Miyawlova

Miyawlova
Tuas Persneling



"Sebenarnya gue tuh udah lama juga merhatiin elu. Gue ga tega ngelihat elu dihajar anak-anak karate di hall," jelas Mentari.


"Lu ngelihat? Kok bisa? Kayanya ga ada orang lain deh selain Jaya dan temen-temen karatenya?" kata gue heran.


"Ya guenya sembunyi, Lang," kata Mentari.


"Jadi elu udah tahu gue semenjak itu?"


"Iya bener. Gue gedek banget sama cewek yang selalu bareng sama lu itu. Sempat gue sangka kalian pacaran," kata Mentari.


"Ada satu lagi cewek, tapi sekarang dia udah jarang gue lihat di sekolah. Dia lengket banget sama lu," lanjut Mentari.


"Puput? Kami ga pacaran, Mentari. Satu lagi namanya Laila. Dia sakit jantung dan sekarang lagi ada di Amrik untuk pengobatannya. Jadi gue, Puput dan Laila itu tadinya sahabatan bertiga. Ga ada satupun di antara kami yang jadian," jawab gue.


"Iya Puput. Syukurlah dan jangan sampe lu deket sama dia. Anaknya toxic, suka nyiksa elu. Juga Laila. Emh, semoga Laila bisa kembali sehat ya Lang."


"Aamiin."


Sumpret ni anak malah ngegiibahin gue. Tapi memang bener sih, dulu kan gue suka nyiksa Gilang. Biarpun begitu niat gue kan biar Gilang berubah. Dan lihat sekarang Gilang udah berubah kan? Itu berkat gue! Jadi sombong nih gue.


"Iya, Mentari. Gue udah ga deket lagi sama Puput. Kan udah gue bilang terakhir gue sama Puput itu gue minta maaf sebelum gue bener-bener ga bicara sama dia lagi," jelas gue.


"Jadi lu beneran udah merhatiin gue sejak lama? Apa yang Bunda bilang itu bener dong?" lanjut gue.


"Iya Gilang. Hihihi..."


"Lu suka sama gue dong? Berarti lu... lu mau dong jadi pacar gue?" tanya gue.


"He em. Hihihi..."


Mampus gue! Hahaha... Geli anjir!


"Kalau gitu mulai sekarang kita jadian ya," kata gue.


"Hihi..."


"Harus kita rayakan dong! Hem... Ngerayainnya gimana ya? Ada ide ga?"


"Gimana kalau dimulai dengan panggilan sayang?"


"Ah, iya bener. Gue kan sayang sama elu, jadi gue harus punya panggilan sayang dong buat elu. Hem... apa ya? Gue panggil Tuan Putri aja boleh?" kata gue.


"Kok Tuan Putri sih? Malu tahu," kata gue.


"Tapi gue maunya manggil elu Tuan Putri," kata gue.


"Hihi... Ya udah senyamannya elu aja," kata Mentari.


"Sekarang giliran gue nih manggil elu dengan panggilan sayang. Sayaaang..."


"Sayang?"


"Iya Sayaaaang..."


"Aduh, gue ga sanggup! Hihi... Terima kasih Tuan Putriku," kata gue.


Gue dan Mentari pun mengobrol asik.


TOK TOK TOK...


"Eh sebentar ya?" kata gue.


Gue pun membuka pintu. Ternyata itu adalah Ibu.


"Apa kamu belum tidur?" Ibu menanyai gue sambil celingukan ke dalam kamar gue.


"Hehe... Maaf kalau suara Gilang jadi mengganggu Ibu," kata gue.


"Tidak, tidak. Suaramu tidak bikin Ibu bangun. Kebetulan Ibu kebelet ke toilet dan pas Ibu lewat Ibu bisa mendengar kamu bicara. Waktu Ibu sudah selesai dari toilet ternyata kamu masih bersuara juga," kata Ibu.


"Oh, begitu. Maaf Bu. Setelah ini Gilang janji ga akan berisik lagi," kata gue.


"Iya. Sebaiknya begitu. Jangan sampai Bapak bangun. Tahu sendiri kan kalau dia tahu kamu bicara dengan seseorang malam-malam buta begini akan seperti apa reaksinya," kata Ibu.


"Iya Bu."


"Ya sudah. Ibu balik ke kamar dulu ya," Ibu pamit.


