My Another Love

My Another Love
My boyfriend



"Kita mau kemana?" tanya Josh yang mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Vallery melirik kearah Sophia yang duduk di jok belakang.


"Josh, seharusnya kau tidak perlu ikut mengantarkanku. Jika kau ingin bersama Vallery, aku bisa turun disini." kata Sophia dengan nada sungkan.


"Tidak apa, lagipula Vallery bersamamu. Katakan saja kau mau menuju kemana."


Vallery hanya mendengus, dia tidak tahu apa niat Josh yang sebenarnya.


Kenapa dia baik sekali? Diam-diam Vallery mengagumi pemuda itu.


"Aku- aku sedang mencari Apartemen murah yang disewakan. Kebetulan aku memiliki masalah jadi untuk sementara harus menyewa." Penjelasan Sophia membuat Josh mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kau memiliki problem dengan keluargamu?" terka Josh.


Sophia hanya diam dan Vallery mengangkat bahu, tidak ingin menjelaskan.


"Sorry, aku tidak bermaksud mencampuri, tapi melihatmu aku jadi teringat diriku sendiri." kata Josh.


"Seriously?"


Josh mengangguk. "Baiklah, kau akan ku antarkan ke Apartemenku saja." sarannya, membuat mata Vallery mendelik kearahnya.


"Apa kau gila? Kau ingin Sophia tinggal bersamamu?" tanya Vallery shock.


Josh terkekeh kecil. "No, maksudku Apartemen yang lain. Yang tidak ku tempati." jelasnya.


Sophia tersentak. Dia pikir akan sulit mendapatkan Apartemen murah.


"Bolehkah?" tanya Sophia, "Apa kau akan menyewakannya dengan harga murah untukku?" Sophia tampak antusias dengan tatapan berkaca-kaca.


Josh terdiam seraya mengetuk-ngetuk jarinya dikemudi. Dia nampak berpikir.


"Aku tidak butuh uangmu. Kau tidak perlu membayarnya dengan uang. Tapi..." Josh mulai dengan nada misteriusnya.


"Tapi apa?" sahut Vallery memicingkan mata. Perasaannya mendadak tidak enak.


Sophia pun memandang kearah Vallery, seolah-olah bertanya apa yang akan diminta Josh sebagai bayaran untuk unit Apartemen itu. Tentu saja Sophia senang bukan kepalang jika Josh mau memberinya tempat tinggal tanpa bayaran. Tapi, dia juga harus siap untuk tawaran apa yang kiranya akan diajukan oleh Josh kepadanya.


"Tapi, dua syarat." kata Josh kemudian. "Pertama, kau harus tetap menjaga kebersihan disana."


Sophia mengangguk, itu tidak sulit. Dia terbiasa membersihkan rumah. Vallery pun setuju dengan hal itu.


"Lalu yang kedua?" tanya Vallery tidak sabar.


Josh memicingkan matanya kearah Vallery, sesaat kemudian senyuman miring terlihat dari sudut bibirnya. Tampak begitu licik, membuat Vallery meremang melihatnya.


"Bujuklah temanmu ini agar mau kencan denganku." kata Josh tanpa basa-basi.


Vallery yang mendengar itu pun terbelalak. Sedetik kemudian dia mendengus sebal.


Sedangkan Sophia menyengir, menunjukkan sederatan giginya yang berjejer rapi. "Vall, kau dengar kan syarat yang kedua? Itu tidak akan sulit jika kau mau bekerja sama." bujuk Sophia kearah Vallery. Vallery kembali mendengus.


Josh tersenyum puas mendengar ucapan Sophia pada Vallery. Sekarang tinggal Sophia saja yang membujuk gadis itu. Dia tinggal menerima hasilnya.


"Sudahlah Sophi, tinggal saja dulu dirumahku." kata Vallery.


"No, Vall !? Aku tidak mau terus merepotkanmu!" Sophia berdecak lidah. "Kau tahu, sejujurnya aku merasa tidak nyaman disana."


"Why?" tanya Vallery dan Josh serentak.


"Josh, jangan mendengarkan obrolan sesama perempuan! Kau menyetir saja." rengek Sophia.


Kini Josh yang mendengus, dia kembali fokus menyetir dan sesekali berhenti saat lampu merah menyala.


"Jawab Sophi, kenapa kau tidak nyaman saat dirumahku?" tanya Vallery merasa tidak enak hati. Dia takut ada sikapnya yang menyinggung Sophia.


