Miyawlova

Miyawlova
Tentang Perasaan



Kucing-kucing gue udah kaya seleb aja, anjoy. Udah gue perkenalkan sama seantero penduduk bumi. Ga juga sih, gue cuma memperkenalkan anak-anak gue itu ke temen-temen gue plus satu guru yang menjenguk gue sekarang.


Papoy setiap main ke rumah gue dan gue lagi ada ritual sama anak-anak gue, Papoy langsung kospley jadi tembok. Dia ga telaten sama kucing. Cuma tahu ngelus-ngelusnya sebentar doang. Doi punya trauma tersendiri juga pas digigit dan dicakar kucing. Jadi kalau doi lagi deket sama kucing itu artinya doi lagi sok berani aja. Padahal aslinya pasti lagi merinding disko, bahkan ngereog, koprol-koprol dan nemplok-nemplok di dinding.


By the way, emangnya ritual apa yang suka gue lakuin sama anak-anak gue? Nih gue kasih tahu ke orang-orang yang menjenguk gue. Ritual gue adalah adu kedip sama mereka pertanda kami lagi ngomong pakai bahasa telepati. Kalau gue kedip terus kedipan gue dibalas berarti anak gue lagi nyambung ngomong sama gue. Tapi kalau kedipan gue dikacangin, siap-siap aja gue tarik ekornya tinggi-tinggi sampai anak gue itu minta ampun sama gue.


Ritual gue yang selanjutnya adalah jari-jari cantik gue dikenyotin sampai mereka nge-fly. Masih banyak sih ritual gue sama anak-anak gue itu. Untuk saat ini karena banyak fans yang lagi ngelihatin, jadi mereka cukup tebar pesona aja udah, ga usah macem-macem.


"Sebenarnya lu sakit apa sih Le?" tanya Nita. "Iya, ga mungkin deh kalau lu cuma kecapean doang?" sambung Dwi. "Nita, Dwi... Tadi kan Laila sudah bilang kenapa dia bisa masuk UKS. Kalian jangan berpikir yang macam-macam ya?" ucap guru.


"Tuh! Dengerin! Kalian itu su uzon aja sama gue. Kenapa ga sekalian nyumpahin gue meninggoy gitu?" kata gue. "Astaga! Kata-kata lu lebih freak, Le!" tegur Puput.


Untung aja guru gue tadi nimpalin, jadi pertanyaan Nita dan Dwi ga perlu dijawab apalagi diperpanjang. Gue malu, gue ga pingin terlihat lemah di depan teman-teman. Walaupun sebenarnya iya, beneran lemah.


Setelah ngejenguk gue, menghibur gue dan main sama anak-anak gue, teman-teman dan guru gue pun pulang. Terisisa Puput yang tinggal di sini.


"Poy, gue nginap di sini aja deh. Gue pingin bobo sama elu," ucap Puput. Benar-benar malaikat pelindung gue nih si Papoy. Di saat gue sakit begini memang mood gue suka tiba-tiba ngedown sih. Gue memang lagi butuh Papoy di sisi gue sekarang.


Sebenarnya bukan karena gue kurang kasih sayang dari bokap-nyokap. Mereka ada kok di rumah dan mereka memang selalu ada buat gue. Tapi, gue lebih suka kalau Puput yang nemenin gue aja.


Waktu berlalu, gue dan Puput pun mau beranjak tidur. Puput tidur di samping gue. Kami cerita-cerita dulu sebelum tidur sambil menatap langit-langit kamar gue. Di sana ada gambar langit beneran. Kalau malam gini lampu ruangan diredupin dan langit-langit kamar gue ada efek visualnya. Jadi kalau kita menatap langit-langit serasa lagi natap langit lepas di luar sana.


"Hihihi... Memang somplak si Tamtam kan? Niat mau jadiin si Gayung babu dalam kelompok, tahunya tangkuk kekuasaannya sebagai leader malah diambil si Gayung," kata gue.


"Lu tahu ga kelanjutan cerita dramanya si Tamtam di kelas Matematika tadi?" kata Puput. "Ya gak tahu dong, gue kan pulang duluan," jawab gue. "Ih, di grup WA heboh banget tahu! Lu ga baca?" ucap Papoy. "Gue tidur seharian! Kan gue lagi sakit," jawab gue.


"Memang lu ya, mentang-mentang sakit lu auto jadi kebo lu!" ledek Paput. "Enak aja!" Gue pun memukul Puput pakai guling. "Haha... Ampun, Le, ampun," kata Puput.


Kami bercerita tentang apa yang terjadi di kelas selama gue pulang duluan tadi siang. Herman gue! Kenapa di saat gue masuk ga ada kejadian-kejadian konyol kaya gini? Kan lumayan buat gue liput! Ah semesta begitu kejam, ga ngajak-ngajak gue pas lagi seru-serunya.


Setelah capek cerita-cerita, kami pun mengheningkan cipta. "DENGAAAN SELURUH... ANGKASA RAYA MEMUJI PAHLAWAN NEGARA." Eh, bukan mengheningkan cipta itu maksud gue, tapi pada diem gitu.


"Poy," gue panggil Puput. "Hem?" sahut Puput. "Oh belum tidur. Kirain lu udah tidur," kata gue. "Oh jadi mau check sound doang?" kata Puput.


"Poy," gue panggil Puput sekali lagi. "Apaaa..." Suara Puput udah mulai males, kayanya dia udah teler deh.


"Gue mau nanya sesuatu," kata gue. "Yaa..." Suara Puput semakin teler.


"Gue pingin lu jujur. Sebenarnya lu pernah punya perasaan suka gitu ga sih sama si Gayung?" tanya gue.


"Poy?"


"Kok lu diem aja?"


"Oh, jangan-jangan lu mau ngaku kalau perasaan suka itu bukan pernah lu rasain tapi sampai sekarang masih selalu lu rasain. Iya kan?"


"Poy?"


Kok omongan gue ga ada sahutan lagi ya? Maka gue pun menoleh ke arah Puput. Bantal guling yang menghalangi kami gue singkirkan biar gue bisa ngelihat muka Puput.


"ASEM!" kata gue sambil ngedorong guling ke muka dia. "Hem?" Puput cuma nyahut pelan dengan nada teler dan sambil merem.


Ternyata gue ditinggal tidur duluan. Berarti dari tadi gue ngomong sendirian dong! Awas aja lu, Poy. Tunggu pembalasan gue besok!