Miyawlova

Miyawlova
Pembully



Setelah melewati perjalanan yang ga panjang, Gilang dan Papoy pun sampai di sekolah.


Saat di tempat parkir Mentari menghampiri.


"Hai Gilang, kamu udah sehat?" sapa Mentari yang juga baru sampai di sekolah.


"Iya, syukurlah," jawab Gilang dengan ekspresi kikuk. Sesekali ujung matanya mengarah ke Papoy.


"Hai, Mentari," sapa Papoy ceria.


"Hai juga," sahut Mentari jutek.


Gilang dan Papoy sudah turun dari motor. Mereka sama-sama membawa helm, mengaitkan tali dagunya di lengan seperti sedang menyandang tas kecil Mereka pun akan melangkah berjalan menuju kelas. Mentari tiba-tiba masuk di antara keduanya.


"Kapan ya bisa nonton kamu latihan karate lagi?" goda Mentari sambil menyenggol lengan Papoy.


"Ih," Papoy tersenggol, ia merasa kesal.


"Kayanya nanti-nanti dulu. Perlu pemulihan lebih lanjut. Iya kan Zeng?" ucap Gilang.


"Iya dong Zeng. Mana bisa latihan karate dengan kondisi yang kurang fit," ucap Papoy.


"Tar, jalan masih lebar kenapa malah nyeli-nyelip di sini sih?" lanjutnya dengan nada risih.


"Biarin. Gue pingin deket sama Gilang. Udah lama ga ketemu. Kemaren-kemaren kan sakit," ucap Mentari.


"Gue juga sakit. Ga kangen lu sama gue?" tanya Papoy. Papoy masih menganggap Mentari sebagai sahabatnya. Ia tidak baper ketika Mentari jutek kepadanya.


Di hari terakhirnya dekat dengan Mentari sebagai seorang Gilang, Papoy menjalin hubungan baik dengan Mentari. Maka dari itu ia masih menganggap Mentari seperti sebelumnya, hubungan mereka dianggap baik-baik saja.


Tidak seperti Papoy, Mentari justru menganggap Papoy sebagai rivalnya. Yang selama ini dekat dengannya adalah Gilang, bukan Papoy, begitu menurutnya. Padahal yang terjadi justru Gilang merasa asing terhadapnya dan Papoy yang merasa akrab.


Mereka bertiga berjalan bersama. Lalu mereka sampai di sebuah lorong yang di dindingnya terdapat jajaran locker tempat helm biasa disimpan.


"Gilaaang... istirahat nanti jajan bareng gue yuk?" ajak Mentari. Gilang tengah sibuk menutup locker-nya.


"Maksud gue berdua aja, gue sama Gilang. Lu sama temen yang satu lagi aja gitu. Misah dari kami," kata Mentari.


"Ga bisa gitu, Tar. Gue sama Gilang kan..." nyaris! Untung Gilang cepat menimpali.


"Udah, udah, udah! Apaan sih kalian? Gue istirahat nanti mau ada meeting sama anak-anak Sastra!" Gilang pun langsung meninggalkan Papoy dan Mentari.


"Tuh kan. Tetep aja ga bisa. Kalau mau bareng-bareng Gilang, lu harus bareng kita-kita!" ucap Papoy ketus. Papoy sudah terlanjur kesal. Selain karena Mentari yang mengabaikannya, juga karena Gilang yang tiba-tiba memisahkan diri.


Papoy dan Gilang meninggalkan Mentari sendirian. Ia pun memasang wajah yang picik di belakang punggung mereka. "Tunggu aja tanggal mainnya. Gue akan merebut Gilang dari lu, Poy... dan Lele. Ah, entah siapalah itu. Ga penting. Hahahaha..." batin Mentari.


Papoy pun menyusul Gilang ke kelas.


"ZEEENG... ZEEENG... TUNGGU AKU DONG ZEEENG..."


"Ada apa? Kenapa jadi kita mesra-mesranya di depan orang-orang? Bukannya di depan Lele doang?" tanya Gilang yang menghentikan langkahnya dan menoleh ke Papoy. Padahal kelas mereka masih jauh dan Gilang ingin secepatnya sampai di kelas.


"Hahaha... Jadi anak culun sekarang udah punya cewek?"


Papoy memandang sini murid laki-laki yang baru datang itu. Tentu saja Gilang tidak terlalu peduli dengan ejekan itu, sebab Papoy yang sangat tahu dengan ejekan itu.


Dulu saat Papoy bertukar raga dengan Gilang, dirinyalah yang mendapati ejekan dari murid laki-laki itu.


"Memangnya kenapa? Ngiri kan lu? Ga laku ya?" tantang Papoy.


"Gila... Ceweklu ngegas juga ya? Ah, mending gue kabur," kata murid tersebut.


"Dasar!" gerutu Papoy.


"Kenal?" tanya Gilang.


"Waktu aku jadi kamu, Zeng... dia itu ngebully muku kerjaannya. Aku dikatain culunlah... " jelas Papoy.


"Ya udah, ya udah. Jangan manyun lagi. Yok ke kelas aja. Daripada pembully-pembully lain berdatangan," kata Gilang.