My Another Love

My Another Love
Hope



Di lain tempat, Vallery membantu Sophia berkemas, gadis itu benar-benar akan kembali ke rumah orangtuanya dan Vallery tidak bisa memaksanya agar tetap menemani di Apartemen, karena dia mengerti Sophia tidak bisa meninggalkan rumah orangtuanya begitu saja.


"Vall, aku minta maaf..." kata Sophia merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa, Sophi. Aku mengerti keadaanmu, lagi pula memang seharusnya kau tinggal disana. Kau masih memiliki rumah untuk pulang." lirih Vallery.


"Atau bagaimana jika kau juga ikut tinggal dirumahku?" tawar Sophia.


Vallery menggeleng. "No, aku tidak bisa membuat alasan lagi pada Kakakku. Lagipula dia mengira aku tinggal disini bersamamu, biarkan saja dia tahu seperti itu."


"Kalau dia tahu aku sudah pindah ke rumah, bagaimana?"


"Ya, mau tidak mau aku harus meninggalkan Apartemen ini dan ikut dia pulang kerumah. Dia tidak akan mengizinkan jika aku tinggal sendiri."


"Oh my... dan kau akan terjebak lagi pada pesona kakak iparmu itu?" Sophia memutar bola matanya.


"Entahlah..." lirih Vallery.


Mereka melanjutkan mengemas barang Sophia yang sebenarnya tidak terlalu banyak.


"Sophi, bagaimana hubunganmu dengan Justin?" tanya Vallery.


"Ehmm, kemarin aku bertemu dengannya. Dia-dia.. sepertinya sudah punya pacar baru." kata Sophia sendu.


"Pasti kau kecewa dan sakit hati.." kata Vallery mengelus pundak sahabatnya.


"Tidak terlalu, Vall." sanggah Sophia. "Uhm, yah... aku kecewa karena secepat itu. Tapi ini semua juga karena keputusanku. By the way, lelaki bukan cuma satu didunia ini." Sophia terkekeh kecil diakhir kalimatnya.


Vallery mengangguk-angguk, ternyata Justin memang tidak seserius itu pada Sophia, berarti Sophia mengambil jalan yang tepat saat memutuskan hubungan mereka sebelum Justin mengetahui Aib-sahabatnya itu.


"Vall, bagaimana dengan Josh?"


"Bagaimana apanya?" Vallery mengendikkan bahu. "Tidak ada apapun diantara kami."


Gadis dihadapan Vallery menggeleng samar. "Apa kau tidak berniat meneleponnya? Kau bilang banyak panggilan tidak terjawab darinya di ponselmu?" imbuh Sophia.


"Aku tidak mengerti kenapa Josh mendekatiku, dia sangat manis setelah aku berhasil menebak isi kepalanya. Tapi dia sendiri tidak pernah mengakui perasaannya padaku." kata Vallery seraya menerawang jauh mengingat momen-nya bersama Josh.


"Kau bilang dia sangat manis, lalu apa sebuah pengakuan sangat penting bagimu? Come on, Vall. Nikmati saja kebersamaan kalian tanpa pengakuan apapun. Itu tidaklah penting."


"Mungkin tidak bagimu, tapi bagiku itu perlu. Aku butuh kejelasan. Aku tidak suka bermain-main perasaan, itu akan membuatku terjebak dan sulit keluar dari dalamnya. Jika memang dia hanya bermain-main lebih baik tidak usah." tegas Vallery.


Sophia mengendikkan bahu. "Hidupmu sangat datar, Sayang. Tidak ada laki-laki seusia Josh yang mau menjalin hubungan serius, pastilah dia hanya bermain-main saja." pancing Sophia dengan terkikik geli.


"Ya, ya, ya, kau benar. Untuk itulah aku tidak mau menerima perlakuan manisnya."


Sophia menggeleng. "Kau menipu dirimu sendiri. Secara tidak langsung, kau menyalahkan Josh, padahal kau sendiri yang tidak bisa membuka hati untuk orang lain. Dikepalamu hanya ada Edward kan?"


"Apa itu yang kau tebak dari isi kepalaku?"


