
Vallery dan Josh masuk kedalam Apartemen.
"Letakkan saja disitu, aku akan menyusunnya nanti." ucap Vall pada Josh yang tengah meninting Travel bag serta menarik kopernya.
Josh menurut dan meletakkan barang-barang Vallery disalah satu sudut ruangan.
Vall terduduk disofa, kepalanya dia sandarkan dan dia menatap langit-langit ruangan. Josh memperhatikan tingkah Vallery dan dia menghampirinya.
"Vall, terima kasih sudah mengikuti saranku untuk pindah ke sini." kata Josh.
"Aku tidak butuh ucapan terima kasihmu." jawab Vallery, dia mengembalikan kata-kata Josh yang sering mengucapkan hal itu.
Josh terkekeh kecil menanggapinya. "Aku serius, Vall." ujarnya.
"Hemm.."
"Tinggallah disini dengan baik." Josh menyandarkan kepalanya disandaran sofa. Dia ikut menatap langit-langit ruangan seperti yang Vall lakukan. Mereka duduk bersisian dengan pikiran masing-masing.
Hening..
Hening...
Hening....
Josh memecah keheningan itu dengan suaranya. "Vall.. Mungkin beberapa hari kedepan aku tidak bisa bertemu denganmu. Ingatlah pesanku, jaga dirimu baik-baik!" kata Josh lirih dan nyaris berbisik.
Vallery menegakkan tubuh dan menatap Josh yang masih diam diposisinya. "Kenapa? Kau mau kemana?" cecarnya.
Josh menatap Vallery sekilas. "Aku akan ke Rusia." jawab Josh sambil tersenyum simpul.
"Berapa lama?"
"Seminggu, maybe." jawab Josh sambil mengendikkan bahu.
Vallery terdiam, dia menimbang-nimbang lagi hal apa yang akan dia tanyakan pada Josh. Kenapa mendengar Josh akan pergi membuatnya tidak rela?
"Uhm, Josh.. apa kau kesana karena urusan pekerjaan?"
Josh mengangguk.
"Bagaimana dengan kuliahmu? Kau sudah tidak masuk tiga hari berturut-turut." kata Vallery.
Josh tersenyum miring, dia menegakkan tubuhnya dan menghadap Vallery. "Kau terlalu memperhatikan kuliahku melebihi diriku sendiri." ujarnya terkekeh
Vallery melipat bibirnya menjadi satu garis lurus. "Tapi itu kenyataan Josh, kau tidak serius dalam kuliah." kata Vallery. "Ah ya, apa kuliah hanya permainan untukmu? Kau juga sudah bekerja 'Kan?" imbuhnya.
Josh tertawa mendengarnya. "Tidak sepenuhnya begitu, Vall. Sudahlah, jangan banyak bertanya. Aku hanya memberitahumu soal keberangkatanku."
Vallery tertunduk. "Kenapa kau memberitahuku?" lirih Vallery.
"Ku pikir kau perlu tahu keberadaanku."
"Why?"
"Karena--" Josh tidak bisa melanjutkan kalimatnya, dia takut meneruskan pembicaraan yang akan berujung dengan pengakuannya. Dia belum mau mengaku pada Vallery, dia menahannya.
"Karena apa Josh?" Vallery menuntut jawaban dari mulut lelaki itu.
Josh mengusap wajahnya. "Tidak ada alasan, Vall." ujarnya menutup pembicaraan.
Vallery bangkit dari sofa, dia tahu sekarang bahwa Josh menyembunyikan sesuatu. Hidup Josh terlalu tertutup untuknya. Selalu kata-kata yang sama yang dilontarkan Josh sebagai penutup pembicaraan, tanpa ada kepastian yang jelas. Walau Vallery sadar diapun orang yang tertutup, tapi Josh berbeda. Josh bukan orang yang tertutup seperti Vall, dia seolah sengaja menutupi sesuatu dari Vallery. Menyimpan dan memendam entah hal apa--yang Vallery pun tidak bisa menebaknya.
"Kau mau kemana, Vall?" tanya Josh saat Vallery melangkah.
"Kau tidak perlu tahu, selayaknya aku juga tidak perlu tahu keberadaanmu, Josh!" tutur Vallery penuh penekanan.
