Miyawlova

Miyawlova
Gue, Papoy, Gayung on SWAG Mode



Sekian hari Puput dan Gilang meninggalkan sekolah, hari ini adalah kali pertama mereka kembali masuk. Mereka udah balik dari Bandung.


Puput mana sih? Jam segini belum nongol aja. Gue kan udah ga sabar ketemu dia. "Lek!" Gilang tahu-tahu nongol entah dari mana. Doi tahu-tahu ada di belakang gue dan nyolek lengan gue.


Pas gue balik badan, senyum jametnya pun merekah menodai mata gue. Gue kaya baru aja ngelihat pantulan kilat dari barisan giginya itu. CLIIING... Astoge!


"Lu nungguin gue ya, Le?" sapa Gilang. Gue refleks sangking senengnya, jadi kegua telapak tangan gue auto tepuk-tepuk pipinya gitu sampai doi kesakitan.


"Aduh! Ampun Le, ampun, ampun," kata Gilang. Gue bolak-balikin mukanya ke kiri dan ke kanan. Gue mau mastiin luka-luka lebam itu apa udah hilang semua, ternyata beneran hilang.


"Wah, udah hilang," kata gue. "Apanya?" kata Gilang dengan bibir monyong karena kedua pipinya masih gue tekan. "Bengepnya," jawab gue. "Iya, habis ini auto nongol bengep baru gara-gara tabokanlu ni," kata Gilang yang masih monyong.


Gue pun nurunin kedua telapak tangan gue dari pipi dia. "Hihi..." refleks gue nyengir kuda.


"Berarti lu aman ya dari bokaplu? Oh ya, beliau udah tahu belum kalau lu ikut turnamen?" tanya gue. "Lu khawatir banget ya sama gue? Kan gue udah cerita, Le, kalau ibu gue udah gue kasih tahu," kata Gilang. "Kan yang gue tanya soal bokap lu Gayuuung. Ngapa jadi nyokap?" kata gue.


"Intinya gue aman kok. Backingan gue nyokap, jadi bapak ga ngasih respons yang gimana-gimana. Bapak gue santuy-santuy aja," jawab Gilang. "Kok bisa sih? Gimana ceritanya? Memangnya bokaplu DKI ya?" kata gue. "DKI apaan?" tanya Gilang.


"DKI itu artinya Di bawah Ketiak Istri." Tiba-tiba Puput nyambung omongan sambil ngerangkul bahu gue dan bahu Gilang. "PAAAPOOOOY..." Gue heboh banget, anj!r.


Gue sama Puput pun berpegangan tangan sambil loncat-loncat berdua. Gilang ikutan haha-hihi dengan muka dipaksain gitu, dia sambil garuk-garuk kepala. Sesekali Gilang nengok ke sekitar. Gue yakin doi malu dengan kelakuan gue dan Papoy yang kaya bocil ini.


"Pssst... Pssst... " Gilang manggilin kami dengan ragu-ragu. "APA?" kata gue dan Puput berbarengan. "Duh, jangan loncat-loncat, nanti tanahnya anjlok," kata Gilang sambil megangin kening dan turun ke depan mata. Asli, dia pasti lagi malu banget punya sohib gue dan Puput. Kalau gue jadi Gilang, mungkin gue akan melipir dan pura-pura ga kenal sama dua cewek ini.


Dia bilang tanahnya anjlok cuma gara-gara kami loncat-loncat gini? Memangnya kami warga Konoha yang lagi perang, auto merusak lingkungan? Setelah tanah anjlok apa lagi? Pohon-pohon seluas lima puluh hektar tumbang semua? Air tanah meluap kaya Lumpur Lapindo? Lebay banget Gilang!


Kami berdua pun sama-sama nunjukin muka singut ke Gilang terus kami tinggalin aja dia. Gue sama Puput asik ngobrol sambil jalan berdua.