"Kau jangan marah, aku hanya tidak nyaman karena-" Sophia menjeda kalimatnya, ia ragu melanjutkannya.


"Kenapa? Aku tidak akan marah. Katakanlah!"


"Aku tidak nyaman jika harus melihat kau berada diantara kakakmu dan suaminya." kata Sophia dengan suara penuh kehati-hatian, takut menyinggung Vall.


"Maksudnya?" celetuk Josh tiba-tiba.


"Josh, sudah ku bilang jangan mendengar!" Sophia protes pada lelaki dibalik kemudi itu.


"Bagaimana aku tidak mendengar? Aku berada disini juga!" sentak Josh.


Vallery memejamkan matanya, "Sudahlah, jangan dibahas lagi. Tidak usah dilanjutkan." kata Vallery seraya menghela nafas berat.


Josh tidak puas dengan ucapan Vallery itu. Dia merasa ada yang aneh akan ucapan Sophia sebelumnya dan ada yang ditutupi oleh Vall.


"Vall..." lirih Josh.


"Aku bilang jangan dibahas!" sahut Vall tegas.


"Tapi.."


"Aku akan berkencan denganmu." jawab Vallery cepat. Sophia terdiam mendengar itu, dia tidak percaya Vallery sudah menyetujui itu begitu saja.


Josh tersenyum kecil, tangannya terulur untuk mengacak rambut Vallery. Benar saja itu menjadi hobinya sekarang. Walau dia tidak puas karena tidak mendapat penjelasan mengenai ucapan Sophia, tapi Josh lega tawarannya disetujui oleh Vallery.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Masuklah..." Josh membuka pintu Apartemen setelah sebelumnya menekan akses kunci yang diamankan dengan beberapa digit angka.


Vallery dan Sophia memasuki unit Apartemen itu. Semuanya tampak rapi dan bersih. Udara didalamnya juga sangat harum. Itu berarti ruangannya selalu rutin dibersihkan.


Unit Apartemen ini sendiri berada dalam kawasan yang berbeda dengan Apartemen Josh yang pernah Vallery kunjungi. Berbeda ukuran dan berbeda desain interior didalamnya. Jika yang Vallery kunjungi waktu itu adalah penthouse dipucuk gedung atau terletak dilantai paling atas, memiliki dua kamar dan terkesan sangat mewah.


Tidak begitu mewah tapi cukup luas juga jika ditinggali seorang diri, karena pembagian ruangnya sangat lapang.


"Jagalah kebersihan karena aku tidak suka berantakan." Josh memperingati Sophia dan Sophia mengangguk-angguk mengerti.


"Kau sama seperti Vallery!" gumam Sophia.


"Apanya?" tanya Josh, karena dia mendengar gumaman itu.


"Ya, kalian sama. Sama-sama cinta kebersihan. Ku rasa kalian cocok!" sahut Sophia.


Josh tersenyum kecil mendengarnya, sedangkan Vallery, dia baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sudah?" tanya Josh dan Vallery mengangguk.


"Baiklah, aku antar kau pulang." kata Josh seraya melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 malam waktu setempat.


"Barang-barangku masih dirumah Vall, aku akan ikut pulang kesana dulu. Besok baru aku pindah kesini." jelas Sophia.


Mereka pun meninggalkan tempat tinggal baru Sophia. Josh melajukan mobilnya menuju kediaman Vallery yang sekarang sudah dihafalnya luar kepala.


Sesampainya disana, Sophia undur diri lebih dulu untuk masuk kedalam kamar. Meninggalkan Vallery dan Josh yang masih berada diruang tamu.


Rumah tampak sepi, bisa dipastikan Alexa dan Ed belum tiba dirumah.


"Kau ingin minum?" tawar Vall pada Josh.


Josh mengangguk.


"Duduklah, aku akan mengambilkan minuman." Vallery hendak beranjak tapi Josh menarik pergelangan tangannya.


"Ada apa?" tanya Vallery seraya mengernyit heran.


"Kenapa kau setuju untuk berkencan denganku?"


Vallery menghela nafas. "Tentu saja karena aku mau bekerja sama dengan Sophi agar dia dapat tempat tinggal." jawabnya.


"Hanya itu?" selidik Josh.


Vallery mengangguk yakin. "Kau sendiri, kenapa kau mengajakku berkencan? Kau tertarik padaku?" tanya Vallery dengan senyum mencibir.


Josh mengangkat bahu. "Entahlah," jawabnya absurd.