"Vall, maksudku bukan begitu." Josh segera bangkit dan menghadang langkah Vallery, dia tahu Vallery tidak puas dengan jawabannya tadi.
"Minggir!" sentak Vallery.
Josh tidak bergeming, dia tetap berdiri dihadapan gadis itu.
"Vall, dengarkan aku dulu." katanya.
"Shut up, Josh! Aku mau pergi!"
"Kemana?"
"Bukan urusanmu!" Vallery melewati tubuh Josh begitu saja, dia menarik pintu dan keluar dari Apartemen itu.
Josh menyugar rambutnya, dia menuju kulkas dan mengambil sekaleng softdrink disana. Dia perlu minum sekarang.
"Aku tidak bisa berterus terang padamu, Vall." gumam Josh. Dia meremass kaleng softdrink yang telah kosong, lalu melemparkannya ke tempat sampah dsudut ruangan.
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Sophia memasuki Apartemen saat hari beranjak sore, disana dia melihat Josh yang tertidur di Sofa. Tak jauh dari situ nampak barang-barang Vallery yang masih berantakan. Sophia mengedarkan pandangannya untuk mencari-cari keberadaan Vallery tapi dia tidak menemukannya.
Akhirnya Sophia menelepon ke nomor Vallery.
"Vall, kau dimana?"
"Kau sudah di Apartemen?" sahut Vallery dari seberang sana.
"Huum. Kau dimana?"
"Aku di supermarket. Aku berbelanja untuk makan malam kita," jawabnya.
"Oh, cepatlah kembali."
"Yah, uhm.. apa Josh masih disana?"
"Yes, ini aku akan membangunkannya."
Terdengar helaan nafas kasar Vallery.
"Apa kalian bertengkar?" tebak Sophia.
Panggilan itu pun terputus. Baru saja Sophia ingin membangunkan Josh tapi dia melihat Josh yang sudah mengucek matanya sendiri. "Jam berapa ini?" tanya lelaki itu.
Sophia melihat jam dipergelangan tangannya. "Jam 6," jawabnya.
"Apa Vallery sudah pulang?" tanya Josh dengan suara serak.
Sophia menggeleng. "Dia belanja di Supermarket."
Josh mengangguk. Dia menuju kamar mandi dekat dapur lalu mencuci wajahnya. Saat Josh keluar dari kamar mandi, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan Sophia di telepon.
Sophia menangis dan tersengguk-sengguk. Josh ingin menanyainya tapi Bell Apartemen berbunyi, Josh segera menuju pintu karena dia yakin itu adalah Vallery.
Vallery masuk setelah Josh membukakan pintu. Dia melewati tubuh lelaki itu begitu saja saat melihat Sophia menangis di ruang tamu.
"Ada apa, Sophi?" tanya Vallery seraya merangkul Sophia yang masih menangis dan memegang ponsel yang masih menyala.
"Ibuku, Vall.. Peter mengancamku, jika dalam dua hari ini aku tidak pulang kerumah, maka semua alat yang tersambung ke tubuh Ibu akan dilepas oleh pihak rumah sakit atas permintaan Peter."
"Oh astaga.." Vallery memejamkan matanya.
Josh memperhatikan mereka, dia ingin bicara tapi dia tidak mau mencampuri permasalahan itu terlalu jauh.
"Aku bahkan belum dapat pekerjaan sampingan, bagaimana bisa aku mencegah perbuatan Peter. Kalau saja aku punya uang, aku tidak mungkin membiarkan pihak Rumah Sakit mengikuti permintaan Peter." isak Sophia.
"Tenanglah, aku akan meminta bantuan pada Kakakku."
"Tidak, tidak.."
"Kenapa?"
"Itu sama saja dengan meminta bantuan pada Kak Edward, Vall. Aku tidak mau merepotkan mereka."
Mendengar nama Edward disebut-sebut, akhirnya Josh tidak tahan lagi untuk mengemukakan pendapatnya.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Josh menginterupsi pembicaraan kedua gadis itu.
Vallery menghela nafas panjang, sementara Sophia menghapus airmatanya, dia baru menyadari jika disana ada Josh juga.
"Ayah tiriku akan melepas tanggung jawab atas Ibuku yang terbaring di Rumah Sakit. Dia tidak mau membiayai pengobatannya lagi." kata Sophia mulai terbuka pada Josh.
