
"Kita harus tahu kabar Lele secepatnya!" kata Gilang.
"What? Eh, iya iya. Bener yang lu bilang. Hehe..." Ni anak gimana sih? Gue kan lagi ngomongin jadian atau ga jadian di antara kami berdua kok malah tiba-tiba bahas Lele?
Sebenarnya iya juga sih, gue pun kangen sama Lele dan pengen tahu kabar doi. Tapi ini kan ga nyambung obrolannya!
"Kita cari tahu kabar Lele setelah ini ya, Gay, eh... maksud gue Poy," kata gue sambil melirik anak-anak yang melirik gue dan Gilang.
"Ih mereka ngapain sih, kepo banget?" gerutu gue.
"Hah? Gimana... Gimana?"
"Enggak, bukan masalah apa-apa. Cuma orang-orang kepo, biarin aja," jawab gue.
"Jadi gimana urusan kita? Soal sumpah gue yang tadi?" lanjut gue.
"Maka dari itu, kita mending hubungi nyokap Lele sekarang. Gue yang ngomong, gue kan Papoy," kata Gilang.
Oh, jadi pura-pura jadian pun harus atas sepengetahuan Lele? Kok gue jadi ga mood gini ya ngebahas jadian ga jadian ini.
Gue pun mengikuti permintaan Gilang buat nelepon nyokap Lele. Gue keluarin HP gue dan ngebiarin Gilang alias Papoy KW yang selanjutnya pegang HP gue.
"Nyambung..." kata Gilang.
"Eh, sebentar. Di Amrik sekarang jam berapa ya?" lanjutnya.
"Beda sebelas jam berarti... jam... jam sembilan malem," jawab gue.
"Oh, oke. Selamat malam Tante..." gue membulatkan mata.
"Diangkat?" bisik gue.
"Belum, gue baru latihan," kata Gilang.
"Kambing! Segala ngasih salam aja latihan," kata gue sambil memutar mata.
"Halo... Puput..."
"Diangkat!" bisik Gilang. Gilang pun mencet tombol membesarkan volume dan gue mendekat di samping kepala Gilang. HP ini ga dipencet load speaker-nya, cuma volume up aja.
"Ehm... Selamat malam Tante," kata Gilang.
"Gimana kabar kamu, Sayang?"
"Puput baik, Tante. Kalau Tante sekeluarga di sana gimana?"
"Tante dan Om baik. Tinggal Laila nih masih proses pemulihan. Tante bersyukur banget operasinya tempo hari berjalan lancar. Sekarang Laila lagi tinggal di daerah pegunungan. Lagi healing, tanpa gadget, ya ada terapi-terapi pemulihan di sana," jelas nyokap Lele.
"Oh, begitu. Sayang banget jadi kami di Indo belum bisa ngobrol sama Laila dong, Tante," kaya Gilang.
"Iya. Yang sabar ya Puput. Tante paham kamu pasti rindu sama Laila."
"Iya Tante. Sangat rindu. Oh iya Tante, kalau boleh tahu Laila kenapa sih kok bisa dibawa ke Amrik? Ada masalah di operasi yang pertamanya?"
"Loh, Tante kan udah cerita. Kamu lupa ya?"
"Hihihi..."
"Jadi waktu itu operasinya lancar, cuma ternyata donor jantung yang didapat waktu itu sebelumnya tidak diperiksa dengan baik. Ternyata beberapa hari setelahnya jantung itu menunjukkan gejala gangguan-gangguan kecil. Sampai akhirnya tiba-tiba gejala itu jadi parah."
"Jadi jantung baru Laila itu punya masalah di sekatnya. Mungkin di Indo ada ahli jantung yang bisa memasukkan ring sekat di jantung Laila, tapi kami, Om dan Tante khawatir kalau hal ceroboh seperti sebelumnya terjadi lagi. Jadi, kami lebih baik membawanya ke Amrik, ke tenaga ahli yang direkomendasikan oleh teman-teman Om dan Tante," jelas nyokap Lele.
