My Another Love

My Another Love
Lie



"Vall ..."


"Yah?"


"Maafkan aku," kata Josh dengan lirih.


Vallery mengernyit dan tak paham kenapa Josh harus meminta maaf padanya.


"Kenapa?" tanya gadis itu.


Josh meraih tangan Vallery dan membawanya duduk di sofa. Vallery semakin kebingungan dengan sikap Josh.


"Untuk kedepannya, aku tidak bisa kesini lagi." kata Josh.


"Kenapa? Disini tidak masalah." jawab Vallery dengan ke-cuek-an-nya seperti biasa.


"Ya, aku tahu ... tapi--aku memang tidak bisa kesini lagi." Josh ragu mengutarakan niatnya pada Vallery.


"Kenapa? Kau mau kemana? Kau membuatku bingung." Vallery bangkit dari duduknya, dia malas membahas pembicaraan yang ujungnya justru akan melukai hatinya.


Jika memang Josh mau meninggalkannya dan tidak mau datang kesini lagi, Vallery tidak tahu harus melakukan apa untuk bisa mencegahnya. Membayangkan Josh yang akan segera meninggalkannya, hatinya mendadak perih, dia mengira Josh benar-benar tidak akan menemuinya lagi. Mungkin Josh sudah muak dengannya.


"Aku tidak akan kemana-mana. Aku sudah bilang jika aku hanya tidak bisa kesini lagi," ujar Josh dengan hati-hati.


"Why? Beri aku alasannya! Kau muak denganku? Jika iya, bilang saja!" sergah Vallery dengan raut wajah kecewa.


Josh menggeleng, dia melihat raut kekecewaan diwajah gadisnya.


"Baby, aku--tidak begitu ..." Josh menghela nafasnya, dia menangkup kedua sisi wajah Vallery.


"Bukan itu maksudku. Aku tidak bisa terus kesini karena suatu hal. Disisi lain, aku juga tidak bisa jika tidak melihatmu, jadi--jadi aku ingin kau ikut tinggal di Apartemenku yang satunya. Bersamaku! Karena aku ingin terus bersamamu. Jangan berpikiran jika aku muak denganmu, itu tidak akan pernah terjadi!" jelas Josh dengan penuh penekanan agar Vallery memahami maksudnya


Vallery menggeleng cepat. "No!" jawabnya singkat seraya menepis pelan tangan Josh yang berada dikedua pipinya. Dia mengambil tasnya, lalu menyampirkan itu dibahunya. Vall pun bersiap untuk pergi. Dia menolak semata-mata karena Josh tidak menjelaskan 'suatu hal' yang menjadi penyebab kenapa dia tidak bisa lagi datang ke Apartemen ini. Josh tidak jujur dan terbuka padanya.


"Come on, Vall ... Aku tidak bisa jika harus meninggalkanmu disini sendirian."


"Kalau begitu aku akan pulang kerumah." jawab Vall enteng.


Mendengar itu, mata Josh membola. Dia tidak bisa membiarkan Vallery dekat dengan Ed.


"Apa katamu? Pulang? Tidak-tidak." kata Josh dengan cepat seraya menangkap tangan Vallery yang akan segera pergi dari hadapannya.


"Kalau begitu, jelaskan kenapa kau tidak bisa kesini lagi?"


Josh berpikir cepat, mencari-cari jawaban yang pas untuk membuat Vallery percaya. "Apartemen ini sudah ku jual." kilahnya berbohong.


"Kau berbohong!" kata Vallery tegas dan tepat sasaran.


"Tidak, Vall. Aku tidak--" Josh kembali menarik lengan Vallery agar gadis itu terduduk. "Apartemen ini memang sudah lama diiklankan dan tadi Dimitri sudah mengatakan jika Apartemen ini telah laku dijual." jawab Josh mengarang-arang cerita.


Vallery menatap Josh. Menela'ah kedalam mata yang juga tengah menatapnya. Jelas saja dia melihat kebohongan dimata lelakinya. Selain itu, dia juga tidak sengaja mendengar pembicaraan Josh dengan Dimitri tadi, itu sudah jelas jika mereka bukan membicarakan perihal penjualan Apartemen.


"Aku harus bilang apa pada Kakakku?" akhirnya itu lah yang dilontarkannya pada pemuda itu.


"Biar aku yang menjelaskannya pada Alexa, oke?"


Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, gadis itu pun mengangguk patuh. Josh menghela nafas lega karena akhirnya dia bisa melindungi Vallery dari jarak dekat. Dia tidak mungkin sanggup jika tidak bertemu Vallery, tapi jika dia terus-menerus berkunjung ke Apartemen ini, maka sudah pasti musuhnya akan tahu kelemahannya adalah Vallery. Bagaimanapun, Josh sedang mempertimbangkan pernyataan Dimitri soal orang-orang dari Clan berlawanan yang kini tengah melacaknya.


Josh mengecup punggung tangan Vallery. "Thanks, Baby ..." katanya dan Vallery hanya tersenyum kecil.


Vallery kembali ingin melangkah, dia butuh waktu sendiri untuk mencerna kebohongan Josh. Untuk saat ini, Vallery memilih diam dan tidak ingin bertanya tentang apa yang tak sengaja didengarnya tadi.


