Miyawlova

Miyawlova
Keluarga Jauh



"BUNDAAA..." Mentari datang dari dalam sambil merengek.


"Bunda bilang apa aja ke Gilang? Nyebelin deh!" keluhnya.


"Ih, tanya aja sama anaknya sendiri. Hahaha..." jawab Bunda Rukmini.


"Nak Gilang, Bunda tinggal dulu ya? Silakan ngobrol sama Tari. Anggap aja rumah sendiri." Bunda Rukmini pun pergi ke dalam.


"Duh, maaf ya Gilang. Bunda ga ngomong macam-macam yang bikin lu jadi ilfil kan?" ucap Mentari.


Minuman pesanan kami pun datang diantarkan oleh pembantu Mentari.


"Silakan Non, Aden. Ini es teh manis segede gentongnya," ucap pembantu Mentari sembari menaruh dua gelas besar minuman di depan kami.


"Ya Tuhan, serius ini gelasnya gede banget!" ucap gue kaget.


"Makasih ya Bi," ucap Mentari kepada pembantunya lalu ibu-ibu itu pun kembali ke dalam.


"Yuk, minum. Biar ga dehidrasi," ucap Mentari.


Gue dan Mentari pun menenggak es teh manis itu.


"Jadi tadi Bunda bilang apa aja ke lu?" tanya Mentari.


"Ya ampun masih nanyain. Hahaha... Ga ada, Tari. Bunda tadi cuma becandain gue aja," jawab gue.


"Bener ya, Bunda ga ngomong macem-macem?"


"Bener, Tari," jawab gue.


"Syukurlah," ucap Mentari.


Gue ga lama-lama main di rumah Mentarinya. Setelah kira-kira setengah jam gue di sini, gue pun pamit pulang.


Gue pun pulang.


Waktu berlalu, gue udah sampe di rumah.


"Kenapa pulang terlambat?" tanya Bapak yang sedang berdiri di pintu. Sementara, gue lagi ngelepasin sepatu di teras.


"Singgah di rumah teman dulu tadi," jawab gue.


"TEMAN YANG MANA? ANAK PEREMPUAN YANG KEMARIN?" Bapak emosi.


"Bukan Pak. Lain lagi. Bapak kan yang minta agar Gilang ga berteman dengan Puput lagi, jadi Gilang berteman dengan yang lain. Namanya Mentari," jawab gue.


"Mentari? Bapak belum pernah mendengar nama itu dari kamu?" tanya Bapak.


"Iya, Pak. Teman baru Gilang. Saya permisi dulu ke dalam ya Pak," ucap gue.


"Iya," jawab Bapak.


Gue lagi capek-capeknya, jadi gue ngaso dulu di kamar setelah gue mandi. Gue berbaring di kasur, tapi firasat gue Bapak bakal dateng bentar lagi buat nyuruh-nyuruh gue. Jadi, gue ga boleh tidur dulu sore ini.


"GILAAANG..."


Tuh kan bener, baru aja gue bilang.


"IYA PAK..." Gue pun menghampiri Bapak yang sedang ada di ruang belakang.


"Malam ini akan ada keluarga jauh yang akan datang ke mari. Bantu Bapak merapikan seisi rumah. Bapak sedang memperbaiki meja ini. Lumayan, masih bisa dipakai," ucap Bapak.


"Malam ini? Bagaimana dengan makanan Pak? Bapak ga masak untuk makan malam?" tanya gue. Soalnya biasanya jam segini Bapak masak.


"Tidak usah. Ibu yang akan membelinya nanti. Makan malam kita akan dilakukan bersama-sama tamu yang akan datang. Malu kalau disuguhkan makanan yang biasa kita makan," jelas Bapak.


"Oh, begitu. Baik Pak. Oh iya, Pak, kalau boleh tahu siapa keluarga jauh yang mau datang ke sini?" tanya gue.


"Rupanya sudah lama sekali," ucap gue.


"Katanya sih mereka masih satu nenek sama ibumu, tapi entahlah. Bapak tidak terlalu paham," ucap Bapak.


Gue pun mulai membersihkan dan merapikan ruang tengah dan ruang tamu.


Di saat gue beres-beres, gue memindahkan gelas yang sudah dipakai Bapak dan masih ada di ruang tengah. Gue pindahkan ke tempat mencuci piring.


