
CIIIIIIIT...
Tiba-tiba angkot ngerem mendadak, keras banget membuat kami yang ada di dalam mobil duduknya jadi miring-miring.
"Hati-hati dong Pak!"
"Tahu nih si Bapak, nyebelin banget!"
"Untung kita semua ga kenapa-kenapa kan?"
Dengan serta-merta orang-orang pun pada protes ke supir angkot.
"Maaf, maaf. Itu di depan tadi ada motor yang ugal-ugalan. Maaf ya semua. Bapak janji akan lebih berhati-hati," ucap supir angkot.
Gue yang nyenggol lengan dan bahu Mentari jadi ga enak sama dia. Eh malah si Mentari senyum-senyum. Padahal kan tadinya gue mau minta maaf, ga jadi deh. Hehehe... Gue senyumin aja.
"Eh, soal tadi. Boleh kan?" kata gue.
"Hah? Sampai dimana tadi?" Ya elah ni anak malah bengong.
"Gue besok mau nonton lu latihan dance. Boleh kan?" kata gue.
"Boleh! Boleh banget!" jawab Mentari antusias.
Gue pun ngobrol-ngobrol seru sama Mentari. Apa aja yang ada di kepala gue, gue omongin aja. Sokap-sokap dikit ga apa-apa biar Mentari jadi sohib gue.
"Hahaha... Ga nyangka ya ternyata lu doyan KPop juga. Nah, jadi project dance gue dan kelompok gue sekarang itu nge-remake gerakan Jiso," jelas Mentari.
"Oh yang gini gerakannya kan... Teowet... teowet... " kata gue sambil memadukan pangkal telapak tangan dan membukanya lalu memutarnya di depan.
"Hahaha..."
"Hahaha..."
"Ih lu tahu yang itu juga ternyata!" dengan excited Mentari ngobrol sama gue.
"Kapan-kapan kita collab yuk, ngonten di TikT0k gue?" ajak Mentari.
"Boleh, tapi gue tahunya cuma sekedarnya. Nanti lu ajarin gue dulu ya? Gue ga biasa ngedance gitu. Bayangin orang biasa karate terus nge-dance. Ya ada pasti kaku banget kaya robot," kata gue.
"Iya, tenang aja ntar lu gue ajarin. Eh, ngomong-ngomong ini udah mau sampe ke tempat gue. Tempatlu kelewatan Lang! Harusnya lu turun di daerah selatan kan tadi?" ucap Mentari panik.
"Eh? Iya ya? Hahaha... Ya udah ga apa-apa, sekalian gue nganterin lu aja," kata gue.
"Yang bener? Lu mau nganterin gue? Sekalian mampir deh? Ya? Please!" kata Mentari excited.
"Boleh tuh? Hahaha..."
"Ya boleh dong! Gue seneng banget kalau lu mau mampir ke rumah gue!" kata Mentari.
"PAK, MINGGIR DEPAN YA? SEBELUM BELOKAN," ucap Mentari.
Angkot pun berhenti. Gue dan Mentari turun ga lupa dengan membayar secara BS-BS alias bayar sendiri-sendiri.
Kami pun berjalan kaki sama-sama ke dalam gang lalu memasuki komplek perumahan. Mentari terlihat ceria banget. Gue juga seneng dapat sohib baru apalagi kami sefrekuensi kaya gini.
Gue memandangi Mentari, gerak di sekitaran gue pun jadi melambat, angin berhembus lembut, rambut melambai-lambai lambat tertiup angin, daun jatuh dan langkah kaki kami sendiri. Gue tersenyum. Seorang Gilang sebentar lagi punya pacar. Betapa beruntungnya elu, Mentari.
NGOOOEKK...
Efek lambat dramatisasi suasana selesai. Semua kembali seperti semula gara-gara gue baru sadar bukan Gilang yang bakal jadian sama Mentari tapi gue. Iya, gue! Tahan-tahanlah wahai diri gue yang membingungkan ini. Gue sambil ketuk-ketuk jidat gue.
"Lu kenapa Lang? Lagi sakit kepala?" tanya Mentari.
