
Gue ga yakin apa yang dikatakan Gilang itu bener. Gue gak cocok pakai anting model beginian, fix. Tapi itu cuma bisa-bisanya Gilang dan Rian aja yang doyan ngeledekin gue.
Gue bukan cewek tomboy, tapi ga yang girly banget juga. Gue biasa-biasa aja dan kecantikan gue sungguh alami, jauh dari kesan jamet.
Apa yang tadi terjadi itu kayanya gara-gara gue kangen sama Lele doang. Hemh...
Gue pun ngintip HP gue dari balik laci meja gue. Gue lihatin story chat di dalamnya, tanggal terakhir gue chatting sama Lele udah lama banget. Gue selama ini cuma tanya-tanya kabar ke nyokapnya Lele doang.
Oke, sekarang gue akan fokus di pelajaran jadi gue tutup dulu HP gue dan taruh di tas.
Waktu berlalu, jam pelajaran terlalui dan akhirnya...
KRIIIIIIING...
bel tanda pulang pun berbunyi juga. Seperti rencana gue tadi, sekarang juga gue mau ikut Gilang balik ke rumahnya.
"Lu jadi ke rumah gue sekarang?" tanya Gilang yang berdiri di depan meja paling depan. Tangannya sedang menarik kedua tali tasnya di bahu.
"Jadi dong. Gue kan kangen sama Vino," kata gue.
"Ga pernah kangen sama gue!" balas Gilang.
"Boro-boro kangen, yang ada eneg tahu ga. Tiap hari ketemu elu lagi elu lagi," jawab gue.
"Gitu ya? Oke!" kata Gilang sambil berjalan ninggalin gue dengan dagu yang diangkat dan ngebuang muka dari gue.
"Eh! Eh! Ngambekan lu, parah!" Gue ngejar Gilang.
Gilang menghentikan langkahnya dan menyodorkan lengannya buat gue lendotin. Hihi. Biasanya gue geli sama aksi ngejamet Gilang, tapi kali ini gue sambut lengannya dan kami berdua pun melangkah dengan riang. Wkwkwkw.
"Najis, Gay. Kaya orang pacaran aja. Hahaha..."
"Memangnya mau pacaran sama ekke? Cucok Cin?"
"Hahaha..."
"Hahaha..."
Ga apa-apalah lu jadi lekong. Cukup menghibur buat gue.
Sepanjang jalan di atas trotoar gue dan Gilang berjalan tapi udah ga ada lendot-lendotan lagi.
"Kenapa lu copot antingnya?" tanya Gilang.
"Ga cocok sama gue," jawab gue.
"Masa ga cocok? Tapi tadi waktu lu selfie lu kayanya PeDe gitu? Ga pengen nyoba pake aja?" kata Gilang.
"Gak. Udah pernah," jawab gue.
"Pernahin lagi lah," bujuk Gilang.
"Gak," jawab gue.
Kebetulan di depan kami ada kursi panjang. Di sebuah taman pinggir jalan, di bawah pohon, adalah tempat yang asik buat ngaso sebentar.
"Istirahat dulu bentar," kata Gilang. Terus gue pun duduk di sebelahnya.
"Lututlu masih sakit karena gue suruh latihan split?" tanya gue. Anjir, gue perhatian banget.
"Iya nih. Ah lu mah tega," keluh Gilang.
"Harus tega dong, demi sumpah karate ketiga. Apa? Masih belum hafal lu?" tanya gue.
"Sanggup mempertinggi prestasi. Iya sih," jawab Gilang.
"Baguus..." kata gue.
"Berhubung jiwa karateka kita lagi membara nih, gue mau ngasih tantangan buat lu," kata Gilang.
"Ga usah aneh-aneh!" kata gue dengan nada curiga.
"Sanggup mempertinggi prestasi kan? Lu mau berprestasi di depan gue ga?" bujuk Gilang.
"Gak. Di depan lu doang mah dari awal gue memang udah unggul kemana-mana," gue menolak dengan tegas.
"Ada satu yang belum," kata Gilang.
"Gue pingin orang-orang juga melihatnya," kata Gilang lagi.
"Ngelihat apa?" tanya gue ketus.
"Prestasilu yang baru," lanjut Gilang.
"Hem... Oke oke. Serah lu deh," kata gue pasrah.
