Miyawlova

Miyawlova
Cheers!



"Hai Kak," gue menyapa Kak Jonathan dari sampingnya. Tahu-tahu gue nongol di samping pas doi lagi serius nyimak Lele ngomong. Pas doi noleh, doi agak terperanjat gitu. Haha...


"Ya ampun, ni bocah lagi. Sejak kapan lu di sini?" tanya Kak Jonathan.


"Baru aja," jawab gue.


"Lu apa kabar, Kak?" lanjut gue.


"Ck! Lu mau ngapain sih?" ucap Kak Jonathan yang kayanya risih sama kehadiran gue.


"Ya mau nanya kabar lu lah, Kak. Kan tadi baju lu sempat gue kotorin. Sekarang gimana? Apa perlu gue tebus dosa gue sama lu?" ucap gue.


"Ga usah. Udah lu sana aja sana. Lupain aja yang tadi," kata Kak Jonathan.


Kambing! Ni orang main usir-usir gue aja. Untung ganteng, kalau enggak huh gue gibas juga!


Sabar Poy! Mungkin mood dia lagi ga bagus aja gara-gara insiden tadi. Oh iya kata Gilang ni orang paling peduli sama kucing. Apa gue bahas soal kucing aja ya?


"Kak, ngomong-ngomong tadi kok bisa sama Puput gitu sih main sama kucingnya?" tanya gue mengambil ancang-ancang.


"Kenapa? Lu ga suka? Lu cemburu? Tu cewek dedemenan lu?" tanya Kak Jonathan ngegas.


Ah elah, gue selepet juga ni orang!


Eh, tapi kalau dipikir-pikir wajar sih Kak Jonathan bilang kaya barusan. Soalnya kan gue cowok..Masa cowok nanyain temen perempuannya pas bareng cowok lain? Logika Kak Jonathan bener sih, kalau ga gue cowoknya Papoy KW ya gue cuma demen doang sama dia dan keduanya sama-sama penyebab gue cemburu.


Ga usah baper, Poy! Ga usah marah-marah ga jelas padahal keadaan lagi di luar nalar.


"Gue sahabatnya Kak. Mana mungkin gue macarin sahabat gue sendiri. Ga ada rasanya," kata gue.


"Serius lu?" Kayanya Kak Jonathan udah mulai tertarik.


"Serius," jawab gue. Dari tadi gue ngomong doi selalu ga ngelihat gue. Cuma Lele mulu yang dilihatin. Pas gue udah bilang gue adalah sahabat Papoy KW baru deh Kek Jonathan ngomongnya sambil ngelihatin gue.


"Sebenernya gue masih badmood gara-gara kecerobohanlu tadi. Tapi, karena lu adalah sahabat Puout, ya udah. Gue maafin lu," kata Kak Jonathan.


"Jadi? Kita berteman?" kata gue. Gue mengulurkan tangan.


"Ya," kata Kak Jonathan. Kak Jonathan sambil menjabat tangan gue.


Yess!


Gue pun memulai ngobrol asik dengan Kak Jonathan. Ternyata bener Gilang bilang. Kak Jonathan adalah penyayang kucing. Ga cuma kucing, bahkan dia menyayangi berbagai satwa.


Kak Jonathan cerita kalau dia pernah beberapa kali rescue kucing jalanan bahkan bulus alias kura-kura hutan! Waw keren banget.


Lele udah selesai pidato. Setelahnya ada acara hiburan. Ada battle dance. Ternyata banyak juga anak-anak dari kelas IPA yang suka street dance. Kalau anak IPS mah ga usah ditanya.


Lele menyatukan gue, Papoy KW alias Gilang, Mentari dan Kak Jonathan. Kami makan di tempat yang sama sambil ngobrol bareng dan ketawa-ketiwi bareng.


Kami berlima duduk di sebuah sofa berbentuk letter L dengan meja di tengah.


"Guys, kita cheers dulu yuk!" kata Gilang. Gue, Lele, Mentari dan Kak Jonathan pun mengangkat gelas berkaki berisi sirup kesukaan masing-masing.


"Untuk Lele semoga panjang umur!" kata Gilang.


"Semoga panjang umur semuanya!" kata Kak Jonathan.


"CHEERS..." kata kami bersama-sama.


TIIIIING...


Sebuah momen yang mungkin akan abadi di dalam kepala gue. Eh, maksud gue kepala Gilang. Lang, pinjam kepala lu dulu ya. Haha...


Ternyata Lele lagi ngelihatin Kak Jonathan.


Dari sekian di antara kami yang saling lihat-lihatan cuma gue sama Mentari. Yang lain malah ngelihatin orang yang ga ngelihat dia. Ya ampun, permainan macam apa ini? Tapi ini ga lagi ngadain permainan. Ini permainan dari semesta. Semesta telah membuat sebuah permainan yang melibatkan perasaan orang-orang.


"Sayang nih kalau ga foto!" kata gue.


"AYOO..." kata Mentari.


"Di sana! Di sana, depan cermin biar gemoy!" kata Lele.


Oke... Tiga... Dua... Satu...



"Mana lihat hasilnya coba," kata Gilang.


"Ini..."


"Eh kok muka gue ga kelihatan?"


"Anjir, mata gue jadi nyala!"


"Ulang ah, ulang! Belum siap itu gue!"


*


Keseruan itu berarti banget buat gue. Kebersamaan ini semoga bisa awet, terjalin sampai seterusnya.


Party di rumah Lele udah selesai. Gue lega banget.


Sekarang gue lagi satu mobil sama Kak Jonathan.


"Ga nyangka ternyata rumah kita searah," kata gue.


"Iya, Bro. Kalau gue ga datang ke party tadi mana tahu gue. Kita mana kenal ya kan?" jawab Kak Jonathan yang sambil nyetir mobil.


"Ngomong-ngomong lu udah lama kenal sama Puput?" tanya Kak Jonathan.


E? Kok no orang nanya-nanya soal gue? Eh, maksud Gilang. Jadi ni orang sebenarnya kepo sama fisik gue atau perangai Gilang?


"Gue murid pindahan, Kak. Baru beberapa bulan..Kenapa Kak? Lu naksir sama Puput?" tanya gue balik.


Kak Jonathan cuma tersenyum dengan pandangan yang masih fokus ke depan.


"Puput itu di geng kami biasa dipanggil Papoy. Kalau lu naksir, pepet aja Kak. Ntar gue bantuin," kata gue.


"Hahaha... Papoy... Lucu juga. Gue denger tadi kalian manggil dia Poy Poy Poy. Emangnya anaknya kaya gitu ya? Polos-polos gitu?" kata Kak Jonathan.


Hah? Polos? Seriusan, ini mah dia naksirnya sama Gilang, bukan sama gue. Gue mana polos anaknya. Pola gue polkadot, ga polos!


"Hem... Nanti lama-lama lu juga kenal sama dia," kata gue.


"Memangnya kalau udah kenal lebih jauh sikapnya keliatan beda?" tanya Kak Jonathan.


"Iya. Dia itu pelatih karate, Kak. Agak galak. Orangnya juga kalau di sekolah super sibuk karena dia itu segala ekskul diikutinya. OSIS, pramuka, karate, gilaaaa," kata gue. Kapan lagi gue muji-muji diri sendiri.


"Masa?" Kak Jonathan terkekeh.


"Kalau Laila gimana? Dia juga cantik, lu ga naksir sama dia?" tanya gue. Gue lagi nungguin jawaban Kak Jonathan nih. Gue lagi H2C alias harap-harap cemas.