Gue jadi ingat es teh manis segede gentongnya Tari tadi. Hihi... Mengingatnya bikin gue terkekeh sendiri.


Lalu gue pun tiba-tiba mengingat perkataan Bunda Rukmini, "Gilang ya? Seperti tidak asing ya... Jangan-jangan Mentari pernah menceritakan kamu kepada Tante. Gilang, benar, pasti yang waktu itu namanya Gilang."


Apa maksud Bunda Rukmini? Apakah Mentari benar-benar pernah menceritakan Gilang ke bundanya itu? Aneh banget, soalnya gue dan Mentari kan baru kenal tadi.


Gue membulatkan mata. Atau jangan-jangan Mentari sudah memperhatikan Gilang dari jauh-jauh hari? Kaya di sinetron-sinetron gitu, dimana seseorang jadi pemuja rahasia orang lain dan diam-diam memperhatikannya.


Wah, unik juga ya. Ternyata pesona Gilang yang selama ini gue abaikan, gue kadal-kadalin doi, ada juga yang memperhatikan sampe segitunya. Jangan-jangan bener nih Mentari naksir sama Gilang sejak lama.


"Jangan sambil bengong kerjanya. Yang fokus!" Gue ditegur Bapak. Iya sih, gue kerja sambil melamun. Gue lagi mikirin Gilang dan Mentari.


Waktu pun berlalu. Malam sudah tiba. Ibu sudah pulang dengan membawa satu kotak Pizza berisi banyak menu.


"Bu, apakah ini tidak kemahalan?" tanya gue. Ibu sedang menata makanan dan minuman untuk makan malam bersama kami.


"Ga apa-apa Gilang. Sesekali saja. Sudah lama kan kita ga makan makanan begini?" ucap Ibu.


"Keluarga mereka kan orang kaya, jadi wajar kalau beli makanan mahal begini untuk menjamu mereka," tambah Bapak.


"Kalau boleh tahu mereka itu siapa sih Bu? Kata Bapak mereka adalah keluarga jauh kita," tanya gue sambil membantu Ibu.


"Mereka itu sebenarnya sama-sama tinggal di kota ini juga. Ga jauh kok. Hanya saja baru ketemu lagi dengan Ibu beberapa hari yang lalu. Kita dan mereka sempat hilang kontak selama bertahun-tahun," jelas Ibu.


"Jadi waktu saudara kita itu ketemu Ibu, dia cerita kalau mereka pernah mengalami kebakaran jadi kontak dengan kita pun ikut hilang. Saudara kita itu sampai kaget loh waktu ketemu Ibu di tempat kerja Ibu, karena baru tahu kalau kita tinggal di kota ini," lanjutnya.


"Oh, seperti itu. Memangnya nama saudara Ibu itu siapa? Dia laki-laki atau perempuan? Umurnya berapa?" tanya gue.


TOK TOK TOK...


Belum sempat Ibu menjawab pertanyaan gue, tamu pun datang ke rumah kami.


"Mungkin itu mereka!" ucap Ibu dengan antusias.


Gue, Ibu dan ayah pun menghampiri ruang tamu.


Ibu yang membuka pintu dan...


"Bunda?" Gue pun membulatkan mata.


"Gilang!" Mentari dan Bunda Rukmini bersamaan menyebut namaku.


Gue pun menengok ke Ibu dan Bapak dengan gembira. Ibu dan Bapak pun saling pandang.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Ibu.


"Pak, ini Mentari yang saya bicarakan tadi sore," kata gue.


"Wah, kebetulan sekali ya," ucap Bunda Rukmini sumringah.


"Mari, mari... Kita ngobrol di dalam!" ajak Ibu.


Kami semua berkumpul di ruang makan. Kami melakukan makan malam bersama. Tentu Mentari tidak datang dengan ayahnya. Seperti ceritanya sewaktu gue ada di rumahnya tadi sore bahwa ayahnya sudah meninggal dunia karena mereka pernah dilanda musibah kebakaran.


Sepanjang acara makan malam yang menyenangkan ini gue dan Mentari mengobrol asik, sedangkan para orang tua mengobrol dengan obrolan mereka sendiri.