My Another Love

My Another Love
A Big Mistake



Entah sejak kapan lelaki itu berdiri dibelakangnya, Vallery tidak menyadarinya.


"K-kak.." suara Vallery tercekat saat tiba-tiba Edward merengkuhnya kedalam dada bidang lelaki itu. Vallery meneguk salivanya, dia mendadak kehausan lagi sekarang. Dia tidak bisa protes atau bersuara. Ditengah kegelapan yang hanya diterangi beberapa berkas cahaya, dia dipeluk oleh Edward. Dan parahnya ini adalah di dapur.


Vallery mendorong dada Edward karena rasanya dia sulit bernafas, Edward mendekapnya dengan sangat erat sampai Vallery tidak bisa mengeluarkan protesnya.


Atau memang dia menikmati ini?


Keduanya terdiam, seolah-olah sedang meresapi apa yang kini mereka lakukan. Vallery bisa merasakan tangan Ed mengelus-elus rambut belakangnya pun seperti mengelus punggungnya.


"Apa kau mendengarnya?" bisik Ed pelan dan sangat lembut.


Vallery mendongak untuk menatap mata Edward. "Apa?" tanyanya lirih.


"Degup jantungku." jelas Ed. Vallery pun mengangguk, jelas saja dia mendengar degup jantung Ed yang sangat kencang. Selain ruangan dan keadaan yang memang hening, posisi telinga Vallery tadi jelas-jelas sangat tepat berada di depan dada Edward.


"Vall.." suara Ed melirih, dia meraih kedua pipi Vallery agar Vallery kembali mendongak ke arahnya, secara otomatis kepala Vallery pun mengadah kepada Edward dan tiba-tiba Edward mengecup sekilas bibir Vallery yang sangat dirindukannya.


Hanya sekilas dan Ed melepaskan kecupan itu. Vallery menghela nafas kecewa. Kenapa dia kecewa?


Sebenarnya Vallery terkejut akan tindakan Ed tapi entah kenapa dia justru menginginkan ciuman itu berlanjut menjadi lebih intens.


Ed menatap manik mata Vallery, seperti membaca keinginan gadis itu lewat sorot matanya. Secara perlahan-lahan, tangannya membuka ikatan jubah Vallery dan meloloskan jubah itu dari tubuh yang mengenakannya. Jubah itupun langsung melorot ke lantai.


Vallery tersadar dengan apa yang dilakukan Ed. "Kak, apa yang kau--" ucapan Vallery tidak berlanjut karena Ed membungkam mulutnya dengan bibir Ed. Vallery ingin marah tapi dia pun terbuai. Bukankah ini yang tadi dia harapkan? Ciuman yang intens?


Saat mulut Vallery terbuka karena ingin protes kembali, saat itulah Ed menelusupkan lidahnya kedalam mulut hangat milik Vallery.


Vallery merasakan hal aneh menerjangnya. Ciuman ini berbeda dari rasa sebelumnya. Jika diwaktu lalu Ed menciumnya dengan paksaan dan tentu saja tanpa balasan dari Vallery, kali ini berbeda. Ed mencium Vallery dengan kelembutan dan penuh perasaan.


Lidah Ed bermain didalam mulutnya, menjelajahi kehangatannya, meng ulum, melumatt, menyesapp dan sesekali mengingit kecil bibir bawah Vallery.


"Nghh..." de sah Vallery disela-sela ciuman mereka. Itu sudah terjadi beberapa menit dan tidak ada diantara mereka yang mau melepaskan.


Menyadari tidak ada penolakan lagi dari Vallery, Ed pun mulai menurunkan kedua tali piyama Vallery dari bahu mulusnya. Membuat tubuh Vallery benar-benar terekspos dihadapan Ed sekarang karena piyamanya sudah tergulung di bagian perut dan hanya menyisakan celana pendek yang tipis dibagian bawahnya.


Ed melepas pagu tannya di bibir Vallery, menatap nanar tubuh Vallery yang hampir te lan jang karena ulahnya. Dia tersenyum simpul dan menatap mata Vallery seolah meminta izinnya. Vallery sendiri masih mengatur deru nafasnya yang tidak teratur akibat ciuman mereka barusan.


