiliki penyakit lainnya. Aichmophobia, ketakutan berlebih saat melihat benda tajam. Penderita phobia ini biasanya selalu menghindari kontak dengan benda tersebut. Bahkan hanya melihat benda semacam jarum, pisau, gunting dan semacamnya, pengidap Aichmophobia akan mendadak cemas.


Josh mengingat kembali ucapan Mark saat Josh menyekap kekasih Jesica itu.


"Semua orang punya rahasia dan rahasia itu adalah kelemahannya."


Inikah yang dimaksud Mark? Kelemahan Antoni adalah masalah Trigger Finger dan Aichmophobia.


Jika dugaan Josh tepat, maka beberapa detik lagi Antoni pasti akan menjatuhkan pisau itu dari tangannya sendiri.


Prakkkk


"Aku tidak bisa, tembak saja dia!" Kata Antoni mengarah pada Alexa.


Alexa kebingungan, jangankan menarik pelatuk pistolnya, mengokang pistolnya pun, belum bisa dia kuasai dengan cepat.


Tapi justru disinilah Josh harus bertindak gesit, sebelum peluru Alexa salah sasaran. Josh tidak tahu senjata itu memiliki peluru atau tidak, tapi Josh bisa melihat jika senjata yang dipegang Alexa adalah asli dan bukan tiruan. Senjata asli, tetap bisa melukai atau bahkan membunuh orang lain walau senjata itu hanya diisi oleh peluru hampa*.


"Al, lepaskan senjatamu jika kau tidak bisa menggunakannya." kata Josh penuh kehati-hatian, agar Alexa memahami maksudnya.


Sayangnya, Alexa menangkap jika maksud Josh adalah tengah mengejeknya yang tidak pandai menggunakan pistol itu.


Disaat bersamaan, tanpa diketahui oleh Josh dan Alexa, mobil yang dikendarai Edward dan Sophia pun tiba di lokasi-- setelah mengikuti alat pelacak yang terpasang di tas Vallery-- itu tersambung ke ponsel milik Sophia.


Sophia ternganga melihat pemandangan didepannya.


Alexa tengah menodongkan pistol kearah Josh, dibelakang tubuh Josh ada Vallery yang dalam kondisi tak sadar.


Sophia membungkam mulutnya sendiri sambil terkesiap.


"Astaga... Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi. Bagaimana bisa Kak Alexa.. Ah, ya Tuhan..." Sophia bergumam sendiri menyaksikan kejadian dihadapannya yang sudah seperti film action yang sering dia tonton bersama Vallery.


Edward mendengar gumaman gadis itu, menarik paksa tangannya, agar sedikit bersembunyi karena mereka tidak memiliki bekal apa-apa untuk melawan Clan Dexa yang sepertinya tengah memimpin kekacauan yang terjadi didepan sana.


"Diamlah disini! Sebelum kau juga akan dalam bahaya." ucap Edward pada Sophia. Sophia mengangguk patuh, dia takut, tapi dia juga merasa antusias untuk menyaksikan adegan bak film siaran langsung yang terjadi tak jauh dari posisinya.


Sementara itu, Alexa yang merasa terpojok karena kata-kata Josh-- soal dia tidak bisa menggunakan pistolnya justru semakin kalut sekarang. Dia mengokang pistolnya dengan cara serampangan.


"Apa kau sudah mengokang pistolnya?" Tanya Antoni yang berada disebelah Alexa, dia ingin memastikannya.


Alexa mengangguk yakin.


"Tarik pelatuknya."


Alexa terlihat bergetar dengan tatapan ragu-ragu melihat ke arah Antoni.


"Ayah saja." ucapnya kemudian.


"Aku tidak bisa, Al. Jariku bermasalah," bisik Antoni ditelinga Alexa.


Josh mengambil kesempatan saat mereka tengah berdebat, dia bangkit dan berjalan cepat ke arah Alexa, ingin mengambil pistol itu sebelum semuanya terlambat. Sayangnya Alexa tidak mau mengalah dan justru mereka menjadi berebut untuk memegang pistol itu.


Dorrr!!


Dorr!!!


Bersamaan dengan suara pistol yang meledak, Josh terkapar di tanah, disusul oleh tubuh Antoni yang juga tergeletak lemah. Alexa bergetar melihat keduanya, tapi belum sempat dia menetralkan jantungnya yang terkejut. Sebuah laser merah kini berada tepat di kepalanya. Alexa pun menyadari jika dia akan dibidik dari jarak jauh.


Alexa memicingkan matanya untuk melihat siapa yang akan menembaknya dari arah berlawanan--tepatnya dari sebuah gedung tinggi. Namun matanya tidak mampu menjangkau dan melihat siapa yang ada dibalik senjata laras panjang itu.


Dor!!!


Tubuh Alexa luruh di tanah bersamaan dengan Josh dan Antoni yang sudah mendahuluinya.


Edward dengan sigap berlari ke arah dimana tubuh Vallery tergeletak, dia tidak memikirkan yang lainnya kecuali Vallery. Selain memang karena dia hanya peduli pada Vallery, dia juga mengingat pesan Josh padanya.


"Jika terjadi sesuatu padaku, yang harus kau utamakan adalah keselamatan Vallery." kata Josh memperingatinya.


"Siapa juga yang akan menghiraukanmu!" dengus Ed saat itu.


Dia memapah Vallery saat orang-orang dari Clan Dexa tengah sibuk dengan tubuh Antoni, Alexa dan juga Josh.


Edward tidak tahu pasti, mereka bertiga mati atau tidak. Dia meninggalkan tempat itu menuju mobilnya-- diikuti oleh Sophia.


...To be continue .......


..._______________________...


(*Peluru hampa biasanya digunakan ketika suara dan kilatan senjata api dibutuhkan dalam suatu proyek pengambilan gambar film atau untuk aba-aba lomba lari tapi senjatanya tetap asli.


Bagian ujung peluru hampa ini biasanya dikerutkan atau disegel dengan gumpalan kertas atau lilin. Ketika pelatuk senjata ditarik, peluru hampa dapat menghasilkan suara tembakan, menampilkan kilatan di mulut senjata api, dan melontarkan selongsong peluru tanpa harus menggunakan peluru yang mematikan.


Akan tetapi, kilatan cahaya dan gas yang sangat panas dari senjata properti tetap bisa memicu insiden)