
Seorang gadis berambut panjang yang diikat ponnytail berjalan riang dari teras rumah menuju gerbang pagar.
"Selamat pagi Pak Amir," sapanya sumringah.
"Selamat pagi, Non Putri," sahut security berkumis tebal dengan kepala plontos yang kerap kali tertutup topi.
"Wah sepertinya ada kabar membahagiakan yang belum saya dengar nih," goda security itu.
"Hihi... Bapak kaya ga pernah muda aja, masa ga tahu?" jawab gadis yang kerap dipanggil Puput itu sambil menghentikan langkahnya. Papoy, demikian panggilan bekennya oleh teman-teman sekolahnya.
"Ciyeeeeeeeeee... Ehem... Saya tebak Non Putri lagi jatuh cinta ya?" ucap Pak Amir tersenyum sembari memainkan ujung kumisnya. Ia tengah memelintir rambut hitam di atas bibirnya itu. Bibir bagian atas yang nyaris tak terlihat lagi, tertutup oleh kumis yang rimbun itu.
"Bukan cuma jatuh cinta, tapi JADIAN! Hihihi..." ucap Papoy manja. Sejak kapan gadis barbar ini berlaku manja seperti ini? Tentu saja sejak ia memulai hubungannya dengan Gilang.
Sambil berdiri di dekat pos security rumahnya, Papoy memainkan HPnya. Ia membuka kotak chat, berharap kalau kekasihnya meninggalkan pesan untuknya. Sambil berdiri menunduk, pintu pagar tinggi yang berbahan besi dengan ukiran artistik itu bergerak perlahan.
Pintu yang terbuka secara otomatis itu perlahan membuka dan ketika menampilkan pemandangan jalanan perumahan yang lengang juga terdapat pemandangan indah yang mengejutkan Papoy.
"Kamu udah dateng Zeng? Kok ga ngabarin?" Papoy berjalan cepat nyaris berlari menuju Gilang, pemuda tinggi berkulit bersih dengan rambut bergaya harazuku.
"Eh, Pak Amir! Aku pergi ya!" Papoy sampai lupa berpamitan jadi ia bicara sambil menoleh ke belakang di tengah ayunan langkah kakinya yang menjauh.
"IYA NON. HATI-HATI... SELAMAT HARI JADIII..." ucap Pak Amir.
Papoy merona. Ia memandangi wajah Gilang dengan wajah sedikit menunduk. Ia melirik wajah tampan kekasihnya itu.
Gilang membulatkan mata. "Pak Amir sampai tahu?" gumamnya.
"Hihi... Gapapa kan Zeyeng?" bujuk Papoy.
"Apa semua orang harus tahu?" ucap Gilang sambil menyerahkan helm kepada Papoy.
Pemuda berseragam putih abu-abu itu adalah pemuda miskin. Motor yang ia kendarai saat ini adalah motor milik Papoy yang sengaja Papoy pinjamkan. Keluarga Gilang memiliki sebuah motor yang sering mogok. Motor yang dipakai ibunya untuk pergi pulang bekerja, jadi tidak mungkin Gilang pakai untuk ke sekolah. Apalagi untuk pacaran. Bisa habis dihajar bapaknya kalau Gilang ketahuan melakukannya.
"Hihi... Aku lagi mood ngasih pengumuman ke orang-orang," ungkap Papoy sambil menerima helm lalu memasangnya. Papoy baru saja akan naik di boncengan belakang tapi Gilang...
"Tunggu! Sini!"
Papoy tidak jadi naik lalu mendekat ke Gilang.
CEKLEK...
"Nah, selesai. Kalau pakai helm biasakan tautkan talinya! Kamu ini kebiasaan," tegur Gilang.
"Sengaja tahu! Biar di-ceklek-in Zeyeng. Hehe..." ucap Papoy.
Entah kesurupan hantu apa seorang gadis barbar bisa nge-bucin sampai segitunya.
Gilang adalah pemuda yang punya keahlian meruqiyah orang. Apakah Papoy lebih baik diruqiyah saja? Sepertinya hantu pun takut untuk mendekati Papoy karena sifatnya yang galak, apalagi merasukinya.
Motor pun melaju. Gilang membonceng Papoy dengan laju yang santai. Semilir angin pagi yang segar turut menambah suasana jadi semakin membucin.
Papoy duduk menyamping dengan tangan kanan melingkar di pinggang Gilang. Papoy memandangi wajah Gilang terus-menerus dari balik pantulan spion.
"Jadi kita beneran nih jadiannya?" tanya Gilang yang melirik ke spion.