Vallery tersadar jika Ed meminta persetujuannya, dia membalas tatapan mata Edward tanpa keraguan.


Mendapat selah, Ed langsung mengecupi bahu te lan jang Vallery yang disambut dengan remassan Vallery di rambutnya. Dia beralih ke leher jenjang gadis itu, memainkan lidahnya disana. Vallery pun menge rang nikmat.


Semua terjadi begitu saja dan tidak ada penolakan dari siapapun, seolah-olah mereka sama-sama menginginkannya.


"Vall, aku menginginkanmu.." kata Ed dengan deru nafasnya yang sudah tak bisa dikendalikan. Tangannya sudah bermain di bo kong Vallery, mengusap-usapnya pelan dan menepuknya tidak sabar.


Vallery yang sudah diliputi ga irah, hanya mengangguk tatkala Ed menyambar bibirnya seketika. Ed membawa tubuh Vallery ke ujung ruangan. Mendorongnya bersandar pada tembok dinding tanpa melepas ciuman mereka.


Tangan Ed perlahan-lahan mulai naik ke dada Vallery, mengeluarkan sesuatu yang masih terbungkus tanpa melepas pengaitnya. Ed melepas ciumannya untuk menatap sesuatu yang sudah muncul ke permukaan, dia ingin melihatnya secara nyata dan dalam kondisi sadar.


"Vall, katakan kau juga menginginkanku." bisik Ed tepat ditelinga Vallery. Tangannya mulai bermain ditempat barunya.


"A-aku..." Vallery tidak bisa melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba dia terbayang wajah Kakaknya, Alexa. Vallery mendorong wajah Ed yang sudah hampir menyentuh dadanya, membuat Ed menatapnya bingung.


"Ada apa, Vall?" tanya Ed, dia mulai menyadari jika Vall menolaknya.


Vallery menggeleng, dia gegas merapikan penampilannya, membuat Ed mengernyit.


"Hei, apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan, Vall?" tanya Ed menuntut penjelasan.


Vallery memungut jubahnya dilantai dan dia menyahuti Edward. "Kak, seharusnya aku yang bertanya. Apa yang sudah kau lakukan? Apa yang sudah kita lakukan? Ini kesalahan besar!" sentak Vallery.


Edward mendengus saat Vallery memakai jubahnya kembali dan bergerak menjauh darinya.


"Vall..." panggilnya.


Vallery tetap melangkah meninggalkan Ed tanpa sepatah katapun lagi. Ed merutuki dirinya. Dia tidak kuasa menahan saat melihat keberadaan Vallery didapur tadi. Ed tidak bisa tidur dan dia mau mengalihkan pikirannya dari Vallery, dia ingin mencari camilan didapur dan akan menonton siaran sepak bola. Taoi siapa sangka, dia malah bertemu gadus itu di dapur. Gadis yang selalu membuatnya banyak berpikir akhir-akhir ini.


"Shiittt!! Seharusnya aku bisa mengendalikan diriku." maki Edward pada dirinya sendiri.


Ed sendiri tidak tahu kenapa dia bisa senekat itu berbuat pada Vallery, jika Vallery tidak menghentikannya tadi, maka bisa dipastikan dia tidak mau berhenti sebelum pelepasannya tercapai.


"Aku bahkan melakukannya di dapur!" Ed mengusap wajahnya sendiri.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


Vallery tiba dikamarnya, airmatanya luruh begitu saja. Dia melihat Sophia yang bergerak-gerak. Vallery tidak menghiraukannya, dia malah terduduk dibelakang pintu.


"Kenapa denganku? Kenapa aku harus melakukan semua ini?" kata Vallery lirih.


"Kau kenapa, Vall?" Sophia memposisikan dirinya agar terduduk. Dia mendengar suara tangis Vallery dan sejak tadi dia sudah tidak nyenyak tidur.


Sophia beranjak, menuju kearah Vallery yang terduduk. "Kalau tidak apa-apa kenapa kau menangis? Ada apa? Ceritakan padaku, hmm?" tanya Sophia lembut.


Vallery menggeleng. Dia terlalu mslu untuk jujur pada Sophia.


"Tak apa jika kau belum mau bercerita. Ayo sekarang kembali tidur." kata Sophia mengarahkan tubuh Vallery ke arah ranjang.


