My Another Love

My Another Love
Decision



"Josh, kenapa Jesica ada disini? Apa kalian juga tinggal bersama?"


Pertanyaan Vallery sungguh membuat Jesica terbahak. Dia tertawa terpingkal-pingkal sampai akhirnya tawa itu harus berhenti kala matanya melihat tatapan tajam yang Josh berikan.


"Sorry ..." kata Jesica masih mengulumm senyum. "Seharusnya aku dan Josh memang tinggal bersama tapi--" ucapan itu harus terpotong karena Josh langsung menginterupsi.


"Mau apa kau kesini?" tanya Josh dengan nada tak senang sembari menatap Jesica tajam.


Jesica berdehem-dehem, dia melirik sekilas kearah Vallery yang masih tercengang karena kehadirannya di Apartemen Josh.


"Ku pikir kau perlu tahu tentang sesuatu yang penting." Jesica mengerlingkan matanya pada Josh dan Josh mengerti akan isyarat yang diberikan gadis itu.


"Aku akan menemuimu nanti. Pergilah.." jawab Josh malas seraya mengibaskan tangannya, agar Jesica segera pergi dari hadapannya.


Jesica tersenyum kecil. "Okay..." jawabnya enteng, sembari berdiri dari hadapan kedua orang itu.


"Kau pasti belum menanyakan pada Josh soal hubungan kami 'kan?" bisik Jesica tepat ditelinga Vallery saat dia hendak menuju pintu keluar.


"Pergi, Jes!" senggak Josh. "Seharusnya aku memang mengganti sandi Apartemenku." sambungnya sembari menyugar rambutnya sendiri.


Jesica terkekeh. "Aku tetap akan bisa masuk kesini. Good night boy ..." ejek Jesica, dia pun meninggalkan Apartemen dengan santainya.


Kini tinggallah Vallery dan Josh yang saling bertatapan satu sama lain. Josh tahu jika Vall mengharapkan penjelasannya, tapi Josh belum siap dan entah kapan dia siap menjelaskannya pada Vallery.


"Kau benar-benar tidak mau menjelaskan padaku kenapa Jesica bisa ada disini?" tuntut Vallery, dia duduk dihadapan Josh yang sedang memijat pelipisnya sendiri.


"Semuanya tidak seperti yang kau pikirkan." kata Josh menekankan.


Vallery mendengus, "Memangnya apa yang ku pikirkan?" tanyanya balik.


"Kau pasti mengira aku dan Jesica adalah sepasang kekasih, kan?"


"Jadi itu benar?"


Vallery kembali mendengus. Untuk apa Josh mengajaknya tinggal bersama, jika masih ada perempuan lain yang mendatangi Josh bahkan sampai masuk ke Apartemen pribadinya. Itu berarti Jesica mengetahui segalanya tentang Josh termasuk password Apartemennya. Ah, sedekat apa mereka sebenarnya? Jesica benar, Vall lupa menanyakan tentang hubungan Josh dan Jesica. Vall lengah dan lupa bertanya, padahal Jesica sudah memintanya bertanya pada lelaki itu.


Seberapa sering Vall dan Josh bersama? Beberapa hari ini bahkan sangat sering, tapi kenapa hal itu terlupakan oleh Vallery?


"No! itu salah ..." jawab Josh lirih.


Vallery bersedekap. "Jika itu salah, bisakah kau jelaskan kenapa dia bisa masuk kesini?" tanya Vallery dengan nada malas.


Josh menggaruk lehernya yang tidak gatal. Dia tidak menjawab dan hanya menggerutu kecil.


"Josh, Aku tidak mau tinggal disini jika kau masih memiliki hubungan dengan gadis lain." Vallery bersiap pergi dari hadapan Josh.


"No! Vall..." jawabnya sambil menggelengkan kepalanya berulang. "Oke.. fine, cepat atau lambat kau memang harus tahu tentangnya." lanjutnya.


Josh mendudukkan Vallery kembali, menangkup kedua pipinya tapi Vallery segera menepis itu.


"Apa boleh jika aku tidak menjawabnya?" tawar Josh dengan puppy eyes-nya, terlihat menggemaskan dimata Vallery, tapi untuk saat ini Vallery sedang tidak mau bernegosiasi, dia butuh kejelasan akan hubungan Josh dengan Jesica.


Vallery menggeleng. "Jika kau tidak mau menjawabnya tidak masalah, aku tidak akan tinggal disini dan tidak akan berhubungan denganmu lagi." ancamnya dan seketika itu juga laki-laki itu menghela nafas panjang.


"Jangan mengatakan hal seperti itu!" kata Josh tegas.


"Apa susahnya mengakui jika dia adalah mantan pacarmu, Josh? Aku mungkin bisa memakluminya." sindir Vallery.


"Masalahnya dia bukan mantan pacarku."


"Lalu apa? Masih kekasihmu?"


"Bukan, Vall."


"Jadi? Kau menjawab dengan tidak jelas! Lama-lama aku bisa kena darah tinggi."


"Oke oke, Jesica adalah Adikku." jawab Josh dengan sangat terpaksa. Dia menghela nafas panjang setelah mengungkapkan hal itu.