"Siniin anting lu tadi!" Gilang membuka tangannya.
"Gaaaay... Please deh," rengek gue.
Gilang goyang-goyangin tangannya yang terbuka. Doi masih nagih anting-anting itu. Gue pun buka tas gue, ngambil benda itu dan ngasihinnya ke Gilang.
Gilang membuka pembungkusnya, lalu memasangkannya ke kuping gue satu per satu.
Gilang lalu melepas kuncir rambut gue dan dia menyisir rambut terurai gue pakai jarinya yang lentik. Asli, kaya lekong salon pengkolan, anjir.
Tapi, walaupun kaya lekong, gue menikmati kedekatan gue dengan Gilang sekarang. Aroma kulitnya, hembus napasnya, semua bisa gue rasakan dengan jarak sedekat ini.
"Lu ada alergi skin care ga sih Poy?" tanya Gilang yang masih nata rambut gue dan perhatiannya masih fokus ke rambut gue.
"Hah? Enggak deh kayanya," jawab gue.
"Kayanya kulit lu iritasi, lu ga tahu?" ucap Gilang.
"Hah? Serius? Dimana?" kata gue penasaran.
"Itu tuh, di bawah mata, di tulang pipi lu. Gue juga baru lihat sih. Daritadi ga kelihatan. Mungkin karena gue perhatiinnya dari dekat makanya baru kelihatan," jelas Gilang.
"Pipi lu merah gitu tahu," lanjut Gilang.
Gue auto langsung nutup setengah muka gue pake kedua tangan gue. Gue cuma nyisain mata gue doang buat tetap terbuka. Gue yakin itu bukan iritasi tapi karena gue lagi grogi.
Jangan sampe mata Gilang auto zoom in dan kelihatan sanpai tingkat pori terdalam kalau kulit muka gue ga ada yang iritasi. Nanti gue ketahuan kalau lagi grogi, kan mampus!
"Eh malah ditutup. Biarin aja terbuka. Kalau lu tutup ntar bergesekan sama tanganlu malah makin iritasi," ucap Gilang.
Gilang membuka kedua tangan gue. Gue kembali nutupin muka gue lagi.
"Percaya aja sama gue," bujuk Gilang dengan nada super lembut.
Sekali lagi Gilang membuka kedua tangan gue. Dia ngelihatin gue dari ujung kepala, mata, sampe ujung rambut gue di bawah bahu gue.
"Nah, coba deh mulai sekarang penampilan lu kaya gini aja. Lu... cantik," kata Gilang.
Mampus! Gue pingin menghilang! Astaga, Tuhaaaaan... Gimana ini? Gue malu banget!
"Senyum dong. Kaku amat? Senyum!" pinta Gilang.
Karena kelamaan, gue ga senyum-senyum, jadi kedua telunjuk Gilang narik tepi-tepi bibir gue dipaksanya biar melengkung.
"Ayok, lu bisa yok!" kata Gilang. Gue pun berhasil tersenyum dengan rileks.
"Anjir, masa..."
"Nah! Ubah cara bicaralu," pinta Gilang.
"Memangnya cara bicara gue gimana?" gue heran.
"Turunin volumenya tiga bar dan hilangkan istilah-istilah kasar kaya anjir, kambing, kampret..."
Aduh, kok Gilang sampe hafal kata-kata yang sering gue sebut? Jadi malu gue.
"Lu mau gue kospley sebagai siapa sih, Gay?" keluh gue.
"Turunin volumenya!"
"Lu mau gue kospley sebagai siapa sih, Gay? Gitu?" gue turutin apa yang Gilang ucapkan.
"Nah gitu dong. Gue tantang elu buat bersikap kaya gini selama tiga hari," ucap Gilang.
"Biar apa sih Gay? Nih, dengerin ya, sebenarnya gue tuh memang udah anggun dan kalem sejak dulu. Lu-nya aja yang ga tahu," jelas gue.
"Lu itu kasar. Gue cuma pengen lu menghilangkan sifat itu selama tiga hari. Kalau lu berhasil, lu jadi cewek yang paling sempurna yang pernah gue temuin... setelah nyokap gue," ucap Gilang. Matanya, gila, indah banget! Gilang ngomong ini ke gue kaya punya unsur magis di matanya, di suaranya, di helaan napasnya... Gue terhipnotis.