My Another Love

My Another Love
I Love You



"Mau kemana?" Josh mengucek matanya sambil berujar pada Vallery yang sudah bergerak dari tempat tidur.


Vallery menoleh, "Mandi. Aku harus kuliah." jawabnya.


Josh langsung menegakkan tubuhnya, membuat posisinya menjadi duduk dan bersandar di Headboard ranjang.


"Tidak usah kuliah, kau masih sakit." katanya.


"Aku baik-baik saja, Josh. Jangan berlebihan."


Josh berdecak lidah, dia malas untuk mendebat ucapan Vallery di pagi buta. "Baiklah, aku antar ke kampus." katanya seraya bangkit dan menuju kamar mandi yang ada dikamarnya sendiri.


Mereka bersiap-siap, lalu bertemu di meja makan untuk sarapan. Setiap pagi, di Apartemen ini akan ada seorang maid yang membantu membuat sarapan sekaligus bersih-bersih.


"Eum-- Josh?"


Josh menatap Vallery seraya mengunyah makanannya. "Yah?"


"Tidak usah mengantarku. Aku bisa berangkat sendiri." kata Vallery. Dia melihat penampilan Josh yang rapi, sepertinya Josh akan ada pekerjaan penting hari ini. Vallery merasa tidak enak jika Josh harus mengantarkannya ke kampus.


Josh menggeleng. "Aku akan tetap mengantarmu, Baby."


"Aku takut merepotkanmu."


Josh terkekeh kecil. "Sejak kapan pikiran itu muncul? Selama ini aku tidak pernah merasa begitu." Josh menyeruput kopi kesukaannya, matanya tetap memperhatikan Vallery yang duduk diseberangnya.


Vallery menggigit bibirnya, sesungguhnya dia malu harus bertemu Josh mengingat pergumu lan panas mereka malam tadi, walaupun itu tidak berlanjut lebih jauh, tapi Vallery cukup merasa canggung jika melihat wajah Josh lagi.


Sedangkan Josh, dia juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, dia pandai menutupi ekspresinya dan bersikap biasa saja.


"Kau akan bekerja?" tanya Vallery memulai lagi pembicaraan mereka yang terasa kikuk.


Josh mengangguk. "Besok orangtuaku akan tiba di Texas." akunya.


"Memangnya selama ini orangtuamu ada dimana?"


"Mereka tinggal di Rusia." jawab Josh kembali jujur, entah kenapa dia bisa menceritakan yang sebenarnya tentang kehidupan pribadinya pada Vallery.


"Oh ..." Vallery manggut-manggut.


"Selesaikan sarapanmu, aku tunggu di depan." Josh bangkit sembari mengacak rambut Vallery, Vallery mendengus kecil akibat ulahnya dan itu justru membuat Josh merasa senang.


Vallery segera menyelesaikan sesi sarapannya. Lalu dia menuju ruang tamu, disana Josh sedang mengenakan sepatunya.


Dilihat dari segi manapun, lelaki itu memang selalu tampan. Tapi kali ini, dia benar-benar mempunyai daya tarik tersendiri. Dia memiliki kharisma dan setelannya hari ini membuatnya terlihat seperti pria yang sangat berwibawa.


Vallery duduk di sisi Josh, dia memperhatikan lelaki itu dari dekat tanpa berkedip. Dikepalanya dipenuhi oleh Josh dan kejadian malam tadi. Kenapa dia tidak merasa takut sama sekali pada lelaki ini. Benarkah dia sudah jatuh cinta padanya? Bagaimana jika Josh meninggalkannya?


"Jangan memperhatikanku seperti itu. Nanti kau bisa diabetes." kelakar Josh seraya mengikat tali sepatunya. Dia tidak menoleh ke arah Vallery tapi dia tahu pasti jika gadis itu sedang memperhatikannya dengan lekat.


Vallery tersentak, dia berdehem kecil dan menetralkan detak jantungnya yang mendadak bertalu-talu dengan kencang. Tiba-tiba mata kehijauan itu menatapnya, membuatnya kembali teringat kejadian malam tadi, tentang tatapan nanar Josh yang menginginkannya.


Vallery adalah gadis yang sulit mengungkapkan isi hatinya, dia tidak seterbuka Josh yang bisa dengan mudah mengucap kata cinta dan memberi panggilan sayang. Dia sulit mengekspresikan dirinya karena sikap bawaannya yang tertutup. Tapi jauh didalam hatinya, entah kenapa seperti dia tengah meneriaki nama Josh berkali-kali.


"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Josh lembut.


"Aku mencintaimu." ucap Vallery hanya dalam hatinya.


Benar, dia tidak bisa berkata frontal seperti itu didepan Josh. Akhirnya dia hanya menggigit bibir dan menggeleng pelan.


