Miyawlova

Miyawlova
Perjanjian Rahasia



Gue dan teman-teman diantar sama Pak Memet ke penginapan si Gayung. Tempatnya asri banget. Rumah penduduk yang sederhana, ukurannya cukup buat tiga oranglah kira-kira. Tapi, si Gayung di sana tinggal sama guru berjumlah empat orang. Mereka cukup survive ya di sana. Atau jangan-jangan gue doang yang lebay? Huhu... Soalnya seumur-umur gue belum pernah tinggal di rumah kecil yang isinya cuma ruang depan, ruang tengah, dua kamar tidur dan satu toilet. Sedangkan dapurnya nyempil di dekat toilet dan ruang tengah.


Ini gue malah merhatiin penginapan si Gayung, wkwkwk. Pas sampai, gue numpang ke toilet gitu soalnya. Jadi mau ga mau isi rumah pun terpampang nyata di depan mata gue.


Oh, iya, lupa, rumah Gilang pun ga jauh berbeda sama rumah ini. Pasti dia udah biasa. Jadi, gue ga perlu terlalu mengkhawatirkan kenyamanan Gilang tinggal di sini.


Gue pun membuka toilet itu. Sebenarnya toiletnya bersih, tapi barang-barang di dalamnya ga match gitu jadi iyuh banget gue masuk ke situ. Bak airnya dijebol, digantiin fungsinya pakai gentong satu, ember dua, dan gayungnya pun udah berjamur.


Di lubang pembuangan airnya ada batu yang tutupin. Kaya kalau tu batu prasasti dibuka bisa menghubungkan kita ke gerbang dimensi lain.


Gue pun menutup pintu toilet dari dalam. Belum sempat gue buka rok gue, tahu-tahu ada UFO terbang menclok ke rambut gue.


"AAAAAAA..."


Gue auto kabur dari toilet itu sambil jingkrak-jingkrak panik. Semua orang di ruang depan langsung pada datang ke ruang tengah, tempat gue ngereog sekarang.


Ada dua guru, Gilang, tiga cewek slay, dan driver gue. Mereka ikutan kaget, kirain gue kenapa gitu.


"Kecoa b4ngsat! G0bl0k! Anj!r! Tai bab!" Gue refleks ngelampiasin emosi jiwa gue.


Semua orang bengong ngeliatin gue, disangkanya gue kesurupan apa gimana kali ya.


Gilang mendekat. "Tenang, Le. Tenang," kata Gilang. "Jauhin alien ini dari gue!" kata gue kesel. "Bukan alien, ini cuma kecoa," kata Gilang.


Gilang pun ngambil makhluk menjijikan itu dari rambut gue. Dia megang bagian kumis yang menjuntai itu dan ngangkatnya deket di depan mata gue.


PLAAAAK... BUUUK... PLAAAAK...


"Laila!" tegur salah satu guru. "Laila! Jangan kamu hajar lagi Gilang, kasihan dia sudah lebam-lebam begitu," lanjutnya. "Ha?" gue pun terdiam. Eh, barusan gue tabok-tabokin Gilang ya? Gue baru sadar. Habisnya monster menjijikkan itu deket banget sama mata kepala gue.


Dan...


"HEH! SIAPA YANG NGIZININ LU NGEREKAM?!" bentak gue ke Reka. Yang paparazi itu gue, kok malah bisa-bisanya gue yang direkam! Sebuah pelecehan profesi ini namanya.


"Hihi..." Yah, Reka cuma ketawa doang dan dia pun langsung matiin HP-nya dan melipir dari situ.


"Sekarang aliennya udah gue musnahin," kata Gilang setelah ngebuang kecoa itu lewat jendela. "Ga lu bunuh?" kata gue sambil nengok ke jendela. "Gue buang aja," kata Gilang. "Harusnya lu bunuh dulu," protes gue. "Harusnya Laila minta maaf dan berterima kasih sama Gilang," sambung guru gue.


Oh iya, lupa. Anjoy, malu banget gue udah ngereog ga jelas tadi.


Orang-orang pun membubarkan diri sambil ada yang geleng-geleng. "Lele... Lele... Ada-ada aja sih," kata Nita.


