Miyawlova

Miyawlova
Kok Gue Ga Dikasih Tahu?



Waktu berlalu, hari berganti. Gue udah kembali beraktivitas kaya biasanya. Gue ke sekolah, gabung sama anak-anak yang slay, ngerjain PR, me time sampai ketiduran di kamar mandi, dan... Sleepcall-an sama Gilang, wkwkwk.


Sejak terakhir gue ketemu Gilang di Bandung waktu itu, gue ga tahu kenapa dia semakin ke sini kok gue rasa jadi semakin ke sana. Eh, maksud gue... maksud gue... Gimana ya ngejelasinnya? Kaya doi sama gue lebih sering aja komunikasian gitu.


Gayung:


"Le, hari ini ada PR ga?"


"Kalau lu ada kesulitan, sini gue bantuin."


Itu salah satu chat dari Gilang. Gue kan ga g0blok-g0blok amat soal pelajaran ya, jadi gue bisa mandiri sebenarnya. Tapi, gue pinginnya ada aja gitu bahan obrolan sama Gilang, jadi gue sok-sok minta bantuan dia gitu. Lagipula kan semua PR-PR itu bakal numpuk waktu dia masuk nanti. Gue baik hati banget kan, selalu ngabarin dia soal PR. Biar dia update terus gitu.


Malam ini gue teleponan lagi sama Gilang. Teleponan sebelum tidur, dan selalu sampai gue ketiduran. Namanya juga sleepcall-an.


"Gimana? Hari ini ada yang kesambet ga? Biar ga gabut-gabut amat lu di sana," kata gue. "Ih ada, tahu! Tapi bukan dari sekolah kita. Gue nanganin orang kesambet yang jalannya kayang. Ampun, ngerepotin banget!" keluh Gilang.


"Hah? Kaya Film Qorin dong, ada hantu kayang," kata gue. "Ga tahu, gue ga nonton," kata Gilang. "Ih, film tahun lalu, tahu! Ya udah deh kalau ga tahu juga ga apa-apa," kata gue. "Ada adegan kesurupannya?" kata Gilang. "Iya," jawab gue. "Terus habis lu nonton tu film lu kesurupan juga ga?" kata Gilang. "Ih, enggaklah! Amit-amit!" kata gue.


"Tapi gue jadi over thinking, tahu, kalau habis nonton yang serem-serem gitu. Sampai gue ga berani ke dapur sendiri, ke kamar mandi sendiri," kata gue. "Nah, kan! Rasain lu. Lagian, ngapain nonton film yang jelas-jelas bikin lu takut. Gue suka heran sama orang-orang, kok mau keluar duit padahal buat ditakut-takutin. Terus ketakutannya jangka panjang gitu. Sampai banyak yang nge-halu. Aslinya ga ngelihat apa-apa tapi malah parno sendiri dan ngaku-ngaku ngelihat penampakan. Gara-gara kebayang sama hantu-hantu yang bentukannya didikte sama film!" kata Gilang.


"Iya Pak Ustadz. Udah ceramahnya?" kata gue. "Yeee... elu gue bilangin malah gitu," kata Gilang. "Tapi bentukan yang didikte film kejadian sama elu kan Gay? Hantu kayang itu beneran ada kan," kata gue. "Iya, ga penting mau bentukan dia gimana juga orang-orang jadi takut sama hantu. Kalau gue dibiasain sama ibu gue dari kecil gue ga nonton yang begituan. Jadi ga ada ngehalu-halu gue. Tahu-tahu nongol, damprat, ilang deh. Beres," kata Gilang.


"Ya bagus dong. Eh, kalau gue ngalamin yang gaib-gaib kan ada elu. Makanya lu jangan jauh-jauh dari gue," kata gue. "Iya, tenang aja Le. Gue akan ngejagain lu. Gue janji," kata Gilang. Ih, tumben Gilang kaya gini. Hihi.


"Jangankan hantu, mau ada manusia yang kelakuannya kaya hantu atau lebih-lebih dari hantu pun bakal gue hadapin demi lu," kata Gilang. "Aaaa... So sweet! Bener ya?" kata gue. "Iya, bener. Kan gue udah janji," kata Gilang.