"Huum..." Sophia mengancing kopernya dan menarik handle koper sampai ke depan lorong.


Vallery berjalan dibelakangnya sambil meneruskan percakapan mereka.


"Apa suatu saat Josh bisa memikirkan kembali soal mainannya ini?"


"Maksudmu?"


"Ya, dipikirkan kembali.. jangan hanya menjadikanku mainan."


Sophia terkekeh. "Apa itu artinya kau memang berharap Josh menjalin hubungan serius denganmu?"


Vallery mengangguk cepat.


"Jangan banyak berharap. Tapi aku mendoakanmu semoga berhasil, teman.." ucap Sophia dengan nada yang dilebih-lebihkan.


"Vall, seharusnya kau sadar bahwa kau sudah berharap besar pada Josh. Tapi kau menyangkalnya sendiri." batin Sophia.


"Terima kasih, berdoalah untukku, agar ada seseorang yang mau menerima kondisiku." kata Vallery sambil mengulumm senyum.


"Dan seseorang itu adalah Josh?" tebak Sophia dengan nada menggoda.


"Hemmm.." Vallery mengangguk seraya menyelipkan rambutnya disamping telinga dan Sophia tergelak melihat tingkah Vallery itu. Dia semakin yakin jika Vallery sudah mulai membuka hati untuk Josh dan dia merasa senang untuk itu.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Suara dentuman musik, kilatan cahaya lampu dan asap rokok yang menguar ke udara. Itulah deskripsi suasana yang saat ini sedang dinikmati oleh Josh, dia sedang berada di salah satu Club malam di Rusia, ditemani oleh dua rekannya, Jasper dan Verga. Serta seorang Asisten yang setia yaitu Dimitri.


"Untuk apa kau kesini jika hanya untuk melamun, Man?" ucap Verga sambil tergelak, dia menyindir Josh yang hanya memainkan cairan kehitaman digelas dengan cara menggoyang-goyangkannya pelan.


"Dia sudah lama tidak bertemu kita. Aku pikir setelah bertemu lagi dengannya, dia sudah waras! Ternyata dia semakin gila." timpal Jasper sambil terkekeh. Jasper pun merangkul seorang wanita yang duduk disisinya.


"Stop! Breng-sek!" umpat Josh geram melihat tingkah Verga. Bukannya marah, Verga malah tertawa terbahak-bahak melihat rahang Josh yang mengeras. Begitupula dengan Jasper.


"Come on, Josh. Apa tidak ada yang menarik disini?" kata Jasper, ucapannya mengarah pada wanita-wanita yang ada disekitar mereka.


"Untukmu saja. Aku tidak tertarik sama sekali." kata Josh dengan nada datar.


"Dimitri, pesankan tiket pulangku besok!" titahnya pada sang Asisten.


"Pulang, Sir?" tanya Dimitri heran karena Josh sudah empat hari di Rusia.


"Ya, ada masalah dengan itu?" tanyanya pada Dimitri.


"Bukankah Anda baru pulang empat hari yang lalu. Maksud saya, bukankah ini adalah kepulangan Anda. Lalu pulang kemana yang Anda maksud?"


"Bodoh!" umpat Josh. "Maksudku tiket kembali ke Texas.." sambungnya dan Dimitri mengangguk cepat.


"Dia sudah punya tempat pulang yang baru, Man." celetuk Verga pada Jasper merujuk pada percakapan Josh dan Dimitri.


"Kalian bisa diam tidak?" senggak Josh.


"Tidak..." jawab Verga dan Jasper bersamaan membuat Josh mendengus keras.


Kedua temannya itu malah terkekeh satu sama lain setiap Josh menunjukkan sikap tidak senangnya.


"Kau punya nyawa berapa?" tanya Josh pada Verga.


"Untuk apa kau tahu nyawaku, Man? Nyawaku ini ada sembilan. Aku keturunan wolf." kelakar Verga dengan bangga.


Mendengar itu, Jasper terkekeh nyaring sementara Josh tersenyum miring. "Karena kau selalu mengejekku, nyawamu sekarang tinggal delapan. Kau akan ku bunuh jika nyawamu tinggal satu! Aku tidak peduli kau keturunan serigala atau apa." timpal Josh membuat mata Verga mendelik.


