
"Sebenarnya..." kata gue.
"Nah itu warung Kakek!" lanjut gue mengalihkan pembicaraan.
"Ya ampun, ni anak mulai punya kebiasaan lain. Pertanyaan belum dijawab malah mengalihkan pembicaraan," gerutu Ibu.
Ibu dan gue pun berhenti di depan warung si Kakek. Gue turun dari motor, tapi Ibu enggak.
"Assalamualaikum, Bu. Apa kabar Ibu?" Gilang segera menghampiri untuk mencium tangan ibunya.
"Eh, Nak Puput. Kabar Ibu baik. Kamu bagaimana kabarnya?" tanya Ibu kembali.
"Alhamdulillah baik Bu," kata Gilang alias Papoy KW. "Bagaimana dengan Bapak Bu?" lanjutnya.
"Bapak sehat." Ibu menaikkan sebelah alisnya. Mungkin agak heran ya ni anak kenapa nanyain Bapak. Apa masalah itu masih berlanjut?
"Oh iya. Ibu minta maaf ya karena Bapak sudah menuduh kamu yang tidak-tidak," lanjut Ibu.
"Tidak apa-apa, Bu. Kita sudah sama-sama kenal Bapak seperti apa," kata Gilang.
"Ngomong-ngomong, boleh saya peluk Ibu?" ucap Gilang.
"Hah? Hahaha..."
Tanpa menunggu jawaban ibunya, Gilang pun langsung memeluk ibunya yang masih duduk di atas motor itu.
Keadaan lingkungan mendadak sunyi. Hanya angin berhembus membuat romantisme pagi begitu terasa perih. Ini adalah dua orang anak dan ibu yang terpisah oleh takdir.
Radio di warung si Kakek mendadak muterin lagu Wiz Khalifa.
"It's been a long day without you, my friend... And I'll tell you all about it when I see you again... We've come a long way from where we began... Oh, I'll tell you all about it when I see you again... When I see you again..."
"Terkadang kehidupan memang terlihat kejam. Semoga kalian kuat menghadapi takdir ini," kata si Kakek.
Gue menengok ke si Kakek. Mata gue berkaca-kaca, seolah gue ngadu ke si Kakek dengan tatapan mata gue ini.
Gue sedih banget. Kehidupan baru berjalan dengan tiba-tiba membuat kami terpisah satu sama lainnya dengan orang-orang tersayang. Gue juga jadi kangen Mama Papa. Gue... jangan nangis! Lantas gue gosok mata gue biar ga ada yang menetes. Nyaris, air mata ini membasahi pipi
Gilang tiba-tiba menoleh sambil membulatkan mata ke arah si Kakek, terus lanjut melototin gue.
Kakek! Jangan sampai si Kakek membocorkan pertukaran raga antara gue dan Gilang!
"Kek, Ibu ga tahu soal kutukan itu. Jangan bocor-bocor ya?" bisik gue. Kakek pun tersenyum dan mengangguk.
"Ah, kayanya kami udah hampir telat! Ayo Gay, eh, Poy! Ayo kita berangkat sekarang!" kata gue sambil menarik tangan Gilang.
"Hihi... Pamit Bu, Kek," kata Gilang.
Gue dibonceng sama Gilang. Kami ngebut.
"Lupa!" kata gue setelah kami menghilang dari hadapan Ibu dan si Kakek. Gue ngomongnya sambil nepuk-nepuk bahu Gilang.
"Apa?" Gilang memelankan laju motornya.
"Gue dibonceng elu, ga kebalik?" kata gue.
"Halah. Gas ajalah. Sekalian. Kita hindari hujan. Udah mendung gini. Tuh anginnya tuh, rasain. Kenceng banget," kata Gilang. Gilang pun melajukan motor kembali ngebut.
Belum sampai di sekolah, masih ada beberapa ratus meter lagi hujan pun turun.
"Waaaa... neduh dulu ga Gay?" kata gue.
"Tanggung! Lagian mau neduh dimana? Ga ada bangunan, pohon semua. Sama aja kebasahan juga. Hujannya nyawer!" kata Gilang.
"Ya udah gas!" kata gue.
Kami pun sampai di depan pos satpam. Di tepiannya lumayan bisa meneduh. Pos satpam berderetan dengan gerbang sekolah.