"Ah, elu mentang-mentang sekarang udah jago karate, jadi beranian lu," kata gue. "Gue ga jago karate. Bahkan lu yang paling tahu kelemahan gue. Eh, jangan bilang siapa-siapa ya soal gue yang mewek di GOR waktu itu," kata Gilang.


"Hahaha... Gue bongkar aja ga ya? Hahahaha..." kata gue. "LELE! Gue serius!" kata Gilang. "Ada syaratnya," kata gue. "Apaan pake syarat-syarat segala!" protes Gilang. "Ya udah. Kalau lu ga mau juga ga apa-apa. Tinggal tunggu aja waktunya orang-orang akan tahu seorang Gilang Pratama yang sebenarnya," kata gue.


"Lu jahat lu Le!" kata Gilang. "Ya udah, syarat apa tadi?" Gilang pun menyerah. "Syaratnya lu harus kasih tahu gue apa yang lu sama Papoy omongin waktu di pekaranagn penginapan kalian kemarin," kata gue.


"Yang mana sih? Apa yang gue omongin sama Papoy... Oh, soal dia merepet karena gue ga dibolehin ikut turnamen?" kata Gilang. "Bukan! Kalau itu gue juga tahu. Suara Papoy kedengaran sampai lima RT. Ngapain gue tanya lagi sama elu?" kata gue.


"Yang mana ya?" kata Gilang. "Itu loh yang Papoy narik elu misahin diri buat bicara empat mata pas kita lagi bertiga," kata gue. "Emh... yang mana ya?" kata Gilang.


"Udah, lu ga usah pura-pura beg0! Gue tahu lu inget," kata gue. "Emh... Oh, oh itu iya iya. Itu kami... kami... Oh, kami lagi ngomongin bapak gue. Gue disuruh ngehajar beliau karena gue udah jadi petarung," kata Gilang.


"Masa iya? Gitu?" kata gue. "Iya," kata Gilang. "Ah, pasti ada yang lain. Ngaku lu!" kata gue. "Enggak ada," kata Gilang. "Oh, okeee... Kalau gitu gue sebarin aja ke anak-anak tentang aib lu di GOR waktu itu," ancam gue.


"Mau lu tulis di koran, buat VT di Tiktok biar viral, ga ngaruh Le. Yang kami obrolin memang cuma itu," kata Gilang.


Gue masih curiga. Ga mungkin ngomongin bokap Gilang pake acara rahasia-rahasiaan segala. Soalnya gue kan tahu kondisi keluarga Gilang itu gimana. Apa yang Puput tahu itu sama dengan apa yang gue tahu soal gimana parahnya kelakuan bokap Gilang. Gue ga percaya! Pasti ada hal lain yang mereka sembunyiin dari gue.


Kayanya bener, Gilang ada fair sama Puput. Bener kata Nita, Dwi dan Reka, Gilang ada di antara dua bidadari. Bisa aja Gilang sana-sini mau. Udah bikin gue baper, eh dia juga bikin Puput baper. Memang kurang asem ni anak.


"Ya udah kalau gitu. Eh, Gay, gue mau tidur dulu ya?" kata gue. Sumpah, gue jadi ga mood ngobrol sama Gilang malam ini.


"Terus?" tanya Gilang. "Terus ya udah... matiin teleponnya," kata gue. "Kok gitu? Tumben lu? Biasanya malah tidur minta ditemenin gue, sampai HP kita panas sampai subuh ditinggal tidur," kata Gilang.


"Ga, ga usah, ga usah. Lain kali aja. Oh, iya, gue lupa, gue ada janji teleponan sama bokap gue malam ini. Doi kan lagi di Amrik," kata gue cari-cari alibi.


"Oh gitu. Ya udah deh. Nanti kalau ada apa-apa, lu butuh sesuatu, hubungin gue ya?" kata Gilang. "Iya. Makasih ya. Udahan dulu. Bye..." kata gue. "Iya, bye juga," kata Gilang. Percakapan melalui telepon pun berakhir.