
Josh menelepon ke nomor Vallery tapi ternyata ponselnya ada di atas nakas kamarnya.
"Sial! Kemana dia!" Josh bergerak lagi kesana-kemari dan dia baru menyadari jika dia belum melihat ke lantai atas, dimana ada kolam renang privat.
"Astaga..." Gerutu Josh seraya melangkah menaiki anak tangga secara tergesa-gesa.
Josh menghela nafas lega, melihat air kolam renang yang beriak-riak kecil, menandakan ada seseorang didalamnya. Dia memperhatikan lebih detail, ternyata memang Vallery sedang berenang disana.
"Oh God, aku terlalu berlebihan!" Josh mengumpat dirinya sendiri didalam hati.
Josh berjalan mendekat, dia berjongkok di bibir kiolam renang. "Vall !!!" serunya.
Vallery yang tidak menyadari kehadiran Josh terus berenang ke arah yang berlawanan. Sesekali kepalanya muncul untuk mengambil nafas. Josh tersenyum kecil melihatnya.
Saat Vallery berbalik arah dan siap untuk menyusuri kolam dengan keahlian berenangnya lagi, matanya menangkap sosok lelaki yang ada dipinggiran kolam renang.
"Josh ..." wajah Vallery memerah diantara bulir-bulir air yang membasahinya. Dia begitu malu diperhatikan Josh dalam keadaan begini.
"Kemarilah..." kata Josh seraya melambaikan tangan diseberang arah.
Vallery menggeleng, dia berlutut didalam air agar tubuhnya yang hanya mengenakan baju renang two pieces, tidak terekspos dipenglihatan Josh. Kini, hanya kepalanya yang nampak dimata Josh sedang seluruh tubuhnya tenggelam didalam air.
"Astaga sejak kapan dia disana? Aku malu dia melihatku dalam keadaan begini?" batin Vallery yang berkata-kata, membuat wajahnya sendiri semakin merona kemerahan.
Josh menggeleng pelan melihat tingkah Vallery, dia kemudian bergerak menuju tempat berbilas diujung sana, mengambil sebuah bathrobe lalu melangkah mendekati Vallery yang masih didalam kolam.
"Sudah mulai sore, nanti kau kedinginan. Naiklah, dan pakailah ini. Aku akan menunggumu." kata Josh lembut.
Vallery menerima handuk jubah itu dari Josh. Josh pun beranjak dari area kolam renang, lalu duduk dikursi santai yang terletak diujung.
Vallery segera naik dari kolam renang, dengan sangat tergesa-gesa dia membalut tubuhnya dengan bathrobe dan berjalan menuju tempat berbilas.
Sedangkan Josh, dia berbaring dikursi santai dengan tangannya sebagai bantalan. Memejamkan matanya sejenak dengan pikiran yang melanglang buana.
Tak berapa lama, Vallery datang menghampirinya, dia sudah berbilas tapi masih menggunakan bathrobe dengan rambut yang tergerai basah.
Josh menelan salivanya dengan berat, naluri kelelakiannya benar-benar diuji saat melihat Vallery dengan penampilan ini. Rasanya dia ingin menyantap Vallery sampai habis saat ini juga, tapi disatu sisi cintanya pada gadis itu lebih besar daripada nafsu bejadnya.
"Josh--"
"Vall, bisakah kau berpakaian dulu!" titah Josh karena dia takut melewati batasannya dan malah akan menyakiti Vallery.
"Y-yah, aku juga mau mengatakan itu. Aku akan ke kamar dulu. Kau mau menunggu?"
Josh mengangguk seraya membuang pandangannya ke arah lain.
Setelah menunggu hampir 15 menit, akhirnya Vallery kembali muncul dengan pakaian lengkap. Kaos longgar berwarna dark grey dan celana pendek putih selutut. Penampilan yang sederhana tapi....
"Vall, kau selalu cantik." gumam Josh.
"Kenapa?" tanya Vallery yang samar-samar mendengar gumaman lelaki disampingnya itu.
"Tidak ada, kenapa tidak mengeringkan rambutmu?" tanya Josh yang heran melihat Vallery masih dengan rambut basahnya.
"Aku takut kau menunggu terlalu lama." Vallery terkekeh kecil.
"Ayo kita turun, udara disini mulai dingin, itu tidak baik untuk kesehatanmu." kata Josh seraya menarik tangan Vallery.
Vallery menurut dan beriringan dengan Josh menuruni tangga.
"Aku bantu kau mengeringkan rambut. Mana handuknya?" tanya Josh saat tiba di depan kamar.
