My Another Love

My Another Love
Be happy



Bagaimana menggambarkan rasa bahagianya lelaki itu? Dia pun tidak bisa mengutarakannya. Seorang gadis yang selama bertahun-tahun memenuhi pikirannya dan tidak bisa dia abaikan saat mereka bertemu kembali, kini pasrah berbaring didalam pangkuannya. Wajah gadisnya yang kemerahan itu sesekali disembunyikan oleh tangkupan tangannya sendiri, membuat jemarinya terulur untuk menyentuh pucuk kepala sang gadis, lalu mengelusnya dengan penuh kasih sayang dan cinta.


Tidak tahu seberapa besar pula cintanya sekarang, karena hanya mendengar penuturan gadis itu, bisa membuat hatinya menghangat. Seperti dihujani ribuan bintang yang menerangi sekujur sanubarinya yang telah lama menggelap.


Biarlah dia egois sekarang. Karena sekarang, dia tidak akan melepaskan Vallery. Tidak akan pernah! Sekalipun Vallery ingin pergi darinya.


Menyangkut hal ini, dia akan selalu egois dan egois. Sudah cukup dia mengulur-ulur waktu untuk mendapatkan gadisnya, sudah cukup dia memendam dan mencintai Vallery secara diam-diam dan hanya bisa menguntit gadis itu selama bertahun-tahun. Belum lagi karena rasa penyesalannya yang sudah meninggalkan kota ini sehingga harus menghentikan aktifitas gilanya. Dia menyesal meninggalkan Vallery waktu itu, seharusnya dia tetap tinggal disini dan sudah sejak lama menemui gadis itu untuk menyatakan perasaannya. Jika saja seperti itu, Vallery tidak harus bertemu Edward lebih dulu.


Cukup! Kali ini dia tidak bisa menunggu lagi, dia tidak mau Vallery dimiliki oleh orang lain, baik itu Edward ataupun lelaki penuh maksud yang bernama Steve.


Apalagi setelah kini dia tahu, bahwa dia dan Vallery ingin memiliki satu sama lain.


Secercah harapan baru, walaupun ini akan membuat masalah baru dalam kehidupannya yang tidak biasa. Ck ck ck!


Sedangkan disisi terdalam hati gadis itu sendiri, disamping rasa bahagianya, dia juga merasakan kelegaan luar biasa karena telah mengungkap perasaannya. Tapi, sekarang terselip rasa malu dihatinya setelah kejadian beberapa saat lalu.


Entah kenapa Vallery menjadi pemalu setelah meluapkan isi hatinya pada pemuda yang sedang memangku kepalanya. Dia tidak bisa menunjukkan wajahnya, dia menutupi dengan telapak tangannya sendiri. Begitu kecil hati, walaupun dia tahu Josh juga telah menyatakan perasaan yang sama, yang selama ini tidak pernah diutarakan mereka satu sama lain.


Vallery merasakan tangan Josh yang mengelus pucuk kepalanya dengan lembut, menikmati sensasi menenangkan dan sedikit membuatnya mengantuk.


"Kau tidur?" tanya Josh setelah keheningan yang terjadi selama beberapa menit.


Vallery membuka tangkupan tangan yang menutupi wajahnya, seketika itu juga matanya tertangkap basah oleh iris mata kehijauan milik pemuda itu.


"Aku sedikit mengantuk." akunya.


"Tidurlah, aku akan menjagamu." jawab Josh seraya terus mengelusi rambut Vallery yang memenuhi pangkuannya, sesekali dia memiliinn surai kecoklatan itu.


Vallery menggeleng. Walaupun dia mengantuk, dia masih memiliki rasa sungkan untuk tertidur dipangkuan pemuda itu. Selain itu, sekarang ini dia merasa lapar. Dia tidak bisa terlelap jika perutnya belum terisi.


"Kenapa?" tanya Josh sambil mengerutkan dahi.


Vallery menggigit bibirnya sendiri, lalu menggeleng lagi. Sekarang dia malu untuk mengakui bahwa dia tengah kelaparan. Ah, kenapa jadi terasa canggung setelah pernyataan cintanya tadi?