Josh mengernyit. "Kenapa begitu? Apa dia kesulitan ekonomi?" tebaknya.
Sophia menggeleng. "Aku tidak tahu soal keuangannya, tapi dia hanya mau membiayai Ibu jika aku mau mengikuti permintaanya." Sophia membuang pandangan ke arah lain.
"Permintaan apa?" tanya Josh.
"Dia mau menjualku, Josh!"
Josh terhenyak, tapi wajahnya menunjukkan ketenangan yang tidak bisa terbaca.
"Dia mau menjualmu dijalur perdagangan manusia, atau menjadikanmu pela*cur?" tanya Josh serius.
"Apa saja, jadi budak juga tidak masalah baginya. Aku tahu dia hanya mencintai uang."
"Siapa namanya?"
"Untuk apa kau tahu namanya?"
"Beritahu aku," pinta Josh serius.
"Peter Bugetty."
Josh tersenyum miring. "Kau tidak salah Peter Bugetty adalah Ayah tirimu?" tanyanya dengan nada aneh.
"Ya, dia ayah tiriku. Apa kau mengenalnya?"
Josh tidak menjawab pertanyaan Sophia, Dia duduk di sofa tepat disebelah Vallery yang juga baru mendudukkan diri disana.
"Aku akan membantumu lagi kali ini." Josh mengerlingkan mata pada Sophia.
"Kau serius?" Sophia bangkit dari posisinya dan mendekati Josh.
"Ya, tapi kau tahu kan kalau aku selalu punya syarat." Josh terkekeh geli, Vallery yang sedari tadi diam pun memutar bola matanya melihat tingkah Josh.
"Apa? Katakan padaku?" desak Sophia mulai antusias atas penawaran Josh.
Josh mengadahkan tangannya pada Sophia. "Ponselmu!" katanya dan Sophia menyodorkan begitu saja benda pipih yang sejak tadi masih ada digenggamannya.
Josh mengetikkan sesuatu disana, tak lama terdengar suara dering ponsel yang ternyata itu adalah ponsel Josh sendiri. Rupanya lelaki itu baru saja menghubungi nomornya sendiri melalui ponsel Sophia. Dia mengambil ponselnya yang berdering lalu mematikan panggilan itu.
"Itu nomorku dan nomormu ini akan ku simpan. Aku akan mengabari syaratnya dari pesan." kata Josh sambil menyeringai penuh maksud.
Sophia menatap Josh tidak berkedip, lalu dia mengangguk-anggukkan kepalanya seperti orang yang baru saja terkena hipnotis.
Vallery menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka. Dia bangkit dari duduknya, dia merasa masalah Sophia akan selesai ditangan Josh. Dia yakin Josh pasti bisa diandalkan.
Vallery beranjak karena dia harus memasak untuk makan malam mereka dan Sophia mengerti itu.
"Vall, kau temani saja Josh disini. Biar aku yang masak. Mana belanjaanmu?" Sophia sudah kembali menjadi dirinya yang biasanya hanya karena merasa masalahnya pun akan selesai ditangani oleh Josh.
Vallery diam ditempat dan menunjuk kantong belanjaannya yang tadi dia letak asal diatas meja.
Vallery menatap wajah Josh yang menatapnya dengan seringaian tipis.
Kali ini apa lagi syarat yang dimintanya pada Sophia? Apa ini akan menyangkut tentangku lagi?-Batin Vallery. Dia mengingat syarat yang diajukan Josh saat lelaki itu meminjamkan Apartemen ini pada Sophia dan itu mengorbankan dirinya.
Ah, syarat berkencan dengannya saja belum terlaksana. Jangan bilang sekarang harus ada sangkut-pautnya lagi denganku!-pikir Vall.
"Kenapa kau begitu baik pada Sophi?" akhirnya Vallery bertanya juga saat Sophia sudah berlalu menuju dapur. Kini tinggal mereka berdua yang duduk di sofa ruang tamu.
Josh hanya mengangkat bahu cuek atas pertanyaan Vallery yang menurutnya tidak penting.
"Kau menyukai Sophi?" tebak Vallery yang membuat mata Josh membulat sempurna.
...To be continue ......