Miyawlova

Miyawlova
Bertemu Sindikat Narkoboy



Sebenernya dugaan gue mentah banget dan gue malu menyampaikan bahwa kakek tua ini adalah seorang dukun. Apalagi setelah kekek ini tertawa.


"Kalian masih muda, emosinya masih sulit untuk dikendalikan. Mulai sekarang cobalah untuk mengendalikan apa yang ada di sini," kakek itu menunjuk ke mulut. "Apa yang ada di sini..." kakek itu menunjuk ke kepala. "... jangan langsung di keluarkan," kakek itu menunjuk ke mulut. "Rasakan dulu," kakek itu menunjuk ke mata. "...pastikan dulu," kakek itu menunjuk ke telinga. "Proses perlahan," kakek itu mencontohkan cara menarik napas dalam-dalam melalui hidung. "Baru keluarkan," kakek itu menunjuk ke mulut.


Sekarang gue paham, kakek ini bukan seorang duukun, tapi seorang terapis yoga.


"Apa kalian paham?" tegas kakek itu.


"Paham Kek. Jadi itu gunanya apabila diurutkan dari atas maka mata dan telinga lebih dahulu baru kemudian hidung dan mulut. Sebelum berkata-kata, apa yang dipikirkan di kepala pastikan dulu dengan melihat dan mendengarkan, tenangkan diri dengan mengatur napas baru dikeluarkan melalui kata-kata," jelas Gilang.


"Tepat," jawab kakek itu. Kakek itu pun gantian memandang gue. Gue kikuk. Aduh mau ngomong apa ya?


"Tapi cara mengembalikan saya dan Gilang bagaimana caranya Kek?" tanya gue. Gue to the poin aja, soalnya gue datang ke sini memang mau mencari jawaban itu.


Kakek itu menggeleng sambil tersenyum lalu menempelkan telapak tangannya di dada gue, eh maksud gue dada pada badan Gilang yang gue tempati sekarang. Kakek itu pun senyum sambil ngangguk-ngangguk.


"Hari mau gelap. Saya mau tutup warung dulu," kata kakek itu. Ini sih secara ga langsung ngusir gue dan Gilang.


"Tapi Kek." Omongan gue ditahan sama tangan Gilang.


"Kalau begitu kami pamit Kek. Terimakasih atas bantuannya," sambung Gilang.


"Iya iya. Hati-hati di jalan," jawab kakek itu.


Gue dan Gilang pun pergi dari rumah kakek itu.


"Terus sekarang gimana?" rengek gue.


"Ya pulanglah," jawab Gilang.


"Pulang kemana?" tanya gue lagi.


"Lu bisa ga sih ga usah nanya mulu? Kenapa ga elu yang mikirin solusinya? Kenapa gue terus?" protes Gilang yang lagi nempatin badan gue.


PRAAAAAANG...


"Aduh!"


Mampus, kaleng yang ditendang Gilang ngenain kepalanya abang berbadan gede di depan sana.


Abang-abang itu pun melotot ke arah kami. Gue dan Gilang saling pandang dan punya pikiran yang sama...


"LAARIII..." teriak gue dan Gilang.


Kami pun lari. Meskipun Gilang lagi pakai badan cewek, tenaga dia jauh lebih besar, justru gue lari malah cepet capek. Gue melambat, tapi di belakang sana abang-abang yang bentuknya kaya preman itu masih ngejar kami.


Gilang dengan tangan cantiknya yang itu adalah tangan gue pun narik gue biar bisa lari lebih cepat. Gue sampai ngos-ngosan, anjir.


Kok tambah jauh? Kenapa ga lari ke rumah Gilang aja yang deket? Ini mau kemana? Mungkin sangking kalutnya Gilang malah narik gue lari ke jalan yang semakin jauh dari rumahnya.


"Uhuk... uhuk... Gay! Kita mau kemana Gay?" kata gue sembari lari.


"Ga tau," jawab Gilang.


Makin lama jalan semakin sepi dan sempit. Eh, kok ke semak-semak begini?


Gue dan Gilang masuk, kami bersembunyi. Pas diintip ternyata abang-abang preman itu udah ada pengikutnya. Sekarang jumlah mereka ada lima orang.


"Gay, segitu berdosanyakah kita sampe tu orang bawa pasukan buat ngejar kita?" bisik gue.


"Lu kan punya ilmu karate, kenapa lu kabur sama gue. Harusnya lu bisa ngelindungin gue dong?" protes Gilang.


"Ogah gue. Lihat badannya aja udah takut, gimana mau ngelawan dia pake tangan kosong," balas gue.


"Jadi lu takut?" tanya Gilang. Kami berdebat sambil bisik-bisik dengan jarak muka cuma sejengkal.


"Ya iyalah!" jawab gue.


"Sensei apaan lu cuma berani di kandang. Giliran ketemu preman di jalan lu kabur juga!" kata Gilang.


"Terserah lu mau ngatain gue kek, gue ga peduli!" jawab gue.


"Sssst..." Gilang mendengar mereka datang.


Gilang ngintip sebentar dan langsung membekap mulut gue. Gue juga jadi takut dan refleks membekap mulut dia. Tangan kami bersilangan.


"Kemana bocah-bocah tadi?"


"Kita cari di sini, pasti mereka lagi sembunyi."


"Enak saja sudah menghancurkan rencana transaksi gua! Rugi bandar, gua!"


Saat kata-kata 'transaksi' diucapkan kami berdua, gue dan Gilang langsung adu pandang. Pasti apa yang ada di kepala gue sama dengan apa yang ada di kepala Gilang. NARKOBOY! Pasti mereka akan melakukan transaksi terlarang itu!


"TIKUS-TIKUS KECIL... DIMANA KALIAN?"


Waktu terus bergulir, para preman itu menyebar buat nemuin persembunyian kami tapi ga berhasil. Padahal kami dari tadi bisa melihat pergerakan mereka melalui celah yang ada di dekat kami.


"Bos, gua laper. Cari makan dulu yuk?"


"Iya, Bos. Kayaknya bocah-bocah itu ga ada di sini deh? Tadi si Irwan salah lihat mungkin."


"Iya, Wan? Lu salah lihat?"


"Hehe... Kayanya sih gua lihatnya mereka lari ke sini, Bos. Emh..."


"Kampreet lu!"


PAAAK


"Eh uh, eh uh aja lu, ga jelas! Ya udah ayo semua cabut! Bab! lu Wan!"


Para preman itu pun ga terdengar lagi suaranya. Gue dan Gilang dari tadi diam. Sekarang saatnya gue melonggarkan mulut Gilang karena rasa takut gue udah berkurang. Kalau Gilang sih udah daritadi ngelepasin mulut gue, kirain gue dia udah tenang...


tahu-tahu...


"Woy! Gay! Woylaaah... please... Ni anak malah tidur!"


"Gay! Bangun Gay!"