"Ih, ya ampun. Bisa ga sih ga usah nanya-nanyain itu? Bukannya kita udah sepakat?" ucap Papoy dengan wajah yang tiba-tiba saja tertekuk.
"Takutnya nanti gue yang cinta sendirian. Gue cuma mau mastiin aja," jawab Gilang.
"Ga kok. AKKOH... itu beneran cinta KAMOOH..." ucap Papoy dengan penekanan di kata 'aku' dan 'kamu'. Ya, kebiasaan lama mereka yang saling memanggil dengan panggilan 'lu' dan 'gue' ingin diganti menjadi panggilan yang dirasa lebih menandakan kedekatan.
"Ngomong-ngomong, gimana ya kabar Vino? Lele ada cerita ga?" tanya Papoy.
"Katanya sih hari ini pulangnya. Parah banget tu kucing. Gara-gara berantem dengan kucing-kucing komplek, dia jadi terluka. Ga tahu deh sampai terjangkit virus apa enggak. Kan rawan banget tuh. Apalagi kucing ras kaya gitu. Beda dengan kucing kampung yang pertahanan dirinya kuat," jelas Gilang.
"Iya, iya, Profesor Kucing. Terima kasih atas penjelasannya," goda Papoy. "Tapi itu gara-gara aku. Aku udah membiarkan Vino dilepas gitu aja. Jadinya dia malah tawuran deh sama preman-preman kampung," jawab Papoy.
"Ya, karena dosamu itu jadi Lele menghukummu disirih jadian sama aku," ucap Gilang.
"Hukuman yang menyenangkan," ucap Papoy. "Apa kamu menjalani ini seperti sedang menjalani sebuah hukuman?" tanya balik Papoy.
"Enggak. Hahaha... Hukuman, kata yang ga tepat. Lebih cocok disebut sebagai hadiah," jawab Gilang.
"So sweet... Boleh tium ga?" ucap Papoy manja seraya memonyongkan mulutnya ke arah spion.
"Ga usah aneh-aneh," kata Gilang.
Gilang yang adalah pemuda kolot yang kaku tentu sangat kikuk dengan hal-hal seperti ciuman, pegangan tangan dan hal-hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang berpacaran pada umumnya.
"Canda, ya elah! Gue juga ga tahu ciuman itu kaya apa. Canda!" ucap Papoy emosi.
"Aku," tegur Gilang.
"Iya bukan gue, tapi aku. Aku memang belum pernah pacaran sebelumnya. Jadi kalau aku bercanda dengan bilang tium, peyuk, itu cuma bercanda!" jelas Papoy.
"Belum pernah, jadi mau dipernahin ga?" goda Gilang.
"Zeyeng! Jangan nakal ah!" ucap Papoy.
"Hahaha..." Gilang tertawa.
"Jangan terlalu ngakak. Ingat terakhir kita boncengan di motor sambil ngakak yang terjadi adalah tersambar petir?" ucap Papoy.
"Itu kan lagi hujan. Sekarang, lihat! Cerah-cerah begini mana ada petir!" kata Gilang.
Baru saja Gilang mengatakan hal itu tiba-tiba sebuah kilat bersinar di atas mereka.
"Mampus! Zeng! Jangan ngomong sembarangan! Terus terang aku trauma!" ucap Papoy pelan sambil melirik ke sekitarannya terutama ke arah langit.
"Ampun Dewa Petir! Thor! Zeus! Poseidon! Siapapun di atas sana. Kami udah tobat kok!" ucap Gilang.
"Kamu sebenernya nonton film-filmnya ga sih?" protes Papoy.
"Emangnya salah ya?" tanya Gilang.
"Bukan salah lagi, ngasal!" jawab Papoy.
"Ya pokoknya aku ga mau lagi tersambar petir. Sambaran pertama bikin kita bertukar raga, sambaran kedua bikin kita balik lagi ke masing-masing raga. Sambaran ketiga? Hih, amit-amit!" kata Gilang.
"Iya, Zeng. Mending cepetan deh bawa motornya. Biar cepat sampai gitu ke sekolahnya. Daripada tersambar petir lagi. Petir memang lagi julid sama kita kayanya," ucap Papoy.
"Oke deh. Gas nih ya?" tawar Gilang.
"Iya, buru!" jawab Papoy.
"Pegangan yang kuat!" ucap Gilang lagi.
"Oke!" Papoy memeluk erat Gilang sampai menempelkan tubuh dan kepalanya di tas punggung Gilang.
"NGEEEEEEENG...."