
Gue gabut nanya ke Gilang soal ada ga cewek yang lagi doi suka. Ini detik-detik yang menegangkan buat gue! Kalau doi naksir sama gue kan bisa berabe urusannya. Secara gue jalan sama dia dan ngelendot-ngelendot sama dia itu karena gue gabut. Kasihan sohib gue Puput kalau ketikung sama gue. Padahal dia kan naksirnya naksir beneran bahkan sejak pandangan pertama, ga kaya gue.
"Jawab lu!" paksa gue ke Gilang. "Duh, gimana ya... Kalau urusan hati itu ga bisa bohong, pasti ada. Cuma masalahnya tu hati gue, gue jabanin apa enggak," kata Gilang.
"Gay, gue ga nanya yang lain. Tu hati mau lu jabanin atau lu gulai atau lu jadiin sate, bodo amat gue. Gue nanyanya ada ga cewek yang lagi lu suka?" tegas gue. "Sate klathak, Le! Lu udah pernah nyobain belum? Asin-asin original gitu rasanya," kata Gilang. "Huh! Lu! Gue kunyah juga lu! Ga usah ngalihin pembicaraan!" protes gue kesal.
"Oke, oke. Lu mau jawaban jujur atau boong?" balas Gilang. "Boong," jawab gue. "Oke, jawabannya adalah... " Gilang pun terdiam sejenak. "Selamat anda mendapatkan satu juta rupiah dipotong pajak," lanjut Gilang. "Bab!" umpat gue. Orang udah serius nungguin jawaban Gilang dari tadi malah ni anak ngebanyol mulu.
"Ga ada, Le. Ga ada. Gue udah pernah bilang kan, jangan kita rusak persahabatan kita bertiga dengan urusan asmara-asmara kaya gitu. Akan ada masanya nanti. Jadi dirasa-rasainnya nanti aja," jelas Gilang. "Gue tadi minta jawaban boong, berarti sebenarnya ada kan? Ada cewek yang lagi lu suka," kata gue.
"Haduuuh... Ini balik lagi urusannya ke sebelum sate klathak nih," keluh Gilang. "Iya, iya, terserah lu deh. Mau lu kacangin juga tu hati itu hak lu," timpal gue. "Iya memang sate klathak kan pakai bumbu kacang Le. Jadi lu udah nyobain?" balas Gilang. "Aaargh...". Geram banget gue, sumpah.
Ni anak ga bisa banget sih gue ajak ngomong serius? Apa jangan-jangan dia grogi ya? Masa grogi sama gue? Jadi kalau gitu bener dong doi naksir sama gue? Buset, pede sekali anda saudari Laila!
"Tapi Gay. Lu bilang kan ada masanya, jadi nanti-nanti aja ngurusin asmara-asmaraannya. Nah, gimana kalau nanti cewek yang lu taksir keburu meninggoy Gay? Mampus ga lu?" kata gue. "Heeeh! Jangan meninggoy dululaaaah!" protes Gilang. "Ya, umur orang kan siapa yang tahu, Gay?" kata gue. "I-iya sih. Bener kata lu. Nah, sekarang gue balik. Gimana kalau nanti gue duluan yang meninggoy? Padahal gue belum sempat nembak tu cewek?" balas Gilang. "Nah kan! Gimana tuh?"
"Jadi menurut gue karena ini urusannya udah menyangkut hidup dan mati seseorang, mending lu tembak tu cewek secepatnya deh. Pilihannya hanya dua, tu cewek duluan yang meninggoy, atau lu!" kata gue.
"Sebentar, Le. Kok kalimat lu barusan kaya kalimat ancaman ya? Pilihannya ada dua, tu cewek duluan yang meninggoy, atau gue. Lu, lu ngancam gue Le? Lu mau nyawa gue apa harta gue Le?" protes Gilang. Iya sih. Jadi kalimat ancaman kaya di film-film ya? Hehe.
"Nyawa lu kalau digadai ke raja jin sekalipun enggak bakal laku, Gay. Apalagi harta, lu kan kismin," kata gue. "Ya ngapa lu maksa-maksa gue nembak? Sampe ngancem-ngancem segala. Emang lu mau gue tembak?" Hah? Gue ga salah denger apa yang Gilang katakan barusan?
"Gue beneran nanya. Gue ga naksir sama elu, jadi mana bisa gue kebelet ditembak sama lu? Yang ada kebelet boker, iya," balas gue. "Oh, jadi lu enggak naksir sama gue? Bener? Ga nyesel lu ngomong gitu?" tanya Gilang. "Serius gue mah, Gay. Dua rius malah," jawab gue.
"Oh, ya udah," kata Gilang. "Lu ga nanya balik soal gue, Gay?" tanya gue. "Ih ngapain? Gue ga kepo. Eh, tunggu, tunggu. Lu mau ditanya ya. Oke. Jadi gimana dengan elu, Le? Ada ga cowok yang lagi lu suka?" kata Gilang.
"Ih, Gaaaay... Kok gituuuu!" protes gue manja. "Lu kan pingin ditanyain. Gue tebak lu bakal ngasih pengakuan cinta nih sama gue?" balas Gilang.
"Pengakuan apaan Gay! Lu pikir gue mau nembak lu? Capek banget gue malam ini ngobrol sama lu ya," keluh gue. "Ya kalau capek kenapa diobrolin? Ngomongin yang lain ajalah. Gue juga pusing dari tadi muter-muter mulu," jawab Gilang. "Huu huu... yang bikin pembahasan ini muter-muter kan elu!" protes gue manja.
"Ya udah bahas yang lain!" kata Gilang. "Oke. Emh, Gay. Kenapa ya gue tuh jadi tiba-tiba pingin liburan ke Amrik gitu," kata gue. "Lu kesambet apa tiba-tiba pingin pergi ke sana?" tanya Gilang. "Jadi gue tuh mimpi, udah lama sih, udah semingguan yang lalu. Gue tuh mimpinya lagi ada di Amrik Gay. Gue bisa ngerasain musim gugur dan musim dingin di sana. Kan di sini ga ada yang kaya begitu," jelas gue.
"Ah, gampang. Kalau lu mau ngerasain musim gugur, lu pergi ke hutan jatinya paman gue di Bondowoso. Sering tuh pohon-pohonnya menggugurkan daun. Kalau pingin musim dingin, ada salju-saljunya lu tinggal pergi ke Trans Studio. Deket lagi kan? Ngapain harus jauh-jauh?" kata Gilang.
"Ya beda dong, Gay. Masa ke Trans Studio. Lagian gue masa ke hutan jati di ujung berung sana. Ga estetik. Pohon Maple dong Maple!" protes gue.
"Ya masa ke Amrik sih, Le? Jauh banget. Mau ga mau pasti lu bakal lama di sana. Ga asik tahu kalau geng kita jalan tanpa ada lu. Kecuali kalau lu ngajak gue, nah itu ga apa-apa," kata Gilang.
"Memang lu mau nemenin gue di Amrik?" kata gue. "Ya mau lah! Apalagi gratis, diongkosin. Mau banget gue," jawab Gilang. "Hemh. Kalau itu sih semua orang juga mau," balas gue. "Ya kan lu tahu sendiri kondisi keluarga gue. Boro-boro liburan ke Amrik, buat makan sehari-hari aja selalu cari diskonan," keluh Gilang.