Miyawlova

Miyawlova
Pesan Terhapus



"Jadi ternyata kalian satu sekolah?" tanya Ibu.


"Iya, Tante. Hehe... " jawab Mentari.


"Padahal baru aja Gilang ceritain soal Mentari ke Bapak tadi sore. Iya kan Pak?" ucap gue.


"Iya, iya." Bapak menjawab dengan mulut yang dipenuhi makanan.


"Kalau Gilang baru cerita soal Tari tadi sore, beda dengan Tari yang cerita soal Gilang ke Bunda," goda Bunda Rukmini. Wajahnya terlihat nakal menggodai anaknya Mentari.


"Bunda!" Mentari melotot ke bundanya sambil bicara dengan suara pelan.


"Hahaha..." Bunda Rukmini memandang Ibu.


"Masa sih? Jadi bedanya gimana tuh?" Ibu jadi ikut-ikutan menggodai Mentari. Ibu iseng banget.


Terlihat wajah Mentari merona, dia sepertinya lagi malu banget.


"Katanya Gilang baru kenal Mentari, benarkah itu?" Bapak nyelonong nanyain.


"Iya, Pak," jawab Mentari.


"Jadi, kalau Gilang kan baru kenal Mentari, beda dengan Gilang Mentari sudah kenal Gilang lama," ucap Bunda Rukmini.


"Oh jadi gitu? Kok Tante mencium aroma pemuja rahasia ya?" Kejahilan Ibu semakin bertambah.


"Nah, itu yang Bunda maksud!" kata Bunda Rukmini.


Mampus gue! Jadi bener ada yang kaya gitu? Ini gue harus kaget, bersyukur, atau gimana?


"Emh, Bunda... sepertinya biar aja cerita itu tetap disompan sama Mentari. Kasihan tuh mukanya udah merah," kata gue. Gue mencegah ibu-ibu sosialita yang ember ini untuk meneruskan niatnya membocorkan rahasia Mentari. Gue ga tega ngelihat Mentari dibuat malu kaya gini.


Mentari memandang gue dengan wajah memelas, kaya lagi ngucapin, "Thanks ya Gilang, lu udah nyelametin gue malam ini."


"Iya biarkan saja mukanya memerah. Dia malu-malu tapi mau. Bunda paham betul memang ini yang diharapkan Tari. Bunda juga pernah muda loh. Kalau dulu ada yang ngecengin Bunda pas lagi suka sama seseorang itu rasanya bahagia. Iya kan Tari? Ngaku aja," ucap Bunda.


Mentari menutup mukanya dengan tisu yang dilebarkan.


"Tuh tuh tuh... Gimana coba, malu-malu tapi mau ekspresinya kaya gitu!" goda bundanya lagi.


Seketika seisi ruangan pun tertawa melihat kepolosan Mentari, termasuk gue.


Mentari menggemaskan banget.


Waktu bergulir. Acara makan malam keluarga telah selesai. Mentari dan Bunda Rukmini pun pamit dan mereka juga mengundang gue, Ibu dan Bapak makan malam di rumah mereka. Kami dengan senang hati akan memenuhi undangan itu. Mereka pun pulang.


Malam semakin larut. Gue udah selesai ngerjain PR, nyiapin keperluan sekolah buat besok, beres-beres dan saatnya mengistirahatkan badan.


Gue berdiri di pinggi tempat tidur, lalu menjulurkan kedua tangan gue sambil ditelungkupin. Sikap gue kaya orang mau meluncur ke dalam air.


Seppp...


PRAAAAK...


Aduuuh... sakitnya! Gue lupa kalau ini bukan kaya tempat tidur gue yang sebelumnya. Ini bukan kasur empuk, kasur di sini keras.


Kebiasaan gue kalau udah pingin tidur gue udah ga mikir-mikir lagi gue ada di mana. Ya Tuhan, sakitnya!


DERRRT... DEEERRRT...


Pas lagi kesakitan kaya gitu HP gue bergetar.


Ternyata itu adalah pesan chat dari Mentari.


Mentari:


"Maafin soal hal membagongkan tadi ya Gilang."


[pesan dihapus]


[pesan dihapus]


Ni anak ngirim chat apa sih? Kok langsung dihapus-hapus gitu?


Gilang (KW):


"Never mind."


"Ga usah terlalu dipikirin. Gue juga pernah malu-maluin di depan orang banyak. Semakin gue pikirin semakin gue malu padahal kejadiannya udah lewat. Jadi, ga usah dipikirin lagi ya."