Gue pun menutup kembali pintu kamar gue. Setelahnya gue kembali ngambil HP yang tadi gue taruh di atas bantal.


"Sorry..." bisik gue.


"Ditegur?" tanya Mentari.


"Iya. Mulai sekarang gue ngomongnya bisik-bisik ga apa-apa ya?" kata gue.


"Iya, ga apa-apa. Aduh, tapi gue jadi ngerasa gimana gitu ngedenger lu bisik-bisik kaya gini," kata Mentari.


"Ngerasa gimana? Gue ga ngerti," kata gue.


"Suara lu seeksoy, Sayang," kata Mentari.


"Hihihi... Jadi lu lebih suka gue ngomongnya bisik-bisik apa biasa aja?" bisik gue lagi.


"Kalau suasananya kaya gini sih mending bisik-bisik aja. Eung... Gue lagi baring-baringan, kalau lu lagi apa Sayang?" tanya Mentari.


"Sama, gue juga lagi baring," jawab gue.


"Jadi serasa sleep call-an ga sih?" lanjut gue.


"Kita memang lagi sleep call-an, Sayang," jawab Mentari.


"Eh, iya ya? Hahaha... Ya ampun, ga nyangka bisa sleep call-an," kata gue.


"Manggilnya aku-kamu ajalah. Gimana Sayang?" kata Mentari.


"Apa sih yang enggak buat kamu, Tuan Putriku," jawab gue.


"Ih aku kedinginan nih," kata Mentari.


"Ya ampun. AC-nya diatur dong, Tuan Putriku," kata gue.


"Ih, bukan masalah AC-nya. Kamu ga peka banget sih," ucap Mentari manja.


"Oh, Tuan Putri mau dipeluk?"


"Iya..."


Percakapan minim suara itu mengalir begitu saja. Gue baru ngerasain ngobrol dengan obrolan seinntiim ini. Kayanya gue bakal mimpi indah deh sebentar lagi. Gue...


Eh apa nih? Kok belalai gajahnya mengeras? Ya ampun. Gue jadi penasaran, pingin ngintip sebentar ah.


"Sebentar ya Tuan Putri," kata gue.


"Eh, kamu mau kemana?"


"Ga kemana-mana kok."


Gue taruh HP gue sebentar di atas bantal. Gue menegakkan badan dengan merubah posisi jadi duduk.


Buka ga ya? Gue toel-toel benda yang menonjol ini. Kayanya ukurannya agak beda, ga kaya waktu gue pipiis.


Selama ini gue piipiis ga gue lihat, cuma kan kerasa waktu gue ngebersihinnya.


Aduh, agak sesak. Celaanaa gue mendadak sempit ini gimana ya? Apa gue ga usah pake ceelaana aja?


Oke, gue pun mengambil selimut dan gue lepas ceelaana. Cuma berbalutkan selimut. Ah, lega rasanya.


Gue pun berbaring lagi dan gue ambil HP gue. Gue tempelin lagi HP gue di telinga dengan posisi gue tiduran menyamping.


"Tuan Putri," sapa gue.


"Udah? Emang ngapain sih?" tanya Mentari.


"Ngambil selimut. Aku juga pingin selimutan," jawab gue.


"Oh gitu. Hem, tahu ga... ada loh yang paling bikin nyaman kalau dingin kaya gini," kata Mentari.


"Pelukan?" tebak gue.


"Bukan. Kan kita jauh, mana bisa pelukan."


"Terus?"


"Gini caranya, kamu tidur menyamping..."


"Udah. Terus?"


"Tangan dijepit di antara paaha. Hem, nyaman ga?" tanya Mentari.


Gue pun mengikuti apa yang Mentari instruksikan. Hal kaya gitu sih biasa gue lakuin, tapi...


Kok?


Ini kenapa tiba-tiba ada tuas persneling di sini? Gue auto megangin tu tuas persneling. Ah, nyamannyaaaa...


Gue mendengar suara Mentari yang setengah berbisik dan ada kesan mendeesaahnya itu. Kok makin nyaman ya gue dengerinnya dan ga cuma di telinga, gue jadi kaya kebawa efek mengawang-awang gitu.


Ah, keenikmatan yang tak tertandingi. Gue baru ngerasain hal kaya gini.


Waktu berlalu. Ternyata pagi tiba. Gue rupanya ketiduran. Gue baru bangun dan...


"AAAAAAA..."