
Para peserta itu loncat-loncat dan sesekali bergaya buat ngecoh lawannya. Ada yang kaya mau nendang terus ga jadi tahu-tahu nabok muka. Ada juga yang pura-pura nabok tahu-tahu kepala belakang lawannya udah kena tendangan melingkar. Bisa gitu ya tendangannya melingkar! Keren!
"YAME'!" kata wasit.
Wasit melerai dan memposisikan kedua peserta berdiri di posisinya lalu wasit itu merentangkan tangannya ke arah peserta yang tadi menendang. Peserta itu lalu hormat sebentar.
KLIIING...
Papan poin dari nol-nol berubah jadi tiga-nol. Gue membulatkan mata, gue baru paham tendangan yang kaya tadi itu nilainya tiga.
"AKA... AO... HAJIME!" kata wasit lagi. Pas lagi ngomong 'aka' nunjuknya ke yang sabuk merah dan pas lagi ngomong 'ao' nunjuknya ke yang sabuk biru. Hajime itu semacam aba-aba biar mereka mulai berantem lagi.
Mereka saling menyerang bergantian dan mereka jago mengelak, menangkis. Serangan lawan jadi ga terhitung dan ga dapat poin. Cara menangkisnya keren. Tangan ke atas, tangan nempol serangan, gerakan-gerakan itu sangat cepat.
"YAME'!" kata wasit lagi. Wah peserta yang kena tendang tadi balik nendang perut. KLIIING... Tiga-dua. Oh, poin untuk tendangan nusuk tadi adalah dua.
Lagi-lagi mereka saling menyerang dan menangkis bergantian. Ritme mereka betul-betul aneh, ga bisa ditebak. Keren.
"Aaaaa..." Nita heboh banget. "Yang biru punya gue!" kata Dwi. "Enak aja! Lu yang merah aja!" balas Nita. "Lihat aja nanti yang merah bakal bangkit! Kalian bacot!" kata Reka.
"AKA... AO... HAJIME!" kata wasit lagi. Peserta yang pertama kena tendang tadi lagi-lagi nyerang, kali ini mukul perut. KLIIING... Tiga-tiga. Ternyata poin untuk pukulan kaya gitu adalah satu.
Wah, hasil poin mereka seri. Sementara, timer menunjukkan waktu udah mau habis. Tinggal satu menit bahkan kurang! Dari waktu tiga menit yang ditentukan, apakah akan ada waktu tambahan? Wah, menegangkan banget!
Mereka ga nyerang-nyerang, waspada banget!
PAAAAAK...
"AAAA..." Aw! Ga tega gue ngelihatnya, dia kena serang selangkangannya.
"YAME'! AO CHUKOKU!" kata wasit sambil menyilangkan kedua tangan ke arah sabuk biru.
KLIIING... Dua-tiga. Ternyata poin untuk sabuk biru minus! Oh, barusan itu pelanggaran ya.
Setelah itu wasit kembali nyuruh mereka berantem lagi. "HAJIME!"
Ih, lama banget kok ga ada yang saling serang? Cuma ancang-ancang doang daritadi. Gemes banget gue.
"YAME'!" Tuh kan! Wasit aja sampe nyuruh berhenti dan ngulang lagi dari awal. Abisnya ga ada yang nyerang.
"HAJIME!" Mereka pun kembali disuruh berantem, lalu...
PRAAAAK...
Salah satu peserta kena jegal kakinya, dia jatuh kebelakang terus dihajar dari atas sama lawannya. Dia dipukul perutnya!
Waktu habis! Papan poin berubah jadi dua-empat. Wasit pun menyatakan dengan cara merentangkan tangan ke atas di sisi yang sabuk merah. Sabuk merah menang.
Kami pun bertepuk tangan, keren banget asli. Sebenarnya bukan baru kali ini yang tepuk tangan. Sepanjang pertandingan tadi banyak yang heboh tepuk tangan, goyang-goyangin botol air mineral yang isinya kerikil, neriakin yel-yel. Suasana dalam GOR ini benar-benar heboh.
Gue yang melihat pertandingan aja gemetar apalagi Gilang! Ga kebayang deh kalau gue jadi Gilang sekarang.