Setelah insiden itu, dan gue lanjut ke toilet karena hajat gue belum tertunaikan tadi. Gue dianterin sama Gilang dan gue suruh tu anak buat masuk ke toilet buat menginspeksi lokasi sekitar. Siapa tahu anggota sekte monster jijik-jijik squad masih tersisa di sana. Setelah diinspeksi dan dinyatakan clear, baru gue pake tu toilet. Tentunya Gilang keluar dulu dong! Enak aja kalau dia tetap stay di dalam. Bisa hilang harga diri gue.


Setelah itu semua kami pun duduk-duduk mengobrol bareng guru jaga dan teman-teman. Puput pun datang. Dia cium tangan ke guru jaga dulu baru merepet ke gue dan Gilang. Sungguh kesopanan yang membagongkan.


Kami berdiri-berdiri di teras, gue, Puput, Gilang. Cewek-cewek slay di halaman lagi nyari spot yang instragramable.


Puput ngejambak Gilang buat ngelihatin sudut demi sudut muka Gilang yang bengep. Kan kepala Gilang jadi tertengadah tuh gara-gara ditarik rambutnya sama Puput, nah Puput melototin inci demi inci kebengepannya.


"Untung lu ga meninggoy!" kata Puput sambil ngegeplak lengan Gilang lalu tulang kering Gilang pakai telapak tangan Puput. "Aw! Aw!" kata Gilang.


"Lu juga Le! Belum sembuh ni anak udah lu tabokin aja doi. Si Gayung tadi ada masalah apa sama lu? Apa perlu gue tambahin lagi?" kata Puput.


"Eh? Ja-ja-janganlah!" kata Gilang. Mendadak gagap lu, Lang. Kaya pelawak Aziz Gagap lu! Eh, tu orang udah Almarhum ya? Bisa-bisanya gue nyama-nyamain sohib jamet gue sama yang udah Almarhum.


"Oh, iya, sebentar," kata Gilang. Gilang pun ninggalin gue dan Puput masuk ke dalam penginapan terus beberapa saat kemudian balik lagi sambil membawa sertifikat dan trofi.


"Hadiah ini saya persembahkan untuk Senpai saya," kata Gilang sambil berlutut, nunduk dan ngangkat kedua benda itu di atas kepalanya. Dia persembahin buat Puput yang berdiri di depannya.


"Apa-apaan ini?" kata Puput sambil ngambil kedua benda itu, dia pelototin dan dia balikin lagi ke Gilang.


"Gue udah lihat tadi. Si Lele yang ngejapriin gue fotonya," kata Puput.


"Sebenarnya bukan ini yang gue harapin dari adik junior gue yang sok kepedean dan konyol ini," kata Puput.


Puput kembali merebut dua benda itu dari tangan Gilang dan nyuruh gue buat megangin. "Titip sebentar, Le," kata Puput.


"Gue mau ngomong empat mata sama lu!" kata Puput ke si Gilang. "Cepetan! Lama!" kata Puput sambil ngejambak rambut Gilang, nyeret dia buat jalan ngikutin Puput.


Mereka berdua pun menjauh. Mereka lalu berhenti di sekitar jarak tiga puluh sampai lima puluh meter dari tempat gue. Gue masih bisa melihat mereka berdua tapi gue ga bisa dengar apa yang diobrolin mereka.


Puput bertolak pinggang sambil nunjuk-nunjuk muka Gilang, Gilang pun ngangguk-ngangguk kaya babu. Sesekali Puput nabok lengan Gilang dan Gilang kelihatan kesakitan.


Di ending drama yang gue lihat itu Puput nyodorin jari kelingkingnya dan Gilang pun menautkan jari kelingkingnya ke jari Puput. Mereka lagi melakukan perjanjian, tapi perjanjian apa ya? Gue kepo.


Ah, ntar gue mau ngebujuk salah satu di antara mereka buat cerita ke gue. Tapi, kalau gue ngebujuk Puput ga mungkin sih kayanya. Soalnya kan Puput yang ngajak Gilang ngobrol di tempat sejauh itu. Memangnya apa yang bikin Puput ga pingin gue tahu apa yang mereka obrolin sekarang?