"Vall? Ada apa? Jika tidak ada yang mau diucapkan kita berangkat sekarang." Josh mulai berdiri tapi Vallery memegang pergelangan tangan lelaki itu.


"Josh..." lirihnya.


Josh tersenyum kecil, dia selalu bisa membaca gelagat orang lain dan dia tahu jika Vallery sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, walaupun dia tidak tahu apa yang hendak diucapkan gadis disampingnya ini.


"Kenapa?" tanya Josh dengan tatapan lembut yang menghujam jantung Vallery.


Vallery menunduk. "Josh, aku--aku ..." Dia ragu lagi, tapi hatinya terus menerus mendesak agar dia mengungkapkan kalimat itu.


Josh kembali duduk dan menunggu Vallery melanjutkan kalimatnya.


"Vall--"


"I love you, Josh. Bisakah kau tidak meinggalkan aku apapun yang terjadi?" ucap Vallery dengan sangat cepat.


Josh mengernyit heran dengan tingkah Vallery. "Apa katamu?" tanyanya, sesungguhnya dia mendengar ucapan Vallery tapi dia ingin mendengar dengan jelas sekali lagi.


Vallery menggeleng.


Josh terkekeh kecil. "Katakan sekali lagi, dengan perlahan. Aku--aku tidak begitu jelas mendengarnya tadi." bohong Josh.


Vallery terdiam, dia tidak punya nyali dua kali untuk mengakui hal serupa.


Cup!


Josh mengecup pipi Vallery sekilas. Ciuman tiba-tiba yang selalu membuat mata Vallery membulat karena terkejut.


"I love you, Josh! Bisa kau katakan itu lagi secara perlahan, please!" kata Josh memberi permintaan.


Wajah Vallery memerah. "Josh, a-aku mencintaimu." kata Vallery dan Josh menghadiahi bibir yang berujar itu dengan sebuah ciuman lembut.


Vallery melepas pagu tan itu dan menatap mata Josh yang juga tengah menatapnya. "Kita harus berangkat, hmm?" ucapnya.


Josh mengangguk sekilas. Lalu dia menunggu Vallery mengenakan sepatu sneakersnya.


"Vall, jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu. Aku akan selalu menujumu walaupun kau memutuskan pergi dari sisiku." kata Josh dengan nada serius.


Vallery mengangguk. "Kenapa aku harus pergi darimu?" ucapnya yakin.


"Memangnya siapa kau?"


"Sudahlah, kita berangkat sekarang." Josh berdiri dan mengulurkan tangannya pada Vallery yang masih terduduk. Meski belum puas dengan jawaban Josh, akhirnya Vallery menyambut juga uluran itu dan mereka saling bergandengan tangan menuju basemant.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Aku melihatnya, dia memang tinggal di Apartemen itu. Sesuai dengan dugaanku." kata seseorang, berbicara melalui sambungan teleponnya.


"......"


"Aku yakin info yang ku dapatkan adalah akurat. Dia adalah Josh Greselle, putra tunggal Jeremy."


"....."


"Okay, dia tidak akan lepas. Dia sudah dalam genggaman kita."


Telepon itu terputus, dan orang itu memperhatikan mobil Josh yang bergerak perlahan meninggalkan basemant.


"Well, Josh. Kau membawa seorang wanita ke Apartemen pribadimu. Ini menarik." gumamnya sambil tersenyum smirk.


Orang itu gegas meninggalkan area Apartemen dan menghilang dari sana.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Josh mengantarkan Vallery kr kampusnya seperti biasa, tapi dia tidak turun dari mobil dan langsung meninggalkan area kampus setelah memastikan Vallery benar-benar masuk kesana.


"Vall..." Sophia menghampiri Vallery dan mereka mengobrol sampai depan kelas.


Vallery belum mengatakan pada Sophia soal kepindahannya ke Apartemen utama milik Josh, tapi Sophia seakan tahu tentang hal itu.


"Tunggu, darimana kau tahu jika aku dan Josh tinggal bersama sekarang?"


Sophia tampak salah tingkah. "Eumm--aku hanya menebaknya."


"Darimana kau bisa punya tebakan seperti itu?" tanya Vallery curiga.


"Itu--itu,"


Belum sempat Sophia menjawab, tiba-tiba suara seorang perempuan menginterupsi percakapan mereka.


"Sophi tahu semua itu dariku. Maaf jika itu membuatmu terganggu." selah Jesica tiba-tiba.


Sontak saja kedua gadis itu menoleh kearah Jesica. Sophia menatapnya penuh tanya dan Vallery mau tidak mau harus memasang senyum.


"Kenapa kau memberi tahu Sophia, Jes?" tanya Vallery.