Josh pikir Vallery akan terkejut mendengar itu. Tapi sayang, semua yang dilihatnya benar-benar diluar dugaannya. Gadis itu malah tertawa sekarang, seolah-olah lupa dengan tindakannya beberapa saat lalu yang mengancam Josh dengan suara meninggi.


Vallery tidak menjawab, dia seperti ingin menyelesaikan tawanya yang belum puas. Josh mendengus pelan lalu menggeleng-gelengkan kepalanya tidak habis pikir.


"Kenapa mengakui Jesica sebagai adikmu saja sulit sekali? Kenapa tidak mengatakannya dari awal? Hahaha, aku sampai salah menduga selama ini. Aku bahkan mengira kalian pernah berkencan waktu itu." jelas Vallery seraya memegangi perutnya sendiri. Dia menahan tawanya yang hampir meledak-ledak.


"Karena hubungan kami tidak baik. Sudahlah ... aku malas membahasnya." kata Josh.


"Oke-oke. Aku jadi tahu alasan Jesica yang tidak bisa dekat denganku. Pasti kau yang melarangnya 'kan? Why?"


"Karena aku takut dia mempengaruhimu."


"Oh no, Josh..." Vallery mengulumm senyuman, menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sandaran sofa.


"Apanya yang tidak? Buktinya malam itu kau ikut dengannya ke Club."


Vallery hanya bisa terkekeh kecil. Kemudian seperti biasanya, Josh mengusak pucuk kepala Vallery dengan kasih sayang.


"Barang-barangmu sudah di kamar. Mandi dan beristirahatlah.." titah Josh sambil mengecup kening Vallery.


"Kau mau kemana?" tanya Vallery saat Josh ingin beranjak.


"Aku harus menemui Jesica dulu. Sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu."


Vallery mengangguk. "Baiklah," ucapnya sambil mengusap sisi pipi lelaki itu sekilas.


Josh tersenyum, "Kau mau ku pesankan makanan?" tanyanya.


"Boleh, pesankan apa saja yang enak. Aku sangat lapar."


"Baiklah tukang makan." kelakar Josh seraya menyunggingkan senyumnya yang mempesona.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Alexa dan Ed makan malam bersama di meja makan rumah mereka, tidak ada yang berbicara. Suasana tampak hening dan mereka seakan larut dalam pikiran masing-masing.


"Apa kau sudah bicara dengan Vallery?" tanya Ed memulai pembicaraannya.


Alexa meneguk air minumnya sebelum menjawab pertanyaan yang Edward berikan.


"Sudah ..."


"Apa keputusanmu selanjutnya?" tanya Ed. Sesungguhnya dia menerima apapun keputusan Alexa. Jika memang istrinya itu mau memaafkannya, dia pun akan mencoba memaafkan kesalahan Alexa. Ed sadar mereka sama-sama bersalah. Tapi, jika Alexa tidak mau memaafkannya, Ed pun dengan lapang dada mengizinkan jika Alexa meminta perpisahan darinya.


Jauh didalam hati Ed, dia memang menginginkan perpisahan dengan Alexa. Itu semata-mata untuk meneruskan perjuangannya meraih Vallery. Tapi jika memang Alexa tetap mau mempertahankan rumah tangga mereka, mau tidak mau Ed harus melupakan Vallery dan berusaha lebih keras untuk mencintai Alexa, walaupun mungkin itu akan sulit. Biarlah Ed menjalani kehidupannya bersama Alexa dengan perasaan tanpa cinta, mungkin itu adalah hukuman nyata baginya karena telah menyakiti Vallery.


"Keputusanku ... aku ingin berpisah darimu Ed." kata Alexa dengan mantap.


"Why? Kau tidak bisa memaafkanku?" tanya Ed.


Alexa menggeleng. "Untuk saat ini aku memang belum memaafkan kesalahanmu. Tapi, bukan itu saja, aku tidak bisa menjalani rumah tangga tanpa dicintai oleh suamiku."


Ed mengangguk sekilas. Jawaban Alexa sungguh membuatnya lega. Setidaknya, bukan dia yang meminta perpisahan ini. Itu artinya dia terbebas dari janji untuk bertanggung jawab atas hidup Alexa.


Keadaan menjadi hening sesaat, sampai akhirnya Alexa kembali memecah kesenyapan itu.


"Ed, aku ingin bertanya satu hal padamu?"


"Apa?"


"Apa setelah kejadian malam itu, kau memiliki perasaan lebih terhadap Vallery?" tanya Alexa dengan kehati-hatian. Dia takut menyinggung perasaan Ed dan dia juga takut merasa tersakiti sendiri, mengingat statusnya yang masih istri Edward.


Ed tidak jadi menyuap makanannya kembali. Dia menjadi hilang selera makan. Dia meletakkan sendok dan garpu diatas meja, menyeka mulutnya dengan serbet yang berada dipangkuannya.


"Setelah malam itu, aku memang menginginkan Vallery lebih dari apapun." kata Edward sambil berlalu pergi. Sedangkan Alexa, dia cukup syok mendengar penuturan yang baru saja Ed akui.


...To be continue ......