Pertandingan pun berganti orang. Di lapangan lain masih di arena yang sama ada pertandingan grup yang berbeda. Kelihatan banget setiap pertandingan ada kelas-kelasnya. Yang sebelah sini kelas ringan, badannya kurus-kurus. Di sebelah sana kelas berat, badannya lebih gede. Dan di sebelah sana kelasnya beda lagi. Semua sama-sama peserta cowok, tapi beda kelas badannya.
Di saat nonton gini ga lupa gue sebagai paparazi moto-motoin dan ngerekam di sela-sela waktu gue. Keren banget gambar-gambarnya.
Setelah beberapa pertandingan tibalah saatnya Gilang tampil. "GILAAAAANG..." Gue udah janji sama Gilang bahwa gue adalah supporter dengan teriakan paling keras buat dia.
Gilang memasuki lapangan, dia berdiri berhadapan dengan lawannya dengan jarak dua meter dan di tengah-tengahnya ada wasit.
Gila penampilan Gilang beda banget dari hari-hari biasanya. Dia sama sekali jauh dari kesan jamet, culun dan sebutan-sebutan sejenis lainnya.
"AKA... AO... HAJIME!"
Pertandingan pun dimulai. Gilang ga loncat-loncat kaya yang lain. Dia pasang kuda-kuda lebih rendah dari orang-orang yang gue lihat tadi. Dia jalan menyamping dan jadi muterin lapangan buat menghindari serangan lawan.
Ayo Gilang! Kok lu mundur terus, ga nyerang-nyerang?
Gilang dapat lawan yang agresif. Dia dikejar terus sampai... "YAME'!" Setelahnya wasit kaya nyeramahin Gilang gitu. Kayanya Gilang dapat peringatan karena dia ga nyerang-nyerang bahkan menghindar terus dari serangan lawannya tanpa menangkis. Kalau menangkis berarti lawannya dihadapi kan, tapi dia enggak menghadapi lawannya!
Gue maklumin Gilang kaya gitu. Secara, Gilang adalah 'anak kemarin sore' yang baru masuk karate.
"HAJIME!" Pertandingan dimulai dari awal lagi. Lawan Gilang kelihatan geram. Gila, lawan Gilang memutar badannya beberapa kali kaya muterin punggungnya terus melayangkan tendangan dari hasil putaran badan itu.
PLAAAK...
Oh, jangan! Jangan jatuh Lang! "GILAAAAAAANG..." gue teriak. Gue ga tega Gilang kena tendangan itu di pelipis kepalanya. Badannya langsung jatuh ke samping. Gilang tepar!
Wasit menunduk terus jongkok. Wasit menghitung tapi Gilang ga bangkit-bangkit. Lawannya duduk di pinggir lapangan dengan melipat kaki dan membelakangi Gilang sambil menundukkan kepala.
Pas hitungan mau habis, Gilang pun angkat tangan. Hitungan dihentikan dan Gilang bangkit. Pertama dia duduk terus pelan-pelan dia berdiri. "WAAAAAAA..." Orang-orang berteriak kagum dan sontak mengelu-elukan Gilang.
Gilang dan lawannya kembali berdiri berhadapan kaya dari awal lagi. Wasit menyilangkan tangan ke arah lawan Gilang. Lawan Gilang itu ternyata melakukan pelanggaran.
"Permisi, Kak... Kenapa orang itu dihitung ngelakuin pelanggaran?" tanya gue ke penonton di sebelah gue. Walaupun gue kesal tapi gue objektif dong, gue rasa tendangan lawan Gilang tadi benar-benar keren. Gue heran kenapa jadi pelanggaran.
"Ini adalah turnamen olahraga. Teknik yang barusan dipakai bisa terhitung kalau pakai kontrol yang bagus. Tapi, orang tadi loss control. Dia bisa membuat orang cedera dengan gerakan tadi. Ini bukan pertandingan untuk melumpuhkan apalagi untuk membunuh, jadi hal kaya tadi dihitung sebagai pelanggaran," kata penonton di samping gue itu menjelaskan.
"GILAAAAAANG... LO BISA LAAAAANG!" teriak gue. "GILANG BISA... (DUK DUK DUK DUK DUK) GILANG BISA... (DUK DUK DUK DUK DUK) GILANG BISA...". Gue lihat ke sekeliling gue, orang-orang kompak ngasih semangat buat Gilang. Gue terharu banget. Gilang kaya udah mendapatkan hati para penonton gitu kaya di film-film. Mata gue berkaca-kaca.