Josh menghentikannya. "Kau mau kemana? tanyanya.


"Aku mau kuliah, Josh." jawab Vall apa-adanya.


"Oke ..." jawab Vallery datar. Josh tersenyum senang melihat Vallery yang menurut, dia menuju kamar mandi sembari membawa pakaian gantinya.


Vallery menatap Josh yang sudah menghilang dibalik tembok, dia memejamkan matanya sambil memikirkan sikap Josh.


"Kau terlalu misterius, Josh. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang kau sembunyikan dariku?" Batin Vallery bertanya-tanya. Sesungguhnya, dia tidak bisa percaya begitu saja pada Josh. Tapi, rasa ingin memiliki lelaki itu tumbuh sangat besar dihatinya, sehingga Vallery pun berusaha untuk menurut saja. Dia ingin mengikuti alur yang sudah Josh berikan untuk hubungan mereka.


"Josh, sebenarnya aku sempat mendengar obrolan singkatmu dengan Dimitri. Haruskah aku menanyakan hal itu padamu?" gumam Vallery, dia mengadah keatas, menatap langit-langit ruangan berharap bisa menemukan jawaban atas rasa penasarannya terhadap kekasihnya sendiri.


Josh tiba didepan Vallery, dia menggunakan Hoddie berwarna Army dan celana jeans hitam, membuat auranya bersinar dan dia tampak semakin tampan.



Melihat itu, Vallery berusaha menepis semua praduga terhadap pemuda yang sudah tersenyum dihadapannya ini, dia pun membalas senyuman itu dengan sunggingan yang tak kalah manisnya.


"Berapa umurmu, Josh?" kelakar Vallery sambil mengulumm senyum. Dia berusaha mengalihkan pikirannya sendiri terhadap Josh. Untuk saat ini biarkan dia menyimpulkan sendiri melalui apa saja yang dia tahu, walaupun pengetahuannya tentang Josh memang sangat minim.


"Umurku?" Josh bertanya sembari menunjuk dirinya sendiri. "Aku, dua puluh lima." akunya jujur sambil tersenyum miring.


"Apa ada lelaki dua puluh lima tahun yang se-cute dia?" Batin Vallery.


"Kenapa?" tanya Josh lagi.


Vallery menggeleng. "Tidak, apa kita sudah bisa berangkat?" tanyanya.


"Ayo." jawab Josh seraya mengedipkan sebelah matanya kearah Vallery, dia menggenggam tangan Vallery dan mereka keluar dari Apartemen itu bersama-sama sembari bergandengan tangan.


...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...


"Val, kau dimana?" tanya Alexa saat panggilan teleponnya tersambung ke Vallery.


"Aku di kampus, Kak."


"Bisa kita bertemu, sekarang?"


"Sekarang tidak bisa, Kak. Aku ada kelas dua puluh menit lagi. Ada apa, Kak?"


"Jam berapa kau selesai kuliah? Aku akan menjemputmu."


"Jam dua siang, maybe. Nanti aku akan kirimkan pesan jika sudah selesai." jawab Vallery.


"Baiklah,"


"Tidak usah menjemputku, Kak. Aku akan ke tempat Kakak bersama Josh. Ada yang ingin dibicarakannya dengan Kakak."


"Baiklah, datang kerumah saja. Hari ini aku tidak bekerja."


Panggilan pun terputus begitu saja. Alexa menghela nafasnya dalam-dalam. Walau bagaimanapun, dia memang harus berbicara dengan Vallery. Dia harus menanyakan sejauh apa perbuatan Edward padanya. Meskipun Ed sudah mengakui tapi Alexa belum merasa puas jika belum mendengar cerita dari Adiknya.


"Vall, kenapa kau memendam semua ini dariku? Kenapa kau bersikap seperti ini? Kenapa, Vall? Kau terlalu banyak mengalah padaku." Alexa kembali menitikkan airmatanya dan menyurukkan wajahnya didalam kedua lututnya yang ditekuk.


Alexa benar-benar tidak semangat bekerja hari ini, dia membatalkan semua schedule-nya, Dia tidak peduli pada ucapan Manager-nya yang mengutuk sikap tidak profesionalnya. Dia benar-benar ingin menyendiri dulu saat ini, bahkan dia mengabaikan Edward yang sudah berangkat bekerja pagi tadi.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Alexa meratapi nasibnya. Dia bingung tindakan apa yang harus dia lakukan selanjutnya setelah mendengar kejujuran juga dari Vallery.


Dia tentu ingin rumah tangganya baik-baik saja. Seperti mimpinya yang pernah ia katakan pada Ed, bahwa ia hanya ingin menikah satu kali saja seumur hidupnya. Tapi, dengan kenyataan yang ada dan baru diketahuinya sekarang, haruskah dia bertahan pada Edward?


Belum lagi kedatangan Jonathan yang tiba-tiba dihidupnya. Bisakah dia melupakan Jonathan sekarang, jika lelaki itu kini kembali harus berada dekat dengannya?


Mungkin jika keadaannya tidak begini, Alexa tetap akan bertahan pada Edward, suaminya. Tapi, sekarang dia harus bagaimana?


...To be continue ......