
Edward
Dia hanya bisa menatapi wajah pulas Vallery saat gadis itu tertidur, hanya bisa menjaganya tanpa bisa memilikinya. Ia tahu, hati Vallery sudah dipenuhi oleh Josh dan tidak mungkin ada tempat untuk dirinya.
Dia tidak yakin dengan keputusannya membawa pergi Vallery dari kota kelahiran gadis itu, tapi, dia memang harus melakukannya untuk melindungi Vallery. Karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada Antoni dan Alexa, dia mengira kedua orang itu mungkin masih hidup dan akan terus membayangi hidup Vallery.
Dia memutuskan membawa Vallery pindah dari Texas dan pergi ke Luar Kota, menggunakan perlajanan darat yang terbilang jauh. Namun, mau tak mau harus dilakukannya untuk menghindari musuh-musuh Josh yang mungkin sudah menghafal wajah Vallery dan akan melacak keberadaan mereka lewat jalur udara dan laut.
Dia ingin melindungi Vallery bahkan jika bisa menyembunyikan Vallery dari mata dunia.
Bisakah dia egois sekarang? Memiliki Vallery untuk dirinya saja?
Nyatanya dia tidak bisa! Karena selain hati Vallery yang sudah tertaut pada pemuda bernama Josh, ternyata Vallery juga tengah mengandung anak lelaki itu.
Ck! dia merasa frustasi dengan keadaan ini. Belum sempat dia memulihkan keadaan untuk meluluhkan hati Vallery, nyatanya bayang-bayang Josh selalu mengikuti kemanapun mereka pergi.
Dia sempat mencari Josh, untuk menepati janjinya pada Vallery. Walaupun itu bertentangan dengan keinginan hatinya, tapi lagi-lagi dia harus mengalah untuk Vallery, karena perasaannya tidak sanggup untuk menyakiti Vallery lagi.
Diapun mencari keberadaan Josh. Namun, dia tidak menemukan apapun selain sebuah Makam yang bertuliskan nama pemuda itu.
Saat dia bertanya pada Sophia, teman Vallery itu mengatakan tidak mengetahui kemana Josh. Akhirnya, dia memutuskan menitip pesan pada Sophia untuk menutup mulutnya dan jangan sampai siapapun tahu jika Vallery tengah bersama dengannya, karena dia khawatir dengan keadaan Vallery yang mungkin bisa ditemukan kapan saja oleh musuh Josh, apalagi setelah dia tahu Josh telah tiada.
Tidak ada yang bisa melindungi Vallery lagi sekarang selain dirinya.
Berbekal keadaan itulah, Sophia berjanji tidak akan membuka mulut tentang keberadaan Vallery yang tengah bersamanya.
Dia tahu, dia terlalu egois mengenai Vallery, tapi Josh telah tiada dan pada siapa lagi sekarang Vallery harus menyandarkan kehidupan? Jawabannya adalah Dia.
Vallery harus bersandar padanya. Dia akan menerima keadaan Vallery, menjaga Vallery dan memastikan kondisinya baik-baik saja.
Mengingat keadaan Vallery yang riskan karena efek hamil muda, dia bertindak siaga untuk menjaganya. Dia sudah bertekad untuk menanggung hidup Vallery dan bayinya sekalipun itu memanglah bukan darah dagingnya.
Dia menganggap ini adalah hukuman sekaligus hadiah akibat semua kesalahannya pada Vallery dimasa lalu.
Dia menjalani hari-hari bersama Vallery yang selalu bersikap datar. Dia menerima perlakuan Vallery itu dengan lapang dada, tidak banyak memaksa dan tidak ingin menuntut.
Dia cukup bahagia melihat Vallery setiap hari dan bisa berada dekat dengan gadis itu.
Tapi, setelah dia memberitahu Vallery tentang keadaan Josh yang telah tiada, gadis itu tetap mengurung hatinya pada sosok Josh. Tidak ingin sedikitpun membuka hati untuknya.
Disinilah dia sadar, bahwa Vallery benar-benar tidak akan bisa dia miliki.
Hati perempuan itu terlalu keras dan sulit dicairkan. Bahkan setelah Vallery mengetahui Josh telah tiada, Vallery tetap tidak mau bergantung padanya.
"Kak, kalau kondisiku sudah membaik. Aku akan bekerja dan mengganti semua biaya yang kau keluarkan untukku." ungkap Vallery saat melihatnya yang sekarang bekerja dari rumah, meninggalkan perusahaannya demi menjaga gadis itu.
"Jangan lakukan hal-hal aneh, Vall." ucapnya tak ingin disanggah.
Tapi, bukan Vallery namanya jika menerima semua begitu saja.
"Apa bekerja adalah hal aneh?" tanya gadis itu.
Dia yang malas berdebat hanya bisa diam dan melanjutkan pekerjaannya.