"Kau lapar?" terka Josh tepat sasaran.


Vallery menggeleng cepat tapi perutnya tidak bisa diajak kompromi karena tiba-tiba saja berbunyi tanpa permisi.


kruerrreeerrrr ...


Maka semakin memerahlah wajah cantik itu, Josh pasti mendengar dengan cukup jelas suara perutnya yang protes minta diisi.


Lelaki itu terkekeh pelan. "Sudah lapar kenapa tidak mengaku," godalnya. "Kita pesan makanan saja, ya ..." sambungnya lembut seraya mencari ponselnya di dalam saku celana.


Vallery hanya bisa terdiam sambil tersenyum kecil, mendengar Josh mengatakan kata 'kita' saja, sudah membuatnya merasa diistimewakan.


"Mau makan apa, Baby?" tanya Josh tanpa canggung ,sementara Vallery membuang pandangannya ke lain arah.


Saat Vallery ingin bangkit dari posisi berbaringnya, Josh mencegahnya dan dia menjadi pasrah kembali ditempatnya.


"Aku menanyakanmu mau makan apa, bukan memintamu duduk." kata Josh dengan nada suara terendah.


"Pizza?" tanyanya, itu sebuah pertanyaan bukan pernyataan.


Josh menggeleng. "Aku tidak makan junkfood." jelasnya. "Kalau kau mau makan itu--"


"Tidak, aku makan apa yang kau pesan saja." potong Vallery.


Josh tersenyum lalu mengangguk. Dia pun berkutat dengan ponselnya, mencari-cari menu makanan yang membuatnya berselera.


"Apa kau memiliki alergi suatu makanan?" tanyanya sambil tetap fokus ke layar pipih ditangannya, sedangkan tangan yang lain tetap memainkan rambut Vallery.


"Tidak, aku makan semua. Kalau kau?" kata Vallery sambil beringsut, dia ingin merubah arah agar posisinya berbaring menyamping.


"Josh..." Vallery mencubit pinggang Josh dan Josh meringis sambil terkekeh geli.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Edward tidak bisa fokus dikantornya, seharian ini dia hanya memainkan ponsel dan berselancar di internet. Dia mencari bacaan penting yang bisa membuatnya tertarik. Dia mencoba mengalihkan pikirannya dengan membaca artikel-artikel bisnis, membaca tentang perputaran saham dan menelisik segala sesuatu yang terbaru mengenai property yang sedang naik daun di Negara mereka.


Sayangnya, semua kegiatan positif itu berakhir sia-sia karena tidak ada satupun topic yang bisa masuk kedalam otaknya. Sungguh pikirannya hanya memikirkan kebersamaan Vallery dan Josh malam tadi. Kemesraan mereka, tawa dan canda yang mereka tampilkan bukanlah kebohongan belaka. Ed tahu jika Vallery sudah mulai masuk semakin jauh kedalam hidup lelaki bernama Josh.


Ed tahu perasaannya bertepuk sebelah tangan, dia mengira Vall menolaknya karena statusnya yang sudah menjadi Kakak iparnya. Tapi dilain sisi, Ed meyakini jika saja statusnya adalah lelaki single, Vall pasti sudah bertekuk lutut padanya. Apalagi mengingat malam panass mereka, rasanya Ed tidak bisa melupakan itu begitu saja. Walaupun itu hanya terjadi satu kali saat dia mabuk, tapi makin hari ingatannya tentang malam itu semakin jelas dan dia benar-benar tidak bisa melupakan sang Adik ipar.


"Vall, kau pasti hanya ingin melupakanku. Lelaki itu hanya pelarian sakit hatimu. Ini kau lakukan untuk membuatku cemburu 'kan?" gumam Ed seraya mengelus dagunya sendiri. Dia duduk sambil menggerakkan kursi kebesarannya ke kiri dan kekanan, seolah tengah berpikir keras tentang perbuatan Vallery. Dia menyangkal jika Vallery menyukai Josh. Dia hanya mengakui jika Vallery adalah miliknya.