"Poy, kok lu iteman sih?" kata gue. "Wajarlah, kan gue selama berhari-hari full aktivitas outdoor. Lagian kulit gue jadi estetik gini tahu," kata Puput.


"Ih, enak aja. Gue ga maho, Kambing! Gue cuma mau mastiin kulitlu pasti belang, dan bener kan belang. Di dalam putih dikit, di luar gosong gitu," kata gue.


"Memangnya kenapa? Ga ada juga tuh orang yang ngelihatin gue sampe ngelintingin baju gue kaya elu. Ah, gue tahu. Lu iri kan sama gue. Kesannya gue jadi kaya bule-bule Pantai Kuta yang baru pulang liburan. Iya kan? Ngaku lu!" kata Puput.


"Lu balik-balik dari Bandung kok makin bar-bar sih? Tadi ngatain gue maho, sekarang ngatain gue iri?" protes gue. "Lu pas gue balik kok makin baperan sih? Terus lu mau ngadu sama nyokap lu gitu? Mojok di toilet sambil teleponan? Iya?" balas Puput.


"YA AMPUN! STOP! STOP!" Gilang menengahi percekcokan kami. "Kalian ini, tadi loncat-loncat kegirangan kaya bocil, sekarang... baru lima menit nih ya, gue lihat jam baru lima menit... tahu-tahu kalian udah berantem. Kalian tuh labil amat sih? Ingat umur, Le, Poy!" kata Gilang.


"Ini nih, si Papoy bar-bar banget ngatain gue maho, terus katanya gue iri sama dia," kata gue ngadu. "Herman gue Gay, masa sekarang Lele baperan kaya gini sih?" kata Puput.


"UDAH! UDAH! STOP!" kata Gilang. "Gini aja, di antara gue yang item estetik ini dan Papoy yang iri karena ga item kaya gue ini, lu pilih yang mana?" kata Puput sambil ngegandeng lengan Gilang dengan lengan dia. Gue pun ga mau kalah dong, gue pun ngegandeng lengan Gilang satu lagi.


"Waaah... Beruntung banget lu, Lang! Kasih tipsnya dong bisa naklukin dua bidadari," kata Tamtam yang lewat. "Kayanya dia biasa-biasa aja ya. Pasti peletnya mahal nih!" kata Richard yang lagi jalan bareng Tamtam.


Gue dan Puput pun saling adu tatap setelah melirik Gilang dan posisi kami sendiri. Gue dan Puput auto ngakak bareng. Gilang juga ikut ngakak, kaya bangga gitu dihimpit sama dua bidadari kaya gue dan Puput.


Kami bertiga pun melangkah bertiga dengan posisi yang ga berubah. Kebetulan gue selalu sedia kacamata hitam di tas gue buat persediaan darurat gue biar tetap slay. Nah kacamata hitam itu gue pakein ke Gilang.


Gue dan Puput melangkah sambil ngegandeng tangan Gilang dari kiri dan kanannya. Angin berhembus bikin rambut kami berdua berkibar-kibar manja. Muka kami berdua harus diangkat dong, sok-sok kaya cewek-ceweknya yakuza gitu. Sementara Gilang di tengah melangkah pakai kacamata hitam.


Kami bertiga serasa bergerak secara slow motion dengan iringan musik SWAG tarararam. Sekitaran kami juga kaya penuh dramatisasi gitu, orang-orang mematung dengan tatapan yang 😱, mirip para fans yang bengong dan ada juga yang histeris karena idolanya lewat. Angin membuat daun-daun yang gugur tertiup menari-nari menambah efek visualisasi jadi makin kece.


NGEEEEK...


Musik tiba-tiba berhenti kaya kaset kusut ketika tiba-tiba Kak Herowandi, si guru muda itu nongol di depan kami. Dia lagi bertolak pinggang melototin kami.


"Kalian lagi ngapain?" kata Kak Herowandi. Jelas dong raja perjametan di sekolah ini ga suka banget kalau bidadari-bidadari sekolah kepincut sama sosok seperti Gilang.