Jasper semakin terkekeh mendengar Josh yang beradu argumen dengan Verga.


"Kau sendiri, nyawamu ada berapa?" tanya Josh dengan nada serius beralih pada Jasper.


Jasper terdiam secara tiba-tiba, tawanya hilang. Dia menelan salivanya berat, tidak mungkin dia menjawab hal yang sama dengan jawaban Verga. "Nyawaku hanya ada satu, jangan membunuhku karena kau tidak akan menemukan teman sepertiku dibelahan bumi manapun." kata Jasper dengan raut wajah memohon yang terkesan dibuat-buat.


Josh terkekeh kencang. "Karena nyawamu hanya ada satu dan itu cukup membuatku iba, maka kau ku lepaskan hari ini. Besok-besok kau pasti akan ku kuliti..." kata Josh sambil menyesap minumannya.


Ketiga orang itu terkekeh kemudian, karena semua ucapan mereka adalah lelucon yang berulang kali diucapkan oleh mulut-mulut yang sama.


"Apa kau tidak mau ditemani oleh temanku?" wanita yang duduk disamping Jasper mulai bersuara pada Josh karena suasana sudah tidak seteg*ang tadi.


"Sudah ku bilang aku tidak tertarik." jawab Josh acuh. "Tawari saja padanya." Josh menunjuk Verga dengan dagunya.


"Aku tidak akan menolak." kata Verga sambil mengeluarkan senyuman mautnya. "Wait, setelah ini.." sambungnya, merujuk pada rokok yang masih terselip dijarinya.


"Bro, apa kau yakin tidak mau bersenang-senang? Kau terlihat banyak pikiran?" tanya Verga setelah kepergian Jasper bersama wanitanya.


Josh menggeleng. Dia tidak tertarik lagi, pertemuan kembali dengan Vallery membuatnya malas bermain-main. Vallery yang sekarang adalah gadis dewasa, bukan remaja seperti pertama kalinya dia bertemu. Dan sekarang, Josh hanya menginginkan Vallery bukan yang lainnya.


"Apa kau benar-benar akan kembali ke Texas besok? Apa ada yang menarik disana?" tanya Verga lagi. Dia mematikan api rokoknya yang telah habis di sebuah asbak.


"Ya, besok aku harus kembali karena disini tidak nyaman lagi." kata Josh.


"Apanya yang tidak nyaman? Disini sangat nyaman dan banyak wanita cantik." kata Verga seraya bangkit dari kursinya karena wanita pesanannya sudah datang.


"No! Milikku lebih menarik." kata Josh aambil menyeringai.


"Well, kapan-kapan kenalkan aku padanya." sahut Verga dengan senyum nakal seraya ingin beranjak.


"Tidak, tidak! Jangan berniat menyinggung milikku, atau nyawamu akan berkurang lagi menjadi tujuh." ancam Josh tapi Verga tergelak.


"Oke Man, nikmati harimu!" Verga menepuk-nepuk pundak Josh lalu dia berlalu begitu saja.


Josh menatap Dimitri yang diam ditempatnya tanpa ada kata apapun. "Sudah kau pesan tiketku?" tanya Josh.


"Sudah, Sir." sahut Dimitri.


"Pesan satu lagi sekarang, kau ikut denganku ke Texas." Dimitri terdiam, tidak melakukan apapun yang Josh pinta.


"Jangan banyak melamun, kau akan bertemu Adikku juga disana. Bukankah kau senang?" ejeknya. Dia tahu Dimitri menyukai Adik tirinya.


"Ba-baik, Sir." ucapnya gugup.


"Tapi jangan banyak berharap, dia memiliki kekasih disana. Usahamu mungkin akan sia-sia." imbuh Josh dengan nada mencibir.


Dimitri hanya bisa mengatupkan mulutnya tanpa bisa membantah ucapan Josh yang mengejeknya. Dia hanya bisa membalas ucapan atasannya itu didalam hati saja, walau sebenarnya ucapan Josh cukup membuatnya jengkel karena membayangkan gadis yang dia sukai sudah memiliki kekasih.


...To be continue ......