"Hahaha... Yah, eyeliner lu luntur! Beli eyeliner dimana lu Gay? Hahaha..." Gue ngomong sambil setengah berteriak karena suara hujan sangat berisik.
"Beli di online." Gilang terus malah nadahin mukanya di hujan sementara badannya neduh. Gilang gosok-gosokkan mukanya dengan tangan kaya orang cuci muka.
"Hahaha... Sejak kapan lu dandan Gay? Hahaha..." kata gue.
Pak Security senyum-senyum ngelihatin kami berdua. Mungkin ketawa gue bikin nular. Lagian muka Gilang lucu banget kelunturan eyeliner.
"Pelan-pelan Poy! Jangan lu buat lecet," kata Gilang yang pasrah mukanya gue emeg-emeg.
"Lu bawa kapas ga?" kata gue.
"Adanya tisu," jawab Gilang.
"Boleh deh. Mana?" kata gue.
Gilang pun membuka tasnya, mencari tisu dan mengeluarkannya. Gue pun mengambil tisu itu dan gue gosokin ke muka Gilang.
"Pantes tadi rasanya ada yang beda dari elu. Gue ga sadar. Rupanya lu pakai eyeliner," kata gue yang ngomong tepat di depan hidungnya.
"Poy, jangan ngomong dulu," kata Gilang.
"Hah?" Gue melihat ke mulut yang lagi ngomong itu. Ya ampun dekat banget sama mulut gue, heran. Bikin gue salting aja.
Gue auto menjauh dong dari depan muka dia.
"Ke-kenapa? Napas gue bau ya?" Astaga, pertanyaan macam apa itu? Kenapa malah ngomong kaya gitu!
"I-iya," kata Gilang tanpa ngelihatin gue. Kayanya doi salting juga deh.
"Pagi-pagi udah pacaran," kata Pak Security.
Gue inget banget, Bapak Security ini kan udah CS banget sama gue, alias udah pren banget.
"Hahaha... Bapak bisa aja. Kaya ga pernah muda aja," kata gue. Ketawa gue kikuk banget, anjir.
"Ini temannya yang waktu itu ya?" kata Pak Security ke Gilang.
Oh iya, gue lupa. Kan yang Pak Security kenal itu Papoy, ya jelas Gilang lah yang dinotis sama dia. Gue malah sokap, hahaha...
"Iya Pak. Hehehe... Maaf ya Pak. Kami ga pacaran kok," kata Gilang.
"Heh! Bukannya kita baru aja jadian?" protes gue.
Gilang pun mengedipkan mata sama gue. Dia ngasih tanda kalau pacar-pacarannya jangan di depan bapak ini.
Gue jadi menutup mulut gue. Ups, udah keceplosan!
"Hehe... Becanda Bapak! Mana ada kami pacar-pacaran. Yang ada malah baku hantam. Iya kan Poy? Hehe... " kata gue.
"Labas ajalah yok? Mumpung udah agak mereda. Takutnya nanti deras lagi," kata Gilang.
"Yok," kata gue.
Gue pun melihat mobil Lele lewat gerbang. Kaca jendelanya dibuka.
"CIYEEEEEEEEEE YANG PACARAAAAN... KIWKIW!" Lele neriakin kami dari dalam mobil.
Anehnya bukannya malu, gue kaya seneng aja disorakin kaya gitu. Karena disorakin gue jadi meluk Gilang erat banget.
"Katanya ga pacaran!" Nah loh! Gue dan Gilang pun menoleh berbarengan sambil membulatkan mata.
"Buru kabur, Gay!" kata gue pelan.
"KAAAABUUUR..." teriak Gilang.
NGEEEEENG...
Motor kami auto kebut.
"Hahaha... Udah kaya baandit aja kita Gay!" kata gue. Muka gue basah. Banyak air hujan tertelan waktu gue ngomong. Soalnya helm belum dipakai, motor udah jalan aja.
"Hahahaha... Baandiit! Hahaha..." Gilang ikut ngakak dan sama basahnya dengan gue.
Untung gue dan Gilang sama-sama pakai baju bebas. Jadi seragam kami ga kebasahan. Tas kami tentu anti bocor-bocor dong. Beda dengan mulut gue, bocor! Hahaha...
Rasanya gue pingin mengumumkan pada dunia. Gue membuka tangan gue, merentangkannya dan muka gue menengadah ke langit.
"SEMESTAAAA... GUE BAHAGIAAAA..." kata gue.