Jesica tersenyum lembut. "Aku pikir dia sahabatmu, dia berhak tahu kau sekarang tinggal dimana." kata Jesica dan membuat Sophia terheran-heran ditempatnya.


"Iyakan, Sophi?" imbuh Jesica dan Sophia hanya bisa mengangguk untuk menyelamatkan dirinya. Tidak mungkin dia mengaku pada Vallery darimana sebenarnya dia mengetahui semua itu. Ucapan Jesica seakan melindunginya, tapi kenapa bisa Jesica bersikap seperti ini?


"It's oke. Cepat atau lambat aku juga akan bercerita pada Sophi." kata Vallery akhirnya.


Jesica dan Sophia hanya saling bertatapan satu sama lain, memberikan isyarat butuh penjelasan.


"Em, Vall. Sepulang dari kuliah bisakah kita bicara berdua?" tanya Jesica.


Vallery yang sudah tahu siapa Jesica sebenarnya pun hanya bisa mengangguk.


"Oke, aku tunggu kau selesai." kata Jesica.


Jesica pergi dari sana, sementara Sophia mengatakan pada Vallery untuk ke toilet sebentar, padahal dia menyusul langkah Jesica. Dia perlu bicara pada gadis itu. Butuh penjelasan, kenapa Jesica melindunginya dari pertanyaan Vallery.


Sophia menarik tangan Jesica lalu membawanya ke tempat yang cukup sepi di area kampus itu.


"Kenapa kau berkata seperti itu pada Vallery? Kau tahu juga kan jika Vallery sekarang tinggal bersama Josh?" cecar Sophia pada Jesica.


Jesica tersenyum miring. "Bukannya berterima kasih malah marah-marah." cibir Jesica.


"Oke, thanks. Kenapa kau bersikap seolah-olah tahu semuanya?" tanya Sophia.


"Aku memang tahu semuanya maka dari itu aku tidak mau kau membuka mulut pada Vallery."


"Aku juga takut membuka mulutku."


"Yah, siapa tahu saja kau kelepasan seperti saat kau mengatakan soal Vallery tinggal bersama dengan Josh padahal Vallery belum bercerita padamu."


Sophia terdiam.


"Josh memang keterlaluan. Dia yang memintamu jadi penguntit aktifitas Vallery 'kan?" Jesica menggelengkan kepalanya berulang, tidak habis pikir dengan tingkah Kakaknya itu.


Sophia masih terdiam, dia cukup syok karena Jesica tahu bahwa dia menjadi orang suruhan Josh.


"Lanjutkanlah pekerjaan sampinganmu itu, Sophi. Pastikan Vallery tidak tahu kau disuruh Josh. Pastikan juga dia tidak dekat dengan lelaki manapun atau Kakakku akan berubah menjadi monster." Jesica tergelak tapi Sophia mengernyit heran.


"Kakakmu? Maksudmu--"


"Ya, Josh itu Kakakku." Katanya sambil tersenyum mengejek. "Sudahlah, kau dibayar Josh untuk menguntit Vallery, jangan mencari tahu sesuatu yang diluar pekerjaanmu." cibir Jesica dan berlalu dari hadapan gadis itu.


Sophia mendengus, dia melakukan ini juga karena dia berhutang budi pada Josh. Josh membiayai rumah sakit Ibunya dan waktu itu Josh mengatakan akan menyingkirkan Peter, ayah tirinya. Kenyataannya memang Peter tidak pernah kembali kerumah mereka. Sophia juga tidak tahu kemana Peter sebenarnya dan dia tidak mau mengurusi itu. Baginya sekarang, hidupnya sudah tenang dan dia punya pekerjaan sampingan dari Josh yakni mengikuti keseharian Vallery secara diam-diam.


Sophia jugalah yang selalu menelepon Josh terkait siapa saja yang ditemui Vallery. Walaupun terkesan seperti mengganggu privasi Vallery, tapi sedikit banyak Sophia tahu jika Vallery dilindungi oleh Josh. Dia tidak tahu siapa Josh sebenarnya, dia hanya mengira Josh adalah lelaki yang sangat mencintai Vallery dan dia bersyukur sahabatnya itu menemukan lelaki seperti Josh yang sangat protectif. Akibat pekerjaan sampingannya itu pula lah dia mengetahui jika sekarang Vall tinggal bersama dengan Josh.


"Josh dan Jesica. emm, jadi mereka.. Siapa kau sebenarnya, Josh? Ah, sudahlah, aku tidak usah mencari tahu yang lain. Siapapun Josh, setidaknya dia mencintai Vallery. Aku sangat meyakini itu." gumam Sophia seraya berjalan kembali menuju kelas.


...To be continue ......