
"Apa? Lu sebenarnya Papoy? Papoy di sana sebenarnya Gilang?" Lele melongo dan sesekali berkedip dengan menekan kuat kelopak matanya. Seakan bulu-bulu mata Lele dijepit kuat oleh kedua kulit tipis di matanya. Bulu-bulu mata yang lentik.
Gue mengangguk mantap menjawab pertanyaannya itu.
Lele mengibaskan telapak tangannya di depan wajahnya seakan dia sedang kepanasan. Lele lalu mengecilkan AC dengan menekan tombol di langit-langit yang letaknya agak di depan. Ada sebuah lekukan menurun di sana, tempat lubang sekat keluarnya udara dingin itu.
Lele pun menekan bagian dekat handle pintu di sampingnya. Kaca jendela turun setelah ia menekan tombol di sana. Sepertinya Lele lagi pingin menikmati semilir angin malam jalanan.
"Gue butuh udara segar! Gue butuh pemikiran segar! Gue butuh larutan penyegar. Gue butuh..." kata lele menggerutu ga tentu sambil matanya ia sorotkan ke satu objek di luar sana.
"Merek softdrink itu Le," kata gue.
"Jangan ganggu gue!" Lele melayangkan tangannya di belakang kepalanya yang itu adalah persis di depan muka gue. Seolah dia bilang "talk to my hand."
"Gue butuh waktu buat mencerna cerita lu itu," lanjut Lele.
Ada lampu merah di depan sana. Seorang pengamen waariia berjalan mengetuk satu demi satu jendela mobil yang lagi nunggu giliran jalan.
Lele tersenyum ngelihatin waariia itu. Gue jadi ikut tertarik, apa sih yang bikin Lele senyum-senyum? Ternyata waariia itu bernyanyi dan berjoget dengan jenaka.
"Bila ingin melihat wantit, wanita bertiitiit... Silakan datang ke sini ke taman mini... Jangan-jangan dulu, jangan sanngek dulu... Biarkan hai-hai abang duduk dengan tenang..." Suara manja yang dipaksain itu keluar dari mulut bergincu waariia itu. Badannya meliuk-liuk sesuai bit kecrekan yang dipukulkannya ke pahanya.
Belum sempat pengamen itu jalan ke dekat mobil Lele, lampu lalu lintas berubah hijau. Pengamen itu pun menepi.
Sewaktu mobil Lele melewatinya, Lele pun memberi sebuah tanda dengan telunjuk dan jempol membentuk love kecil. Pengamen itu pun senang dan memberi kecupan pada telapak tangannya lalu melambai.
Dengan sumringah Lele pun melempar pandangannya kembali ke gue.
"Apa yang lagi lu pikirin?" Gue membulatkan mata.
Lele pun menyapu pandangan ke badan gue dari atas ke bawah terus ke atas lagi. Gue pun menyilangkan kedua tangan gue di depan dada hingga bahu gue.
"Jangan aneh-aneh Le!" kata gue.
"BAHAHAHA... HAHAHA..." Lele malah ngakak.
"Lu sama Gilang cocok Poy!" kata Lele di sela-sela tawanya.
"Cocok gimana?" tanya gue.
"Hahaha... Udahlah, kalian jadian aja! Hahaha..." kata Lele.
"Jelasin ke gue napa, Le? Lu mau nyuruh gue dan Gilang jadi kaya orang tadi?" tanya gue.
"Hahaha..." Lele sampe nepuk-nepuk paha gue sambil ketawa.
Gue biarin aja deh Lele mau berbuat apa. Yang penting Lele bahagia. Tadi gue sempat sedih waktu Lele sedih. Sekarang gue ikut bahagia.
Lele mengatur napasnya untuk menghentikan tawanya. Dia menghirup napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan-pelan.
"Lu udah merasakan tubuh Gilang, Poy. Sementara Gilang udah merasakan tubuhlu. Kalian cocok! See?" kata Lele.
"Darimana cocoknya!" protes gue.
"Lu dan Gilang udah ngalah-ngalahin orang yang menikah. Bahkan bokap-nyokap gue kalau salah satunya sakit, yang lainnya cuma bisa menerka-nerka rasa sakitnya gimana. Sementara lu dan Gilang, kalian udah berbagi rasanya jadi diri lu dan jadi diri Gilang."
Bener juga sih kata Lele. Gue baru nyadar. Selama ini gue terlalu fokus ke kutukan, kutukan dan kutukan. Gue terbebani dengan peran gue sebagai Gilang sampai gue ga paham faedah apa yang bisa kami dapatkan masing-masing. Kayanya kutukan ini ga berfaedah sama sekali.
Gue ingat-ingat lagi yang udah terjadi. Gimana rempongnya gue dengan tubuh ini di hari pertama gue dikutuk. Terus gue juga harus menjaga marwah Gilang. Dan yang terakhir gue sampai menikmati sensasi mimpi basah. Secara ga langsung gue udah bercciinta dengan tubuh Gilang.
Hii! Gue merinding sendiri sewaktu gue mengingat-ngingatnya. Hal yang pengen banget gue ceritain ke Gilang tapi gagal mulu karena munculnya masalah-masalah lain yang ga terduga.
"WOY! Malah bengong!" kata Lele.
Gue menyengir kuda.
"Lu pasti lagi mikir jorok ya?" tebak Lele. Anjir, kok Lele bisa tahu sih?
"Enggak! Enak aja! Yang ada elu kan yang mikir jorok? Pasti gara-gara panggilan dan bentuk penampakan pengamen tadi deh?" Gue beralibi dengan cantik.