Miyawlova

Miyawlova
Kakek Misterius



Oke, mulai sekarang gue wajib jadi kalem. Homena... homena... homena...


Gue pun melanjutkan perjalanan bareng Gilang dengan berjalan kaki.


Gue berjalan dengan menumpuk kedua telapak tangan dan ketiak sedikit dilebarkan. Ga lupa dengan langkah kaki kecil-kecil juga senyum tipis-tipis ke seluruh penjuru mata nangin.


Wah ada burung yang hinggap di dahan, jadi gue angkat telapak tangan dan gue putar dengan anggun, ala-ala miss universe dadah-dadahin orang.


"Ya elaaaah... Ga gitu juga, Papoy! Kalau kaya gini mau nyampe jam berapa? Malah lemot banget jalannya," protes Gilang.


"Kan lu yang minta?" nada suara gue super lembut dan lambat.


Tanga gue pun langsung ditarik dan gue diseret biar bisa jalan cepet. Gue ngikutin kemauan Gilang sambil nahan ngakak. Gue pasrah aja ditarik, kan dia yang cari gara-gara.


Sampailah kami di jalan yang ada angkotnya. Gue dan Gilang mau naik angkot.


"Gue lagi kospley miss universe, harusnya lu setopin Alphard, mobil ojek online pun ga masalah," kata gue sambil berdiri di samping dia.


"Tekor gue, Poy! Udah udah, ga usah jalanin challenge dari gue! Ribet lu," kata Gilang.


"Hahaha... " Akhirnya challenge ini berakhir.


Begitu angkot berenti di depan kami, gue pun langsung masuk. "Hoy, minggir, gue mau duduk di pojok!"


"Astaga, belum berapa menit ni anak udah bar-bar lagi," gerutu Gilang.


Setelah melalui perjalanan yang ga panjang, kami pun turun dari angkot. Gue dan Gilang berjalan kaki lagi menyusuri jalan gang dan jalan setapak.


Setelah beberapa waktu berlalu akhirnya sampai juga di rumah tetangga Gilang.


"Selamat sore, Kek," sapa Gilang. Kakek-kakek itu lagi jaga warung. Jadi, warungnya itu nempel sama rumahnya. Lalu dimana tempat Vino nginap?


"Eh, ada nak Gilang. Ini temannya?"


"Sore Kek. Saya Putri," kata gue sambil menyalami tangan renta kakek itu.


"Iya, ini teman saya. Mau saya tembak jadi pacar tapi saya ga berani," kata Gilang. Gue langsung injak kaki Gilang.


"Aw! Tuh kan, Kek... belum apa-apa saja sudah ada KDRT," keluh Gilang.


"Hahaha... Anak muda jaman sekarang, ada-ada saja. Mari masuk. Kalian tentu mau mengunjungi kucing pintar itu kan? Sini, sini." Gue dan Gilang pun ngikutin kakek itu masuk ke dalam rumahnya.


Begitu pintu dibuka ternyata itu adalah sebuah kamar, sepertinya masih digunakan.


"Tuh, lihat, dia tidur. Kucing pintar itu akan bangun kalau malam dan berjaga semalaman. Jadi, siang sampai sore dia akan tidur," jelas kakek itu.


"Loh? Vino tidur di sini Kek?" tanya gue.


"Iya. Ini kamar Kakek. Dia akrab sekali dengan Kakek dan suka membantu Kakek makanya Kakek izinkan dia tidur di sini," jelas kakek itu.


Gue menoleh dan memutari kamar itu.


"Cari litter box?" tanya Gilang.


"Kotak pasirnya ada di depan toilet. Itu sebabnya kamar ini tidak Kakek kunci. Ditutup pun tidak benar-benar rapat, karena dia suka datang sendiri ke sana kalau mau buang air."


"Kok bisa?" Gue tertegun.


Gilang senyum-senyum.


"Ga nyangka kan lu?" kata Gilang.


"Ni kakek-kakek duukun kucing ya?" bisik gue ke Gilang.


"Hahaha..."


"Hei, jangan membicarakanku. Aku masih di sini. Setidaknya kalau mau membicarakanku tunggulah aku pergi dulu," protes kakek itu.


"Hihi..." gue kikuk.