😊


Mentari:


"Wah thanks banget. Kalau dipikir-pikir iya juga sih. Kata-kata lu barusan 100% valid!"


😁


Gilang (KW):


"Ya udah selamat istirahat ya, Tari. Sampai jumpa lagi besok."


Mentari:


"Iya Gilang. Have a nice dream ya!"


😊


[pesan terhapus]


Mentari:


[pesan terhapus]


[pesan terhapus]


[pesan terhapus]


Gilang (KW):


"Mentari, apa lu baik-baik aja?"


Mentari:


"Ya ampun. Lu udah mau tidur kan? Sorry, sorry. Malah jadi ngechat lagi. Gue baik-baik aja kok. Sorry banget. 🥹


Lanjut deh, tidur tidur.


Ni anak gabut amat. Ga tahu apa gue udah ngantuk banget? Hoaaam... Gue nguap. Gue ngulet, gue ambil guling, gue peluk erat-erat dan gue ga sadarkan diri lagi.


*


DRRRT... DRRRRT... DRRRRT...


Getar HP lagi-lagi membangunkan gue.


Mentari:


[pesan terhapus]


Ya ampun, ni anak lagi, ni anak lagi. Dia kenapa sih? Gue telepon aja deh.


"Halo?"


"Hai! Gilang! Lu belum tidur?" tanya Mentari dengan bersemangat.


"Gue yang harusnya tanya sama lu. By the way lu kenapa belum tidur?" tanya gue.


"Gue... gue..."


"Kenapa Mentariku sayang?" kata gue.


"Tar?" Kok diem aja? Eh, apa gue salah ngomong?


Yang tadinya mata gue masih setengah tertutup pun jadi melek sempurna. Gue membulatkan mata. 'Mentariku sayang?' ya ampun gue lupa kalau gue cowok! Bagi gue sebagai cewek manggil temen sesama cewek dengan sebutan 'sayang' kan biasa aja, tapi kalau cowok jelas maknanya jadi beda!


"Emh... maksud gue, lu kenapa Tar?" gue ulangi pertanyaan gue.


"Lu masih kepikiran soal obrolan waktu makan malam tadi?" lanjut gue.


"I-iya, Gilang," jawab Tari.


"Lu malu banget ya?" tanya gue.


"Itu iya juga, selain malu gue juga jadi pingin..."


"Pingin apa?"


"Pingin ngeluarin sesuatu. Gue ga bisa tidur sampe gue ngomong hal yang gue pendam ini," kata Mentari.


"Elu memendam sesuatu?" Mampus! Jangan-jangan Mentari baru aja bakal nembak gue? Gue harus gimana nih? Gue harus seneng atau kaget?


Kalau gue dan Mentari jadian itu bakal membuat masalah gue di sekolah kelar. Persahabatan gue dan Gilang asli juga Lele akan aman! Gue butuh Mentari buat mengalihkan fitnah-fitnah yang selama ini meraja lela.


Gue terima aja kali ya? Eh, ga bisa! Masa Mentari yang nembak gue? Gue kan cowok! Gue adalah Gilang! Harusnya Gilang duluan yang nembak cewek! Gue ga mau menjatuhkan harga diri Gilang!


"Iya, Gilang. Ada yang mau gue omongin," kata Mentari.


"Sebentar! Gue juga ada yang gue omongin sama elu. Boleh gue aja ga yang ngomong?" kata gue. Wkwkwk, maksa nih.


"Hah? Lu mau ngomong apa?"


"Gue mau ngomong sebenernya gue suka sama lu."


"Suka sama gue? Kok bisa? Kan lu katanya baru kenal sama gue?"


"Justru itu, Mentari. Baru kenal aja gue udah merasakan kaya udah kenal lama sama lu. Hidup gue merasa terlengkapi. Lu memangnya ga ngerasa kalau semua hal yang kita omongin pasti nyambung dan jadi asik?" Wuih, canggih bener ga alasan gue? Valid kan?


"I-iya sih. Bener juga."


"Jadi..." kata gue.


"Jadi?"


"Jadi... mau ga lu jadi cewek gue, Tar?" kata gue. Gue pingin ngakak. Gue habis nembak cewek, anjir! Gue geli banget, soalnya gue masih normal. Gue bukan lesbong!


"Sebenernya yang mau gue omongin itu adalah..." ucap Mentari.