Vallery berusaha memejamkan matanya walaupun pikirannya kalut. Dia menyesali apa yang sudah terjadi didapur tadi. Dia benar-benar merasa bahwa dia telah menghianati kakaknya.


Sophia tidak memaksa Vallery lagi agar bercerita, dia memutuskan akan mendengar cerita Vallery jika gadis itu sendiri yang siap untuk menceritakannya.


"Sophi..." lirih Vall masih dengan suara seraknya.


Sophia yang hendak memejamkan matanya pun kembali membuka mata.


"Hmm?"


"Sophi, aku ingin ikut tinggal denganmu di Aprtemen." kata Vallery membuat mukut Sophia menganga tak percaya.


"Kenapa? Ehm, maksudku apa yang terjadi, kenapa mendadak?"


"Aku tidak bisa tinggal disini lagi. Aku harus menjauhi Ed." kata Vallery.


Sophia mengangguk. Ia mengerti bersrti beberapa waktu lalu Vall bertemu dengan Ed dan entah apa yang terjadi diantara mereka berdua.


"Baiklah, Josh pasti akan mengizinkanmu. Aku senang jika harus tinggal bersamamu, Vall." kata Sophi tulus.


Vallery memeluk sahabatnya, kemudian dia menangis lagi. Sophia berusaha menenangkan gadis itu.


"Kau masih tidak mau cerita padaku? Masih kuat memendamnya?" tanay Sophia.


Vallery menghela nafasnya sejenak, lalu dia menatap mata Sophia serius.


"Kau harus berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun!"


Sophia mengangguk. "Come on, Vall! Bahkan kau pun tahu aibku. Bagaimana bisa aku menceritakan tentangmu pada orang lain." kata Sophia.


Vallery pun menceritakan awal permasalahannya dengan Ed. Mulai dari malam pertamanya bersama Ed dan berakhir dengan kejadian yang barubterjadi di dapur tadi.


Sophia shock dan terperangah. "Aku pikir kalian memang ada Affair, tapi aku tidak menyangka awalnya seperti itu." ucapnya.


Vallery kembali menangis, bahkan semakin menjadi-jadi.


"Lalu, apa yang harus ku lakukan?"


"Kau mencintainya?"


"Aku tidak tahu."


"Jika kau memang memiliki perasaan padanya, enyahkan itu Vall. Dia milik Alexa." ujar Sophia mantap.


Vallery mengangguk. "Aku tahu. Aku yang tidak tahu malu. Aku adik tidak tahu diri." isak Vall.


"Sudahlah, Vall. Keputusanmu bersama Josh adalah keputusan yang tepat. Apa kau tidak tertarik pada Josh?"


"Aku tertarik padanya tapi dia sepertinya hanya ingin mempermainkanku."


Sophia menggeleng. "Justru Ed yang mau mempermainkanmu, Vall. Dia sudah punya istri dan itu kakakmu sendiri." Kata Sophia bijak.


Vallery kembali mengangguk.


"Setidaknya, jika Josh mempermainkanmu, dia adalah lelaki lajang." imbuh Sophia.


"Apa dia mau menerimaku dengan kondisiku ini?"


"Tentu saja, apa ada masalah dengan itu? Kau pikir yang mau padamu hanya Edward saja? Tidak, tidak..aku tidak setuju." Jawab Sophia cepat.


"Meskipun dia yang mengambil kegadisanmu. Tapi bukan berarti hidupmu harus berhenti sampai disitu. Jalanmu masih panjang."


"Kenapa kau yakin sekali?" tanya Vallery bingung.


"Buktinya aku, aku sudah melepaskan Justin. Bahkan Justin juga lelaki pertama untukku. Tapi itu untuk kebaikan kami. Aku juga tidak mau Justin dalam bahaya karena sekarang aku harus fokus menyelamatkan diriku sendiri." cecar Sophia.


"Yah, kau benar. Tapi, aku juga salah jika harus melibatkan Josh dalam masalahku. Aku takut menjadikannya pelarian."


"Sudahlah, jalani saja. Jangan banyak dipikirkan. Sekarang kita tidur." ajak Sophia.


...To be continue ......