"Walaupun kau bersama lelaki itu, tapi kau adalah milikku, Vall." gumam Ed lagi.


Dia mengkhawatirkan Vallery yang dekat dengan lelaki seperti Josh, tapi dia lebih mengkhawatirkan jika Vallery tidak bisa bersama dengannya. Baginya, Vallery sudah dia miliki dan harus tetap menjadi miliknya. Tapi dia lupa, bahwa Alexa juga telah menjadi miliknya dan tidak mungkin dia lepaskan demi Vallery.


Haruskah dia memilih walau sebenarnya itu tidak pantas? Karena apapaun pilihannya, jawabannya akan tetap jatuh pada Alexa.


"Shitt!!!" umpatnya. Tiba-tiba dia memikirkan Alexa. Dia pun mengingat permintaan Vallery untuk terus mempertahankan rumah tangganya dengan Alexa.


"Bagaimana bisa aku tidak menaruh hati pada istriku sendiri." Edward bangkit dari duduknya, dia ingin menepis segala tentang Vallery walaupun sulit.


Mungkin dengan menjemput Alexa, dia akan mengalihkan perhatiannya sementara dari Vallery. Ed bergegas meninggalkan gedung perkantorannya. Ya, ya, ya. Dia harus memulai dengan Alexa. Dia merasa Vallery memang miliknya, tapi Alexa lah yang berhak memiliki dirinya seutuhnya. Alexa adalah istirnya.


Pikiran-pikiran seperti itu yang ditanamkan oleh Edward dikepalanya.


Alexa adalah istrinya.


Alexa adalah istrinya.


Alexa adalah istrinya.


Itulah kalimat yang terus didoktrinnya kepada dirinya sendiri disepanjang perjalanannya menuju gedung management tempat Alexa bekerja sebagai seorang Model.


Sesampainya digedung itu, Ed masuk dan langsung menuju tempat yang sebelumnya sudah dijelaskan oleh seorang Resepsionist sebagai ruang untuk pemotretan Alexa.


Edward pun tiba didepan ruangan yang katanya adalah studio itu. Tapi seseorang lewat, Ed pun bertanya pada orang itu.


"Permisi, apakah Alexa sedang berada didalam sana?" tanyanya sopan.


Wanita itu menoleh. "Mrs. Alexa sedang menemui tamunya di ruang privat. Anda siapa?" tanya orang itu sambil menyelidik ke arah Edward.


"Aku suaminya, aku ingin menjemputnya." kata Edward lugas.


"Oh, di ujung, ruangannya diujung sebelah kiri. Disana adalah ruang pribadi Mrs. Alexa, dia biasa akan menemui tamunya disana." jawab wanita yang Ed perkirakan seumuran dengan Alexa itu.


Ed mengangguk dan berterima kasih, lalu dia menuju ruangan yang dimaksudkan oleh wanita itu. Ruangan itu sendiri memang terletak diujung, tidak ada ruangan lain disana selain ruangan itu sendiri, itu cukup memudahkan Ed untuk menemukannya.


Sampai didepan pintu ruangan itu, Ed ragu untuk masuk begitu saja. Dia menghargai Alexa yang mungkin sedang bertemu seorang tamu penting. Perkiraan Ed mungkin itu adalah atasan atau orang penting terkait pekerjaan istrinya.


Saat Ed ingin mengetuk pintu, dia kembali ragu karena dia malah mendengar suara aneh. Dia tidak jadi meletakkan tangan di pintu untuk mengetuknya, melainkan dia malah mendobrak paksa pintu yang nyatanya tidak dikunci itu.


Hah!


Ed menggelengkan kepalanya berulang, saat menyaksikan sesuatu didepan sana yang ternyata diluar pikirannya bahkan diluar akal sehatnya.


Kedua orang didalam ruangan itupun sama pucatnya dengan wajah Ed saat ini ketika mendengar suara pintu yang terbuka.


"Alexa!!!" Suara Ed menggema memenuhi seluruh ruangan yang hanya berukuran 4x4 meter tersebut.