"Begini Kek, Puput ini heran soalnya Vino ini sebelumnya sangat petakilan dan tidak sejinak ini. Puput heran pas tinggal sama Kakek kenapa bisa berubah," jelas Gilang.


"Oh, hahaha... Kucing itu seperti manusia. Asalkan kita melayaninya dengan baik, maka dia juga akan berbuat baik," jelas kakek itu.


"Oh, begitu ya Kek," kata gue.


"Apa Putri pemilik kucing ini?" tanya kakek itu.


"Iya, jadi ada satu lagi namanya Laila. Dia adalah teman kami yang sedang berobat ke Amerika. Jadi, kucingnya dititipin. Bulan juga sedang mengurus kucing Laila yang satu lagi," jelas Gilang.


"Iya, seperti itu ceritanya Kek. Hehe..."


"Oh iya iya. Soal teman perempuanmu yang sakit itu. Kamu sudah cerita tapi saya lupa. Yang saya ingat cuma teman perempuanmu. Jadi saya kira si Puput ini yang dimaksud," ucap kakek itu.


"Oh iya. Kalian kan tentu capek baru pulang sekolah. Saya buatkan minum dulu ya?"


"Ga usah Kek!" jawab gue dan Gilang bareng-bareng.


"Rumah Gilang kan cuma di sana. Kami mau langsung pulang aja, Kek," jelas Gilang.


"Iya, kami sudah cukup merepotkan Kakek dengan kehadiran Vino..." kata gue.


"Tidak! Justru Vino itu membawa keberuntungan bagi saya. Sama sekali tidak merepotkan. Apalagi cuma buat minum untuk kalian," jelas kakek itu.


"Tidak, Kek. Terima kasih. Kami mau langsung permisi," kata Gilang.


"Ya sudah kalau begitu. Tidak apa-apa," kata kakek itu.


Gue dan Gilang pun berpamitan dan pergi.


Rumah Gilang dan kakek itu sangat dekat, bahkan dari depan pintunya rumah Gilang sudah kelihatan.


TOK TOK TOK...


"Assalamualaikum..."


"Wa alaikumussalam."


Yang jawab salam dan bukain pintu ternyata bokapnya Gilang.


"Eh, ada temannya Gilang. Mari masuk. Nah kalian silakan mengobrol ya? Gilang, Bapak mau pergi ke rumah Pak RT dulu. Ada pembentukan petugas siskamling baru. Bapak pergi dulu ya," ucap bokap Gilang.


"Iya Pak."


"Tumben?" kata gue.


"Ga ngereog ya?" kata Gilang.


"Hu um," jawab gue.


"Kayanya berurusan sama duit, jadi moodnya bagus begitu," jelas Gilang.


"Ooh..."


"Astaga, malah gibahin ortu! Sudah, sudah, skip. Ngeri kualat," kata Gilang.


"Gue pernah ceritain ortu gue, guenya ga kenapa-napa tuh?" kata gue.


"Yang lu sampe nangis-nangis itu ya?"


"Ssst... Kalau ada orang lu jangan bocor ya!" Gue sambil lihat ke sekeliling.


"Enggak! Ga bocor kok. Waktu itu bukan gibah Poy, tapi lu curhat. Yang namanya curhat itu harus dikeluarin uneg-unegnya biar ga gampang kesambet," kata Gilang.


"Memangnya kalau jarang curhat bisa bikin orang kesambet?"


"Secara ga langsung iya. Jadi gini, setiap orang itu punya kondisi mental yang berbeda. Curhat itu adalah salah satu media buat membantu menaikkan kesehatan mental seseorang. Sedangkan kondisi mental down orang bisa melakukan apa aja yang sifatnya negatif. Kesambet kan negatif tuh," jelas Gilang.


"Memang yang udah pro sama urusan sambet-menyambet wawasannya beda ya," puji gue.


"Sambet-menyambet apaan? Hahaha..."


"Eh ngomong-ngomong soal sambet-menyambet, gue masih curiga deh sama tetanggalu tadi," ungkap gue.


Gilang sambil bikinin gue teh manis.


KLINTIING... KLINTIIING...


"Kita ga boleh su uzon jadi orang. Siapa tahu kakek itu memang lagi klop aja chemistry-nya sama Vino," kata Gilang.


"Gay, Gay... Sama Lele pemiliknya sendiri aja ga gitu," balas gue.