"Oh, begitu. Baru saya paham, Tante. Jadi, kondisi jantung baru Laila sempat terganggu. Semoga pemulihan Laila bisa secepatnya selesai Tante. Saya dan teman-teman yang lain udah ga sabar mau ngobrol sama Laila. Kalau di sana Laila belum bisa pakai HP ya mau bagaimana lagi. Saya dan teman-teman harus sabar."
Gue dan Gilang terlalu fokus mendengarkan suara nyokap Lele. Ternyata setelah gue dan Gilang melihat ke sekeliling, anak-anak sekelas lagi merhatiin bahkan sampe berdiri-berdiri di pinggir meja kami. Gilang pun menekan tombol load speaker.
"Tante. Ini saya lagi di kelas. Saya menelepon Tante bukan cuma saya yang mau bicara sama Laila, tapi juga teman-teman sekelas Laila. Kalian say hi sama nyokap Lele..." Gilang mengangkat telepon itu.
"HAAAI TANTEEE..."
"TANTE SALAM BUAT LELE YA!"
"TANTE GIMANA KABAR LELE?"
"TANTE KAMI DOAKAN LELE CEPAT SEMBUH TANTE!"
Seketika mata gue berkaca-kaca. Gue ga boleh nangis, malu, anak cowok! Gue juga melihat hal yang sama di mata Gilang, bedanya butir bening itu sudah jatuh setetes di pipi Gilang alias Papoy KW.
Ga lama kemudian di antara murid-murid ini ada yang ngomong dengan suara yang bergetar. "Tante... Kami kangen banget sama Lele." Seketika tangis beberapa orang pun pecah dan hal itu menular ke yang lain.
"Kalian yang sabar ya?" Suara nyokap Lele bergetar, beliau pun berhenti sejenak.
"Terima kasih anak-anak Tante... Tante terharu sekali ternyata banyak yang peduli dengan Laila. Ternyata kalian mendoakan kesembuhan Laila." Nyokap Lele nangis.
Berulang-ulang gue tekan lubang hidung gue untuk mencegah butiran bening ini tumpah, tapi ternyata gue ga bisa menahannya.
"Tentu kami merindukannya, Tante. Laila adalah anak yang baik. Dia adalah sahabat terbaik kami. Dia ga pernah macam-macam. Anaknya lucu, Tante. Makanya tanpa kehadiran Laila kami merasa ada yang hilang di sini," kata gue.
"Ini Gilang bukan? Suaranya seperti Gilang."
"Iya Tante. Saya Gilang," jawab gue.
Nyokap Lele pun bilang kalau apa yang didengarnya kali ini akan disampaikan ke Lele sewaktu nanti beliau mengunjunginya. Percakapan melalui telepon pun berakhir.
Gue melihat ke sekitar, orang-orang pada bersedih. Bahkan ada juga yang berpelukan. Termasuk Richard, dia meluk...
"PAK GURU..." kata gue.
Orang-orang pun baru sadar ternyata ada guru berdiri di antara orang-orang. Bahkan Richard ga sadar kalau yang dipeluknya adalah guru. Dia pun cepat-cepat melepaskannya dan meminta maaf.
"Tidak apa-apa, anak-anak. Tidak perlu risau karena ada saya di sini. Saya pun merindukan Laila juga. Kita sama-sama rindu dengan Laila," kata Pak Guru.
Keharuan di kelas terasa begitu pekat. Gue menyesal sempat punya sifat egois dengan mengesampingkan Lele di urusan gue dan Gilang.
"Soal kita, maksud gue biar Lele ga salah paham. Takutnya berita yang dia dengar nantinya bukan dari kita terus kan jadi ga enak," jelas Gilang.
"Iya, lu bener. Kita bahas ini nanti aja. Gue balik dulu," kata gue.
"Iya," jawab Gilang.
Gue pun balik ke meja gue untuk mengikuti pelajaran. Pak Guru pun akan memulai pelajarannya.