Suara hentak kaki yang memasuki rumah membuat keduanya menoleh. Tiba-tiba suara seorang wanita menginterupsi keduanya.


"Vall, who's he? Siapa dia?" tanya Alexa sambil tersenyum cerah. Alexa melangkah masuk semakin mendekat. Ternyata suara hellsnya yang sedari tadi terdengar dipendengaran mereka berdua.


Vallery menatap Alexa, begitu pula dengan Josh. Tapi mata Vallery menangkap sosok lain yang berada diambang pintu, sosok itu tampak diam memperhatikan mereka. Dia adalah Ed, sepertinya Ed pulang bersamaan dengan Alexa. Ataupun dia memang sengaja menjemput Alexa ketempat pemotretannya?


"I- ini Josh." kata Vallery memperkenalkan Josh.


"Oh hai Josh. Aku Alexa, kakak Vallery." Senyum Alexa semakin mengembang saat memperkenalkan diri pada Josh.


"Hallo Alexa," sapa Josh. "Senang bertemu denganmu."


"Nice to meet you too, Josh. Apa kau pacar Vallery?" tanya Alexa dengan nada riang khasnya.


"Em- aku-"


"He's my boyfriend. Ya, yah kak. Dia pacarku." kata Vallery.


"Wow. Surprise to me." Alexa menyatukan jemarinya, dia nampak sangat bahagia mendengar adiknya sudah punya pacar.


Josh mengusap leher belakangnya mendengar penuturan Vallery membuatnya sedikit gusar, ia ingin meminta penjelasan pada Vallery nanti.


"Kenapa dia mengatakan jika aku pacarnya" batin Josh.


Josh memandang kearah Ed dan lelaki itu terlihat tanpa ekspresi. Wajahnya datar dan malah terkesan dingin. Tapi, Josh tersenyum miring karena bisa membaca ekspresi lain dari sikap Ed.


"Hai Ed..." sapa Josh.


"Hmm.." Ed hanya bergumam dengan malas dan tidak bergeming dari tempatnya, membuat Josh menerka kembali suasana hati Ed saat ini.


"Kau sudah mengenal suamiku?" tanya Alexa antusias.


Josh ingin menjawab, tapi Ed lebih dulu bersuara.


"Yeah, kami sudah bertemu pagi tadi," sahut Ed datar.


Tiba-tiba Sophia pun datang menghampri keempat orang itu, dia ikut duduk dan bergabung disana.


"Sudah lengkap. Bagaimana jika kita makan malam bersama malam ini." kata Alexa terkekeh, dia melihat malam ini sangat ramai dirumahnya dan dia sangat senang. Sudah lama rumah ini terasa sepi. Kedatangan Josh membuat dia ingin mengenal juga pacar adiknya itu.


"Aku akan membersihkan diri dulu." kata Ed seraya melangkah. Dia membuka jasnya dan menyampirkan itu dibahunya, dengan santai dia melangkah menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya.


Vallery memperhatikan itu dan dia tahu Ed mungkin kesal padanya. Tapi, apa yang dia harapkan lagi dari Ed? Ed adalah suami kakaknya dan itu adalah kenyataan. Mungkin dengan alasan jika Josh adalah pacarnya, membuat Ed akan berhenti mengganggunya dan melupakan malam terkutuk itu.


"Ku harap dengan begini, kita bisa sama-sama melupakannya." Batin Vallery.


Sophia memperhatikan arah mata Vallery.


Begitu juga dengan Josh, dia bukan orang bodoh yang tak bisa meneliti keadaan, dia cukup peka dengan apa yang terjadi, terlebih saat mendengar ucapan Sophia dimobil tadi. Josh seakan mencari jawaban dari tatapan mata Vallery saat ini.


"Apa kau memanfaatkanku? Mengatakan aku sebagai kekasihmu untuk membuatnya terluka? Atau justru kau yang sudah terluka disini? Inikah yang dimaksud Sophia, jika kau berada diantara hubungan Alexa dan Ed?" Batin Josh, ia memejamkan matanya sejenak untuk mencerna apa yang terjadi.


Hanya Alexa yang tidak mengerti keadaan itu. Dia tidak peka dan dia hanya mengamati sesuatu yang menarik perhatiannya, yaitu sang adik yang sudah memiliki kekasih. Alexa sendiri sudah cukup lama menantikan adiknya memperkenalkan seseorang sebagai seorang pacar. Dan ini adalah salah satu momen yang ditunggunya.


...To be continue ......