Vallery mengambil handuk kecil yang tergantung didekat kamar mandi, menyerahlan pada Josh dan Josh menggosok rambut Vallery dengan lembut untuk membuat rambutnya cepat kering.
"Apakah kau tidak punya hairdryer?" tanya Josh.
Vallery tersenyum seraya merasakan rambutnya yang digesekkann ke handuk oleh Josh. "Tidak punya, dirumahku ada tapi itu punya kakakku." jelasnya.
"Aku akan membelikannya untukmu. Biar Dimitri punya pekerjaan tambahan." imbuhnya.
Vallery tegelak. "Itu namanya bukan kau yang membelikannya, tapi Dimitri lah yang membelikannya untukku."
"Tidak, itu pakai uangku. Berarti aku yang membelikannya." sanggah Josh cepat.
"Kau ini!" Vallery mendesis. "Lagi pula, untuk apa punya hairdryer kalau dikeringkan dengan tanganmu jauh lebih baik dan sehat." jawabnya sambil merasakan tangan Josh yang mulai memijat kepalanya pelan.
"Apa ini enak?" tanya Josh mengarah pada pijatannya.
Vallery mengangguk. "Sepertinya kau alumni dari sekolah salon." ejek Vallery dan Josh terkekeh kecil.
"Kau tidak bilang mau kesini saat meneleponku tadi. Jadi aku berenang saja."
"Aku mau membuatmu terkejut, nyatanya aku yang terkejut karena tidak menemukanmu dimanapun." jawab Josh panjang lebar.
"Begitukah?" Vallery berbalik dan menatap mata Josh. "Memangnya aku mau kemana? Aku tidak suka berkeliaran." jawabnya jujur.
Josh mengangguk, dia sudah menghentikan aktifitasnya. "Aku yang terlalu berlebihan." katanya lesu.
"Aku selalu mengkhawatirkanmu, dari dulu sampai saat ini." batin Josh.
Josh tidak mampu mengutarakan rasa khawatirnya yang terlalu berlebihan pada Vallery, dia hanya bisa mengangguk atas ucapan yang Vall katakan.
"Josh, ada yang ingin kau tanyakan?" kata Vall saat melihat Josh tidak berkedip saat menatapnya.
"Ehm, bolehkah aku tahu siapa laki-laki yang bertemu denganmu di cafe tempo hari?" Josh menanyakan sesuatu yang cukup membuatnya penasaran beberapa hari ini.
Vallery tampak berpikir sejenak, "Oh itu Steve..." jawabnya.
"Steve? Steve, siapa?" tanya Josh.
"Dia, dia lelaki yang kau pukul di Club.." lirih Vallery.
Mendengar itu, Josh bangkit dari duduknya. "Untuk apa dia menemuimu, Vall? Kenapa kau bertemu lagi dengannya?" tanya Josh dengan intonasi suara yang naik.
Vallery menggeleng. "Josh, jangan salah paham. Dia-dia hanya meminta maaf padaku dan mentraktirku minum di cafe itu." jelas Vallery seraya memegang kedua lengan Josh.
Josh mendengus. "Dia mendekatimu, Vall !!! Dia punya ambisi lain padamu!" cecar Josh dengan penuh emosi.
Vallery terdiam, dia melihat kemarahan dimata Josh. Dia segera menggeleng. "Tidak, Josh. Dia tulus meminta maaf." jelasnya.
Josh berdecak lidah. "Vall, percayalah padaku! Dia punya maksud tertentu padamu. Aku bisa melihatnya. Dia dan Edward sama saja!" jawabnya sambil mendengus keras.
"Lalu, apa kau juga sama seperti mereka? Punya maksud tertentu padaku?" tanya Vallery, matanya menatap serius pada mata kehijauan milik Josh.
Josh menghela nafasnya pelan. "Ya, tentu aku punya maksud padamu, Vall." lirihnya.
"Apa?"
Josh menggenggam tangan Vallery. "Mungkin ini terlalu cepat untukmu, but ... I love you, Vall." lirihnya.
Vallery bangkit dari duduknya, apa dia tidak salah dengar, jika Josh mengatakan soal cinta sekarang? Memang mereka sepasang kekasih sekarang, tapi bukankah ini terlalu cepat? Vall justru mengira jika Josh hanya bermain-main padanya, walaupun Vallery lah yang meminta kejelasan dalam hubungan mereka. Dan lagi, Josh mengatakan jika mereka adalah sepasang kekasih dengan sangat enteng waktu itu. Bukankah itu artinya Josh tidak seserius itu?
"Kau terlalu cepat menyimpulkan perasaanmu, Josh. Mungkin kau salah mengartikan kebersamaan kita."