"Atau, rumah orangtuaku dijual saja ya, Kak. Untuk biaya hidup dan melunasi hutangku padamu." ujar Vallery dengan suara parau, sebelum akhirnya percakapan itu harus terputus akibat aktifitas muntah-muntahnya.
Dia tidak pernah menganggap Vallery berhutang padanya!
...🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒...
Vallery
Dia melihat Edward yang sekarang bekerja dari rumah. Dia bukan gadis bodoh yang tidak tahu jika Ed melakukan semua itu hanya untuk menjaganya. Padahal Ed bisa saja mempekerjakan orang lain untuk merawat dan memenuhi kebutuhannya yang tidak masuk akal.
Kebutuhan tidak masuk akal itu terjadi sejak dia mengandung, dia juga terkejut mengetahui hal itu. Tapi entah kenapa dia juga merasa bahagia.
Kebutuhannya sejak mengandung bahkan kadang sangat tidak masuk akal dan membuatnya pusing sendiri.
Seperti meminta Ed membelikannya es krim dengan rasa gurih, ataupun buah-buahan langka yang hanya akan ada dimusim tertentu.
Belum lagi tentang memenuhi hobi barunya, dia meminta Ed membelikannya benang rajut berbagai warna. Belakangan hari, ia hobi merajut dan belajar otodidak melalui internet.
Jadi, ketika Ed memintanya untuk bangun dipagi hari, dia memiliki kegiatan rutin yaitu merajut--tentunya diselingi dengan kegiatan rutin lainnya alias muntah-muntah dipagi hari.
Semua itu juga dia lakukan untuk sedikit melupakan rasa sakitnya semenjak Ed mengatakan jika Josh telah tiada dan menunjukkan foto makam tulisan yang bertuliskan nama Josh.
Rajutannya menghasilkan beberapa benda yang gagal total. Mulai dari membuat topi yang aneh, sarung tangan dan kaus kaki--semuanya tidak ada yang berbentuk.
"Kak, aku janji...jika rajutanku berhasil, Kau adalah orang pertama yang akan aku buatkan sesuatu." ungkapnya membuat Ed tersenyum hangat.
Sebenarnya dia kasian pada Ed. Perasaannya mengatakan, mungkin Ed merasa bersalah padanya ataupun mungkin lelaki itu benar-benar mencintainya, dia tidak tahu pasti. Yang dia pikrikan adalah Ed yang akan terluka karena sebesar apapun usaha lelaki itu, dia tidak akan bisa melupakan Josh secuil pun.
Bukannya dia tidak percaya dengan Ed soal kematian Josh, tapi didalam lubuk hatinya sendiri, dia sulit untuk mengakui jika Josh memang telah tiada. Dia selalu menepiskan hal itu dari benaknya.
Entah sampai kapan Josh akan memenuhi hatinya, dia tidak tahu pasti. Tapi, dia tidak berpikir untuk hidup dengan orang lain. Berhari-hari dia menguatkan hati untuk menerima kenyataan, tapi tetap saja, hatinya menganggap jika Josh masih hidup.
"Kak, bolehkah aku berkunjung ke Texas? Aku ingin menemui Sophia." ucapnya ragu pada Edward.
"Kita tidak tahu siapa yang menantimu disana, Vall. Aku bisa saja membayar orang untuk menjagamu disana tapi aku tidak yakin karena mungkin saja Clan Dexa mencarimu. Terutama Alexa. Kita tidak tahu Alexa masih hidup atau sudah mati." tutur Ed membuyarkan harapannya.
Semua yang Ed katakan benar, itu Ed lakukan pasti untuk kebaikannya. Tapi, dia ingin melihat sendiri makam Josh dan dia juga belum tahu kabar Jesica sejak kasus penculikan itu.
"Aku hanya ingin bertemu Sophi..." desaknya penuh alasan.
"Kalau begitu, biar Sophia saja yang datang kesini." kata Edward.
Bersamaan dengan itu, pintu rumah yang mereka tinggali diketuk dari luar.
-
-
Edward dan Vallery saling bertatapan satu sama lain, karena selama ini tidak pernah ada tamu yang akan mengunjungi tempat tinggal baru mereka.
Ed meminta Vallery masuk ke dalam kamarnya, sementara dia bejalan menuju pintu dan mengintip dari lubang kecil yang berada ditengah-tengah daun pintu.
"Mr. Edward Riley,"
Seseorang memanggil namanya dan membuatnya terkesiap. Edward membuka pintu dengan ragu-ragu setelah memastikan siapa yang ada dibalik pintu itu.
"Ternyata Anda benar-benar tinggal disini." orang itu menatap Ed dengan senyuman ramah.
"Kau...?"
"Saya Dimitri Lincoln,"
Saat itulah Ed menyadari bahwa pemuda yang ada dihadapannya adalah tangan Kanan Josh yang sempat berselisih temu dengannya beberapa kali. Pantas saja dia merasa tak asing dengan wajah lelaki ini.
...To be continue ......