"Emh... Emh... Iya, agak pusing gue. Mungkin cuma dehidrasi doang," kata gue.
"Ya udah, tahan dulu ya. Nanti begitu sampai di rumah gue lu bisa minum sebanyak mungkin air. Hehe..." balas Mentari.
Waktu pun berlalu, gue dan Mentari udah jalan kaki bareng dan...
"Tadaaaa... Ini rumah keluarga gue. Akhirnyaaaa..." kata Mentari.
"Akhirnya sampe ya. Padahal ga terlalu jauh dari gang depan tadi tapi ekspresi lu kaya girang banget. Haha..." sambung gue.
"Habisnya lu kan dehidrasi, Gilang. Gue ga tega aja sama lu yang sakit kepala gitu," jawab Mentari.
"ASSALAMUALAIKUM..." Mentari memberi salam di depan pintu rumahnya.
Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya pun membuka pintu.
"Wa alaikumussalam, Non Tari sudah pulang. Wah, ada temannya juga ya?" Non? Ini pembantunya kali ya. Ramah sekali ibu-ibu ini.
"Iya, Mbok. Ini Gilang, teman sekolah Tari. Ayo, Gilang masuk. Gilang lu mau minum apa?" tawar Mentari.
"Apa aja yang seger-seger," jawab gue.
"Oke. Mbok, tolong buatkan es teh manis ya?" kata Mentari.
"Baik Non," kata pembantu Mentari. Ia membalikkan tubuh dan beranjak pergi.
"Emh, Mbok. Pakai gelas segede gentong ya," tambah Mentari.
"Oke, Non," jawab pembantunya lalu kembali membalikkan badan dan pergi.
"Hihihi..."
"Memangnya di sini ada gelas segede gentong? Ada-ada aja lu, Tar," kata gue.
"Kalau lu biasa makan di rumah makan, ada gelas kaca gede banget, nah di rumah ini gelas kaya gitu adalah kesukaan bokap gue," kata Mentari.
"Serius?"
"Lihat aja deh nanti kalau si Mbok datang bawa minumannya," ucap Mentari.
Kami pun mengobrol seru sambil menunggu minumannya datang.
"By the way, lu ga ganti baju dulu?" kata gue.
"Iya sih, gerah juga pakai ni seragam," jawab Mentari.
"Ya udah, sana gih, lu ganti dulu," kata gue.
"Oke deh. Gue tinggal sebentar ya?"
"Siap," kata gue.
Di saat gue sendirian di ruang tamu, seorang wanita dengan dandanan yang anggun, bersanggul dan menggunakan kebaya datang.
"Assalamualaikum," ucapnya.
"Wa alaikumussalam," jawab gue.
"Wah, sedang ada tamu rupanya. Temannya Tari ya?" sapa hangat wanita itu.
"Iya Tante. Saya Gilang," kata gue sambil berdiri.
"Saya Bundanya Tari, orang-orang memanggil saya Bunda Rukmini," ucap wanita itu sembari menyodorkan tangannya. Gue pun menyambutnya dan menaruh punggung tangannya di jidat gue, tentunya sambil gue menunduk.
"Sopan sekali. Emh... Gilang ya? Seperti tidak asing ya... Jangan-jangan Mentari pernah menceritakan kamu kepada Tante. Gilang, benar, pasti yang waktu itu namanya Gilang," kata Bunda Rukmini.
"Silakan duduk," ucap wanita itu dia pun duduk di sofa yang lain di sebelah gue.
"Aduh, Tari cerita apa sama Tante? Saya jadi malu," kata gue sambil garuk-garuk leher belakang.
"Cerita kalau Gilang itu cowok yang jahat! Tari sebel banget sama kamu!"
"Hah?" Emangnya gue udah bikin dosa apa sama Mentari? Kenal juga baru.
"Masa Tante?"
"Ya tentu aja enggak dong. Hahaha... Tante cuma bercanda."
"Hahaha..."
"Hahaha..." Ni orang asik juga ya. Pasti dia adalah wanita sosialita yang banyak temannya.
"BUNDAAA...!"