"Kau yang ingin kejelasan dari kebersamaan kita, 'kan? Apa kau pikir, saat aku mengatakan jika kau adalah kekasihku itu semua hanya main-main?" cecar Josh dengan mata yang lekat menatap gadis itu.
Vallery mengangguk. "Aku rasa kau memang mau bermain-main, Josh. Usiamu masih muda dan mungkin kau sama saja dengan Steve, hanya menganggap ini--"
"Cukup Vall, jangan samakan aku dengan dia. Aku sudah mengakui perasaanku, walaupun kau menganggap ini main-main. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau mencintaiku? Atau kau mencintai Edward?" suara Josh melembut, dia tertunduk dan memijat pelipisnya sendiri.
Hening ...
Tidak ada yang bersuara lagi diantara mereka. Vallery tidak menjawab pertanyaan Josh dan Josh mengartikan jika gadis itu memang memiliki rasa terhadap Kakak Iparnya.
Josh melirik sekilas ke arah Vallery, dia bangkit dan pergi begitu saja dari hadapan gadis itu tanpa sepatah katapun. Rasanya begitu sakit saat tahu jika gadis yang selama ini dia cintai ternyata menyukai orang lain.
Josh sudah menyiapkan ini jauh-jauh hari. Diawal kedatangannya ke kota ini lagi, dia bertekad untuk mencari keberadaan Vallery, jika memang Vallery sudah terikat dengan oranglain atau memiliki hubungan serius dengan lelaki, dia sudah berjanji tidak akan mengganggunya. Dia hanya ingin mengetahui kabar gadis yang pernah menolongnya dan membuatnya jatuh hati. Dia tidak ingin mengusik hidup Vallery jika memang gadis itu sudah memiliki pendamping.
Sayangnya, Josh tidak menemukan kedekatan Vallery dengan lelaki lain dan dia pun mulai mendekatinya. Tapi, justru dia menemukan fakta baru setelah dia mendekati gadis itu. Vallery ternyata mencintai Kakak Iparnya sendiri. Haruskah Josh merelakan gadis yang sudah dicintainya secara berlarut-larut ini?
"Josh ... jangan pergi," lirih Vallery dibelakang Josh, dia mengikuti langkah lebar lelaki itu dengan berlari-lari kecil.
"Jangan mengejarku, Vall." kata Josh dengan nada dingin.
Vallery menghentikan langkah. Entah kenapa melihat Josh seperti ini membuatnya ikut merasakan sakit hati.
"Josh, aku tidak mencintai Kak Edward... justru aku membencinya!" Vallery akhirnya meneteskan airmata.
Josh terdiam. Dia menghentikan langkah tepat didepan pintu keluar. Dia tidak menoleh untuk melihat Vallery, dia hanya diam berharap Vallery menjelaskan kata-katanya sejelas mungkin.
"Awalnya aku mengira, aku memang memiliki perasaan lebih untuknya, tapi itu semua terjadi karena satu kesalahan."
"Setelah aku membuka hati untukmu dan kau mengisi hariku dengan kebersamaan kita, aku mulai merasa berbeda, Josh ...," lirihnya.
Josh bergeming, dia mendengar Vallery terisak tak jauh dibelakang tubuhnya. Dia menunggu kejelasan lain dari mulut gadis itu. Tidak pergi dari sana dan tetap diam.
"Aku tidak tahu apa arti mencintai, karena aku tidak pernah jatuh cinta. Aku pikir aku menyukai Kak Edward, tapi aku tidak pernah menginginkan dia untuk menjadi milikku, sedangkan denganmu..." Vallery menjeda ucapannya. Dia ingin menyentuh punggung Josh tapi dia ragu untuk melakukannya.
"Aku ingin memilikimu, Josh." Vallery mendekap tubuh Josh dari belakang. Dia memeluknya dengan erat.
Mata Josh membola, dia tidak pernah menyangka perlakuan Vallery akan seperti ini terhadapnya. Gadis yang sulit dia dapatkan, gadis yang tertutup, gadis yang tidak banyak bicara, hari ini mengeluarkan seluruh isi hatinya dan mendekap tubuhnya sambil menangis dan mengatakan ingin memilikinya.
Hah!! Kemarahan, kekecewaan, sakit hati didalam dirinya berangsur-angsur menghilang.
Mendengar ucapan gadis itu, mencernanya dan memahami semua yang dia katakan, membuat Josh menggenggam tangan Vallery yang berada diperutnya.
"Apa itu artinya aku telah mencintaimu, Josh?" tanya Vallery.
Josh mengangguk. "Miliki lah aku, Vall ... I'm yours.." kata Josh menekankan kata-katanya.
Dia membalik badannya dan menatap Vallery yang masih menangis.
...To be continue ......